×

Penana
search
Loginarrow_drop_down
Registerarrow_drop_down
Please use Chrome or Firefox for better user experience!
campaign Request update 0
Ulah suamiku.
G
1.7K
21
7
6.2K
0

Kembali ke masa sekarang, aku zahra. Tetapi pak hadi selalu memanggilku aisyah. Katanya pak hadi lebih suka memanggilku begitu karena nama itu cantik. 


Setelah aku dan suamiku kembali dari mudik lebaran, suamiku sudah menganggap apa yang kulakukan dengan pak hadi biasa-biasa saja. Kadang dia onani melihatku sedang bersetubuh dengan pak hadi.


Suatu hari, teman-teman suamiku datang ke rumah. Ada lima orang temannya, anton, rudi, bagus, ilham dan beni. 


Mereka nongkrong di emper rumah, ada yang merokok, minum kopi, ngobrol-ngobrol dan main gitar. Tidak ada yang suka minum, hanya saja suka main perempuan. Untung saja suamiku tidak pernah terpengaruh oleh teman-temannya.


Aku dengar lamat-lamat, beni bilang ke anton.  Wah gimana ini ton, jadi gak booking purel michat?


Jadi lah, tapi gue bosan ben. Booking purel cuma gitu-gitu aja. Dan gue gak mau kena penyakit keseringan make purel kek gitu.


Trus gimana ton? Apa yang lu mau? Kata rudi. Gue sih fetish akhwat bercadar sih.


Alah, mana ada lonte bercadar sih rud? Celetuk bagus.


Emang lu gak sungkan pada bahas lonte di depan doni?  Ilham nyaut dengan agak sungkan ke suamiku.


Suamiku hanya cengar-cengir saja. Hanya suamiku yang belum pernah sama sekali bermain perempuan seperti teman-temannya. Dan suamiku terkenal kealimannya. 


Ah santai aja lah, gapapa. Jawab suamiku menanangkan.


Silahkan diminum, aku keluar membawa nampan berisi kopi. Kusuguhkan pada teman-teman suamiku.


Rudi melirikku sejak tadi. Kubalas dengan memandang tatapannya. Lalu aku menunduk. Agak tidak nyaman juga ditatap seperti itu. Meski aku istri yang sudah berselingkuh, risih juga kalo ada tatapan nakal kepadaku. Aku memang sudah gila sex, tetapi aku bukan semurahan itu. 


Mereka nongkrong sampai larut malam, tetap membicarakan tentang booking akhwat bercadar.


Ntah apa yang dibisikkan ilham ke rudi. Ilham mengajak suamiku keluar sebentar membeli rokok katanya.


Aku yang sedari tadi duduk di lantai menemani mereka, didekati oleh rudi dan anton. Oh ini ternyata lontenya. Mereka berdua mulai menggerayangiku.


Ah jangan, jangan. Apa-apaan sih kalian. Kilahku.


Udah kamu diam saja, kamu istri sholehot yang suka selingkuh kan? Kamu suka kontol kan? Ejek mereka.


Enggak, enggak. Udah hentikan. Aku mencoba melawan.


Sekarang aku dipaksa Suamtidur telentang dengan gamis tersibak sampai ke pinggang. Celana dalamku juga sudah terlepas. Ke empat teman suamiku menggilirku dalam keadaan aku masih menggunakan pakaian lengkap.


Kakiku yang mengangkang ditekuk ke atas, satu persatu memasukkan penisnya yang beragam ukuran ke vaginaku.


Ah ah ah, aku mendesah keras.


Saat satu orang memompa penisnya ke vaginaku. Yang lainnya menggerayangiku.


Ilham dan suamiku melihatku digilir, mereka sudah melepas celananya. Mengocok penisnya sendiri.


A abi, panggilku dengan suara lemah.


Suamiku mendekat, memelukku sambil duduk. Muah, cup, muah. Kita berciuman.


Aku menangis, cadarku basah oleh air mataku. Abi jahat.


Rudi mendekatiku, mengambil alih pelukan suamiku. Dia menciumku dengan kasar tanpa melepas cadarku. Aku ditelentangkan, dengan tanganku yang direntangkan ke samping.


Aku berusaha menutup selangkanganku dengan menutup pahaku. Tetapi rudi memaksaku. Gamisku kembali tersingkap.


Rudi mulai ancang-ancang memompa vaginaku lagi.


Ah jangan, jangan. Ahhh bles. Cplok cplok cplok.


Lalu digantikan oleh beni, beni pun tidak kalah kasarnya. Dia menarik cadarku sampai terlepas. 


Cantik juga kamu ya, puji beni.


Aku tersipu malu, dengan memalingkan wajahku.


Beni mulai melumat bibirku dengan lumatan yang tidak kalah kasar. 


Setelah beni, giliran ilham, lalu bagus, anton dan kembali ke rudi.


Hijabku dibuka secara paksa, kini terpampang rambut panjangku yang hitam legam. Gamisku disobek, terlihatlah gundukan payudaraku yang tidak terlalu besar. 


BHku juga dipaksa lepas, laki-laki yang mengerubutiku kembali menggerayangiku. Ada yang meremas payudaraku dengan kasar. Ada menyusu seperti bayi, bergantian.


Kulihat ke samping, suamiku hanya duduk di kursi sambil mengocok penisnya sendiri.


Pandanganku sayu, ah ah ah. Aku hanya bisa mendesah.


Payudaraku berayun ayun. Dengan bekas merah karena remasan kasar dari teman-teman suamiku.


Sekarang aku sudah benar-benar telanjang. Digendonglah aku ke kamar mandi oleh rudi.


Mereka mengguyur tubuhku dengan shower, menyabuniku. Dengan sesekali meremas pantatku, payudaraku. Kadang payudara dan pantatku ditampar dengan keras.


Plak, aw sakit. Rintihku. 


Aku kembali digilir di bak mandi. Ada yang menjilati kakiku. Menjilati tangan, bahkan ketekku.


Ahhhh srrrtt srrrtt srrrrt. Tubuhku melengking. Semburan cairan cintaku memenuhi bak mandiku. 


Aku diangkat dari bak mandi, ditelentangkan ke lantai. Kembali teman-teman suamiku menggilirku. 


Ah ah enak, enak. Aku sudah terbawa suasana.


Genjot yang kenceng, yang kenceng.


Ahhhhh srrrrrt srrrrt. Aku orgasme kedua kali.


Setelah mereka semua menggenjotku secara bergiliran. Mereka memandikanku lagi sampai bersih. Menghandukiku.


Aku digendong oleh rudi ke kamar, dipakaikan pakaian seperti yang biasa aku pakai. Gamis lebar, hijab panjang dan cadar.


Lalu aku ditelentangkan di atas ranjang pengantinku. Tanganku di ikat bersilang, bergitu juga kakiku.


Aku digilir lagi secara bergantian, sampai aku lemas tidak ada daya lagi.


Awalnya aku terpaksa, menolak perlakuan mereka. Sampai aku berdamai dengan keadaan dan menikmati digilir oleh teman-teman suamiku.


Pergumulan kami sampai menjelang subuh. Ikatanku sudah dilepas oleh mereka.


Esoknya saat mereka pamit ingin pulang, aku mencegahnya.


Saat ini aku memakai gamis berwarna putih, dengan cadar dan hijab serupa. 


Kalian gak pengen menikmati tubuhku lagi? Aku berjalan mundur dengan suara menggoda. Sambil aku menggigit bibir bawahku.


Ke enam lelaki termasuk suamiku mengikutiku masuk ke dalam kamar. Aku kembali digilir oleh mereka.


TAMAT.



X