Please use Chrome or Firefox for better user experience!
School
Dark
Burn Your Past!
Writer Puchanias30
Writer
  • G: General Audiences
  • PG: Parental Guidance Suggested
  • PG-13: Parents Strongly Cautioned
  • R: Restricted
R
RATED
404 Reads
18 Likes
1 Bookmarks
Popularity

Facebook · Twitter

FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2017

Get it on Google Play

Download on the App Store

Follow Author
Burn Your Past!
1 Bookmarks
A - A - A
11 12 13 14 15 16 18 19
#17
Air Mata Miliknya
Puchanias30
Dec 4, 2017
1
0
4
8 Mins Read
No Plagiarism!yPZgkZbtqtdp7ZLWRkeBposted on PENANA

Tangan Qania yang memegang lengannya, di lepas pemuda itu. Disela kepanikan hatinya, Qania menatap awas Adit yang menghampiri Darez. Intuisinya tahu apa yang akan Adit lakukan. Ia kembali meraih Adit, menahan bahunya. Namun tangannya di tepis pemuda itu. Adit segera melangkah. Dengan cepat pemuda itu sudah berhadapan dengan Darez. Dua pasang mata kedua pemuda itu saling menatap.copyright protection4PENANARBTb0NsJyR

Dagh!copyright protection4PENANAp7Hpn2ozvO

Adit meninju perut Darez. Dan Darez hanya memejamkan mata menahan sakit. Tapi tidak ada suara erangan keluar dari pemuda itu.copyright protection4PENANA2JeaJZ7Akl

“Adit! Berhenti! Kita bicarakan dulu masalah ini baik-baik!”copyright protection4PENANAbcW5nXSQHr

Wanita bersanggul dengan jaket hoodie berwarna hitam, melewatinya. Wanita itu membawa Adit menjauhi8Please respect copyright.PENANAMYc4hU18pJ
Darez. Beliau adalah ibu dari Darez. Wanita itu kemudian meliriknya yang masih terdiam. Qania pun menunduk. Ia tidak tahu bagaimana keluar dari masalah ini. Ia bisa saja mencegah adit lebih cepat, tapi tepisan pemuda itu tadi sudah membuatnya mengerti. Adit saat ini bukan marah pada Darez, tapi pada dirinya. copyright protection4PENANAH7yowWqVwW

Qania menahan napas seketika. Ia merasa ada seseorang dibelakangnya. Ia berbalik. Menemukan pria8Please respect copyright.PENANAn2JqWwdERj
dengan iris mata segelap jelaga malam memandangnya. Mata onyx itu identik8Please respect copyright.PENANA92bseUMctU
dengan Darez.copyright protection4PENANAKyGYIpYQ0i

“Maaf mungkin kami mengintrupsi kegiatanmu dengan anakku.”copyright protection4PENANAbbu8hR6aIO

Pria itu tersenyum tipis setelah mengatakannya. Senyuman yang berbeda dari Darez. Senyum beliau dingin8Please respect copyright.PENANAhgStkanljN
dan nada suaranya... mengintimidasi.copyright protection4PENANACpVbOs7fnE

“Apa yang sedang, ah tidak, terjadi di sini? Aku melihat ada darah mengering di sprei itu. Apa itu darah mu, nona?”copyright protection4PENANAc7cT5Vi4Li

Pernyataan Ayah Darez membuat, wanita di samping Darez serta Adit menoleh cepat ke benda yang di maksud.copyright protection4PENANAmXuR6MIcWq

Pria didepannya, Ayah Darez, tentu tidak akan percaya jika ia bilang itu darah menstruasi kan?copyright protection4PENANA0yQWJFoRVL

“Itu darah dari luka saya yang belum mengering...” kata Qania cepat.copyright protection4PENANAv8TI1YEj2q

“Luka, hm? Jadi, sebelumnya kamu duduk disana... Atau berbaring disana. Lalu, apa yang sudah kalian lakukan? Sehingga ada tanda cinta di leher mu. Nona.” Ayah Darez menurunkan kerah jaket yang di pakainya. Memperlihatkan yang disembunyikan kain itu.copyright protection4PENANACpo7guTZGP

DEG!copyright protection4PENANAqHohD8X20S

Ia mendorong tangan Ayah Darez dari kerah jaketnya. Ia harus menjelaskan ini perbuatan Gio.copyright protection4PENANANw0He1GTlJ

Ia hendak membuka mulut, namun tubuhnya di tarik ke belakang. Ia menoleh kesamping kiri. Darez kini berdiri di dekatnya. Matanya dan Darez bertemu, lalu kepala Darez bergerak samar. Menggeleng.copyright protection4PENANAjY8H5pcYoS

“Cukup Ayah. Semua ini salahku. Aku yang membuatnya seperti ini.”copyright protection4PENANANOAc6dk3fl

Otak gadis itu berpikir cepat. Ia merasa ganjil. Darez, di banding memberitahukan bahwa Gio yang melakukannya... pemuda itu memilih berbohong? Apa Darez tidak ingin Gio disangkut pautkan dalam masalah ini?copyright protection4PENANAV3RWL5YrZj

“.... Kamu, Qania? Pulanglah.” Qania menatap Ayah Darez terkejut. “Aku dan Istriku harus berbicara dengan anakku. Lain kali kita bahas lagi ini. Dan Adit, maaf merepotkanmu, tapi bisa kamu mengantar Qania pulang?”copyright protection4PENANAajhj1mIdl6

“Ayah, biar aku yang mengantarnya...” tolak Darez. Perasaannya saja atau tangan Darez dibahunya mengerat?copyright protection4PENANA59VFl2TG59

“Tidak apa-apa Paman, aku bisa mengantar Qania. Aku sudah pernah ke rumahnya.” Jawab Adit, tanpa memedulikan perkataan Darez sebelumnya.copyright protection4PENANA11dSXYYVpY

Qania memandang Adit. Entah kenapa perasaannya mengatakan... lebih baik ia pulang sendiri.copyright protection4PENANAfAhxTiUBvf

****copyright protection4PENANAIBpEhKGarL

Ruangan itu hening beberapa menit. Tiga orang di sana terpaku pada pikiran masing-masing. Setelah kepergian Qania dan Adit dari kediamannya, Darez menceritakan sebagian kejadian yang menimpa Qania pada orangtuanya. Namun tidak menyebutkan nama Gio dalam penjelasannya.copyright protection4PENANAksMxlKwkGW

"Itu tidak menjelaskan kenapa kamu membawa gadis itu ke sini. Selain itu, kenapa kamu tidak menyebutkan nama laki-laki itu." Ayahnya memecah keheningan. Mata itu memandangnya intens. copyright protection4PENANAiVwztpRo1n

"Darel, berhenti menyudutkannya. Qania juga tidak ingin melaporkan kejadian itu pada polisi. Aku tahu Darez bicara jujur. Meski tidak semua yang ia ceritakan pada kita. Pasti dia punya alasan tersendiri. Benarkan Darez?" Ibunya yang duduk disampingnya, mengusap kepalanya.copyright protection4PENANAEJY3nfO3qf

Darez menunduk. Ibunya bisa membacanya dengan mudah. Ia lalu menghela, "Mama, aku bukan anak kecil lagi." Tapi kepalanya enggan menjauh dari tangan sang Ibu.copyright protection4PENANAPKIBi4lPo1

"Ah, bagi Mama, kamu tetap anak kecil. Anak laki-laki mama. Anak laki-laki yang baru mencintai seorang gadis. Hehe." Ibunya tersenyum menggoda. Bermaksud mencairkan suasana tegang.copyright protection4PENANALGXigrI8QJ

Darez hanya terdiam. Tidak menyangkal pernyataan Ibunya. Karena kalau pun ia melakukannya, Ibunya sudah tahu kebenarannya.copyright protection4PENANAwutuyRKmUa

"... yang juga dicintai sahabatnya sendiri." Tambah Ayahnya.copyright protection4PENANACKVklepH3N

"Huh?! Adit juga...?" Ibunya memandang Ayahnya terkejut.copyright protection4PENANAJOuG7L8PUY

"Aku bisa melihatnya. Tatapan Adit, berbeda pada gadis itu. Dan Adit marah melihat Qania di sini bersama Darez. Tadi pun dia memukul Darez, kan?."copyright protection4PENANAyqt2U1TEoO

"Kalau Ayah tahu Adit tengah menahan emosi, kenapa Ayah meminta Adit mengantarnya." Darez berusaha menahan nada suaranya tetap normal. Meski tatapannya tidak membohongi isi hatinya. Amarah. Kecewa. Memadu di sana.copyright protection4PENANAP0yKlUYKB1

Ia ingat ketika menolak perkataan Adit lalu menarik Qania keluar bersamanya. Ayahnya menahan bahunya. Beliau berkata 'Kamu bisa mengantarnya pulang. Tapi jangan harap Ayah membiarkan gadis itu.'copyright protection4PENANAykQ21XO9NI

Saat itu ia menuruti kemauan Ayahnya. Ia tahu, Ayahnya tidak pernah bermain-main dengan perkataannya. Meski dengan nada candaan sekalipun. Dan ia tidak ingin Qania bermasalah dengan Ayahnya.copyright protection4PENANA8l8Bn2ChH0

"Ayah merasa gadis itu akan lebih aman jika Adit yang mengantarnya."copyright protection4PENANA5w0Dhmxg69

Darez tertawa sendu. Ia pun berdiri, "Saat Ayah seusia ku dan Adit... apa yang akan Ayah lakukan ketika melihat gadis yang Ayah sukai memeluk pemuda lain? Tidak, jangan itu, ketika seusia ku... apa yang ingin Ayah lakukan pada Ibu... Jika Ayah melihat Ibu mencium laki-laki lain?"copyright protection4PENANAiEt8Hu6vET

Ia tahu dengan menanyakan hal seperti itu, tidak secara langsung mengungkit cerita kelam orangtuanya. Darez melirik Ibunya sekilas yang sedang  memandangnya terkejut. Kemudian ke wajah Ayahnya yang tampak berubah lebih dingin.copyright protection4PENANAdMflnDo0U6

Darez lalu berjalan menuju dapur. Pikirannya kalut. Kepalanya memikirkan Adit dan Qania secara bergantian. Ia merasa bersalah pada Adit... sekaligus khawatir pada Qania.copyright protection4PENANA00C1DUnbat

"Kamu mau apa Darez?" tanya Ibunya canggung.copyright protection4PENANAks8OBQjIlX

"Aku mau buat nasi goreng." Ia tidak begitu lapar, tapi Darez ingin sesuatu yang mengalihkan pikirannya.copyright protection4PENANACzKSV8vj8q

la lalu mendengar sahutan Ayahnya, "Adit bukan anak seperti itu. Kenapa kamu tidak percaya pada sahabatmu sendiri?"copyright protection4PENANAp8q294Xxf7

Darez  menoleh pada Ayahnya, matanya dingin memandang sosok Ayah yang sangat melindunginya.copyright protection4PENANA1AA9ocZHUl

"Karena aku sangat tahu bagaimana Adit. Sampai aku tidak mempercayainya. Tidak saat ia dikuasai emosi. Sama seperti emosi yang Ayah pernah rasakan pada Mama. Hingga dulu Ayah mempe-"copyright protection4PENANAFwUpoPxU9G

"DAREZ! Biar Mama bantu kamu masak nasi goreng. Sepertinya Ayah dan Mama juga lapar." Potong Ibunya cepat. Suara tinggi Ibunya memerintahkan agar ia tidak melanjutkan perkataannya.copyright protection4PENANAlzOMCYQzw6

"...Maaf."  ucap Darez. Ia memandang dua orangtuanya. copyright protection4PENANAHxGiH5uHNo

Dirinya lalu masuk ke dapur. Sedang Ibunya menyusulnya.copyright protection4PENANA3sVXSkNqfX

****copyright protection4PENANA6AxVm9UdJq

"Darel... lenganku sakit. Tolong... kamu yang mencuci wadah kotor yah?" Ibunya menepuk pundak Ayahnya. Senyum Ibunya seolah ia adalah ratu sejagat.copyright protection4PENANAjrX0JF6dmT

"Baiklah..."copyright protection4PENANACqmynfTbF8

Ayahnya menerima semua wadah kotor dari tangan Ibunya. Pria itu berdiri dan menuju ke dapur. Meski sudah sering ia melihat permintaan ibunya yang selalu dituruti ayahnya... tetap saja ia merasa takjub. Ketika Ayahnya yang... dingin dan penuh kedigdayaan tunduk pada Ibunya.copyright protection4PENANA9MJGH6QBjz

"Darez... Bantu Ayahmu. Dia pasti bingung karena di dapur mu tidak ada wastafel untuk mencuci piring." Ujar Ibunya seraya mengganti spreinya. Setelah selesai, wanita itu berguling-guling di sana.copyright protection4PENANA2D00EKFKY2

"Cepat sana. Kalau udah, kita bertiga bisa tidur di sini. Hampir empat tahun kita tidak berkumpul."copyright protection4PENANAEBs09Qf22V

Darez mengerut. "Kalian tidak pulang? Sebenarnya kenapa Ayah di sini?"copyright protection4PENANAbbHURp1H1k

"Kenapa kamu  tidak bertanya langsung pada Ayahmu? Tanya Ayahmu sana. Sambil membantunya mencuci piring."copyright protection4PENANAh3Yi3C2Jn1

"Mama..."copyright protection4PENANAL1Cd2M4iO6

"Cepat bicara dengan Ayahmu. Atau..." Ibunya menunjuk seragam yang sebelumnya di pakai Qania. Seragam Gio.copyright protection4PENANAd0hVV9lWQn

"Ibu akan memperlihatkan ini padanya."copyright protection4PENANAh8qfquStdg

Darez memucat. . copyright protection4PENANAuZi7clThDI

"Cepat ngobrol dengan Ayahmu. Mama akan menyembunyikan ini."copyright protection4PENANAnRIENDN9AE

****copyright protection4PENANAwRNW7dr0HE

"Ayah?"copyright protection4PENANAhcDzjQUc8y

Darez melihat Ayahnya berjongkok di depan pintu kamar mandi. Tangannya sedang membilas wadah kotor.copyright protection4PENANAVvqDadhYmR

"Harusnya pakai ember ini. Jangan panci itu untuk tempat airnya." ujarnya sambil mengisi air ke ember.copyright protection4PENANACSIqPQEgRl

"Oh, dengan itu ya?"copyright protection4PENANAV8xzHRqC4y

Ia tak habis pikir, pemilik perusahaan didepannya ini menurut pada Ibunya. Apa yang dilakukan Ayahnya kini, tidak serasi dengan kemeja kantor yang dipakainya.copyright protection4PENANAbZ3BCePTcc

"Biar aku yang membereskan sisanya." copyright protection4PENANALP4ufUkTbb

"Tidak perlu, kalau mau bantu, kamu keringkan dan simpan di tempat saja, wadah yang sudah Ayah bilas."copyright protection4PENANAe7kMG1D7EH

"Baik-khh!?" Darez merasa sakit. Ia mencoba menarik napas. Kenapa sekarang ia merasa sulit melakukannya?copyright protection4PENANAGPHKrjYgda

Mengabaikan itu, Darez mengikuti kemauan Ayahnya. Dalam keheningan ia meletakkan piring-piring yang sudah bersih.copyright protection4PENANAsYZxtesN8D

"Ayah, apa yang mau Ayah lakukan dengan datang ke sini?"copyright protection4PENANAZmKj9rlNy0

"Kamu, pulang lah. Kamar mu sudah berdebu di rumah."copyright protection4PENANAvfQcZhvXyJ

Deg.copyright protection4PENANA71I7ybl0Zt

Deg.copyright protection4PENANAEZQojZQFMp

Deg.copyright protection4PENANAFiEvuDN0Bm

Tidak, ia bukan terkejut dengan perkataan Ayahnya.copyright protection4PENANAJInsPWDbXD

"...ini belum lima tahun."copyright protection4PENANAFCCw1VwRAj

"Tidak apa-apa. Aku yang mengusirmu. Jadi, aku juga yang akan memintamu pulang."copyright protection4PENANAggBVM5yA5a

"Tapi aku sudah betah, hidup mandiri."copyright protection4PENANAWOSkgIhUUf

"Betah? Kamu yang tinggal sendirian membuat ku tak bisa mengawasi mu. Atau kamu memang ingin berduaan dengan gadis itu? Apa kalian sepasang kekasih? Atau kamu justru merebutnya dari Adit? Siapa pun dia, lebih baik kalian menikah saja."copyright protection4PENANAxzRa5S5BKG

"A..apa..? Ayah, Qania bukan kekasih siapa pun. Dan maksud ku betah, bukan aku ingin berduaan dengannya. Dia bahkan tidak tahu perasaanku padanya."copyright protection4PENANAV0XwWJBvjG

"Apa? Lalu siapa yang di suka gadis itu?"copyright protection4PENANAFgvxBLgTGa

"Aku belum tahu."copyright protection4PENANA8dK0oQTusD

Darez mengambil piring terakhir, lalu berjalan menuju rak. Dan entah kenapa kakinya tergelincir ke lantai. Piring yang di pegangnya pun pecah saat mengenai lantai dan tangannya.copyright protection4PENANAanE8TARu5b

"Darez, kenapa kamu jadi ceroboh." Komentar Ayahnya dingin. copyright protection4PENANAbLsGj4szX8

Sedang Ibunya segera datang. Raut khawatir terpampang diwajahnya. "Darel! Kenapa kamu nggak bantu dia!" Ibunya menyeru kesal, sambil membantunya bangun.copyright protection4PENANAK6mv7Kl0fO

"Dia bukan anak kecil. Dia sudah 19 tahun." Ayahnya berkata tak acuh. Lalu mengeringkan tangannya. Berjalan ke arahnya.copyright protection4PENANAEqbiy5TqAY

"Darez, dimana yang sakit?!" tanya Ibunya panik.copyright protection4PENANABLJ4s39VC6

Ia menunjuk dadanya tanpa sadar. "Di sini."copyright protection4PENANA3ndqSlbdlq

Ayahnya lalu berjongkok disampingnya. Meraih tangannya, "Tanganmu yang berdarah, rasa sakit harusnya dari sini. Dan aku tidak ingat jika kamu se cengeng ini." Ayahnya mengulum tawa.copyright protection4PENANA2ZQeiojbOU

"Apa sebegitu sakit sampai kamu menangis, Darez?" kata Ayahnya.copyright protection4PENANAaqGUv8XE3z

Darez tidak mengerti, kenapa matanya berair. Ya, ia rasakan kini pipinya basah.copyright protection4PENANAL7XZyPkJ3G

Tapi untuk apa ia menangis?copyright protection4PENANAa5F0jYpC9e

Luka ditangannya bahkan tidak terasa sakit.copyright protection4PENANAxjFdealbPp

"Ayah, aku bahkan baru sadar terluka dan ini tidak sakit. Mungkin aku menangis karena rasa senang Ayah mengajakku pulang." ucapnya. copyright protection4PENANALBxIA5xUOA

"...apa kamu yakin?' respon Ayahnya. Entah kenapa, Ayahnya memandang Ibunya.copyright protection4PENANAAZGgZZepCo

Dan Ibunya bertanya, "lalu dadamu apa  masih sakit?"copyright protection4PENANAD9IimWtI8j

"Sudah tidak." Darez tersenyum.copyright protection4PENANA8TUFCuKapz

Ia ingin mengatakan sesuatu pada Ayahnya. Tapi menahannya.copyright protection4PENANAKZyrgyqvX2

"... Ayo obati lukamu dulu, duh darahnya banyak sekali." kata Ibunya.copyright protection4PENANATBcBTyynhG

Darez tersenyum. Menyetujui perkataan Ibunya. Ia lalu melangkah keluar dapur di iringi Ibunya.copyright protection4PENANAHpzB5c6Pmv

Membiarkan rasa sakit didadanya yang entah dari mana. copyright protection4PENANAp7vYyLwYhu

"Darez," Ayahnya meraih bahunya.copyright protection4PENANA1a5dMZLkm3

Ia menoleh, tersenyum tipis. Berusaha menyembuyikan kegelisahannya.copyright protection4PENANA04sAFxMLn8

"Apa kamu ingin menemui gadis itu?"copyright protection4PENANAhNgMLOyiMP

"... Ya."copyright protection4PENANAMO0R1MQN6d

"Haira, di mobil ada P3K kan? Obati dia di mobil. Kita ke rumah gadis itu sekarang." ujar Ayahnya. Sebelum berjalan mendahului mereka.copyright protection4PENANAQ7hjIWRuIf

###copyright protection4PENANADZ2TMNIl5u

Bersambung...copyright protection4PENANAbRibJkXz74

54.92.201.232

ns54.92.201.232da2
Comments ( 0 )

No comments yet. Be the first!
Loading...
X