Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Dark
Lampu
Writer sitarafelina
Writer
  • G: General Audiences
  • PG: Parental Guidance Suggested
  • PG-13: Parents Strongly Cautioned
  • R: Restricted
PG
RATED
40 Reads
0 Likes
0 Bookmarks
Popularity

Facebook · Twitter

FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2017

Get it on Google Play

Download on the App Store

Follow Author
Lampu
0 Bookmarks
A - A - A
#3
3
sitarafelina
Nov 11, 2017
0
0
7
5 Mins Read
No Plagiarism!Ja9o7FDqT4imfD6vO1X4posted on PENANA

Ketika lampu-lampu yang melilit pohon mangga di depan masjid dinyalakan, banyak anak-anak kecil yang berkumpul di mengelilingi pohon itu sore-sore. Di desa kecil seperti ini jarang sekali ditemukan lampu berwarna-warni seperti itu, apalagi yang bisa berkelap-kelip seperti bintang. Sudah ada lampu minyak saja sudah bersyukur. Si takmir masjid berterimakasih di dalam hati pada siapa pun yang sudah menempelkan lampu itu di pohon mangga. Anak-anak kecil jadi sering ke masjid, meskipun hanya untuk mengerumuni lampu, tetapi paling tidak ada sesuatu yang bisa dijanjikan ketika sesi mengaji mereka selesai nanti.copyright protection7PENANAgSeXneWxS9

Saat pertama kali lampu itu ditemukan, kepala desa setempat langsung berkata bahwa lampu itu bukan miliknya. Meskipun rumahnya adalah yang paling bagus di desa, tetapi rumahnya hanya memakai lampu neon putih biasa. Ia tidak pernah membeli lampu-lampu mahal seperti itu. Yang ada malah akan ia tempel sendiri di pohon durian di pekarangan rumahnya.copyright protection7PENANAQBkZ0rFDSy

Namun, seperti halnya si takmir masjid, kepala desa juga bersyukur dengan adanya lampu warna-warni itu. Desanya jadi terlihat lebih indah. Apalagi letak masjid yang tepat di perbatasan dengan desa sebelah. Rasanya seperti si kepala desa telah memperhatikan wilayahnya dengan tekun, sampai membelikan lampu yang sebenarnya tidak perlu dibeli itu untuk masjid yang hampir bobrok. Kenyataannya, si kepala desa juga sama bingungnya dengan seluruh warga.copyright protection7PENANAIaVXO2tC3q

Pertanyaan yang sempat menggantung di pikiran warga desa itu sudah terlupakan tiga hari sejak munculnya lampu-lampu itu. Tentang siapa dan mengapa seseorang melilitkan kabel-kabel transparan itu di pohon mangga, tidak ada yang tahu, dan kini, tidak ada yang peduli. Si takmir masjid sudah mengumumkan pada siapa pun yang mau mendengarkan, bahwa lampu itu merupakan anugrah dari Tuhan, agar anak-anak kecil desa semakin rajin mengaji. Yang peduli dan mau mendengarkan hanya mangut-mangut, karena mereka pun juga tidak tahu apa-apa.copyright protection7PENANAGkjVhG9dd2

Di hari ketujuh sejak munculnya lampu-lampu itu, seorang ibu berkerudung hijau datang ke masjid membawa sebungkus makanan. Untuk si takmir masjid katanya. Anak laki-laki tertuanya sudah khatam Quran, anak perempuan terakhirnya sudah khatam buku iqra. Si takmir masjid menerima tempe goreng dan sayur pakis itu dengan malu-malu. Ia hanya membantu, katanya. Anak ibu sendiri yang berusaha, katanya. Si ibu tidak peduli. Ia mendorong bungkusan daun pisang itu dan pergi sambil tersenyum-senyum.copyright protection7PENANAm3DH3D8Ih1

Ibu berkerudung hijau itu melewati pohon mangga di depan masjid. Ia berhenti sejenak, memperhatikan lampu-lampunya yang tetap hidup meskipun siang hari. Si takmir masjid kemudian berseru, bahwa terberkatilah lampu-lampu itu, karena anak-anak kecil makin antusias untuk datang mengaji. Dan bahwa anak ibu berkerudung hijau itu juga salah satu yang sering memperhatikan lampu-lampu itu sehabis mengaji.copyright protection7PENANAh0ccY0esDi

Si ibu tertawa. Mana mungkin lampu-lampu ini yang membuat anak-anak itu pandai mengaji, begitu katanya. Kemudian ibu itu mengucap salam pada si takmir masjid dan berjalan pergi menuju rumahnya kembali.copyright protection7PENANATkDcfUSp86

Di hari kedua belas, salah satu lampunya mati. Si takmir masjid lah yang memberitahukan hal ini pada kepala desa pagi-pagi sekali. Ketika ia berjalan ke masjid hendak mengumandangkan adzan subuh, ia mendapati halaman depan masjidnya gelap dan tidak berwarna-warni seperti biasanya. Ia langsung berlari ke rumah kepala desa, mengetuk dengan keras pintu rumahnya, dan disambut oleh raut wajah mengantuk si kepala desa dan istrinya. Setelah mendengarkan alasan kenapa ia dibangunkan sepagi ini, raut wajah kepala desa seperti sudah disiram air dingin. Ia lalu ribut bukan main, mencari segala cara untuk menyalurkan listrik dari rumahnya ke lampu di pohon mangga itu. Ia menyambung kabel demi kabel, kawat demi kawat, keringat demi keringat, hanya untuk menghidupkan bintang-bintang imitasi itu.copyright protection7PENANArva5cdJlV1

Si takmir masjid menyambungkan kabel dengan tangan gemetaran. Dalam hatinya ia berdoa agar lampunya hidup kembali. Jari-jari si kepala desa licin karena keringat saat ia menyambung kawat. Dalam kepalanya ia memikirkan masjidnya yang akan kembali gelap. Ibu-ibu di desa bergiliran membuatkan kopi dan teh untuk para pemuda desa yang berusaha menghidupkan lampu. Ada banyak tempe dan singkong yang digoreng pada hari itu.copyright protection7PENANAnd1zq0AFsd

Satu per satu lampu-lampu kecil itu meredup, kemudian mati sama sekali. Tak peduli seberapa keras usaha masyarakat desa untuk menyambungkan listrik dan membuat lampu-lampu itu menyala kembali, tetap saja pohon mangga itu tidak terlihat semeriah biasanya. Tidak ada tanda-tanda lampu itu akan hidup, sepercik listrik pun tidak terlihat.copyright protection7PENANAXlyBxOvqdE

Ketika sudah mulai tengah hari, si kepala desa mulai resah. Sebentar lagi anak-anak kecil di desa akan pulang dari sekolah. Jika mereka mengetahui lampu kesayangannya tidak menyala kembali, bisa-bisa roboh satu desa karena tangisan anak-anak!copyright protection7PENANAwF9GLmTvHP

Sepertinya istri kepala desa menyadari kecemasan suaminya itu. Ia lalu pergi ke sekolah seorang diri, berusaha meyakinkan guru-guru untuk menahan murid-muridnya sebentar lagi. Dalam hatinya ia berdoa agar lampu kelap kelip itu sudah bisa menyala saat ia kembali dari sekolah nanti.copyright protection7PENANAw43yEtye80

Istri kepala desa berjalan dengan tergesa-gesa memasuki halaman sekolah yang luas. Kerudungnya miring-miring, namun hanya dibenarkan sekenanya. Wajah dan punggungnya berkeringat karena berjalan begitu cepat. Kaki tuanya sudah mulai protes. Sedikit lagi, batin istri kepala desa. Sedikit lagi ia sampai ke kantor sekolah dan memberitahu kepala sekolah tentang situasi genting yang sedang terjadi.copyright protection7PENANAs6m0HTOdj2

Ternyata tidak ada orang di kantor kepala sekolah. Kursinya kosong, gelas teh manis di mejanya juga belum tersentuh; tehnya masih penuh. Istri kepala desa kemudian berjalan ke ruang kelas terdekat. Di dalamnya tidak ada orang juga. Tas-tas milik murid-muridnya ditinggalkan begitu saja di bangku-bangku kecil yang memenuhi ruang kelas beralaskan tanah itu. Buku-buku tulis ditinggalkan terbuka di meja, begitu pula pensil dan pulpennya.copyright protection7PENANARQI1wtnqY5

Setelah mengelilingi ruang-ruang kelas lain yang juga kosong, istri kepala desa berlari menuju ruang guru. Ia bernafas lega ketika melihat guru-guru berkumpul membentuk lingkaran di dalamnya, termasuk si kepala sekolah. Mereka semua terkejut ketika istri kepala desa memasuki ruangan dengan berlari-lari.copyright protection7PENANAgvaj3OMC3V

Setelah menjelaskan duduk perkaranya, kepala sekolah terhenyak di kursinya. Beberapa guru saling berpandangan satu sama lain.copyright protection7PENANADv1ZwJTkWd

“Bu, anak-anak tadi tiba-tiba berlari keluar kelas bersama-sama,” kata kepala sekolah pelan. Wajahnya tersembunyi di balik tangannya yang menopang kepalanya. Ia terlihat lelah sekali.copyright protection7PENANAnO36PAzd0y

“Pergi ke mana mereka?”copyright protection7PENANAjg4tA7imKl

Si kepala sekolah menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan istri kepala desa. “Mereka lari keluar kelas kemudian menghilang begitu saja. Seperti ditelan bumi.”copyright protection7PENANAinRknn3gI0

54.81.139.56

ns54.81.139.56da2
Comments ( 0 )

No comments yet. Be the first!
Loading...
X