Saya Benci Lebaran | Penana
×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Short Story
Saya Benci Lebaran
No tags yet.
Tags
Writer Roby Alfilio N
Writer
  • G: General Audiences
  • PG: Parental Guidance Suggested
  • PG-13: Parents Strongly Cautioned
  • R: Restricted
G
RATED
238 Reads
1 Likes
0 Bookmarks
Popularity

Facebook · Twitter

FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018

Get it on Google Play

Download on the App Store

Follow Author
Saya Benci Lebaran
0 Bookmarks
A - A - A
Intro
Roby Alfilio N
No Plagiarism!6sYfHcDr8rxRC16f1YTQposted on PENANA

Saya benci lebaran. Entah mengapa Idul Fitri seolah menjadi parade kemunafikan. copyright protection125PENANArmWMUMZuVL

Saya bertemu orang-orang yang tidak saya kenal, memasang muka mainan, terpaksa tersenyum seraya mengucapkan lahir batin. Mereka, orang yang hanya saya temui setahun sekali, orang-orang asing yang entah dari mana asalnya, meminta maaf kepada saya untuk kesalahan yang saya tidak tahu kapan terjadi.copyright protection125PENANAW2eVhV7Ung

Lebaran, bagi saya, semestinya tentang berpikir apakah saya sudah menjadi orang yang lebih baik daripada sebulan lalu. copyright protection125PENANAmU7YWeeXd7

Ibu saya adalah orang yang paling bersedih ketika Ramadan berakhir, awalnya saya pikir ibu berlebihan dan sedang melodramatis. Tapi ibu saya serius, ia merasa bahwa hanya ketika Ramadan saja ia bisa demikian total beribadah tanpa mesti memikirkan dunia. Saya tidak pernah paham apa maksudnya, tapi saat lebaran, ketika saya mencium tangan keriputnya untuk meminta maaf, mata ibu saya memerah dan berair. Saya tahu ibu saya tidak rela meninggalkan Ramadan.copyright protection125PENANAOEuKrpxqUs

Sudah tiga tahun terakhir saya tidak pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya memilih untuk tinggal di Bali. Saya memutuskan tinggal bukan karena tidak rindu keluarga besar dan suasananya, atau tidak ingin bertemu teman-teman. Saya malas untuk kemudian mesti bertemu orang-orang menyebalkan dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan. copyright protection125PENANAcQvqLNmTHJ

Kapan kawin? Kenapa pacaran beda agama? Dan sebagainya dan sebagainya. Mereka tidak pernah meminta jawaban. Mereka sedang menghakimi, apapun jawaban yang saya berikan, mereka tidak akan pernah puas.copyright protection125PENANAa4Eh3AvhxI

Pulang ke rumah setelah bekerja di perantauan barangkali adalah bentuk lain kemewahan. Tapi tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa menghadapi keluarga besar. Tapi lebaran, juga setiap kepulangan yang lain, selalu membawa kita pada kondisi apa boleh buat. Bertemu dengan kawan lama, sahabat lama yang bisa jadi lebih baik, tetap di tempat atau mengalami dekadensi pemikiran yang mengerikan.  Bagi saya sendiri, ada beberapa hal yang memang bisa ditoleransi, dinegosiasikan, dan dibiarkan untuk sesuatu yang lebih baik. copyright protection125PENANAplnT6OjEfd

Di Bali ketika Idul Fitri membuat kota ini menjadi demikian manusiawi, jalanan menjadi lengang, udara sedikit lebih baik, kebisingan berkurang, dan tentu saja menjadi sedikit lebih sepi. copyright protection125PENANA6r4CSPpeJ7

Tapi hey, kesepian dan kesunyian adalah dua komoditas penting di sini. Menjadi sepi dan sunyi barangkali adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Anda bisa mendapatkan itu ketika lebaran tiba, ketika para perantau pulang ke rumah masing-masing, ketika para pengadu nasib memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. copyright protection125PENANAXTcCbfdHwL

Tentu kesepian itu mengerikan. Tapi saya kira itu harga yang pantas dibayarkan untuk sebuah ketenangan. copyright protection125PENANApW7NQdB9RQ

Lebaran di kampung bisa jadi lebih ramai daripada Denpasar Festival. Saat di mana seluruh keluarga besar datang, kawan-kawan masa kecil hingga kini mampir. Tentu ada yang rindu, tentu ada yang ingin tulus bertemu denganmu karena sekian tahun tak jumpa. Namun, beberapa dari mereka ingin bertemu karena ingin membandingkan kesuksesan, membandingkan nasib, atau bahkan menertawakan kesialan orang lain.copyright protection125PENANAmYhqB9g0o0

Pun mereka yang pulang terkadang ingin menunjukan bahwa mereka telah satu derajat lebih kota daripada mereka yang memutuskan tinggal di kampung halaman. Bahwa kota telah membuat mereka menjadi modern, maju, dan bermartabat. Seolah-olah tinggal di kampung halaman zaman akan berhenti, pemikiran mandeg, dan informasi tersendat. Kepongahan yang kerap hinggap di beberapa orang kota yang kena tempeleng gaya hidup urban kekinian.copyright protection125PENANA8mUkY5zbM6

Bali kehilangan beban ketika lebaran tiba. Gedung-gedung perkantoran menjadi lengang, pasar sepi, dan tiba-tiba kita menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang membuatmu berharap agar kelengangan dan kesepian ini abadi. Pembangunan dihentikan dan pohon-pohon menjadi rimbun. copyright protection125PENANAWc23ZShA19

W.R. Supratman, Teuku Umar, Gatot Subroto, dan seluruh simpul kemacetan terurai. Tidak ada lagi umpatan motor goblok, mobil setan, angkot sialan, dan sejenisnya. Para pengendara bernyanyi riang mengikuti irama mp3 player, beberapa bersiul-siul, pengendara roda dua menjadi berakal, angkutan umum tidak lagi penuh sesak dengan penumpang. Sebuah utopia yang telah berpuluh tahun ingin dicapai berbagai gubernur hanya bisa tercapai ketika lebaran tiba.copyright protection125PENANAro8IPJS6Kg

Malam lebaran di beberapa kampung yang di dominasi penduduk minoritas petasan bertebaran seolah menjadi alat komunikasi. Kampung-kampung beradu ledakan, warna-warni kembang api menghadirkan imaji bahwa desa ini masih sedikit waras. Penduduknya bergembira, kampung-kampung menjadi hidup dengan pertemuan-pertemuan. copyright protection125PENANA6TC0dB5NNS

Hari Raya di Bali adalah penanda bahwa orang minoritas masih ada, mereka masih hidup, bertahan, dan tetap menjaga tradisi mereka. Memanusiakan manusia, memuliakan tamu, dan menghargai saudara.copyright protection125PENANATK4WN3O5EQ

Pernahkah kamu merayakan lebaran bersama orang-orang minoritas di Bali? Keramahan mereka, ketulusan mereka, juga tawaran yang tak mungkin Anda tolak untuk menikmati hidangan yang mereka buat.copyright protection125PENANAf5foO57GbS

Bali ketika lebaran adalah sebuah pemandangan yang lain, yang membuat anda akan merasa bahwa, “Ah, tempat ini tidak membuat manusia menjadi kejam”. masih menyediakan manusia-manusia tulus yang mau menerima tamu, yang mau memuliakan mereka yang ditinggalkan.copyright protection125PENANAXhLAiZbnMZ

Suatu ketika Hari Raya di Bali membuatmu berpikir lebih banyak dan lebih panjang. Kesepian mengajarkanmu untuk menghargai kebersamaan. Sementara kesunyian membuatmu belajar memuliakan pertemuan. Kota ini demikian kejam pada mereka yang lemah hati, namun pada saat yang sama mengajarkan kita tentang pentingnya menjadi manusia. copyright protection125PENANAfGJkCxnrC2

Masih di Bali ketika lebaran bisa jadi menyedihkan. Ketika Anda sedang jatuh cinta, merindu, atau bahkan berharap. Kesendirian adalah karib paling baik dari rasa pedih. Bali menghadirkan banyak kesempatan, tapi juga menyediakan banyak kekecewaaan. copyright protection125PENANAiS7xgVCoCO

Kamu bisa saja pura-pura optimis dan getir dengan menuliskan sebuah artikel tentang betapa munafiknya perayaan lebaran di kampung halaman, padahal jauh di dalam hatimu, kamu sangat berharap bisa pulang untuk merayakan lebaran bersama orang - orang yang kamu sayang.  129Please respect copyright.PENANAm1v5l7CIzf
-RAN-copyright protection125PENANAhA53an2mLO

54.196.73.22

ns54.196.73.22da2
Comments ( 0 )

No comments yet. Be the first!
Loading...
X