×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Sarah Fardayati
Joined Jan 14, 2019
Words Published
3,662
Comments Given
0
Sarah Fardayati
Leisure Writer
From Indonesia Female Born 9th Aug 1998 Some College
Featured Stories
S
Solo Works
C
Collaborative Works
I
Idea Contributors
B
Beta Reader
S
1
ISSUE
pelarian
Updated Jan 14, 2019
PG-13
0
43
0
Family
Friendship

Kisah ini tentang aku, aku seorang gadis yang pengecut yang tidak bisa menerima kenyataan hidup ku dan memilih untuk berlari sekuat tenaga dan menjauh dari kenyataan. Dan berharap aku bisa hidup tenang dengan tidak ada nya kenyataan di hadapan ku.

Berlari itu sungguh melelahkan, bagi seseorang yang memilki mental pemberani. Tapi bagiku yang pengecut, berlari adalah hal yang paling mudah dan indah ketimbang harus menghadapi kenyatan hidup yang pahit dan takdir yang selalu mengkhianatiku.

Semoga kalian bisa belajar, tidak selama nya berlari itu buruk.. jika berlari bisa menghindari melukai perasaan orang lain, lebih baik berlari bukan? Ketimbang harus menghadapi nya? Coba pahami dari sudut pandangku.

Dan berlari bagiku seperti mimpi yang tak pernah usai.

Bagian 1

Alasan, ku cari dan kutemukan

2 januari 2019, gemuruh gemuruh keriyuhan keributan suara orang orang yang sedang berbicara di sekelilingku. Kulihat sekelilingku begitu ramai orang tengah berbincang. Apakah itu berbincang dengan sesama manusia yang ada di hadapan nya atau ada pula yang tengah berbicara dengan sebuah benda yang di dalam nya terdapat sebuah gambar manusia atau terdapat sebuah pesan teks di dalamnya. Atau bahkan terkadang aku melihat mereka berbicara pada benda yang di dalam nya bahkan gambar mereka sendiri. Entahlah sudah begitu canggih tekbologi di dunia ini.

Lucunya, ketika aku berada di tengah keramaian dan hirup pikuk ini.. aku tetap merasa kesepian, dan aku merasa bahwa aku ini sendirian. Yang terdengar dari sebuah keriyuhan di sekelilingku hanyalah suara gemuruh ratusan manusia yang entah aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang tengah mereka perbincangkan dan mereka lakukan. Aku tidak tahu apakah aku ini yang memang menyedihkan atau memang dunia ini yang telah kehilangan rasa simpatinya.

10:30 bandara soekarno hatta, aku meunggu untuk keberangkatan pesawat yang akan aku gunakan untuk terbang menuju Cambridge, Massachusetts, amerika serikat. Atau mungkin bisa di bilang “terbang menuju tempat pelarian”. Iya, pelarian.. dimana aku hanya berlari dan terus berlari dari semua kenyataan yang aku tidak pernah bisa terima. Jika kebanyakan orang dating ke Cambridge, Massachusetts, amerika serikat untuk belajar, karena tempat tersebut merupakan kota pelajar. Tapi berbeda dengan aku, aku datang ke tempat itu untuk berlari dari kenyataan hidup yang aku tidak pernah bisa terima. Sungguh pengecut bukan aku? Terserah kalian mau mengatakan apa tentang aku, yang jelas aku tidak sanngup untuk menghadapi kenyataan yang ada di hadapan aku dan aku memilih berbalik dan berlari sekuat tenaga untuk menjauh.

Flash back, 07 july 2018 . kenyataan pahit dalam hidup aku yang tidak pernah terbesit dan terbayangkan menimpah pada ku. Aku harus kehilangan 2 sosok yang aku sayangi dan cintai dalam hidupku dalam waktu yang bersamaan. Menyedihkan.. aku harus kehilangan sosok wanita yang melahirkan ku merawatku dan membesarkan aku, hingga aku ber umur 19 tahun. Ibuku meninggal kecelakaan tabrak lari, dan pelaku nya adalah seorang pria dan pria itu adalah kekasih aku sendiri. Lebih membuat hati aku hancur dan hancur lagi, ketika terjadi kejadian itu.. pria yang katanya kekasih aku itu tengah berbincang asik di dalam mobil yang tengah ia kendarai, berdua dengan mantan kekasih nya yang terdahulu, mungkin karna ke asyikan mengobrol sedang menyetir, tanpa sadar dan sengaja menabrak ibuku yang tengah menyebrang jalan hingga terpental pada siang itu.

Baiklah aku mungkin masih bisa menerima ketika dia tengah jalan dengan mantannya, tapi mengapa harus ibuku? Apa salah ibuku kepada mereka berdua?  Kenapa mereka setelah menabrak ibu ku, tidak menolong nya dan segera membawanya kerumah sakit? Kenapa malah lari tanpa ada rasa tanggung jawab?. Aku sangat yakin, bahwa mas nya tau bahwa yang ia tabrak adalah ibuku, ibu dari kekasihnya. Kenapa? Apa salah aku pada mu mas?. Jika saja siang hari itu kamu membawa segera ibuku ke rumah sakit, mungkin ibuku akan segera tertolong dan masih ada di samping aku. Dan hidup aku tidak akan menjadi seberat ini yang berujung pada sebuah pelarian.

“Sungguh egois kah aku? Lebih egois mana aku dengan kamu mas? Lebih egois aku yang menyalahkan dan menimpahkan semua kesalahan, kemarahan dan semua kejadian yang terjadi pada hidup aku itu terjadi karna kamu atau kamu yang lari tanpa bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada ibu ku? Lebih egosi mana mas?.” Itu yang selalu terlontar dalam fikiran dan benaku, tapi tanpa suara.

Aku tidak pernah bisa mengatakan itu semua secara langsung dan bahkan hanya sekedar menatap mata nya aku pun tidak sanggup. Aku pun tidak bisa mengutarakan apa yang aku fikirkan, karna sungguh perasaan ini sungguh kacau. Coba bayangkan oleh kalian, aku harus kehilangan 2 sosok yang berbeda namun memiliki arti dalam hidupku. Ibu ku adalah cinta dalam hidupku dia adalah surga dan harta dunia dan akhiratku. Dan pria itu adalah cinta pertama bagiku, cinta yang mengenalkan bahwa ada cinta yang lain selain cinta dari orang tua. Cinta yang memiliki berbagai rasa di dalam nya dan meiliki efek candu.

Dan aku harus kehilangan 2 sosok dan 2 rasa itu sekaligus, hidupku seketika menjadi hampa dan gelap, seolah seketika aku menjadi buta. Aku tidak bisa melihat apapun. Kecuali kepingan perasan yang telah menjadi debu.

7 agustus 2018, sebulan setelah kepergian ibuku aku mencoba me re-cover hidupku, semagatku, tujuan hidupku, perasaanku. Semua nya aku coba bangun kembali. Karena, pasti bukan hanya aku yang kehilangan, dan bukan hanya aku yang hancur. Ada ayahku yang lebih hancur ketika harus menerima kenyataan bahwa perempuan yang menemani nya selama 19 tahun dan selama 17 tahun harus merintis bersama dan merasakan pahit manis nya dari perjuangan, dan harus pergi begitu cepat, ketika ayahku sedang berada di puncak karirnya. Sungguh malang ibuku yang tidak bisa merasakan manis nya dari hasil perjuangannya bersama ayah. Dan ada pula kakak ku yang pasti hancur hati nya ketika ia “baru saja” akan memperlihatkan dan ingin melukiskan sedikit senyuman di wajah ibuku, karena ia baru saja bisa membuat sebuah game online yang cukup mendunia dan membuat dirinya di lirik oleh perusahaan google yang berada di Mountain View, California, Amerika dan menawari kakak ku untuk bergabung.

Sungguh malang ibuku, yang tidak bisa merasakan manis nya perjuangan yang telah ia berikan untuk keluarganya. Ketika semua nya tengah bersiap melangkah untuk sampai puncak, takdir berkata lain. Ibuku harus terjatuh dan hilang, yang tidak bisa menikmati keindahan puncak perjuangan. Dan sekali lagi takdir menghianati kami.

“sreeeeeettt.”..”de, keluar makan dulu yuk!.” Kata kakaku. “hemmm..(sambil menatap).” Jawabku yang tidak bisa menjawab dan hanya bisa menatap. “ayok, makan sama sama, sama ayah sama kakak, jangan murung terus, nanti ibu sedih” kata kakaku sambil tangan nya menggandeng dan sedikit menarik tubuhku agar bangun dari duduk diam ku diatas ranjang.  Aku pun ikut tanpa menjawab yang berarti meng iyakan ajakan dari kakak ku.

Di meja makan sudah ada ayah yang tengah duduk dan bersiap untuk makan siang, tak lama ayahku melihat ke arahku sambil terseyum dan menepuk nepuk kursi yang ada di sebelahnya dengan tangannya, yang bertanda ayah meyuruhku untuk duduk bersama di sebalahnya untuk makan siang. Aku hanya mennggannguk dan menghampiri ayahku sambil dalam fikirku “ sungguh kuat ayahku, masih bisa tersenyum, ayah saja kuat demi anak anak nya, masa aku tidak?”

Makan siang kami terasa kaku dan dingin, kami hanya makan tanpa ada perbincangan apapun di dalamnya. Setidaknya kami sudah melangkah, walaupun hanya satu langkah dalam hidup kami. Dan itu adalah makan siang pertama bersama sama tanpa  kehadiran ibu.

Seminggu, dua minggu hingga tiga minggu kemudian hidup kami berjalan seperti biasa dan seharusnya. Aku kembali menjadi kuli pendidikan dan begitupun kakak ku. Aku dan kakak ku kuliah di universitas yang berbeda, tetapi satu kota dan letak kampunya pun bertetangga. Ayahku pun kembali bekerja, yang berbada dari hidup kami adalah tidak ada nya kehadiran ibu dan hilangnya senyuman dari wajah kami bertiga. Kami pun jarang untuk saling menatap dan bertatap muka dan jarang juga saling bertemu padahal kami tinggal dalam satu rumah. Kami sering pulang malam, karna jika kami berada terlalu lama di dalam rumah kami selalu merasa, bahwa ibu kami masih ada.

Dan untuk si mas mas yang menabrak ibu ku, dia tidak di jebloskan ke penjara oleh ayahku, ayahku bilang “dia masuk penjara juga tidak akan mengembalikan ibu, biarlah saja. Dan jangan pernah temui putriku lagi atau muncul di hadapan keluarga ku lagi!.” Ujar ayahku di depan mas nya dan keluarga nya, termasuk aku. Dalam benak ku “tanpa ayah berkata seperti itu, akupun enggan bertemu atau bahkan sekedar memikirkan dia, karena dengan memikirkan man nya, aku merasa sesak dan hati ku akan hancur untuk kesekian ratus kali nya.”

7 september 2018,Genap dua bulan kepergian ibu ku ayahku mengajak makan malam di luar. Tidak aku sangka makan mala mini adalah makan malam yang tidak pernah ingin aku ingat, dan seharusnya aku tidak pernah hadir.

Ebeya Steakhouse, The Ritz Carlton, Pacific Place, Jl. Jend. Sudirman, SCBD, Jakarta. Ayahku meminta aku dan kakak ku untuk dating dan makan malam di restoran ini. Aku dan kakak ku berangkat bersama, dan begitu masuk, “wah sungguh mewah sekali restoran ini, pasti mahal dan yang makan di sini juga pasti orang orang kaya.” Ujarku dalam benaku.

Tidak lama, ada seorang pelayan restoran sepertinya, mempersilahkan dan menunjukan tempat duduk ayah yang sudah ayahku pesan. Ketika aku sedang berjalan untuk menghampiri ayah, aku melihat seorang perempuan muda cantik dan sepertinya dari keluarga kaya juga tengah berbincang asik dengan ayahku. Dan ayahku juga terlihat sangat bahagia berbincang dengan perempuan itu. Aku sambil terus melihat dan tidak pernah mengalihkan pandanganku kepada perempuan itu, sambil bertanya Tanya Tanya dalam benak ku “siapakah perempuan itu? Rekan kerja ayah? Atau siapa? Kenapa perempuan itu ikut bersama makan malam bersama keluarga ku?.” Tanyaku dalam fikirku.

Dan ketika aku dan kakak ku sudah berada di hadapan ayahku dan perempuan itu, ayahku menatap aku dan kakaku sambil meminta kami duduk di kursi yang ada di depan nya, satu meja dengan mereka berdua. Aku belum mau duduk, ketika kakak ku sudah duduk. Dan aku hanya menatap perempuan yang di sebelah ayah. Aku hanya diam membeku.

Lalu ayah melihatku dan berkata “duduk dulu, nanti ayah kenalkan dan jelaskan, kamu duduk dulu nak, di sebelah kakak mu.” Sambil meminta dengan lembut. Akupun hanya diam dan mengikuti apa permintaan ayahku. Ayahku pun meminta pelayan untuk membawakan menu dan meminta kami untuk memilih apa yang kami inginkan. “nak ayok mau makan apa?.” Tanya ayahku pada aku dan kakak ku. Aku pun menjawab “ siapa perempuan ini? Dan mengapa dia ikut makan malam bersama kita? Tolong jelaskan dulu ayah! Jangan membuat aku menerka nerka yang tidak jelas.” Pintaku pada ayah dengan nada suara yang sedikit tinggi dan mata yang berkaca kaca.

Ayahkupun hanya terdiam sejenak dan menatap wajahku, sebelum ia menjawah pertanyaan ku. “perempuan ini adalah perempuan yang akan menggantikan ibu, dia calon istri ayah. Ayah akan segera menikah dengan dia, dan ayah nya perempuan ini juga merupakan rekan bisnis ayah, perempuan ini perempuan baik dan berasal dari keluarga yang baik. Walaupun perempuan ini hanya terpaut 6 tahun dari kakak mu, tapi perempuan ini layak menurut ayah untuk menggantikan ibu dan memiliki sisi seorang ibu. Ayah tidak sedang meminta izin, ayah hanya memberitahu kalian, agar kalian tidak kaget nantinya.”

“..” aku hanya diam dan menatap marah kepada ayah dan perempuan itu. Dan aku pun segera berdiri dan beranjak akan pergi dari tempat mengerikan itu, dan aku tidak akan pernah masuk ketempat itu lagi. Sebelum aku melangkah pergi ayahku berkata “duduk nak.. ayah bilang duduk!.” Dengan nada suara yang tinggi dan muka memerah. Dan aku hanya menatap kesal lalu pergi tanpa menghiraukan apapun dan siapapun. Kepergianku di ikuti oleh kakak ku yang juga mengejar aku yang sambil menangis. Dan akupun pulang bersama kakak ku ke rumah, tanpa ada perbincangan apapun walaupun aku tahu, perut aku dan kakaku ku sangat lapar mengingat kami belum memakan apapun dari tadi sore. Tapi rasa nya aku dan kakaku malas untuk melakukan apapun selain tidur.

Keesoka harinya, aku terbangun. Tapi entah kenapa aku terbangun dengan perasaan yang hancur dengan menghela nafas, dan berharap hari ini tidak pernah hadir dalam hidupku. Aku bangun dan beranjak dari tempat tidurku dengan niat bersiap siap untu berangkat untuk kuliah.  Aku pun turun dari lantai dua kamarku. Dan ayahku sudah menunggu aku dan kakak ku di bawah, di meja makan. Ayah ku menatap aku dan kakaku dengan maksud agar kami duduk makan bersama nya. Aku pun ikut sarapan dengannya karena aku lapar dan belum memakan apa apa sejak malam. Di tengah sarapan, ayah memulai pembicaraannya dan berkata “ayah minggu depan akan bertunangan dengan perempuan itu.” Rasanya makanan yang barusan aku telan ingin naik lagi dan keluar dari tenggorokan ku. Dan aku menatap ayah dengan marah. Lalu ayah menyambung perkataan nya “ayah hanya memberi tahu, bukan bermaksud meminta izin, ayah harap kalian berdua bisa hadir di hari bahagia itu.”. dan aku pun menjawab dengan seribu pertanyaan yang ingin aku lontarkan pada ayah sejak malam.

“secepat itu ayah melupakan ibu? Secepat itu ayah bisa beralih ke perempuan lain? Belum 3 bulan kepergian ibu, ayah sudah ingin menikah lagi? Dimana rasa cinta ayah untuk ibu? Dimana? Harus ayah menikah lagi? Harus? Tidak bisakah kita hidup bertiga saja? Tanpa kehadiran orang lain? Ga bisa ayah?. Tanya ku sambil nada yang parau dan pipi yah basah oleh air mata.

Mendengar pertanyaanku dan melihat wajah ku, ayah hanya menjawab pertanyaan ku dengan santai “cinta ayah untuk ibu akan selalu ada, tapikan hidup harus terus berjalan, dan posisi ibu juga harus ada yang menggantikan.. ayah yakin ibu juga mengerti dan ingin kita bahagia..” jawab ayah dengan mencoba tersenyum kepada ku.

Akupun kembali menjawab “posisi ibu tidak akan pernah bisa tergantikan! Ibu adalah ibu! Dan tidak akan pernah ada yng bisa menggantikan! Bahagia ga selalu harus ada orang baru dalam hidup kita yah! Tidak selalu harus ada pengganti ketika ada yang hilang! Jalani tanpa mencari penggantinya kan bisa yah ! ayah egois!” timpal ku atas jawaban ayah.

“kamu yang egois! Kenapa ayah tidak boleh menikah lagi? Ayahkan seorang pria yang mampu untuk menikah lagi! Ayah tidak ingin berlarut larut dalam kesedihan! Ayah juga ingin berbahagia, ingin tersenyum, ingin tertawa, ingin memilki pendamping! Salah ayah inginkan hal itu? Tanya ayah kembali kepada ku.

“apakah salah jika aku inginkan kita bisa berkumpul sampai akhirat? Aku ingin kita bisa berkumpul sama ibu hingga di surge nanti! Jika ayah menikah lagi, kita ga akan bisa kumpul sama sama , sam ibu yah! Salah aku inginkan hal itu yah salah?” jawab ku sambil menangis.

“…..” ayahku kemudian terdiam dan menunduk, dan kembali menjawab dengan suara yang pelan, “terserah kamu setuju atau tidak yang jelas keputusan ini sudah bulat.”

Dan aku hanya terdiam, dan beranjak pergi tanpa berpamitan ataupun menghabiskan sarapan ku, padahal aku masih lapar. Aku tau aku tega, meninggalkan ayah sendirian tapi aku juga marah terhadap ayah yang begitu mudah melupakan. Aku juga tau itu semua salahku hingga yah ingin menikah lagi, karna ayah kesepian..dan aku terlalu berlarut larut dalam kesedihanku,  harus nya aku ada ketika ayah kesepian sehingga ayah tidak pernah terfikirkan unyuk menikah lagi. Tapi aku juga tidak bisa menerima bahwa semua kejadian ini juga adalah salah ku, karna aku juga merupakan korban di sini. Tolong mengerti itu..

Hari demi hari terlewati, bagiakan di neraka. Hingga akhirnya tibalah hari H atau hari pertunangan itu. Aku tidak menghadiri pertunangan ayahku selayaknya anak menghadiri pertunangan ayahku. Aku dating kepertunangan ayahku yang di adakan di hotel bintang lima dengan sangat mewahnya dan para tamu undangan yang terhormat. Aku datang hanya untuk mempermalukan ayahku, sungguh anak macam apa aku ini. Dengan maksud agar pertunangan itu batal dan penikahan tidak pernah terjadi.

Aku datang dengan pakaian yang lusuh, tepat sebelum ayahku memberikan cicin kepada calon nya itu. Dan aku berterika “ayaaaaaaaahhhhh!!! Jangan aku mohon jangan menikah lagi, maafkan aku yang terlau berlarut larut dalam kesedihan, yang tidak sadar dan tidak memperdulikan ayah, bahwa ayah juga hacur dan kesepian. Tolong ayah! Jangan menikah lagi dengan perempuan itu. Demi anakmu ini!.” Ujarku sambil bertekuk lutut dihadapan ayah dan semua orang yang ada di acara itu.

“kenapa kamu melakukan ini kepada ayah nak? Kenapa? Bukan salah kamu nak, tapi maafkan ayah, keputusan ini sudah bulat dan ayah akan tetap menikahi perempuan ini segera setelah pekerjaan ayah di Milan selesai, bangunnak ayok bangun.” Ujar ayahku sambil menggenggam tanganku dan berusaha membuat aku berdiri.

“ayah jahat! Aku tidak mau bertemu ayah lagi, aku banci ayah!” ucapku kepada ayah sambil menangis dan berlari pergi dari acara itu.

Kakaku memilih tidak hadir di acara itu dan memang kakaku sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Lebih baik seperti kakak ku yang tidak hadir, daripada aku yang hadir tapi berbuat seperti itu.

Hari demi hari kulewati, aku tidak pernah mau bertemu, menatap atau berbicara dengan ayahku, Saking aku marah dan kesal nya. Tapi hati aku juga menangis atas keputusan ayahku. Jika ayahku berusaha berbicara atau menghampiri ku aku selalu menghindar dan jika ayah mencoba menelepon atau sms aku tidak pernah menjawab. Aku seperti ini berharap agar ayahku berfikir dengan ayahku menikah lagi, bukan mendekatkan jarak diantara anak anak nya dan dia. Tapi malah memberikan jarak yang sangat jauh. Dengan begitu, mungkin saja ayahku akan mebatalkan pernikahannya. Tapi itu hanya hayalan ku saja. Kenyataan nya itu tidak terjadi, malah sebalik nya.

Hari itu pun tiba, dimana hari pernikahan ayahku dengan perempuan itu adalah harinya, hari ini tanggal 31 desember 2018. Akhir tahun yang di lengkapi oleh eksekusi yang begitu menyakitkan, seperti di tebas oleh silet hingga urat nadi ini putus. Kebayang kan sakit nya?

Aku tidak bisa mengatakan bahwa perempuan itu si*lan atau perempuan brens*ek, karena perempuan itu sepertinya perempuan baik baik.

Kalian tahu? Aku tidak di beri tahu oleh ayahku bahwa hari ini adalah hari pernikahannya, ayah menikah tanpa sepengetahuan ku. Mungkin, ia takut aku akan berusaha menngacaukan pernikahannnya dengan perempuan itu. Tapi memamang dugaan nya itu.

Aku datang kepernikahan ayahku, kalian tahu? Terdapat banyak penjaga di depan pintu masuk ruangan acara pernikahan ayahku. Dan aku tidak boleh masuk. Sayang nya ayah lupa kalau aku ini pemegang sabuk hitam taekwondo, habislah para penjaga oleh aku.

Ketika aku masuk ke dalam ruangan, ayahku baru saja melakukan ijab Kabul. Hatiku dan harapan ku hancur seketika melihat itu semua. Akupun berteriak kepada ayahku.

“ayaaaaaahhhhh..!! kenapa ayah tega melakukan ini semua sama aku? Kenapa ayah? Ayah udah ga sayang lagi sama aku yah?.” Pertanyaanku pada ayah.

“...”  ayahku hanya diam dan berusaha menatap mataku dan berkata “ ayah saying sama kau nak, sama kakak kamu juga, tapi ini pilihan ayah..tolong dukung ayah yah nak, ayah juga ingin bahagia, kita bahagia sama sama yah nak, kita mulai hidup bar yah nak.” Ujar ayah ku pada ku.

“ga gabisa, ga akan pernah ada yg bisa ngengantiin ibu di hidupku selama nya, dalan sebuah teori yang aku pelajari di kampus.. ketika seseorang menjalin hubungan baru dengan seseorang yang baru, maka putuslah hubungan sesorang itu dengan seseorang yang lama atau masa lalu nya. Jadi ketika ayah memilih untuk menjalin hubungan yang baru dengan perempuan ini, maka ayah telah memutuskan hubungan ayah dengan aku! Sekarang aku Tanya sama ayah, ayah pilih aku atau perempuan ini? Jawab aku ayah!.” Tanya ku pada ayah sambil menahan tangis.

“ayah ga bisa memilih, kamu penting dan perempuan ini juga penting karena telah ayah nikahi dan sudah menjadi istri ayah.” Jawab ayahku sambil menahan tangis juga.

“okeh kalau itu keputusan ayah, ayah ga akan pernah bertemu dengan aku lagi, selamat tinggal.. jaga kesehetan ayah semoga ayah bahagia. Maaf aku belum bisa membuat ayah bahagia. Bagi aku aku hanya akan memilki seorang ibu. Dulu, sekarang dan nanti. Jadi aku tidak bisa menerima keputusan ayah. Sekali lagi semoga bahagia dan maaf. Selamat tinggal.” Ucap perpisahan ku pada ayah. Dan aku pun segera pergi melarikan diri .

“Isi room chat aku dengan ayah ku sebelum aku melarikan diri”

Ayah : “nak, sayang kamu dimana?”

Ayah : “pulang sini ayok, kita makan sama sama..”

Ayah : “disini juga ada kakak mu, ayok sini pulang..”

Ayah : “maafkan ayah nak..”

Ayah : “biarkan ayah memperbaiki kesalaha ayah, tapi ayah tidak bisa meninggalkan ibu baru mu nak.. ayo sini pulanng, kamu dimana?”

( 3 jam kemudian)

Aku : “ ayah adalah ayah yang terhebat untukku”

“ tanpa ada nya ayah aku bukan apa apa di dunia ini, mungkin aku sudah jadi gelandang di luar sana”

“ ayah selalu menjaga aku”

“ ayah tidak pernah membiarkan aku untuk terluka dan di lukai oleh siapapun di luar sana “

“ayah adalah seorang pria yang sangat istimewa yang di hadiahkan tuhan untuk ku..”

“terimakasih ayah telah menjadi ayah aku selama ini..”

“tapi maaf, ayah aku belum bisa membahagiakan ayah, aku belum bisa memenuhi permintaan ayah..”

“ aku mohon jangan marah pada ku, aku mohon ayah jangan membenci ku, aku mohon ayah jangan memberi sumpah serapah yang buruk untuk ku..”

“karena ayah adalah lading keberkahan, lading rezeki dan tempat nya rida dan restu dari tuhan..”

“kamu adalah satu satu nya orang tua ku yang tarsisa di hidupku..”

“tolong ayah doakan aku, mari kita sama sama mendoakan untuk kehidupan kita berdua, tolong berkahi aku ayah, agar setiap langkah ku di ridhai oleh NYA..”

“ terimakasih untuk segala nya ayah dan maafkan anak mu ini, semoga bahagia dengan kehidupan mu yang baru..”

“ aku pamit untuk mencari kehidupan ku juga, aku juga ingin menemukan kebahagiaanku seperti ayah menemukan kebahagiaan ku di luar sana..”

“selamat tinggal, semoga kelak kita di pertemukan dalam keadaan yang baik baik..”

Ayah : “…”

11:00, bandara soekarno hatta “pesawat menuju Massachusetts, amerika serikat akan segera berangkat, penumpang di harap segera memasuk pesawat yang akan segera berangkat.”  Akhirnya aku benar benar menjadi seorang pengecut. Aku pun melangkah menuju pesawat yang akan berangkat yang akan membawaku pergi jauh dari tempat ini.

Dan langkah ku terhenti ketika aku melihat di hadapan ku ada kakak ku yang sambil tersenyum dan  berkata “ ayo dek, buruan nanti kita tertinggal pesawat..”.

Dan aku hanya diam dan merasa heran “…”

.........................................

Drama
Family
Friendship
Read More

pelarian

Kisah ini tentang aku, aku seorang gadis yang pengecut yang tidak bisa menerima kenyataan hidup ku dan memilih untuk berlari sekuat tenaga dan menjauh dari kenyataan. Dan berharap aku bisa hidup tenang dengan tidak ada nya kenyataan di hadapan ku.

Berlari itu sungguh melelahkan, bagi seseorang yang memilki mental pemberani. Tapi bagiku yang pengecut, berlari adalah hal yang paling mudah dan indah ketimbang harus menghadapi kenyatan hidup yang pahit dan takdir yang selalu mengkhianatiku.

Semoga kalian bisa belajar, tidak selama nya berlari itu buruk.. jika berlari bisa menghindari melukai perasaan orang lain, lebih baik berlari bukan? Ketimbang harus menghadapi nya? Coba pahami dari sudut pandangku.

Dan berlari bagiku seperti mimpi yang tak pernah usai.

Bagian 1

Alasan, ku cari dan kutemukan

2 januari 2019, gemuruh gemuruh keriyuhan keributan suara orang orang yang sedang berbicara di sekelilingku. Kulihat sekelilingku begitu ramai orang tengah berbincang. Apakah itu berbincang dengan sesama manusia yang ada di hadapan nya atau ada pula yang tengah berbicara dengan sebuah benda yang di dalam nya terdapat sebuah gambar manusia atau terdapat sebuah pesan teks di dalamnya. Atau bahkan terkadang aku melihat mereka berbicara pada benda yang di dalam nya bahkan gambar mereka sendiri. Entahlah sudah begitu canggih tekbologi di dunia ini.

Lucunya, ketika aku berada di tengah keramaian dan hirup pikuk ini.. aku tetap merasa kesepian, dan aku merasa bahwa aku ini sendirian. Yang terdengar dari sebuah keriyuhan di sekelilingku hanyalah suara gemuruh ratusan manusia yang entah aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang tengah mereka perbincangkan dan mereka lakukan. Aku tidak tahu apakah aku ini yang memang menyedihkan atau memang dunia ini yang telah kehilangan rasa simpatinya.

10:30 bandara soekarno hatta, aku meunggu untuk keberangkatan pesawat yang akan aku gunakan untuk terbang menuju Cambridge, Massachusetts, amerika serikat. Atau mungkin bisa di bilang “terbang menuju tempat pelarian”. Iya, pelarian.. dimana aku hanya berlari dan terus berlari dari semua kenyataan yang aku tidak pernah bisa terima. Jika kebanyakan orang dating ke Cambridge, Massachusetts, amerika serikat untuk belajar, karena tempat tersebut merupakan kota pelajar. Tapi berbeda dengan aku, aku datang ke tempat itu untuk berlari dari kenyataan hidup yang aku tidak pernah bisa terima. Sungguh pengecut bukan aku? Terserah kalian mau mengatakan apa tentang aku, yang jelas aku tidak sanngup untuk menghadapi kenyataan yang ada di hadapan aku dan aku memilih berbalik dan berlari sekuat tenaga untuk menjauh.

Flash back, 07 july 2018 . kenyataan pahit dalam hidup aku yang tidak pernah terbesit dan terbayangkan menimpah pada ku. Aku harus kehilangan 2 sosok yang aku sayangi dan cintai dalam hidupku dalam waktu yang bersamaan. Menyedihkan.. aku harus kehilangan sosok wanita yang melahirkan ku merawatku dan membesarkan aku, hingga aku ber umur 19 tahun. Ibuku meninggal kecelakaan tabrak lari, dan pelaku nya adalah seorang pria dan pria itu adalah kekasih aku sendiri. Lebih membuat hati aku hancur dan hancur lagi, ketika terjadi kejadian itu.. pria yang katanya kekasih aku itu tengah berbincang asik di dalam mobil yang tengah ia kendarai, berdua dengan mantan kekasih nya yang terdahulu, mungkin karna ke asyikan mengobrol sedang menyetir, tanpa sadar dan sengaja menabrak ibuku yang tengah menyebrang jalan hingga terpental pada siang itu.

Baiklah aku mungkin masih bisa menerima ketika dia tengah jalan dengan mantannya, tapi mengapa harus ibuku? Apa salah ibuku kepada mereka berdua?  Kenapa mereka setelah menabrak ibu ku, tidak menolong nya dan segera membawanya kerumah sakit? Kenapa malah lari tanpa ada rasa tanggung jawab?. Aku sangat yakin, bahwa mas nya tau bahwa yang ia tabrak adalah ibuku, ibu dari kekasihnya. Kenapa? Apa salah aku pada mu mas?. Jika saja siang hari itu kamu membawa segera ibuku ke rumah sakit, mungkin ibuku akan segera tertolong dan masih ada di samping aku. Dan hidup aku tidak akan menjadi seberat ini yang berujung pada sebuah pelarian.

“Sungguh egois kah aku? Lebih egois mana aku dengan kamu mas? Lebih egois aku yang menyalahkan dan menimpahkan semua kesalahan, kemarahan dan semua kejadian yang terjadi pada hidup aku itu terjadi karna kamu atau kamu yang lari tanpa bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan pada ibu ku? Lebih egosi mana mas?.” Itu yang selalu terlontar dalam fikiran dan benaku, tapi tanpa suara.

Aku tidak pernah bisa mengatakan itu semua secara langsung dan bahkan hanya sekedar menatap mata nya aku pun tidak sanggup. Aku pun tidak bisa mengutarakan apa yang aku fikirkan, karna sungguh perasaan ini sungguh kacau. Coba bayangkan oleh kalian, aku harus kehilangan 2 sosok yang berbeda namun memiliki arti dalam hidupku. Ibu ku adalah cinta dalam hidupku dia adalah surga dan harta dunia dan akhiratku. Dan pria itu adalah cinta pertama bagiku, cinta yang mengenalkan bahwa ada cinta yang lain selain cinta dari orang tua. Cinta yang memiliki berbagai rasa di dalam nya dan meiliki efek candu.

Dan aku harus kehilangan 2 sosok dan 2 rasa itu sekaligus, hidupku seketika menjadi hampa dan gelap, seolah seketika aku menjadi buta. Aku tidak bisa melihat apapun. Kecuali kepingan perasan yang telah menjadi debu.

7 agustus 2018, sebulan setelah kepergian ibuku aku mencoba me re-cover hidupku, semagatku, tujuan hidupku, perasaanku. Semua nya aku coba bangun kembali. Karena, pasti bukan hanya aku yang kehilangan, dan bukan hanya aku yang hancur. Ada ayahku yang lebih hancur ketika harus menerima kenyataan bahwa perempuan yang menemani nya selama 19 tahun dan selama 17 tahun harus merintis bersama dan merasakan pahit manis nya dari perjuangan, dan harus pergi begitu cepat, ketika ayahku sedang berada di puncak karirnya. Sungguh malang ibuku yang tidak bisa merasakan manis nya dari hasil perjuangannya bersama ayah. Dan ada pula kakak ku yang pasti hancur hati nya ketika ia “baru saja” akan memperlihatkan dan ingin melukiskan sedikit senyuman di wajah ibuku, karena ia baru saja bisa membuat sebuah game online yang cukup mendunia dan membuat dirinya di lirik oleh perusahaan google yang berada di Mountain View, California, Amerika dan menawari kakak ku untuk bergabung.

Sungguh malang ibuku, yang tidak bisa merasakan manis nya perjuangan yang telah ia berikan untuk keluarganya. Ketika semua nya tengah bersiap melangkah untuk sampai puncak, takdir berkata lain. Ibuku harus terjatuh dan hilang, yang tidak bisa menikmati keindahan puncak perjuangan. Dan sekali lagi takdir menghianati kami.

“sreeeeeettt.”..”de, keluar makan dulu yuk!.” Kata kakaku. “hemmm..(sambil menatap).” Jawabku yang tidak bisa menjawab dan hanya bisa menatap. “ayok, makan sama sama, sama ayah sama kakak, jangan murung terus, nanti ibu sedih” kata kakaku sambil tangan nya menggandeng dan sedikit menarik tubuhku agar bangun dari duduk diam ku diatas ranjang.  Aku pun ikut tanpa menjawab yang berarti meng iyakan ajakan dari kakak ku.

Di meja makan sudah ada ayah yang tengah duduk dan bersiap untuk makan siang, tak lama ayahku melihat ke arahku sambil terseyum dan menepuk nepuk kursi yang ada di sebelahnya dengan tangannya, yang bertanda ayah meyuruhku untuk duduk bersama di sebalahnya untuk makan siang. Aku hanya mennggannguk dan menghampiri ayahku sambil dalam fikirku “ sungguh kuat ayahku, masih bisa tersenyum, ayah saja kuat demi anak anak nya, masa aku tidak?”

Makan siang kami terasa kaku dan dingin, kami hanya makan tanpa ada perbincangan apapun di dalamnya. Setidaknya kami sudah melangkah, walaupun hanya satu langkah dalam hidup kami. Dan itu adalah makan siang pertama bersama sama tanpa  kehadiran ibu.

Seminggu, dua minggu hingga tiga minggu kemudian hidup kami berjalan seperti biasa dan seharusnya. Aku kembali menjadi kuli pendidikan dan begitupun kakak ku. Aku dan kakak ku kuliah di universitas yang berbeda, tetapi satu kota dan letak kampunya pun bertetangga. Ayahku pun kembali bekerja, yang berbada dari hidup kami adalah tidak ada nya kehadiran ibu dan hilangnya senyuman dari wajah kami bertiga. Kami pun jarang untuk saling menatap dan bertatap muka dan jarang juga saling bertemu padahal kami tinggal dalam satu rumah. Kami sering pulang malam, karna jika kami berada terlalu lama di dalam rumah kami selalu merasa, bahwa ibu kami masih ada.

Dan untuk si mas mas yang menabrak ibu ku, dia tidak di jebloskan ke penjara oleh ayahku, ayahku bilang “dia masuk penjara juga tidak akan mengembalikan ibu, biarlah saja. Dan jangan pernah temui putriku lagi atau muncul di hadapan keluarga ku lagi!.” Ujar ayahku di depan mas nya dan keluarga nya, termasuk aku. Dalam benak ku “tanpa ayah berkata seperti itu, akupun enggan bertemu atau bahkan sekedar memikirkan dia, karena dengan memikirkan man nya, aku merasa sesak dan hati ku akan hancur untuk kesekian ratus kali nya.”

7 september 2018,Genap dua bulan kepergian ibu ku ayahku mengajak makan malam di luar. Tidak aku sangka makan mala mini adalah makan malam yang tidak pernah ingin aku ingat, dan seharusnya aku tidak pernah hadir.

Ebeya Steakhouse, The Ritz Carlton, Pacific Place, Jl. Jend. Sudirman, SCBD, Jakarta. Ayahku meminta aku dan kakak ku untuk dating dan makan malam di restoran ini. Aku dan kakak ku berangkat bersama, dan begitu masuk, “wah sungguh mewah sekali restoran ini, pasti mahal dan yang makan di sini juga pasti orang orang kaya.” Ujarku dalam benaku.

Tidak lama, ada seorang pelayan restoran sepertinya, mempersilahkan dan menunjukan tempat duduk ayah yang sudah ayahku pesan. Ketika aku sedang berjalan untuk menghampiri ayah, aku melihat seorang perempuan muda cantik dan sepertinya dari keluarga kaya juga tengah berbincang asik dengan ayahku. Dan ayahku juga terlihat sangat bahagia berbincang dengan perempuan itu. Aku sambil terus melihat dan tidak pernah mengalihkan pandanganku kepada perempuan itu, sambil bertanya Tanya Tanya dalam benak ku “siapakah perempuan itu? Rekan kerja ayah? Atau siapa? Kenapa perempuan itu ikut bersama makan malam bersama keluarga ku?.” Tanyaku dalam fikirku.

Dan ketika aku dan kakak ku sudah berada di hadapan ayahku dan perempuan itu, ayahku menatap aku dan kakaku sambil meminta kami duduk di kursi yang ada di depan nya, satu meja dengan mereka berdua. Aku belum mau duduk, ketika kakak ku sudah duduk. Dan aku hanya menatap perempuan yang di sebelah ayah. Aku hanya diam membeku.

Lalu ayah melihatku dan berkata “duduk dulu, nanti ayah kenalkan dan jelaskan, kamu duduk dulu nak, di sebelah kakak mu.” Sambil meminta dengan lembut. Akupun hanya diam dan mengikuti apa permintaan ayahku. Ayahku pun meminta pelayan untuk membawakan menu dan meminta kami untuk memilih apa yang kami inginkan. “nak ayok mau makan apa?.” Tanya ayahku pada aku dan kakak ku. Aku pun menjawab “ siapa perempuan ini? Dan mengapa dia ikut makan malam bersama kita? Tolong jelaskan dulu ayah! Jangan membuat aku menerka nerka yang tidak jelas.” Pintaku pada ayah dengan nada suara yang sedikit tinggi dan mata yang berkaca kaca.

Ayahkupun hanya terdiam sejenak dan menatap wajahku, sebelum ia menjawah pertanyaan ku. “perempuan ini adalah perempuan yang akan menggantikan ibu, dia calon istri ayah. Ayah akan segera menikah dengan dia, dan ayah nya perempuan ini juga merupakan rekan bisnis ayah, perempuan ini perempuan baik dan berasal dari keluarga yang baik. Walaupun perempuan ini hanya terpaut 6 tahun dari kakak mu, tapi perempuan ini layak menurut ayah untuk menggantikan ibu dan memiliki sisi seorang ibu. Ayah tidak sedang meminta izin, ayah hanya memberitahu kalian, agar kalian tidak kaget nantinya.”

“..” aku hanya diam dan menatap marah kepada ayah dan perempuan itu. Dan aku pun segera berdiri dan beranjak akan pergi dari tempat mengerikan itu, dan aku tidak akan pernah masuk ketempat itu lagi. Sebelum aku melangkah pergi ayahku berkata “duduk nak.. ayah bilang duduk!.” Dengan nada suara yang tinggi dan muka memerah. Dan aku hanya menatap kesal lalu pergi tanpa menghiraukan apapun dan siapapun. Kepergianku di ikuti oleh kakak ku yang juga mengejar aku yang sambil menangis. Dan akupun pulang bersama kakak ku ke rumah, tanpa ada perbincangan apapun walaupun aku tahu, perut aku dan kakaku ku sangat lapar mengingat kami belum memakan apapun dari tadi sore. Tapi rasa nya aku dan kakaku malas untuk melakukan apapun selain tidur.

Keesoka harinya, aku terbangun. Tapi entah kenapa aku terbangun dengan perasaan yang hancur dengan menghela nafas, dan berharap hari ini tidak pernah hadir dalam hidupku. Aku bangun dan beranjak dari tempat tidurku dengan niat bersiap siap untu berangkat untuk kuliah.  Aku pun turun dari lantai dua kamarku. Dan ayahku sudah menunggu aku dan kakak ku di bawah, di meja makan. Ayah ku menatap aku dan kakaku dengan maksud agar kami duduk makan bersama nya. Aku pun ikut sarapan dengannya karena aku lapar dan belum memakan apa apa sejak malam. Di tengah sarapan, ayah memulai pembicaraannya dan berkata “ayah minggu depan akan bertunangan dengan perempuan itu.” Rasanya makanan yang barusan aku telan ingin naik lagi dan keluar dari tenggorokan ku. Dan aku menatap ayah dengan marah. Lalu ayah menyambung perkataan nya “ayah hanya memberi tahu, bukan bermaksud meminta izin, ayah harap kalian berdua bisa hadir di hari bahagia itu.”. dan aku pun menjawab dengan seribu pertanyaan yang ingin aku lontarkan pada ayah sejak malam.

“secepat itu ayah melupakan ibu? Secepat itu ayah bisa beralih ke perempuan lain? Belum 3 bulan kepergian ibu, ayah sudah ingin menikah lagi? Dimana rasa cinta ayah untuk ibu? Dimana? Harus ayah menikah lagi? Harus? Tidak bisakah kita hidup bertiga saja? Tanpa kehadiran orang lain? Ga bisa ayah?. Tanya ku sambil nada yang parau dan pipi yah basah oleh air mata.

Mendengar pertanyaanku dan melihat wajah ku, ayah hanya menjawab pertanyaan ku dengan santai “cinta ayah untuk ibu akan selalu ada, tapikan hidup harus terus berjalan, dan posisi ibu juga harus ada yang menggantikan.. ayah yakin ibu juga mengerti dan ingin kita bahagia..” jawab ayah dengan mencoba tersenyum kepada ku.

Akupun kembali menjawab “posisi ibu tidak akan pernah bisa tergantikan! Ibu adalah ibu! Dan tidak akan pernah ada yng bisa menggantikan! Bahagia ga selalu harus ada orang baru dalam hidup kita yah! Tidak selalu harus ada pengganti ketika ada yang hilang! Jalani tanpa mencari penggantinya kan bisa yah ! ayah egois!” timpal ku atas jawaban ayah.

“kamu yang egois! Kenapa ayah tidak boleh menikah lagi? Ayahkan seorang pria yang mampu untuk menikah lagi! Ayah tidak ingin berlarut larut dalam kesedihan! Ayah juga ingin berbahagia, ingin tersenyum, ingin tertawa, ingin memilki pendamping! Salah ayah inginkan hal itu? Tanya ayah kembali kepada ku.

“apakah salah jika aku inginkan kita bisa berkumpul sampai akhirat? Aku ingin kita bisa berkumpul sama ibu hingga di surge nanti! Jika ayah menikah lagi, kita ga akan bisa kumpul sama sama , sam ibu yah! Salah aku inginkan hal itu yah salah?” jawab ku sambil menangis.

“…..” ayahku kemudian terdiam dan menunduk, dan kembali menjawab dengan suara yang pelan, “terserah kamu setuju atau tidak yang jelas keputusan ini sudah bulat.”

Dan aku hanya terdiam, dan beranjak pergi tanpa berpamitan ataupun menghabiskan sarapan ku, padahal aku masih lapar. Aku tau aku tega, meninggalkan ayah sendirian tapi aku juga marah terhadap ayah yang begitu mudah melupakan. Aku juga tau itu semua salahku hingga yah ingin menikah lagi, karna ayah kesepian..dan aku terlalu berlarut larut dalam kesedihanku,  harus nya aku ada ketika ayah kesepian sehingga ayah tidak pernah terfikirkan unyuk menikah lagi. Tapi aku juga tidak bisa menerima bahwa semua kejadian ini juga adalah salah ku, karna aku juga merupakan korban di sini. Tolong mengerti itu..

Hari demi hari terlewati, bagiakan di neraka. Hingga akhirnya tibalah hari H atau hari pertunangan itu. Aku tidak menghadiri pertunangan ayahku selayaknya anak menghadiri pertunangan ayahku. Aku dating kepertunangan ayahku yang di adakan di hotel bintang lima dengan sangat mewahnya dan para tamu undangan yang terhormat. Aku datang hanya untuk mempermalukan ayahku, sungguh anak macam apa aku ini. Dengan maksud agar pertunangan itu batal dan penikahan tidak pernah terjadi.

Aku datang dengan pakaian yang lusuh, tepat sebelum ayahku memberikan cicin kepada calon nya itu. Dan aku berterika “ayaaaaaaaahhhhh!!! Jangan aku mohon jangan menikah lagi, maafkan aku yang terlau berlarut larut dalam kesedihan, yang tidak sadar dan tidak memperdulikan ayah, bahwa ayah juga hacur dan kesepian. Tolong ayah! Jangan menikah lagi dengan perempuan itu. Demi anakmu ini!.” Ujarku sambil bertekuk lutut dihadapan ayah dan semua orang yang ada di acara itu.

“kenapa kamu melakukan ini kepada ayah nak? Kenapa? Bukan salah kamu nak, tapi maafkan ayah, keputusan ini sudah bulat dan ayah akan tetap menikahi perempuan ini segera setelah pekerjaan ayah di Milan selesai, bangunnak ayok bangun.” Ujar ayahku sambil menggenggam tanganku dan berusaha membuat aku berdiri.

“ayah jahat! Aku tidak mau bertemu ayah lagi, aku banci ayah!” ucapku kepada ayah sambil menangis dan berlari pergi dari acara itu.

Kakaku memilih tidak hadir di acara itu dan memang kakaku sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Lebih baik seperti kakak ku yang tidak hadir, daripada aku yang hadir tapi berbuat seperti itu.

Hari demi hari kulewati, aku tidak pernah mau bertemu, menatap atau berbicara dengan ayahku, Saking aku marah dan kesal nya. Tapi hati aku juga menangis atas keputusan ayahku. Jika ayahku berusaha berbicara atau menghampiri ku aku selalu menghindar dan jika ayah mencoba menelepon atau sms aku tidak pernah menjawab. Aku seperti ini berharap agar ayahku berfikir dengan ayahku menikah lagi, bukan mendekatkan jarak diantara anak anak nya dan dia. Tapi malah memberikan jarak yang sangat jauh. Dengan begitu, mungkin saja ayahku akan mebatalkan pernikahannya. Tapi itu hanya hayalan ku saja. Kenyataan nya itu tidak terjadi, malah sebalik nya.

Hari itu pun tiba, dimana hari pernikahan ayahku dengan perempuan itu adalah harinya, hari ini tanggal 31 desember 2018. Akhir tahun yang di lengkapi oleh eksekusi yang begitu menyakitkan, seperti di tebas oleh silet hingga urat nadi ini putus. Kebayang kan sakit nya?

Aku tidak bisa mengatakan bahwa perempuan itu si*lan atau perempuan brens*ek, karena perempuan itu sepertinya perempuan baik baik.

Kalian tahu? Aku tidak di beri tahu oleh ayahku bahwa hari ini adalah hari pernikahannya, ayah menikah tanpa sepengetahuan ku. Mungkin, ia takut aku akan berusaha menngacaukan pernikahannnya dengan perempuan itu. Tapi memamang dugaan nya itu.

Aku datang kepernikahan ayahku, kalian tahu? Terdapat banyak penjaga di depan pintu masuk ruangan acara pernikahan ayahku. Dan aku tidak boleh masuk. Sayang nya ayah lupa kalau aku ini pemegang sabuk hitam taekwondo, habislah para penjaga oleh aku.

Ketika aku masuk ke dalam ruangan, ayahku baru saja melakukan ijab Kabul. Hatiku dan harapan ku hancur seketika melihat itu semua. Akupun berteriak kepada ayahku.

“ayaaaaaahhhhh..!! kenapa ayah tega melakukan ini semua sama aku? Kenapa ayah? Ayah udah ga sayang lagi sama aku yah?.” Pertanyaanku pada ayah.

“...”  ayahku hanya diam dan berusaha menatap mataku dan berkata “ ayah saying sama kau nak, sama kakak kamu juga, tapi ini pilihan ayah..tolong dukung ayah yah nak, ayah juga ingin bahagia, kita bahagia sama sama yah nak, kita mulai hidup bar yah nak.” Ujar ayah ku pada ku.

“ga gabisa, ga akan pernah ada yg bisa ngengantiin ibu di hidupku selama nya, dalan sebuah teori yang aku pelajari di kampus.. ketika seseorang menjalin hubungan baru dengan seseorang yang baru, maka putuslah hubungan sesorang itu dengan seseorang yang lama atau masa lalu nya. Jadi ketika ayah memilih untuk menjalin hubungan yang baru dengan perempuan ini, maka ayah telah memutuskan hubungan ayah dengan aku! Sekarang aku Tanya sama ayah, ayah pilih aku atau perempuan ini? Jawab aku ayah!.” Tanya ku pada ayah sambil menahan tangis.

“ayah ga bisa memilih, kamu penting dan perempuan ini juga penting karena telah ayah nikahi dan sudah menjadi istri ayah.” Jawab ayahku sambil menahan tangis juga.

“okeh kalau itu keputusan ayah, ayah ga akan pernah bertemu dengan aku lagi, selamat tinggal.. jaga kesehetan ayah semoga ayah bahagia. Maaf aku belum bisa membuat ayah bahagia. Bagi aku aku hanya akan memilki seorang ibu. Dulu, sekarang dan nanti. Jadi aku tidak bisa menerima keputusan ayah. Sekali lagi semoga bahagia dan maaf. Selamat tinggal.” Ucap perpisahan ku pada ayah. Dan aku pun segera pergi melarikan diri .

“Isi room chat aku dengan ayah ku sebelum aku melarikan diri”

Ayah : “nak, sayang kamu dimana?”

Ayah : “pulang sini ayok, kita makan sama sama..”

Ayah : “disini juga ada kakak mu, ayok sini pulang..”

Ayah : “maafkan ayah nak..”

Ayah : “biarkan ayah memperbaiki kesalaha ayah, tapi ayah tidak bisa meninggalkan ibu baru mu nak.. ayo sini pulanng, kamu dimana?”

( 3 jam kemudian)

Aku : “ ayah adalah ayah yang terhebat untukku”

“ tanpa ada nya ayah aku bukan apa apa di dunia ini, mungkin aku sudah jadi gelandang di luar sana”

“ ayah selalu menjaga aku”

“ ayah tidak pernah membiarkan aku untuk terluka dan di lukai oleh siapapun di luar sana “

“ayah adalah seorang pria yang sangat istimewa yang di hadiahkan tuhan untuk ku..”

“terimakasih ayah telah menjadi ayah aku selama ini..”

“tapi maaf, ayah aku belum bisa membahagiakan ayah, aku belum bisa memenuhi permintaan ayah..”

“ aku mohon jangan marah pada ku, aku mohon ayah jangan membenci ku, aku mohon ayah jangan memberi sumpah serapah yang buruk untuk ku..”

“karena ayah adalah lading keberkahan, lading rezeki dan tempat nya rida dan restu dari tuhan..”

“kamu adalah satu satu nya orang tua ku yang tarsisa di hidupku..”

“tolong ayah doakan aku, mari kita sama sama mendoakan untuk kehidupan kita berdua, tolong berkahi aku ayah, agar setiap langkah ku di ridhai oleh NYA..”

“ terimakasih untuk segala nya ayah dan maafkan anak mu ini, semoga bahagia dengan kehidupan mu yang baru..”

“ aku pamit untuk mencari kehidupan ku juga, aku juga ingin menemukan kebahagiaanku seperti ayah menemukan kebahagiaan ku di luar sana..”

“selamat tinggal, semoga kelak kita di pertemukan dalam keadaan yang baik baik..”

Ayah : “…”

11:00, bandara soekarno hatta “pesawat menuju Massachusetts, amerika serikat akan segera berangkat, penumpang di harap segera memasuk pesawat yang akan segera berangkat.”  Akhirnya aku benar benar menjadi seorang pengecut. Aku pun melangkah menuju pesawat yang akan berangkat yang akan membawaku pergi jauh dari tempat ini.

Dan langkah ku terhenti ketika aku melihat di hadapan ku ada kakak ku yang sambil tersenyum dan  berkata “ ayo dek, buruan nanti kita tertinggal pesawat..”.

Dan aku hanya diam dan merasa heran “…”

.........................................

Read More
FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2019