×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Write a New Story!

Invite

Feedback
Popular Tags
What Others Are Reading
x
Reset
Save Filter
Saved!
CATEGORY
Collaborate More Options
Rating: Language Settings
roguegold18
16Mins Each
4
ISSUES
A Two-Edged Sword
Updated Nov 12, 2018
PG-13
0
282
4
Fantasy
Adventure

Cassandra, a girl who can see the future through her dreams, has been held and controlled by a corporation, called Erudite, for most of her life. The group has kept her hidden from the world to keep her powers for themselves and to give them an edge on the other corporations. When she is "rescued," or taken, by another corporation, called America, what will she make of a world that is entirely new to her? With conflict between the corporations rising will Cassandra finally find something to fight for?

Other
Fantasy
Adventure
Read More
Solo Work

A Two-Edged Sword

Cassandra, a girl who can see the future through her dreams, has been held and controlled by a corporation, called Erudite, for most of her life. The group has kept her hidden from the world to keep her powers for themselves and to give them an edge on the other corporations. When she is "rescued," or taken, by another corporation, called America, what will she make of a world that is entirely new to her? With conflict between the corporations rising will Cassandra finally find something to fight for?

Read More
Solo Work
Ä
3Mins Each
3
ISSUES
城鸒語(語言創作)
Updated Oct 19, 2018
G
8
181
1

城鸒語(日語:しらよご 城鸒語:つぉぽみずる まのね IPA:[t͡sœpœmʲizɯ̟rɯ̟ mɐnœnɛ]),是一種使用於城鸒(一個位於日本東北方的空想島國)的語言,能流利使用者大概49萬,其中有38萬為城鸒國國民。城鸒面積少,因此方言差不多可以互相相通。

因城鸒語發源地接近日本,城鸒語受日本語影響,文法上多少與日本語相同,文字亦有使用日本假名,不過只使用平假名。而且,日本語、粵語及城鸒語同為城鸒主要語言,因此現代城鸒語輸入了許多日語及粵語的外來語。 此外,城鸒語漢字音讀只使用於漢語及日語傳入之四字成語。城鸒漢字使用甚複雜,詳情請參看城鸒語書寫系統(待書)。

Other
Read More
Solo Work

城鸒語(語言創作)

城鸒語(日語:しらよご 城鸒語:つぉぽみずる まのね IPA:[t͡sœpœmʲizɯ̟rɯ̟ mɐnœnɛ]),是一種使用於城鸒(一個位於日本東北方的空想島國)的語言,能流利使用者大概49萬,其中有38萬為城鸒國國民。城鸒面積少,因此方言差不多可以互相相通。

因城鸒語發源地接近日本,城鸒語受日本語影響,文法上多少與日本語相同,文字亦有使用日本假名,不過只使用平假名。而且,日本語、粵語及城鸒語同為城鸒主要語言,因此現代城鸒語輸入了許多日語及粵語的外來語。 此外,城鸒語漢字音讀只使用於漢語及日語傳入之四字成語。城鸒漢字使用甚複雜,詳情請參看城鸒語書寫系統(待書)。

Read More
Solo Work
raydude888
6Mins Each
1
ISSUE
My First Girlfriend
Updated Sep 19, 2018
G
0
130
0
Romance
Short Story

A story of my life

Other
Romance
Short Story
Read More
Solo Work

My First Girlfriend

A story of my life

Read More
Solo Work
Roby Alfilio N
4Mins Each
1
ISSUE
Saya Benci Lebaran
Updated Jun 14, 2018
G
1
388
0
Short Story

Saya benci lebaran. Entah mengapa Idul Fitri seolah menjadi parade kemunafikan.

Saya bertemu orang-orang yang tidak saya kenal, memasang muka mainan, terpaksa tersenyum seraya mengucapkan lahir batin. Mereka, orang yang hanya saya temui setahun sekali, orang-orang asing yang entah dari mana asalnya, meminta maaf kepada saya untuk kesalahan yang saya tidak tahu kapan terjadi.

Lebaran, bagi saya, semestinya tentang berpikir apakah saya sudah menjadi orang yang lebih baik daripada sebulan lalu.

Ibu saya adalah orang yang paling bersedih ketika Ramadan berakhir, awalnya saya pikir ibu berlebihan dan sedang melodramatis. Tapi ibu saya serius, ia merasa bahwa hanya ketika Ramadan saja ia bisa demikian total beribadah tanpa mesti memikirkan dunia. Saya tidak pernah paham apa maksudnya, tapi saat lebaran, ketika saya mencium tangan keriputnya untuk meminta maaf, mata ibu saya memerah dan berair. Saya tahu ibu saya tidak rela meninggalkan Ramadan.

Sudah tiga tahun terakhir saya tidak pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya memilih untuk tinggal di Bali. Saya memutuskan tinggal bukan karena tidak rindu keluarga besar dan suasananya, atau tidak ingin bertemu teman-teman. Saya malas untuk kemudian mesti bertemu orang-orang menyebalkan dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan.

Kapan kawin? Kenapa pacaran beda agama? Dan sebagainya dan sebagainya. Mereka tidak pernah meminta jawaban. Mereka sedang menghakimi, apapun jawaban yang saya berikan, mereka tidak akan pernah puas.

Pulang ke rumah setelah bekerja di perantauan barangkali adalah bentuk lain kemewahan. Tapi tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa menghadapi keluarga besar. Tapi lebaran, juga setiap kepulangan yang lain, selalu membawa kita pada kondisi apa boleh buat. Bertemu dengan kawan lama, sahabat lama yang bisa jadi lebih baik, tetap di tempat atau mengalami dekadensi pemikiran yang mengerikan.  Bagi saya sendiri, ada beberapa hal yang memang bisa ditoleransi, dinegosiasikan, dan dibiarkan untuk sesuatu yang lebih baik.

Di Bali ketika Idul Fitri membuat kota ini menjadi demikian manusiawi, jalanan menjadi lengang, udara sedikit lebih baik, kebisingan berkurang, dan tentu saja menjadi sedikit lebih sepi.

Tapi hey, kesepian dan kesunyian adalah dua komoditas penting di sini. Menjadi sepi dan sunyi barangkali adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Anda bisa mendapatkan itu ketika lebaran tiba, ketika para perantau pulang ke rumah masing-masing, ketika para pengadu nasib memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Tentu kesepian itu mengerikan. Tapi saya kira itu harga yang pantas dibayarkan untuk sebuah ketenangan.

Lebaran di kampung bisa jadi lebih ramai daripada Denpasar Festival. Saat di mana seluruh keluarga besar datang, kawan-kawan masa kecil hingga kini mampir. Tentu ada yang rindu, tentu ada yang ingin tulus bertemu denganmu karena sekian tahun tak jumpa. Namun, beberapa dari mereka ingin bertemu karena ingin membandingkan kesuksesan, membandingkan nasib, atau bahkan menertawakan kesialan orang lain.

Pun mereka yang pulang terkadang ingin menunjukan bahwa mereka telah satu derajat lebih kota daripada mereka yang memutuskan tinggal di kampung halaman. Bahwa kota telah membuat mereka menjadi modern, maju, dan bermartabat. Seolah-olah tinggal di kampung halaman zaman akan berhenti, pemikiran mandeg, dan informasi tersendat. Kepongahan yang kerap hinggap di beberapa orang kota yang kena tempeleng gaya hidup urban kekinian.

Bali kehilangan beban ketika lebaran tiba. Gedung-gedung perkantoran menjadi lengang, pasar sepi, dan tiba-tiba kita menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang membuatmu berharap agar kelengangan dan kesepian ini abadi. Pembangunan dihentikan dan pohon-pohon menjadi rimbun.

W.R. Supratman, Teuku Umar, Gatot Subroto, dan seluruh simpul kemacetan terurai. Tidak ada lagi umpatan motor goblok, mobil setan, angkot sialan, dan sejenisnya. Para pengendara bernyanyi riang mengikuti irama mp3 player, beberapa bersiul-siul, pengendara roda dua menjadi berakal, angkutan umum tidak lagi penuh sesak dengan penumpang. Sebuah utopia yang telah berpuluh tahun ingin dicapai berbagai gubernur hanya bisa tercapai ketika lebaran tiba.

Malam lebaran di beberapa kampung yang di dominasi penduduk minoritas petasan bertebaran seolah menjadi alat komunikasi. Kampung-kampung beradu ledakan, warna-warni kembang api menghadirkan imaji bahwa desa ini masih sedikit waras. Penduduknya bergembira, kampung-kampung menjadi hidup dengan pertemuan-pertemuan.

Hari Raya di Bali adalah penanda bahwa orang minoritas masih ada, mereka masih hidup, bertahan, dan tetap menjaga tradisi mereka. Memanusiakan manusia, memuliakan tamu, dan menghargai saudara.

Pernahkah kamu merayakan lebaran bersama orang-orang minoritas di Bali? Keramahan mereka, ketulusan mereka, juga tawaran yang tak mungkin Anda tolak untuk menikmati hidangan yang mereka buat.

Bali ketika lebaran adalah sebuah pemandangan yang lain, yang membuat anda akan merasa bahwa, “Ah, tempat ini tidak membuat manusia menjadi kejam”. masih menyediakan manusia-manusia tulus yang mau menerima tamu, yang mau memuliakan mereka yang ditinggalkan.

Suatu ketika Hari Raya di Bali membuatmu berpikir lebih banyak dan lebih panjang. Kesepian mengajarkanmu untuk menghargai kebersamaan. Sementara kesunyian membuatmu belajar memuliakan pertemuan. Kota ini demikian kejam pada mereka yang lemah hati, namun pada saat yang sama mengajarkan kita tentang pentingnya menjadi manusia.

Masih di Bali ketika lebaran bisa jadi menyedihkan. Ketika Anda sedang jatuh cinta, merindu, atau bahkan berharap. Kesendirian adalah karib paling baik dari rasa pedih. Bali menghadirkan banyak kesempatan, tapi juga menyediakan banyak kekecewaaan.

Kamu bisa saja pura-pura optimis dan getir dengan menuliskan sebuah artikel tentang betapa munafiknya perayaan lebaran di kampung halaman, padahal jauh di dalam hatimu, kamu sangat berharap bisa pulang untuk merayakan lebaran bersama orang - orang yang kamu sayang.  -RAN-

Other
Short Story
Read More
Solo Work

Saya Benci Lebaran

Saya benci lebaran. Entah mengapa Idul Fitri seolah menjadi parade kemunafikan.

Saya bertemu orang-orang yang tidak saya kenal, memasang muka mainan, terpaksa tersenyum seraya mengucapkan lahir batin. Mereka, orang yang hanya saya temui setahun sekali, orang-orang asing yang entah dari mana asalnya, meminta maaf kepada saya untuk kesalahan yang saya tidak tahu kapan terjadi.

Lebaran, bagi saya, semestinya tentang berpikir apakah saya sudah menjadi orang yang lebih baik daripada sebulan lalu.

Ibu saya adalah orang yang paling bersedih ketika Ramadan berakhir, awalnya saya pikir ibu berlebihan dan sedang melodramatis. Tapi ibu saya serius, ia merasa bahwa hanya ketika Ramadan saja ia bisa demikian total beribadah tanpa mesti memikirkan dunia. Saya tidak pernah paham apa maksudnya, tapi saat lebaran, ketika saya mencium tangan keriputnya untuk meminta maaf, mata ibu saya memerah dan berair. Saya tahu ibu saya tidak rela meninggalkan Ramadan.

Sudah tiga tahun terakhir saya tidak pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya memilih untuk tinggal di Bali. Saya memutuskan tinggal bukan karena tidak rindu keluarga besar dan suasananya, atau tidak ingin bertemu teman-teman. Saya malas untuk kemudian mesti bertemu orang-orang menyebalkan dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan.

Kapan kawin? Kenapa pacaran beda agama? Dan sebagainya dan sebagainya. Mereka tidak pernah meminta jawaban. Mereka sedang menghakimi, apapun jawaban yang saya berikan, mereka tidak akan pernah puas.

Pulang ke rumah setelah bekerja di perantauan barangkali adalah bentuk lain kemewahan. Tapi tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa menghadapi keluarga besar. Tapi lebaran, juga setiap kepulangan yang lain, selalu membawa kita pada kondisi apa boleh buat. Bertemu dengan kawan lama, sahabat lama yang bisa jadi lebih baik, tetap di tempat atau mengalami dekadensi pemikiran yang mengerikan.  Bagi saya sendiri, ada beberapa hal yang memang bisa ditoleransi, dinegosiasikan, dan dibiarkan untuk sesuatu yang lebih baik.

Di Bali ketika Idul Fitri membuat kota ini menjadi demikian manusiawi, jalanan menjadi lengang, udara sedikit lebih baik, kebisingan berkurang, dan tentu saja menjadi sedikit lebih sepi.

Tapi hey, kesepian dan kesunyian adalah dua komoditas penting di sini. Menjadi sepi dan sunyi barangkali adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Anda bisa mendapatkan itu ketika lebaran tiba, ketika para perantau pulang ke rumah masing-masing, ketika para pengadu nasib memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Tentu kesepian itu mengerikan. Tapi saya kira itu harga yang pantas dibayarkan untuk sebuah ketenangan.

Lebaran di kampung bisa jadi lebih ramai daripada Denpasar Festival. Saat di mana seluruh keluarga besar datang, kawan-kawan masa kecil hingga kini mampir. Tentu ada yang rindu, tentu ada yang ingin tulus bertemu denganmu karena sekian tahun tak jumpa. Namun, beberapa dari mereka ingin bertemu karena ingin membandingkan kesuksesan, membandingkan nasib, atau bahkan menertawakan kesialan orang lain.

Pun mereka yang pulang terkadang ingin menunjukan bahwa mereka telah satu derajat lebih kota daripada mereka yang memutuskan tinggal di kampung halaman. Bahwa kota telah membuat mereka menjadi modern, maju, dan bermartabat. Seolah-olah tinggal di kampung halaman zaman akan berhenti, pemikiran mandeg, dan informasi tersendat. Kepongahan yang kerap hinggap di beberapa orang kota yang kena tempeleng gaya hidup urban kekinian.

Bali kehilangan beban ketika lebaran tiba. Gedung-gedung perkantoran menjadi lengang, pasar sepi, dan tiba-tiba kita menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang membuatmu berharap agar kelengangan dan kesepian ini abadi. Pembangunan dihentikan dan pohon-pohon menjadi rimbun.

W.R. Supratman, Teuku Umar, Gatot Subroto, dan seluruh simpul kemacetan terurai. Tidak ada lagi umpatan motor goblok, mobil setan, angkot sialan, dan sejenisnya. Para pengendara bernyanyi riang mengikuti irama mp3 player, beberapa bersiul-siul, pengendara roda dua menjadi berakal, angkutan umum tidak lagi penuh sesak dengan penumpang. Sebuah utopia yang telah berpuluh tahun ingin dicapai berbagai gubernur hanya bisa tercapai ketika lebaran tiba.

Malam lebaran di beberapa kampung yang di dominasi penduduk minoritas petasan bertebaran seolah menjadi alat komunikasi. Kampung-kampung beradu ledakan, warna-warni kembang api menghadirkan imaji bahwa desa ini masih sedikit waras. Penduduknya bergembira, kampung-kampung menjadi hidup dengan pertemuan-pertemuan.

Hari Raya di Bali adalah penanda bahwa orang minoritas masih ada, mereka masih hidup, bertahan, dan tetap menjaga tradisi mereka. Memanusiakan manusia, memuliakan tamu, dan menghargai saudara.

Pernahkah kamu merayakan lebaran bersama orang-orang minoritas di Bali? Keramahan mereka, ketulusan mereka, juga tawaran yang tak mungkin Anda tolak untuk menikmati hidangan yang mereka buat.

Bali ketika lebaran adalah sebuah pemandangan yang lain, yang membuat anda akan merasa bahwa, “Ah, tempat ini tidak membuat manusia menjadi kejam”. masih menyediakan manusia-manusia tulus yang mau menerima tamu, yang mau memuliakan mereka yang ditinggalkan.

Suatu ketika Hari Raya di Bali membuatmu berpikir lebih banyak dan lebih panjang. Kesepian mengajarkanmu untuk menghargai kebersamaan. Sementara kesunyian membuatmu belajar memuliakan pertemuan. Kota ini demikian kejam pada mereka yang lemah hati, namun pada saat yang sama mengajarkan kita tentang pentingnya menjadi manusia.

Masih di Bali ketika lebaran bisa jadi menyedihkan. Ketika Anda sedang jatuh cinta, merindu, atau bahkan berharap. Kesendirian adalah karib paling baik dari rasa pedih. Bali menghadirkan banyak kesempatan, tapi juga menyediakan banyak kekecewaaan.

Kamu bisa saja pura-pura optimis dan getir dengan menuliskan sebuah artikel tentang betapa munafiknya perayaan lebaran di kampung halaman, padahal jauh di dalam hatimu, kamu sangat berharap bisa pulang untuk merayakan lebaran bersama orang - orang yang kamu sayang.  -RAN-

Read More
Solo Work
Aoki-San
2Mins Each
4
ISSUES
Short Stories
Updated Jul 14, 2018
PG-13 On Break
11
432
9

This is not going to be a whole story in different chapters,Its just a short story in a single chapter (Literally what it says in the title),I may even add texting stories,one with song lyrics sometimes,unknown pov etc could be horror,comedy,romance,thriller,suspense and genre, Enjoy!

Other
Read More
Solo Work

Short Stories

This is not going to be a whole story in different chapters,Its just a short story in a single chapter (Literally what it says in the title),I may even add texting stories,one with song lyrics sometimes,unknown pov etc could be horror,comedy,romance,thriller,suspense and genre, Enjoy!

Read More
Solo Work
BrotherAlameen
2Mins Each
1
ISSUE
My Testimony unto all of you.
Updated Apr 29, 2018
G Completed
1
155
0
Short Story

Over here I will give you a short summary about me.

Other
Short Story
Read More
Solo Work

My Testimony unto all of you.

Over here I will give you a short summary about me.

Read More
Solo Work
季候鳥
1Min Each
5
ISSUES
本鳥的生存報告
Updated Dec 15, 2017
G
26
709
56
Prose

就是放一下自己的日常、碎碎唸和用來證明自己是香港人(´ぅω・`)

Other
Prose
Read More
Solo Work

本鳥的生存報告

就是放一下自己的日常、碎碎唸和用來證明自己是香港人(´ぅω・`)

Read More
Solo Work
Chat Noir
5Mins Each
29
ISSUES
Song-Fics
Updated Jun 28, 2018
PG Completed
18
2126
2
Lyrics
Short Story

Just some short stories but they're all inspired by songs so no real topics. 

Other
Lyrics
Short Story
Read More
Solo Work

Song-Fics

Just some short stories but they're all inspired by songs so no real topics. 

Read More
Solo Work
Stefani MichelleFrances
10Mins Each
1
ISSUE
Grief Project
Updated Jun 21, 2017
PG-13
2
453
3
Tragedy
Dark

A project while working through my brother's recent suicide.

Other
Tragedy
Dark
Read More
Full House

Grief Project

A project while working through my brother's recent suicide.

Read More
Full House
Yuu Oota
4Mins Each
2
ISSUES
Rain
Updated Aug 5, 2018
G
0
421
0
Short Story

A Collection of One-Shots about rain.

About broken hearts, no-shows and betrayals.

Other
Short Story
Read More
Solo Work

Rain

A Collection of One-Shots about rain.

About broken hearts, no-shows and betrayals.

Read More
Solo Work
I-Dont-Like-I-Obsess
5Mins Each
2
ISSUES
A Totally Legit Guide To Modern Day Adulting
Updated Mar 18, 2017
G
6
656
3
Inspirational

Yes. Life is scary. Adulting can be super hard. With the age we live in, it can be hard to get out there on your own for the first time. Worry not! This guide is your go-to for legit real-life advice for everyday living as a brand new adult!

Other
Inspirational
Read More
Solo Work

A Totally Legit Guide To Modern Day Adulting

Yes. Life is scary. Adulting can be super hard. With the age we live in, it can be hard to get out there on your own for the first time. Worry not! This guide is your go-to for legit real-life advice for everyday living as a brand new adult!

Read More
Solo Work
Heminor
8Mins Each
1
ISSUE
Test Your Brain! You Won't Believe The Answer For Puzzle 10!
Updated Jul 27, 2016
PG-13
8
903
29
Humor
Online Game

Step on up and answer these crazy brain puzzles!

Other
Humor
Online Game
Read More
Solo Work

Test Your Brain! You Won't Believe The Answer For Puzzle 10!

Step on up and answer these crazy brain puzzles!

Read More
Solo Work
FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018