Other - Stories - Penana
×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Write a New Story!

Invite

Feedback
Popular Tags
What Others Are Reading
x
Reset
Save Filter
Saved!
CATEGORY
Collaborate More Options
Rating: Language Settings
Roby Alfilio N
4Mins Each
1
ISSUE
Saya Benci Lebaran
Updated Jun 14, 2018
G
1
235
0
Short Story

Saya benci lebaran. Entah mengapa Idul Fitri seolah menjadi parade kemunafikan.

Saya bertemu orang-orang yang tidak saya kenal, memasang muka mainan, terpaksa tersenyum seraya mengucapkan lahir batin. Mereka, orang yang hanya saya temui setahun sekali, orang-orang asing yang entah dari mana asalnya, meminta maaf kepada saya untuk kesalahan yang saya tidak tahu kapan terjadi.

Lebaran, bagi saya, semestinya tentang berpikir apakah saya sudah menjadi orang yang lebih baik daripada sebulan lalu.

Ibu saya adalah orang yang paling bersedih ketika Ramadan berakhir, awalnya saya pikir ibu berlebihan dan sedang melodramatis. Tapi ibu saya serius, ia merasa bahwa hanya ketika Ramadan saja ia bisa demikian total beribadah tanpa mesti memikirkan dunia. Saya tidak pernah paham apa maksudnya, tapi saat lebaran, ketika saya mencium tangan keriputnya untuk meminta maaf, mata ibu saya memerah dan berair. Saya tahu ibu saya tidak rela meninggalkan Ramadan.

Sudah tiga tahun terakhir saya tidak pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya memilih untuk tinggal di Bali. Saya memutuskan tinggal bukan karena tidak rindu keluarga besar dan suasananya, atau tidak ingin bertemu teman-teman. Saya malas untuk kemudian mesti bertemu orang-orang menyebalkan dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan.

Kapan kawin? Kenapa pacaran beda agama? Dan sebagainya dan sebagainya. Mereka tidak pernah meminta jawaban. Mereka sedang menghakimi, apapun jawaban yang saya berikan, mereka tidak akan pernah puas.

Pulang ke rumah setelah bekerja di perantauan barangkali adalah bentuk lain kemewahan. Tapi tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa menghadapi keluarga besar. Tapi lebaran, juga setiap kepulangan yang lain, selalu membawa kita pada kondisi apa boleh buat. Bertemu dengan kawan lama, sahabat lama yang bisa jadi lebih baik, tetap di tempat atau mengalami dekadensi pemikiran yang mengerikan.  Bagi saya sendiri, ada beberapa hal yang memang bisa ditoleransi, dinegosiasikan, dan dibiarkan untuk sesuatu yang lebih baik.

Di Bali ketika Idul Fitri membuat kota ini menjadi demikian manusiawi, jalanan menjadi lengang, udara sedikit lebih baik, kebisingan berkurang, dan tentu saja menjadi sedikit lebih sepi.

Tapi hey, kesepian dan kesunyian adalah dua komoditas penting di sini. Menjadi sepi dan sunyi barangkali adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Anda bisa mendapatkan itu ketika lebaran tiba, ketika para perantau pulang ke rumah masing-masing, ketika para pengadu nasib memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Tentu kesepian itu mengerikan. Tapi saya kira itu harga yang pantas dibayarkan untuk sebuah ketenangan.

Lebaran di kampung bisa jadi lebih ramai daripada Denpasar Festival. Saat di mana seluruh keluarga besar datang, kawan-kawan masa kecil hingga kini mampir. Tentu ada yang rindu, tentu ada yang ingin tulus bertemu denganmu karena sekian tahun tak jumpa. Namun, beberapa dari mereka ingin bertemu karena ingin membandingkan kesuksesan, membandingkan nasib, atau bahkan menertawakan kesialan orang lain.

Pun mereka yang pulang terkadang ingin menunjukan bahwa mereka telah satu derajat lebih kota daripada mereka yang memutuskan tinggal di kampung halaman. Bahwa kota telah membuat mereka menjadi modern, maju, dan bermartabat. Seolah-olah tinggal di kampung halaman zaman akan berhenti, pemikiran mandeg, dan informasi tersendat. Kepongahan yang kerap hinggap di beberapa orang kota yang kena tempeleng gaya hidup urban kekinian.

Bali kehilangan beban ketika lebaran tiba. Gedung-gedung perkantoran menjadi lengang, pasar sepi, dan tiba-tiba kita menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang membuatmu berharap agar kelengangan dan kesepian ini abadi. Pembangunan dihentikan dan pohon-pohon menjadi rimbun.

W.R. Supratman, Teuku Umar, Gatot Subroto, dan seluruh simpul kemacetan terurai. Tidak ada lagi umpatan motor goblok, mobil setan, angkot sialan, dan sejenisnya. Para pengendara bernyanyi riang mengikuti irama mp3 player, beberapa bersiul-siul, pengendara roda dua menjadi berakal, angkutan umum tidak lagi penuh sesak dengan penumpang. Sebuah utopia yang telah berpuluh tahun ingin dicapai berbagai gubernur hanya bisa tercapai ketika lebaran tiba.

Malam lebaran di beberapa kampung yang di dominasi penduduk minoritas petasan bertebaran seolah menjadi alat komunikasi. Kampung-kampung beradu ledakan, warna-warni kembang api menghadirkan imaji bahwa desa ini masih sedikit waras. Penduduknya bergembira, kampung-kampung menjadi hidup dengan pertemuan-pertemuan.

Hari Raya di Bali adalah penanda bahwa orang minoritas masih ada, mereka masih hidup, bertahan, dan tetap menjaga tradisi mereka. Memanusiakan manusia, memuliakan tamu, dan menghargai saudara.

Pernahkah kamu merayakan lebaran bersama orang-orang minoritas di Bali? Keramahan mereka, ketulusan mereka, juga tawaran yang tak mungkin Anda tolak untuk menikmati hidangan yang mereka buat.

Bali ketika lebaran adalah sebuah pemandangan yang lain, yang membuat anda akan merasa bahwa, “Ah, tempat ini tidak membuat manusia menjadi kejam”. masih menyediakan manusia-manusia tulus yang mau menerima tamu, yang mau memuliakan mereka yang ditinggalkan.

Suatu ketika Hari Raya di Bali membuatmu berpikir lebih banyak dan lebih panjang. Kesepian mengajarkanmu untuk menghargai kebersamaan. Sementara kesunyian membuatmu belajar memuliakan pertemuan. Kota ini demikian kejam pada mereka yang lemah hati, namun pada saat yang sama mengajarkan kita tentang pentingnya menjadi manusia.

Masih di Bali ketika lebaran bisa jadi menyedihkan. Ketika Anda sedang jatuh cinta, merindu, atau bahkan berharap. Kesendirian adalah karib paling baik dari rasa pedih. Bali menghadirkan banyak kesempatan, tapi juga menyediakan banyak kekecewaaan.

Kamu bisa saja pura-pura optimis dan getir dengan menuliskan sebuah artikel tentang betapa munafiknya perayaan lebaran di kampung halaman, padahal jauh di dalam hatimu, kamu sangat berharap bisa pulang untuk merayakan lebaran bersama orang - orang yang kamu sayang.  -RAN-

Other
Short Story
Read More
Solo Work

Saya Benci Lebaran

Saya benci lebaran. Entah mengapa Idul Fitri seolah menjadi parade kemunafikan.

Saya bertemu orang-orang yang tidak saya kenal, memasang muka mainan, terpaksa tersenyum seraya mengucapkan lahir batin. Mereka, orang yang hanya saya temui setahun sekali, orang-orang asing yang entah dari mana asalnya, meminta maaf kepada saya untuk kesalahan yang saya tidak tahu kapan terjadi.

Lebaran, bagi saya, semestinya tentang berpikir apakah saya sudah menjadi orang yang lebih baik daripada sebulan lalu.

Ibu saya adalah orang yang paling bersedih ketika Ramadan berakhir, awalnya saya pikir ibu berlebihan dan sedang melodramatis. Tapi ibu saya serius, ia merasa bahwa hanya ketika Ramadan saja ia bisa demikian total beribadah tanpa mesti memikirkan dunia. Saya tidak pernah paham apa maksudnya, tapi saat lebaran, ketika saya mencium tangan keriputnya untuk meminta maaf, mata ibu saya memerah dan berair. Saya tahu ibu saya tidak rela meninggalkan Ramadan.

Sudah tiga tahun terakhir saya tidak pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya memilih untuk tinggal di Bali. Saya memutuskan tinggal bukan karena tidak rindu keluarga besar dan suasananya, atau tidak ingin bertemu teman-teman. Saya malas untuk kemudian mesti bertemu orang-orang menyebalkan dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan.

Kapan kawin? Kenapa pacaran beda agama? Dan sebagainya dan sebagainya. Mereka tidak pernah meminta jawaban. Mereka sedang menghakimi, apapun jawaban yang saya berikan, mereka tidak akan pernah puas.

Pulang ke rumah setelah bekerja di perantauan barangkali adalah bentuk lain kemewahan. Tapi tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa menghadapi keluarga besar. Tapi lebaran, juga setiap kepulangan yang lain, selalu membawa kita pada kondisi apa boleh buat. Bertemu dengan kawan lama, sahabat lama yang bisa jadi lebih baik, tetap di tempat atau mengalami dekadensi pemikiran yang mengerikan.  Bagi saya sendiri, ada beberapa hal yang memang bisa ditoleransi, dinegosiasikan, dan dibiarkan untuk sesuatu yang lebih baik.

Di Bali ketika Idul Fitri membuat kota ini menjadi demikian manusiawi, jalanan menjadi lengang, udara sedikit lebih baik, kebisingan berkurang, dan tentu saja menjadi sedikit lebih sepi.

Tapi hey, kesepian dan kesunyian adalah dua komoditas penting di sini. Menjadi sepi dan sunyi barangkali adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Anda bisa mendapatkan itu ketika lebaran tiba, ketika para perantau pulang ke rumah masing-masing, ketika para pengadu nasib memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Tentu kesepian itu mengerikan. Tapi saya kira itu harga yang pantas dibayarkan untuk sebuah ketenangan.

Lebaran di kampung bisa jadi lebih ramai daripada Denpasar Festival. Saat di mana seluruh keluarga besar datang, kawan-kawan masa kecil hingga kini mampir. Tentu ada yang rindu, tentu ada yang ingin tulus bertemu denganmu karena sekian tahun tak jumpa. Namun, beberapa dari mereka ingin bertemu karena ingin membandingkan kesuksesan, membandingkan nasib, atau bahkan menertawakan kesialan orang lain.

Pun mereka yang pulang terkadang ingin menunjukan bahwa mereka telah satu derajat lebih kota daripada mereka yang memutuskan tinggal di kampung halaman. Bahwa kota telah membuat mereka menjadi modern, maju, dan bermartabat. Seolah-olah tinggal di kampung halaman zaman akan berhenti, pemikiran mandeg, dan informasi tersendat. Kepongahan yang kerap hinggap di beberapa orang kota yang kena tempeleng gaya hidup urban kekinian.

Bali kehilangan beban ketika lebaran tiba. Gedung-gedung perkantoran menjadi lengang, pasar sepi, dan tiba-tiba kita menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang membuatmu berharap agar kelengangan dan kesepian ini abadi. Pembangunan dihentikan dan pohon-pohon menjadi rimbun.

W.R. Supratman, Teuku Umar, Gatot Subroto, dan seluruh simpul kemacetan terurai. Tidak ada lagi umpatan motor goblok, mobil setan, angkot sialan, dan sejenisnya. Para pengendara bernyanyi riang mengikuti irama mp3 player, beberapa bersiul-siul, pengendara roda dua menjadi berakal, angkutan umum tidak lagi penuh sesak dengan penumpang. Sebuah utopia yang telah berpuluh tahun ingin dicapai berbagai gubernur hanya bisa tercapai ketika lebaran tiba.

Malam lebaran di beberapa kampung yang di dominasi penduduk minoritas petasan bertebaran seolah menjadi alat komunikasi. Kampung-kampung beradu ledakan, warna-warni kembang api menghadirkan imaji bahwa desa ini masih sedikit waras. Penduduknya bergembira, kampung-kampung menjadi hidup dengan pertemuan-pertemuan.

Hari Raya di Bali adalah penanda bahwa orang minoritas masih ada, mereka masih hidup, bertahan, dan tetap menjaga tradisi mereka. Memanusiakan manusia, memuliakan tamu, dan menghargai saudara.

Pernahkah kamu merayakan lebaran bersama orang-orang minoritas di Bali? Keramahan mereka, ketulusan mereka, juga tawaran yang tak mungkin Anda tolak untuk menikmati hidangan yang mereka buat.

Bali ketika lebaran adalah sebuah pemandangan yang lain, yang membuat anda akan merasa bahwa, “Ah, tempat ini tidak membuat manusia menjadi kejam”. masih menyediakan manusia-manusia tulus yang mau menerima tamu, yang mau memuliakan mereka yang ditinggalkan.

Suatu ketika Hari Raya di Bali membuatmu berpikir lebih banyak dan lebih panjang. Kesepian mengajarkanmu untuk menghargai kebersamaan. Sementara kesunyian membuatmu belajar memuliakan pertemuan. Kota ini demikian kejam pada mereka yang lemah hati, namun pada saat yang sama mengajarkan kita tentang pentingnya menjadi manusia.

Masih di Bali ketika lebaran bisa jadi menyedihkan. Ketika Anda sedang jatuh cinta, merindu, atau bahkan berharap. Kesendirian adalah karib paling baik dari rasa pedih. Bali menghadirkan banyak kesempatan, tapi juga menyediakan banyak kekecewaaan.

Kamu bisa saja pura-pura optimis dan getir dengan menuliskan sebuah artikel tentang betapa munafiknya perayaan lebaran di kampung halaman, padahal jauh di dalam hatimu, kamu sangat berharap bisa pulang untuk merayakan lebaran bersama orang - orang yang kamu sayang.  -RAN-

Read More
Solo Work
❖夏鸑君❖
2Mins Each
4
ISSUES
【心緒∞】
Updated Jul 17, 2018
G
8
136
41
Prose
Short Story

或許是突發奇想過的事物。

也可能是曾經的心情。

但如今看上去又那麼的不重要。

算了,把它送出去吧。

用文字丟下,讓它在記憶深層拉出。

然後忘掉。

不好的跟開心的都是。

畢竟都沒差,不是嗎?

飛吧飛吧,折成紙盒帶走我的夢吧。

#發一些在其他地方發過的or 最近。

Other
Prose
Short Story
Read More
Solo Work

【心緒∞】

或許是突發奇想過的事物。

也可能是曾經的心情。

但如今看上去又那麼的不重要。

算了,把它送出去吧。

用文字丟下,讓它在記憶深層拉出。

然後忘掉。

不好的跟開心的都是。

畢竟都沒差,不是嗎?

飛吧飛吧,折成紙盒帶走我的夢吧。

#發一些在其他地方發過的or 最近。

Read More
Solo Work
Aoki-San
2Mins Each
4
ISSUES
Short Stories
Updated Jul 14, 2018
PG-13 On Break
11
246
9

This is not going to be a whole story in different chapters,Its just a short story in a single chapter (Literally what it says in the title),I may even add texting stories,one with song lyrics sometimes,unknown pov etc could be horror,comedy,romance,thriller,suspense and genre, Enjoy!

Other
Read More
Solo Work

Short Stories

This is not going to be a whole story in different chapters,Its just a short story in a single chapter (Literally what it says in the title),I may even add texting stories,one with song lyrics sometimes,unknown pov etc could be horror,comedy,romance,thriller,suspense and genre, Enjoy!

Read More
Solo Work
BrotherAlameen
2Mins Each
1
ISSUE
My Testimony unto all of you.
Updated Apr 29, 2018
G Completed
1
89
0
Short Story

Over here I will give you a short summary about me.

Other
Short Story
Read More
Solo Work

My Testimony unto all of you.

Over here I will give you a short summary about me.

Read More
Solo Work
雪禪野鈐
2Mins Each
7
ISSUES
十二篇物語
Updated Mar 31, 2018
PG-13
7
368
5
Sarcasm
Short Story

喲哎~正看這篇文章的【偽裝者】們,早安,午安,晚安。

你知道嗎?

在一些歌曲可不但是歷史,神話,藝術的表達方法。

這些歌曲背後的故事——更是可以直接看到人性扭曲的一面。

準備好了嗎?

來吧。

【十二篇物語】——開始。

Other
Sarcasm
Short Story
Read More
Solo Work

十二篇物語

喲哎~正看這篇文章的【偽裝者】們,早安,午安,晚安。

你知道嗎?

在一些歌曲可不但是歷史,神話,藝術的表達方法。

這些歌曲背後的故事——更是可以直接看到人性扭曲的一面。

準備好了嗎?

來吧。

【十二篇物語】——開始。

Read More
Solo Work
季候鳥
1Min Each
5
ISSUES
本鳥的生存報告
Updated Dec 15, 2017
G
26
563
56
Prose

就是放一下自己的日常、碎碎唸和用來證明自己是香港人(´ぅω・`)

Other
Prose
Read More
Solo Work

本鳥的生存報告

就是放一下自己的日常、碎碎唸和用來證明自己是香港人(´ぅω・`)

Read More
Solo Work
Chat Noir
5Mins Each
29
ISSUES
Song-Fics
Updated Jun 28, 2018
PG Completed
18
1502
2
Lyrics
Short Story

Just some short stories but they're all inspired by songs so no real topics. 

Other
Lyrics
Short Story
Read More
Solo Work

Song-Fics

Just some short stories but they're all inspired by songs so no real topics. 

Read More
Solo Work
Stefani MichelleFrances
10Mins Each
1
ISSUE
Grief Project
Updated Jun 21, 2017
PG-13
2
301
3
Tragedy
Dark

A project while working through my brother's recent suicide.

Other
Tragedy
Dark
Read More
Full House

Grief Project

A project while working through my brother's recent suicide.

Read More
Full House
Yuu Oota
4Mins Each
2
ISSUES
Rain
Updated Aug 5, 2018
G
0
247
0
Short Story

A Collection of One-Shots about rain.

About broken hearts, no-shows and betrayals.

Other
Short Story
Read More
Solo Work

Rain

A Collection of One-Shots about rain.

About broken hearts, no-shows and betrayals.

Read More
Solo Work
I-Dont-Like-I-Obsess
5Mins Each
2
ISSUES
A Totally Legit Guide To Modern Day Adulting
Updated Mar 18, 2017
G
6
461
3
Inspirational

Yes. Life is scary. Adulting can be super hard. With the age we live in, it can be hard to get out there on your own for the first time. Worry not! This guide is your go-to for legit real-life advice for everyday living as a brand new adult!

Other
Inspirational
Read More
Solo Work

A Totally Legit Guide To Modern Day Adulting

Yes. Life is scary. Adulting can be super hard. With the age we live in, it can be hard to get out there on your own for the first time. Worry not! This guide is your go-to for legit real-life advice for everyday living as a brand new adult!

Read More
Solo Work
Heminor
8Mins Each
1
ISSUE
Test Your Brain! You Won't Believe The Answer For Puzzle 10!
Updated Jul 27, 2016
PG-13
8
808
29
Humor
Online Game

Step on up and answer these crazy brain puzzles!

Other
Humor
Online Game
Read More
Solo Work

Test Your Brain! You Won't Believe The Answer For Puzzle 10!

Step on up and answer these crazy brain puzzles!

Read More
Solo Work
Kat PhillipsJess RufusTheGirlWhoseStillUnKnownEllisAnnaKat
1Min Each
6
ISSUES
100,000 Things to Do When You're Bored
Updated May 15, 2016
G
22
1805
31
Humor

Exactly what the title says. Over time, I will post one hundred-thousand things to do when you're bored. Fifty things a day. Do them if you want to, or just read them and laugh your head off at the funny stuff. Enjoy.

Other
Humor
Read More
Full House

100,000 Things to Do When You're Bored

Exactly what the title says. Over time, I will post one hundred-thousand things to do when you're bored. Fifty things a day. Do them if you want to, or just read them and laugh your head off at the funny stuff. Enjoy.

Read More
Full House
FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018