Kyai Farid sudah berbicara selama tiga puluh menit tiga puluh tujuh detik. Aku menghitung setiap tarikan napasnya yang semakin berat, setiap jeda yang semakin panjang saat matanya, Astaghfirullah, melirik ke arah Tania yang duduk bersila di sudut ruangan. Daster kuningnya yang terlalu tipis itu kini benar-benar transparan di bawah lampu halogen, memperlihatkan bayangan bra hitam yang mengikuti setiap gerakan napasnya. Devita di sebelahnya, meski berhijab lebar, tetap tak bisa menyembunyikan lekuk tubuh muda yang menggoda setiap kali ia mencondongkan badan untuk mengambil kue.
381Please respect copyright.PENANALmbGd2MUVb
"Dan sebagai seorang muslim..." Kyai Farid berhenti tiba-tiba saat Tania membetulkan posisi daster yang melorot dari bahu kirinya. Bibirnya yang biasanya lancar melantunkan ayat suci itu terbuka lebar, seperti ikan yang kehabisan oksigen. Tangannya yang memegang kitab gemetar, membuat halaman-halaman kitab suci itu berbisik-bisik sendiri. "...kita harus... eh... menjaga pandangan..."
381Please respect copyright.PENANA30Q63tyd1h
Kalimatnya terputus ketika Devita tiba-tiba berdiri untuk mengambil teko kopi. Hijab longgarnya tersangkut di pinggiran meja, membuka sekilas lekuk pinggangnya yang ramping sebelum ia cepat-cepat menariknya kembali. Kyai Farid mengeluarkan suara kecil seperti orang yang terkena pukulan di ulu hati, kedua tangannya menekan sesuatu di antara pahanya dengan gerakan yang terlalu kaku untuk sekadar menyesuaikan posisi duduk.
381Please respect copyright.PENANAuYuirzowGI
"Sebentar, saya rasa kita istirahat dulu," ucap Kyai Farid tiba-tiba, suaranya seperti tersangkut di tenggorokan saat matanya mengikuti gerakan Devita yang sedang membungkuk mengatur piring kue. Tangannya membuat gerakan melambai yang tidak wajar, seperti orang yang baru saja menahan bersin. "Silakan jamaah menikmati hidangan yang sudah disediakan keluarga Pak Dedi."
381Please respect copyright.PENANAuhlnoRggDI
Ruangan yang tadinya hening pecah oleh suara piring, kunyahan dan obrolan santai. Aku melihat dengan mata yang semakin panas bagaimana bapak-bapak itu berebut mendekati Tania yang sedang membagikan kopi panas, bukan ke meja hidangan. Mas Gino bahkan dengan sengaja menyenggol bahunya saat mengambil sendok, membuat Tania terpeleset sedikit dan tanpa sadar memperlihatkan lebih banyak kulit dari daster kuningnya yang sudah lembab oleh keringat.
381Please respect copyright.PENANAAFpUB2glTk
"Subhanallah, istri Pak Dedi memang selalu terawat ya," ucap Pak RT sambil mengunyah kue lapis dengan mulut terbuka, serpihan kelapa terjatuh di atas pecinya yang sudah kekuningan. Matanya yang keruh itu tak pernah benar-benar meninggalkan sosok Tania yang sedang membungkuk menuangkan kopi untuk Kyai Farid. "Umur segitu masih kayak gadis, beda sama istri saya yang udah kayak tong sampah bekas."
381Please respect copyright.PENANA3JOpGUWTnS
Tawa riuh menggema di ruang tamu kami, membuat Tania tersipu sambil memainkan ujung daster kuningnya yang sudah semakin lembab. Devita yang duduk di sampingnya menunduk, tapi aku melihat senyum kecil mengintip dari balik hijab longgarnya saat Mas Gino menambahkan, "Anaknya juga nggak kalah. Lihat tuh kulitnya masih kinclong kayak telur ayam kampung." Tangannya membuat gerakan melingkar di udara, seolah menggambarkan bentuk tubuh Devita yang tertutup kain lebar.
***
381Please respect copyright.PENANAkVju9V49il
Di tengah riuhnya suara kunyahan dan gelas yang berdentang, Mas Gino tiba-tiba mengetuk-ngetuk piring kecilnya dengan sendok. "Dedi!" serunya dengan suara serak penuh rokok, menghentikan semua percakapan. Bibirnya yang pecah-pecah meregang lebar. "Kamu punya harta yang sangat berharga..." Tangannya yang kasar itu melambai ke arah Tania dan Devita yang sedang sibuk mengisi teko kopi. "...dan sangat mulus."
381Please respect copyright.PENANALdjKMGV13I
Ruangan mendadak senyap. Kyai Farid yang sedang meniup kopi panasnya berhenti di tengah tarikan napas, matanya membesar. Kupingku panas mendengar gelak tawa yang pecah setelah itu, sementara tangan-tangan kotor itu mengusap-usap dagu mereka seperti sedang menilai barang lelang.
381Please respect copyright.PENANAWU1sg96JuR
"Bener juga kata Mas Gino," celetuk Pak Herman dengan suara serak, kedua matanya yang berkaca-kaca itu tak lepas dari lekuk tubuh Devita yang sedang membungkuk mengambil piring. "Kalau istri dan anak semok gitu mah harusnya disedekahkan biar semua bisa merasakan." Tangannya yang penuh noda tembakau itu menepuk-nepuk paha Kyai Farid seolah mencari persetujuan. "Kan katanya sedekah itu menghapus dosa, ya kan Kyai?"
381Please respect copyright.PENANALTePeRFW8L
Kyai Farid mengeluarkan suara kecil di tenggorokannya, seperti orang yang tersedak tapi berusaha ditahan. Matanya yang hitam pekat itu berkilat aneh saat melirik Tania yang sedang berdiri tak jauh darinya, daster kuningnya yang lembab kini benar-benar memperlihatkan bentuk tubuhnya sepenuhnya di bawah lampu halogen. "Dalilnya... eh... memang ada," ucapnya dengan suara yang tiba-tiba saja serak. Jubah putihnya yang lebar bergerak-gerak tak karuan saat ia menyesuaikan posisi duduknya. "Tentang... keutamaan berbagi... rezeki."
381Please respect copyright.PENANA0j0c8ynXvB
Aku merasakan sesuatu yang panas mengalir di telingaku saat melihat Pak RT ikut mengangguk-angguk, kedua tangannya mengepal di atas paha seperti orang yang sedang menahan lapar. "Iya ya, Dedi. Kalau kamu sedekahkan mereka ke pengajian, kan pahalanya buanyak," ujarnya sambil melirik ke arah Tania yang tanpa sadar sedang melorotkan kembali daster dari bahunya. "Mereka juga pasti ikhlas."
381Please respect copyright.PENANAqPXoQtW93x
Tania membeku di tempatnya, teko kopi di tangannya bergetar halus. Aku melihat dengan jelas bagaimana bibirnya yang merah itu sedikit terbuka, matanya yang biasanya berbinar kini membesar seperti orang yang baru saja tersetrum. Tapi yang membuat dadaku sesak, ia tidak langsung membantah. Hanya berdiri diam, dengan napas yang semakin cepat membuat bayangan bra hitamnya naik turun lebih jelas dari balik daster kuning yang sudah tak bisa disebut pakaian lagi.
381Please respect copyright.PENANA7NkvdSX6zI
***
381Please respect copyright.PENANAAXXCY3kSaT
Kyai Farid menepuk-nepuk tikar kosong di sampingnya dengan gerakan yang awalnya ragu, seperti orang yang tak yakin apakah boleh meminta lebih. "Mungkin... eh... istri dan anak Pak Dedi bisa duduk di sini," ucapnya terbata-bata, suaranya tiba-tiba serak. Tangannya yang biasanya lancar memainkan tasbih kini gemetar menepuk tikar, seperti anak kecil yang takut ditolak saat meminta permen. "Agar... eh... lebih dekat dengan ilmu."
381Please respect copyright.PENANAzzFo0aRBdg
Aku melihat dengan mata yang semakin panas bagaimana Tania dan Devita saling pandang sejenak, bukan dengan protes, tapi dengan semacam kesenangan tersembunyi yang membuat pipi mereka memerah. Devita adalah yang pertama bergerak, bangkit dengan gerakan meliuk yang disengaja, hijab longgarnya berkibar perlahan saat ia melangkah mendekati Kyai Farid. "Iya ya Kyai," ucapnya dengan suara manis yang sengaja dipelankan, sambil dengan sengaja menyenggol lutut Kyai Farid saat ia duduk bersila di sebelah kanannya. "Biar lebih berkah."
381Please respect copyright.PENANAbw9R8AhIZc
Tania mengikuti dengan langkah lebih lambat, tapi dengan gerakan yang sama sekali tidak malu-malu. Daster kuningnya yang sudah lembab itu berkibar saat ia membungkuk untuk duduk di sebelah kiri Kyai Farid, secara tidak sengaja, atau sangat disengaja, menyenggol lengan Kyai Farid dengan payudaranya yang besar. "Kami dengar baik-baik ya, Kyai," bisiknya dengan nada yang terlalu manis untuk sekadar hormat biasa, sambil dengan sengaja mencondongkan badan ke depan sehingga garis lehernya yang dalam terlihat jelas dari sudut pandang Kyai Farid.
381Please respect copyright.PENANADIsk3ihz5J
Kyai Farid sendiri terlihat seperti orang yang baru saja tersambar petir di siang bolong. Mulutnya terbuka lebar, kedua tangannya mengepal erat di atas pahanya seolah menahan sesuatu yang sangat berat. Matanya yang biasanya tajam kini melayang-layang antara Tania di kirinya dan Devita di kanannya, seperti orang yang bingung harus mulai makan dari sisi mana ketika disuguhi dua piring makanan favoritnya sekaligus.
381Please respect copyright.PENANAcZGFlKZF0J
"Eh... jadi tadi kita bicara tentang... tentang..." Kyai Farid berhenti tiba-tiba saat Devita dengan sengaja menyelipkan tangan kecilnya ke balik hijab untuk mengusap keringat di leher, memperlihatkan sekilas kulit putih yang biasanya tersembunyi. Tangannya gemetar kuat, membuat halaman-halaman kitab suci itu berbisik-bisik sendiri. "Tentang sedekah yang... yang..."
381Please respect copyright.PENANASslYyY9zlk
"Apa kami harus lebih dekat lagi, Kyai?" Devita memotong dengan suara manis yang sengaja dipelankan, sambil dengan sengaja menempelkan bahunya ke lengan Kyai Farid. Matanya yang besar itu berbinar seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. "Biar lebih berkah?"
381Please respect copyright.PENANAAP4mWKMxUb
Tania di sisi lain tidak kalah gesit. Dengan gerakan yang seolah tidak disengaja, ia membetulkan posisi daster kuningnya yang sudah lembab, membuat kain yang sudah transparan itu semakin menempel di tubuhnya. "Kyai kelihatan kecapean," bisiknya dengan nada merdu sambil mengipasi wajah Kyai Farid dengan sapu tangan kecil, tubuhnya sengaja condong ke depan sehingga bayangan belahan dadanya jelas terlihat. "Harus istirahat sebentar?"
381Please respect copyright.PENANA0cLgH0kRXL
Ruangan mendadak senyap. Aku melihat dengan mata yang semakin panas bagaimana bapak-bapak itu menghentikan kunyahan mereka, semua mata tertuju pada pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan bisa terjadi di pengajian biasa. Mas Gino bahkan menjatuhkan sendoknya dengan suara berdentang keras, mulutnya terbuka lebar seperti ikan yang kehabisan oksigen.
381Please respect copyright.PENANAXDfnFN9soB
Kyai Farid melanjutkan ceramahnya dengan suara yang semakin tersendat-sendat, seperti radio dengan sinyal buruk. "Dan... sedekah itu... eh..." Tangannya yang biasanya lancar memainkan tasbih sekarang mengepal erat di atas pahanya, buku-buku jarinya memutih. Tania di sebelah kirinya bergerak sedikit, secara tidak sengaja, atau sangat disengaja, menempelkan lengannya yang halus ke lengan Kyai Farid. Daster kuningnya yang lembab itu menekan erat pada kulit Kyai Farid, mentransfer panas tubuhnya melalui lapisan tipis kain.
381Please respect copyright.PENANA2qYjjhyKRO
Devita tidak mau kalah. Dari sebelah kanan, ia mencondongkan badan dengan gerakan yang seolah-olah ingin mendengarkan lebih baik, tapi hijab longgarnya tersangkut di lengan Kyai Farid, menariknya lebih dekat. "Maaf ya, Kyai," bisiknya dengan suara manja sengaja dipelankan, sementara pipinya yang halus itu menyentuh sebentar pada bahu Kyai Farid sebelum ia berpura-pura menyesal. Tapi matanya, Astaghfirullah, berbinar seperti anak kecil yang baru saja melakukan kenakalan.
381Please respect copyright.PENANA3UQM0RtqO7
"Sedekah itu...akan membuka pintu-pintu..." Kyai Farid terengah-engah di tengah kalimatnya saat Tania dengan sengaja menggeser posisi duduknya, membuat lengannya bergesekan perlahan sepanjang lengan Kyai Farid dari bahu hingga pergelangan. "...rezeki..." Suaranya pecah ketika Devita tiba-tiba membetulkan posisi hijab dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya "tidak sengaja" menempel di paha Kyai Farid selama tiga detik yang terasa seperti tiga jam.
381Please respect copyright.PENANAeeLmOZyaKB





