×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Write a New Story!

Invite

Feedback
wedding

Narcissusflower
8Mins Each
52
ISSUES
The Wedding Dress
Updated Feb 7, 2018
PG-13 Completed
6
5394
7
Romance
Friendship

Kristen is just a normal girl living her normal life, when one day her mom tells her she has to get married, and surprisingly the groom is Richard! Kristen's old friend and her worst enemy, also the ultimate playboy. She thinks nothing can be worse than her situation right now, especially when she has a small crush on her best friend, Damien.

Young Adult
Romance
Friendship
Read More
Solo Work

The Wedding Dress

Kristen is just a normal girl living her normal life, when one day her mom tells her she has to get married, and surprisingly the groom is Richard! Kristen's old friend and her worst enemy, also the ultimate playboy. She thinks nothing can be worse than her situation right now, especially when she has a small crush on her best friend, Damien.

Read More
Solo Work
bloodandfullmoon
5Mins Each
1
ISSUE
Red
Updated Jun 3, 2018
PG Completed
0
350
0
Romance
Short Story

The colour red can mean many things at once. Anger, pain, death... Love.

Supernatural
Romance
Short Story
Read More
Solo Work

Red

The colour red can mean many things at once. Anger, pain, death... Love.

Read More
Solo Work
mueza_ameeza
6Mins Each
2
ISSUES
Menikah Muda
Updated Jan 17, 2018
G
3
492
0
Marriage
Inspirational

1

"Nas... Naaas, bangun udah siang masa dari tadi nggak bangun juga ?" Mama mengguncang-guncang bahu gue.

"Hmm.. Maaah aku dan kasur nggak bisa dipisahkan, kami saling mencintai," jawaban ajaib gue keluar sambil memeluk guling lebih erat.

"Nazilla ini udah jam setengah enam kamu belom sholat, mandi, sarapan dll. Ntar telat Nas, kamu nggak mau nyoba mobil baru kamu ?" Mama menarik selimut gue.

"Mobil?" mata gue melek seketika sambil tepok jidad "aduh kok Nanas bisa lupa yah hari ini mau bawa mobil sendiri ke sekolah," kemudian gue segera bangkit langsung menuju kamar mandi.

Mama hanya bisa geleng-geleng lihat tingkah anaknya yang satu itu. "Nas kalo abis mandi jangan lupa beresin kamar kamu yah," jawab Mama lalu turun ke bawah.

"Ayeayecapten," kata gue sebelum menghilang ke balik pintu kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian gue sudah ada di meja makan bergabung sama Mama, Papa, Achyar dan Idam. "Tumben Kak cepet amat turun dari kamarnya biasanya nunggu Mama teriakin dulu baru turun," sindir Achyar sambil nyendokin nasi ke mulutnya.

"Kan Nanas pengen cepet-cepet make mobil barunya ke sekolah Yar, kamu kayak nggak tau aja kakak kamu kek gimana ?" jawab Papa sambil mengulum senyum, menatap Achyar.

"Tau aja Papa aku udah kebelet nyobain bawa mobil aku sendiri ?" gue mendelik pada Achyar.

"Tapi kan Pah, aku tuh lebih jago bawa mobil ketimbang kak Nanas, kok Papa nggak ngebolehin aku aja sih yang punya duluan ?" Achyar mulai nggak terima kalau dia yang lebih bisa dan jago nyetir mobil nggak dikasih bawa mobil sendiri.

"Ya karna emang lo tuh belum cukup umur tau, gue aja yang udah jelas-jelas tujuh belas tahun mesti nunggu dulu seminggu SIM-nya kelar baru di bolehin Papa bawa mobil, apalagi elu yang umurnya aja belom cukup," sela gue yang merasa agak keberatan dengan penuturan adek gue ini.

"Udah-udah, berangkat gih, ntar kalian semua telat," Mama menyudahi pertengkaran pagi ini. "Nas kamu sama Idam kan searah sekolahnya kamu bareng Idam aja. Papa sama Ayar, supaya Papa nggak jauh lagi muter klo mau ke kantornya."

"Iya Ma tadinya aku juga pengennya gitu. Yuk Dam,byeMama Papa. Assalamualaikum duluan yah," gue mencium bonyok gue sebelum berangkat sekolah bersama Idam.

***

Sesampainya di kelas Nanas menghampiri ketiga sahabatnya yang sedang asyik ngegosip. "Pagi bebs, gosipin apasih? Asik banget," gue menaruh tasnya di bangkunya dan menghadap ke ketiga temannya.

"Nih Nas kemaren tuh ada guru baru penggantinya Bu Tika. Orangnya cakep banget," Acha menjelaskan apa yang mereka gosipi.

"Iya trus kata anak kelas sebelah orangnya ternyatakiller, nggak kayak Bu Tika yang baek hati," Maura menimpali pernyataan sahabatnya itu.

"Kok nasib kita sebagai siswa gini amat yah masa guru baek gitu ditukar sama guru killermacem tuh guru baru," ratap gue "emang Bu Tika kemana sih kok tiba-tiba diganti gitu?".

"Katanya sih dimutasi tapi nggak tau juga dimutasinya karena apa ?" tukas Lila.

Tak lama bel pun berbunyi tanda jam pelajaran pertama dimulai. Lalu sang guru baru pun masuk, menggantikan Ibu Tika hari ini mengajarkan biologi. Guru baru itu mulai memperkelkan diri, namanya Pak Roby umurnya belum tua-tua banget, mukanya emang cakep kayak yang temen-temen gue jelasin.

Begitu bunyi bel jam istirahat pun berbunyi. Semua siswa di kelas sibuk beresin barang masing-masing. Beberapa dari mereka bahkan langsung keluar kelas mencari makan.

"Eh, kalian nyadar nggak klo Pak Roby nggak sekilleryang diceritain cuman tugasnya doang yang bnyak banget," kata gue sembari memasukkan buku kembali ke tas.

"Yee... yang nama ngasih tugas diluar kemampuan manusia, diluar nalar mah tetep aja killerNaaaas, lo gimana sih ?" ucap Lila sambil menatap kaca, merapikan letak rambutnya.

"Ya iya sih, ribet banget pake ngancem segala kalo kurang satu nomor aja yang nggak dikerjain disuruh nyabut anak rambut yang deket telinga," Acha bergidik ngeri membayangkannya.

"Bosen gue dari tadi bahasnya tuh guru, mending juga kita nyari makan. Laper nih tadi gue nggak sarapan," Maura menengahi sohib-sohibnya.

"Iya gue juga dah laper nih, lain kali tuh lo sarapan dulu kek, ato beli roti buat ngeganjel Ra. Kalian pada mau makan apa ?" ucap Acha dan berjalan ke kantin diiringi ketiga sahabatnya.

Acha memang yang paling perhatian diantara mereka berempat, dia yang paling cepet sadar kalo temennya kenapa-kenapa, pokoknya Acha yang paling peka dan paling jago masak.

Lila yang paling hobbydandan, lipgloss, bedak, eyeliner, handcream, kaca ama tissuepasti ada ditasnya, Lila juga yang paling cantik diantara kita.

Maura yang paling tomboy secara dia udah sabuk hitam bela diri taekwondo, selain itu Maura juga yang paling pinter diantara kita, dia semacam pelindung bagi ketiga sahabatnya, salah bacot sedikit ato berani macem-macem ama sohibnya harus rela dihantam rata sama dia.

Kata orang gue itu yang paling manis, kita nggak bakal pernah bosan liat muka gue. Gue juga cerewet walopun kalah dari Lila, tapi gue yang paling jago bikin kue diantara mereka.

Kami berempat punya keunikan masing-masing, juga cantik-cantik, walopun Lila tetep yang tercantik, gue yang paling manis, Acha yang paling imut dan Maura yang paling bagus bodynya, sexywalaupun dia nggak pernah pake baju kurang bahan. Intinya nggak ada yang lebih dari pada yang lain. Mereka saling menutupi dan saling menyayangi.

Gue dan Maura udah dari kelas 8 waktu SMP sahabatannya lalu mereka diterima di SMAN 17 sama-sama kemudian pada kelas 10 mereka pisah kelas Nanas di kelas 10 C dan Maura di kelas 10 F. Di kelas masing-masing gue duduk sebangku sama Lila dan Maura duduk sebangku sama Acha. Karena kita sering bersama akhirnya akrab dan bersahabat.

****

Pada jam istirahat kedua kita berempat lebih memilih nongkrong di teras kelas sambil ngerumpi dan nyanyi-nyanyi nggak jelas diringi permainan gitarnya Acha. Acha memang suaranya bagus banget selain gitar dia juga pintar main piano. Entah sudah berapa kali Acha membawa pulang piala dan menang lomba menyanyi.

"Eh Cha klo suara lo bagus gitu kok nggak pernah gue liat lo ikut audisi-audisi di tv ? heran deh gue," kata Lila sambil ngemil. Yang perkataannya diamini yang lain. Bahkan anak-anak lain yang juga ikut nangkring di teras kelas juga setuju. Malah berjanji bakal kirim sms yang banyak supaya menang dan uang nya dibagi-bagi. "Iya Cha sekalian gantiin uang pulsa yang gue pake buat nge-smsin elu," sambung Nanas yang diikuti derai tawa teman-temannya.

"Ah kalian mah nggak iklhas gitu, apalagi Nanas pamrih banget. Gue tuh nggak mau ikutan yang kek begitu karena baru aja liat antriannya udah ribuan buang waktu banget nungguin antriannya belom lagi banyak yang lebih bagus dari gue dan hal lain yang bikin gue malas ikut audisi. Toh dengan ikut lomba, porseni dll kan udah cukup buat gue." Acha menjelaskan sambil nyomotin camilannya Maura. Eh malah yang comotin sebel camilannya cepet abis.

"Lo tuh kalo ngemil beli lebih bnyak kek, kan punya gue jadi yang paling cepet abis. Derita banget duduk samping lo."

"Hehehe ya maap keasikan tadi gue."

***

"Assalamualaikum, aku pulang," sapa gue sambil mencium Mama.

"Walaikumsalam, Nas entar malam ada pesta di hotel. Urusan bisnis Papa."

"Tumben ngajak aku biasanya juga kalo urusan bisnis cuma Papa yang pergi ato Mama bareng Papa."

"Iya karena yang ini beda, peresmian apa gitu Mama lupa trus acaranya nggak bisnis-bisnis banget. Jadi seperti acara keluarga makanya kamu dan ade-ade kamu juga bisa ikut."

"Ooh...gitu kupikir aku nnti disana bakal mirip kambing congek karena nggak ada temennya."

"Ya udah kamu sana gih naik ganti baju trus turun buat makan siang."

"Oke bos," jawab gue sambil melenggang menuju kamarnya.

TBC

16 Jan 2018

Romance
Marriage
Inspirational
Read More
Solo Work

Menikah Muda

1

"Nas... Naaas, bangun udah siang masa dari tadi nggak bangun juga ?" Mama mengguncang-guncang bahu gue.

"Hmm.. Maaah aku dan kasur nggak bisa dipisahkan, kami saling mencintai," jawaban ajaib gue keluar sambil memeluk guling lebih erat.

"Nazilla ini udah jam setengah enam kamu belom sholat, mandi, sarapan dll. Ntar telat Nas, kamu nggak mau nyoba mobil baru kamu ?" Mama menarik selimut gue.

"Mobil?" mata gue melek seketika sambil tepok jidad "aduh kok Nanas bisa lupa yah hari ini mau bawa mobil sendiri ke sekolah," kemudian gue segera bangkit langsung menuju kamar mandi.

Mama hanya bisa geleng-geleng lihat tingkah anaknya yang satu itu. "Nas kalo abis mandi jangan lupa beresin kamar kamu yah," jawab Mama lalu turun ke bawah.

"Ayeayecapten," kata gue sebelum menghilang ke balik pintu kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian gue sudah ada di meja makan bergabung sama Mama, Papa, Achyar dan Idam. "Tumben Kak cepet amat turun dari kamarnya biasanya nunggu Mama teriakin dulu baru turun," sindir Achyar sambil nyendokin nasi ke mulutnya.

"Kan Nanas pengen cepet-cepet make mobil barunya ke sekolah Yar, kamu kayak nggak tau aja kakak kamu kek gimana ?" jawab Papa sambil mengulum senyum, menatap Achyar.

"Tau aja Papa aku udah kebelet nyobain bawa mobil aku sendiri ?" gue mendelik pada Achyar.

"Tapi kan Pah, aku tuh lebih jago bawa mobil ketimbang kak Nanas, kok Papa nggak ngebolehin aku aja sih yang punya duluan ?" Achyar mulai nggak terima kalau dia yang lebih bisa dan jago nyetir mobil nggak dikasih bawa mobil sendiri.

"Ya karna emang lo tuh belum cukup umur tau, gue aja yang udah jelas-jelas tujuh belas tahun mesti nunggu dulu seminggu SIM-nya kelar baru di bolehin Papa bawa mobil, apalagi elu yang umurnya aja belom cukup," sela gue yang merasa agak keberatan dengan penuturan adek gue ini.

"Udah-udah, berangkat gih, ntar kalian semua telat," Mama menyudahi pertengkaran pagi ini. "Nas kamu sama Idam kan searah sekolahnya kamu bareng Idam aja. Papa sama Ayar, supaya Papa nggak jauh lagi muter klo mau ke kantornya."

"Iya Ma tadinya aku juga pengennya gitu. Yuk Dam,byeMama Papa. Assalamualaikum duluan yah," gue mencium bonyok gue sebelum berangkat sekolah bersama Idam.

***

Sesampainya di kelas Nanas menghampiri ketiga sahabatnya yang sedang asyik ngegosip. "Pagi bebs, gosipin apasih? Asik banget," gue menaruh tasnya di bangkunya dan menghadap ke ketiga temannya.

"Nih Nas kemaren tuh ada guru baru penggantinya Bu Tika. Orangnya cakep banget," Acha menjelaskan apa yang mereka gosipi.

"Iya trus kata anak kelas sebelah orangnya ternyatakiller, nggak kayak Bu Tika yang baek hati," Maura menimpali pernyataan sahabatnya itu.

"Kok nasib kita sebagai siswa gini amat yah masa guru baek gitu ditukar sama guru killermacem tuh guru baru," ratap gue "emang Bu Tika kemana sih kok tiba-tiba diganti gitu?".

"Katanya sih dimutasi tapi nggak tau juga dimutasinya karena apa ?" tukas Lila.

Tak lama bel pun berbunyi tanda jam pelajaran pertama dimulai. Lalu sang guru baru pun masuk, menggantikan Ibu Tika hari ini mengajarkan biologi. Guru baru itu mulai memperkelkan diri, namanya Pak Roby umurnya belum tua-tua banget, mukanya emang cakep kayak yang temen-temen gue jelasin.

Begitu bunyi bel jam istirahat pun berbunyi. Semua siswa di kelas sibuk beresin barang masing-masing. Beberapa dari mereka bahkan langsung keluar kelas mencari makan.

"Eh, kalian nyadar nggak klo Pak Roby nggak sekilleryang diceritain cuman tugasnya doang yang bnyak banget," kata gue sembari memasukkan buku kembali ke tas.

"Yee... yang nama ngasih tugas diluar kemampuan manusia, diluar nalar mah tetep aja killerNaaaas, lo gimana sih ?" ucap Lila sambil menatap kaca, merapikan letak rambutnya.

"Ya iya sih, ribet banget pake ngancem segala kalo kurang satu nomor aja yang nggak dikerjain disuruh nyabut anak rambut yang deket telinga," Acha bergidik ngeri membayangkannya.

"Bosen gue dari tadi bahasnya tuh guru, mending juga kita nyari makan. Laper nih tadi gue nggak sarapan," Maura menengahi sohib-sohibnya.

"Iya gue juga dah laper nih, lain kali tuh lo sarapan dulu kek, ato beli roti buat ngeganjel Ra. Kalian pada mau makan apa ?" ucap Acha dan berjalan ke kantin diiringi ketiga sahabatnya.

Acha memang yang paling perhatian diantara mereka berempat, dia yang paling cepet sadar kalo temennya kenapa-kenapa, pokoknya Acha yang paling peka dan paling jago masak.

Lila yang paling hobbydandan, lipgloss, bedak, eyeliner, handcream, kaca ama tissuepasti ada ditasnya, Lila juga yang paling cantik diantara kita.

Maura yang paling tomboy secara dia udah sabuk hitam bela diri taekwondo, selain itu Maura juga yang paling pinter diantara kita, dia semacam pelindung bagi ketiga sahabatnya, salah bacot sedikit ato berani macem-macem ama sohibnya harus rela dihantam rata sama dia.

Kata orang gue itu yang paling manis, kita nggak bakal pernah bosan liat muka gue. Gue juga cerewet walopun kalah dari Lila, tapi gue yang paling jago bikin kue diantara mereka.

Kami berempat punya keunikan masing-masing, juga cantik-cantik, walopun Lila tetep yang tercantik, gue yang paling manis, Acha yang paling imut dan Maura yang paling bagus bodynya, sexywalaupun dia nggak pernah pake baju kurang bahan. Intinya nggak ada yang lebih dari pada yang lain. Mereka saling menutupi dan saling menyayangi.

Gue dan Maura udah dari kelas 8 waktu SMP sahabatannya lalu mereka diterima di SMAN 17 sama-sama kemudian pada kelas 10 mereka pisah kelas Nanas di kelas 10 C dan Maura di kelas 10 F. Di kelas masing-masing gue duduk sebangku sama Lila dan Maura duduk sebangku sama Acha. Karena kita sering bersama akhirnya akrab dan bersahabat.

****

Pada jam istirahat kedua kita berempat lebih memilih nongkrong di teras kelas sambil ngerumpi dan nyanyi-nyanyi nggak jelas diringi permainan gitarnya Acha. Acha memang suaranya bagus banget selain gitar dia juga pintar main piano. Entah sudah berapa kali Acha membawa pulang piala dan menang lomba menyanyi.

"Eh Cha klo suara lo bagus gitu kok nggak pernah gue liat lo ikut audisi-audisi di tv ? heran deh gue," kata Lila sambil ngemil. Yang perkataannya diamini yang lain. Bahkan anak-anak lain yang juga ikut nangkring di teras kelas juga setuju. Malah berjanji bakal kirim sms yang banyak supaya menang dan uang nya dibagi-bagi. "Iya Cha sekalian gantiin uang pulsa yang gue pake buat nge-smsin elu," sambung Nanas yang diikuti derai tawa teman-temannya.

"Ah kalian mah nggak iklhas gitu, apalagi Nanas pamrih banget. Gue tuh nggak mau ikutan yang kek begitu karena baru aja liat antriannya udah ribuan buang waktu banget nungguin antriannya belom lagi banyak yang lebih bagus dari gue dan hal lain yang bikin gue malas ikut audisi. Toh dengan ikut lomba, porseni dll kan udah cukup buat gue." Acha menjelaskan sambil nyomotin camilannya Maura. Eh malah yang comotin sebel camilannya cepet abis.

"Lo tuh kalo ngemil beli lebih bnyak kek, kan punya gue jadi yang paling cepet abis. Derita banget duduk samping lo."

"Hehehe ya maap keasikan tadi gue."

***

"Assalamualaikum, aku pulang," sapa gue sambil mencium Mama.

"Walaikumsalam, Nas entar malam ada pesta di hotel. Urusan bisnis Papa."

"Tumben ngajak aku biasanya juga kalo urusan bisnis cuma Papa yang pergi ato Mama bareng Papa."

"Iya karena yang ini beda, peresmian apa gitu Mama lupa trus acaranya nggak bisnis-bisnis banget. Jadi seperti acara keluarga makanya kamu dan ade-ade kamu juga bisa ikut."

"Ooh...gitu kupikir aku nnti disana bakal mirip kambing congek karena nggak ada temennya."

"Ya udah kamu sana gih naik ganti baju trus turun buat makan siang."

"Oke bos," jawab gue sambil melenggang menuju kamarnya.

TBC

16 Jan 2018

Read More
Solo Work