×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Write a New Story!

Invite

Feedback
realistic

Ari Finn
7Mins Each
3
ISSUES
Book 1: Lately I
Updated Mar 22, 2019
PG-13
0
68
0
Romance
Angst

Yumin is a young idol who is under contract with a strict love ban. Between her busy lifestyle and, Ryu, a cute backstage employee, Yumin's life gets a lot more complicated.

Part 1 of the Tell Me What is Love Trilogy

Rating may increase to R later on

New chapter every Friday

This trilogy is a product of some serious determination. I spent the entire month of November 2017 holed up in a small hotel room in Korea writing this for Nanowrimo (which ended up being my first win!). I'm a long time fan of k-pop and developed this idea in my teens. It's inspired by many things, and I'm excited to finally share it with the world! I hope you enjoy it!

Every chapter is named after a song. Here is the list:

Take Me Higher- A.C.E.

Pretty Pretty- Ladies Code

Hello- Fiestar

Drama
Romance
Angst
Read More
Solo Work

Book 1: Lately I

Yumin is a young idol who is under contract with a strict love ban. Between her busy lifestyle and, Ryu, a cute backstage employee, Yumin's life gets a lot more complicated.

Part 1 of the Tell Me What is Love Trilogy

Rating may increase to R later on

New chapter every Friday

This trilogy is a product of some serious determination. I spent the entire month of November 2017 holed up in a small hotel room in Korea writing this for Nanowrimo (which ended up being my first win!). I'm a long time fan of k-pop and developed this idea in my teens. It's inspired by many things, and I'm excited to finally share it with the world! I hope you enjoy it!

Every chapter is named after a song. Here is the list:

Take Me Higher- A.C.E.

Pretty Pretty- Ladies Code

Hello- Fiestar

Read More
Solo Work
lesbihonest
1Min Each
14
ISSUES
Another Day (work in progress)
Updated Mar 13, 2018
PG-13
1
1676
0
Romance
School

this is a co-op piece with SLOWROLE on the app rolemance if you want to check her out.

this is shaping up to be a nice fluffy lesbian high school story that will run for quite a while. I'll do my best to update this whenever possible as we continue writing.

Young Adult
Romance
School
Read More
Solo Work

Another Day (work in progress)

this is a co-op piece with SLOWROLE on the app rolemance if you want to check her out.

this is shaping up to be a nice fluffy lesbian high school story that will run for quite a while. I'll do my best to update this whenever possible as we continue writing.

Read More
Solo Work
World Tears
1Min Each
0
ISSUES
Satu Kata Penentu
Updated Apr 3, 2018
PG
1
234
0
Short Story
Romance

Retakan jalan aspal yang masih digenangi air hujan semalam dilewati Abi dengan hati-hati agar tidak mengenai celana dasar yang ia pakai untuk menuju sebuah restoran di kawasan thamrin city untuk memenuhi panggilan interview untuk posisi waiter. 

"mbak, saya mau menemui menejer restoran buat interview, saya harus kemana ya? " Abi bertaya kepada salah satu karyawan yang sedang merapikan meja dengan bahasa indonesia yang masih medok karena ia baru satu bulan di jakarta.

" oh, mau interview waiter ya pak,?  Nah, itu menejernya lagi di dapur pak, saya panggilin bentar ya.. " dengan senyuman ia berjalan ke arah dapur dan menemui menejer restoran tersebut.

Lima belas menit berlalu dan Abi masih berdiri tanpa beranjak sedikitpun dari tempat ia berpijak, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat selama hidupnya yaitu meja-meja mahal beserta kursinya serta satu jam dinding vintage dan kelihatan exspensive yang menjadi icon restoran tersebut.

"selamat pagi, bapak yang mau interview dengan saya?" suara lembut yang membuat Abi sadar dari imajinasi sesaatnya dan lansung melihat mulut yang mengeluarkan kalimat tersebut.

"Oh God " sontak Abi terkesima melihat bibir tipis sang menejer,  tanpa sadar kebiasaan Abi bangkit dan lansung melihat payudara sang menejer yang padat dibaluti oleh kemeja hitam." iya mbak, saya mau di apain sama mbak juga mau"  Abi mengeluarkan kemampuan gombalnya yang se-adanya untuk memberikan kesan pertama yang friendly kepada menejer.

Sang menejer tersenyum dan mengabaikan gombalan abi " silahkan ke lantai dua dulu ya pak, tangga ada di sebelah kiri toilet di belakang" dan menejer pun pergi ke dapur tanpa melihat Abi dan lansung menuju pintu dapur.

Abi dengan mata keranjangnya melihat irama pantat menejer hingga ia menggapai pintu dapur, kemudian melangkah pelan menuju arah yang disebutkan menejer ke lantai dua. Setibanya di atas, Abi mencari pintu yang ada tulisan "manager's office"  dan menunggu persis di samping pintu tersebut.

Tek, tek, tek, tek. Abi mendengar suara High Heels menaiki tangga dan menatap arah tangga yang ia lewati sepuluh menit yang lalu. Sang menejer pun berjalan bak di catwalk kearahnya dan meraih pintu yang Abi gentayangin sepuluh menit tanpa respon apapun dan lansung menutup pintu kembali. Abi terheran dengan perlakuanya dan berencana untuk mengetuk pintu tersebut lima menit kemudian.

Tok, tok, tok. Abi mengetuk pintu dan tidak ada respon sama sekali, ia memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan sang menejer. Sembari Abi menutup pintu, ia merasakan ada tatapan dingin yang mengarah kepadanya dan lansung meminta maaf atas perbuatan lancang tersebut.

"maaf mbak saya masuk tanpa aba-aba.."dengan mata yang menatap ke lantai dan membungkuk menghormati menejer.

"gak pa pa, kita lansung interview ya," dengan nada rendah dan membubuhi wajahnya serta sebuah senyuman tipis yang indah.

"boleh mbak, saya izin duduk disini ya" Abi melihat kursi dan lansung menduduki sembari menatap wajah sang menejer sambil membalas senyumanya.

"kamu masih perjaka? " kalimat pertama yang Abi dengar dan ia lansung shock dengan pertanyaan yang dilontarkan sang menejer, untuk beberapa saat, AC yang ada di dalam ruangan terdengar lebih keras karena suasana yang mendadak hening.

" saya orang baek-baek mbak, saya masih perjaka, saya nggombalin mbak biar dapet kesan friendly and easy going aja mbak, sumpah" Abi lansung blunder dan menjawab pertanyaan sang menejer dengan sangat-sangat jelas.

"oke, kamu lusa mulai bekerja di sini, nanti saya beri instruksi untuk apa saja yang kamu kerjakan, am i clear?" sang menejer berbicara sembari membubuhkan tanda tangan pada dua lembar surat kontrak kerja dan meletakkan surat tersebut untuk ditandatanggani oleh Abi.

"thanks God, oke mbak, lusa saya datang jam delapan nyampe di sini" Abi bergegas menandatangani kontrak kerja yang akan berlansung selama dua tahun kedepan. Abi bersalaman dengan sang menejer dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

Dalam perjalanan pulang, Abi masih setengah percaya kalau ia bakalan bekerja di restoran semewah itu dengan hanya bermodalkan keperjakaan, ia mengingat apa-apa saja yang ia alami selama interview dan mengingat isi lemari pajangan yang ada di dalam ruangan sang menejer.

"kayak pernah lihat gitu ya sama tongkat dan lidi yang ada di dalem lemari tadi, tapi dimana liatnya ya? " gumam Abi, ia mencoba mengingat dimana ia melihat benda seperti pecut kuda dan tongkat berdiameter enam senti tersebut.

Setibanya di kos, Abi melepaskan semua benda di badanya kecuali celana dalam dan merebahkan diri di kasur dan menggapai HP Xiaomi miliknya. Abi penasaran apakah restoran tersebut memiliki akun instagram dan ia mengetik nama restoran tersebut di kolom pencarian instagram dan menemukanya.

"stalking dulu aah" kebiasaan pengangguran Abi belum hilang dan melihat postingan-postingan dengan like sekitar tujuh ribuan dan followers sekitar enam belas ribuan dan following cuma satu akun, Abi melanjutkan stalking-nya ke following akun restoran tersebut dan melihat satu akun cewek dengan nama Resa Dwipurna, dan akun tersebut bersifat private. Penasaran Abi yang tak terbendung terhadap akun Resa Dwipurna ini membuat ia mem-follow akun tersebut dan menghentikan stalkingnya. Abi bangun dari istirahatnya dan menarik handuk yang tergantung di samping lemari pakaian menuju kamar mandi.

Young Adult
Short Story
Romance
Read More
Solo Work

Satu Kata Penentu

Retakan jalan aspal yang masih digenangi air hujan semalam dilewati Abi dengan hati-hati agar tidak mengenai celana dasar yang ia pakai untuk menuju sebuah restoran di kawasan thamrin city untuk memenuhi panggilan interview untuk posisi waiter. 

"mbak, saya mau menemui menejer restoran buat interview, saya harus kemana ya? " Abi bertaya kepada salah satu karyawan yang sedang merapikan meja dengan bahasa indonesia yang masih medok karena ia baru satu bulan di jakarta.

" oh, mau interview waiter ya pak,?  Nah, itu menejernya lagi di dapur pak, saya panggilin bentar ya.. " dengan senyuman ia berjalan ke arah dapur dan menemui menejer restoran tersebut.

Lima belas menit berlalu dan Abi masih berdiri tanpa beranjak sedikitpun dari tempat ia berpijak, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat selama hidupnya yaitu meja-meja mahal beserta kursinya serta satu jam dinding vintage dan kelihatan exspensive yang menjadi icon restoran tersebut.

"selamat pagi, bapak yang mau interview dengan saya?" suara lembut yang membuat Abi sadar dari imajinasi sesaatnya dan lansung melihat mulut yang mengeluarkan kalimat tersebut.

"Oh God " sontak Abi terkesima melihat bibir tipis sang menejer,  tanpa sadar kebiasaan Abi bangkit dan lansung melihat payudara sang menejer yang padat dibaluti oleh kemeja hitam." iya mbak, saya mau di apain sama mbak juga mau"  Abi mengeluarkan kemampuan gombalnya yang se-adanya untuk memberikan kesan pertama yang friendly kepada menejer.

Sang menejer tersenyum dan mengabaikan gombalan abi " silahkan ke lantai dua dulu ya pak, tangga ada di sebelah kiri toilet di belakang" dan menejer pun pergi ke dapur tanpa melihat Abi dan lansung menuju pintu dapur.

Abi dengan mata keranjangnya melihat irama pantat menejer hingga ia menggapai pintu dapur, kemudian melangkah pelan menuju arah yang disebutkan menejer ke lantai dua. Setibanya di atas, Abi mencari pintu yang ada tulisan "manager's office"  dan menunggu persis di samping pintu tersebut.

Tek, tek, tek, tek. Abi mendengar suara High Heels menaiki tangga dan menatap arah tangga yang ia lewati sepuluh menit yang lalu. Sang menejer pun berjalan bak di catwalk kearahnya dan meraih pintu yang Abi gentayangin sepuluh menit tanpa respon apapun dan lansung menutup pintu kembali. Abi terheran dengan perlakuanya dan berencana untuk mengetuk pintu tersebut lima menit kemudian.

Tok, tok, tok. Abi mengetuk pintu dan tidak ada respon sama sekali, ia memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan sang menejer. Sembari Abi menutup pintu, ia merasakan ada tatapan dingin yang mengarah kepadanya dan lansung meminta maaf atas perbuatan lancang tersebut.

"maaf mbak saya masuk tanpa aba-aba.."dengan mata yang menatap ke lantai dan membungkuk menghormati menejer.

"gak pa pa, kita lansung interview ya," dengan nada rendah dan membubuhi wajahnya serta sebuah senyuman tipis yang indah.

"boleh mbak, saya izin duduk disini ya" Abi melihat kursi dan lansung menduduki sembari menatap wajah sang menejer sambil membalas senyumanya.

"kamu masih perjaka? " kalimat pertama yang Abi dengar dan ia lansung shock dengan pertanyaan yang dilontarkan sang menejer, untuk beberapa saat, AC yang ada di dalam ruangan terdengar lebih keras karena suasana yang mendadak hening.

" saya orang baek-baek mbak, saya masih perjaka, saya nggombalin mbak biar dapet kesan friendly and easy going aja mbak, sumpah" Abi lansung blunder dan menjawab pertanyaan sang menejer dengan sangat-sangat jelas.

"oke, kamu lusa mulai bekerja di sini, nanti saya beri instruksi untuk apa saja yang kamu kerjakan, am i clear?" sang menejer berbicara sembari membubuhkan tanda tangan pada dua lembar surat kontrak kerja dan meletakkan surat tersebut untuk ditandatanggani oleh Abi.

"thanks God, oke mbak, lusa saya datang jam delapan nyampe di sini" Abi bergegas menandatangani kontrak kerja yang akan berlansung selama dua tahun kedepan. Abi bersalaman dengan sang menejer dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

Dalam perjalanan pulang, Abi masih setengah percaya kalau ia bakalan bekerja di restoran semewah itu dengan hanya bermodalkan keperjakaan, ia mengingat apa-apa saja yang ia alami selama interview dan mengingat isi lemari pajangan yang ada di dalam ruangan sang menejer.

"kayak pernah lihat gitu ya sama tongkat dan lidi yang ada di dalem lemari tadi, tapi dimana liatnya ya? " gumam Abi, ia mencoba mengingat dimana ia melihat benda seperti pecut kuda dan tongkat berdiameter enam senti tersebut.

Setibanya di kos, Abi melepaskan semua benda di badanya kecuali celana dalam dan merebahkan diri di kasur dan menggapai HP Xiaomi miliknya. Abi penasaran apakah restoran tersebut memiliki akun instagram dan ia mengetik nama restoran tersebut di kolom pencarian instagram dan menemukanya.

"stalking dulu aah" kebiasaan pengangguran Abi belum hilang dan melihat postingan-postingan dengan like sekitar tujuh ribuan dan followers sekitar enam belas ribuan dan following cuma satu akun, Abi melanjutkan stalking-nya ke following akun restoran tersebut dan melihat satu akun cewek dengan nama Resa Dwipurna, dan akun tersebut bersifat private. Penasaran Abi yang tak terbendung terhadap akun Resa Dwipurna ini membuat ia mem-follow akun tersebut dan menghentikan stalkingnya. Abi bangun dari istirahatnya dan menarik handuk yang tergantung di samping lemari pakaian menuju kamar mandi.

Read More
Solo Work
AliceTheWriter7
1Min Each
25
ISSUES
Fountains Of My Youth
Updated Jan 13, 2019
PG Completed
0
742
0
Inspirational
Angst

A 2019 poetry collection, written by yours truly and containing 25 poems. Most of them talk about mental health and relationships. If you enjoy them, feel free to leave a comment and follow me for new poems posted every month!

Poetry
Inspirational
Angst
Read More
Solo Work

Fountains Of My Youth

A 2019 poetry collection, written by yours truly and containing 25 poems. Most of them talk about mental health and relationships. If you enjoy them, feel free to leave a comment and follow me for new poems posted every month!

Read More
Solo Work
AliceTheWriter7
1Min Each
20
ISSUES
Extinction Of Doubts
Updated Feb 20, 2019
PG-13 Completed
4
365
0
Angst
Dark

The second collection of poetry written in 2019. This one mainly focuses around trying to break down all of the fears and anxiety that we may face each day. I was inspired to do this by writing my memoir The Depression Diaries​​​​​​​, as well as starting therapy sessions for my depression.

Poetry
Angst
Dark
Read More
Solo Work

Extinction Of Doubts

The second collection of poetry written in 2019. This one mainly focuses around trying to break down all of the fears and anxiety that we may face each day. I was inspired to do this by writing my memoir The Depression Diaries​​​​​​​, as well as starting therapy sessions for my depression.

Read More
Solo Work
AliceTheWriter7
1Min Each
20
ISSUES
Take Me For Me
Updated Mar 14, 2019
PG Completed
0
181
0
Angst
Inspirational

A March 2019 Poetry collection, this time with no main theme other than being honest and creative. All these poems were written over the course of a single day being Thursday March 14th 2019.

Thank you for taking the time to read my Poetry! I'd love to hear your feedback, so feel free to leave a comment across my writing and I will get back to you as soon as I can. Stay tuned for new uploads soon.

Poetry
Angst
Inspirational
Read More
Solo Work

Take Me For Me

A March 2019 Poetry collection, this time with no main theme other than being honest and creative. All these poems were written over the course of a single day being Thursday March 14th 2019.

Thank you for taking the time to read my Poetry! I'd love to hear your feedback, so feel free to leave a comment across my writing and I will get back to you as soon as I can. Stay tuned for new uploads soon.

Read More
Solo Work