×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Mpit
Joined Aug 3, 2018
Words Published
409
Comments Given
0
Mpit
Regular Writer
From Indonesia Female Born 19th Apr 1996 High School
Featured Stories
S
Solo Works
C
Collaborative Works
I
Idea Contributors
B
Beta Reader
S
0
ISSUES
Irama Senja
Updated Aug 3, 2018
G
0
15
0

Aku menyanyikan lagu yang dulu pernah kita nyanyikan bersama. Lagu yang indah penuh makna. Semilir angin menemani senjaku, berlapiskan nada – nada rindu yang tercipta. Kisah yang lama sekali, saat aku tak mengerti apa – apa, yang aku tahu senyuman kalian sangat indah saat aku memandangnya.  Aku merindukan semuanya, saat kita saling menatap, saat kita ragu untuk berjabat, saat kita terlihat acuh canggung hanya untuk sekedar sapaan. Kalian yang terbaik, kalian yang terhebat, dan kalian orang – orang pertama yang menyadarkanku akan artinya sahabat.  Ingatkah hari itu? Hari dimana kita mulai akrab satu sama lain, hari dimana kita mulai menebar senyum saat memandang, hari dimana saat rasa canggung berubah menjadi sebuah sapaan. Aku ingat, waktu itu masa potret masih hitam-putih, entah berapa banyak gambar yang bisa diambil dari sebuah kamera hasilnya akan tetap sama, ya.. Pakaian Putih Merah kita tetap tak berwarna bukan. Hah.. kalian tahu? Aku sedang tersenyum sekarang, mengikuti anganku yang kini sedang mengingat masa – masa kita.  Aku juga ingat, kita dulu punya tempat rahasia semasa di sekolah. Kalian pasti ingat bukan? Lapangan luas dengan rumputnya yang tinggi, dan ya.. jangan lupakan pondok kecilnya disana. Kita sering mengendap – endap kesana, saat jam istirahat atau setelah pulang sekolah. Sekarang aku mulai berpikir, apa alasannya kita lakukan hal itu? Padahal sebenarnya lapangan itu terbuka untuk umum, tapi kelakuan kita seolah – olah lapangan itu merupakan tempat terlarang. Aneh. Kita selalu bersama, tak peduli hal bodoh apa yang kita lakukan, yang kita tahu hanya rasa senang saat melakukannya. Permainan – permainan yang menguras banyak keringat menjadi saksi persahabatan kita, meski aku tahu perdebatan dan tangisan juga menyertai setiap tawa kita.  “Hai teman, aku merindu.. Sungguh. Apa kabar kalian? Lama kita tak berjumpa, setelah belasan tahun lamanya. Kebersamaan kita sangat singkat, lebih tepatnya aku yang tak bisa berlama – lama menghabiskan waktu bersama kalian. Rasanya keadaan sangat kejam waktu itu, aku yang baru beberapa bulan bersama kalian harus pergi berpamitan tepat setelah pembagian rapor sekolah. Ada rasa aneh saat itu, tapi aku tak tahu apa. Yang aku tahu besok atau lusa aku tak lagi bersama kalian, aku harus pergi ketempat yang baru, memasuki suasana baru yang aku rasa tak akan aku jumpai seperti saat bersama kalian. Tapi meski sudah belasan tahun kita tak berjumpa, mungkin rasanya aku masih ingat wajah – wajah lugu dan polos, serta gigi yang ompong dan berantakan itu. Seandainya saja, mesin waktu dan pintu kemana saja milik Doraemon itu benar ada, aku ingin kembali, meski hanya sesaat, biarlah.. Aku hanya ingin mengobati rinduku.”

Romance
Read More

Irama Senja

Aku menyanyikan lagu yang dulu pernah kita nyanyikan bersama. Lagu yang indah penuh makna. Semilir angin menemani senjaku, berlapiskan nada – nada rindu yang tercipta. Kisah yang lama sekali, saat aku tak mengerti apa – apa, yang aku tahu senyuman kalian sangat indah saat aku memandangnya.  Aku merindukan semuanya, saat kita saling menatap, saat kita ragu untuk berjabat, saat kita terlihat acuh canggung hanya untuk sekedar sapaan. Kalian yang terbaik, kalian yang terhebat, dan kalian orang – orang pertama yang menyadarkanku akan artinya sahabat.  Ingatkah hari itu? Hari dimana kita mulai akrab satu sama lain, hari dimana kita mulai menebar senyum saat memandang, hari dimana saat rasa canggung berubah menjadi sebuah sapaan. Aku ingat, waktu itu masa potret masih hitam-putih, entah berapa banyak gambar yang bisa diambil dari sebuah kamera hasilnya akan tetap sama, ya.. Pakaian Putih Merah kita tetap tak berwarna bukan. Hah.. kalian tahu? Aku sedang tersenyum sekarang, mengikuti anganku yang kini sedang mengingat masa – masa kita.  Aku juga ingat, kita dulu punya tempat rahasia semasa di sekolah. Kalian pasti ingat bukan? Lapangan luas dengan rumputnya yang tinggi, dan ya.. jangan lupakan pondok kecilnya disana. Kita sering mengendap – endap kesana, saat jam istirahat atau setelah pulang sekolah. Sekarang aku mulai berpikir, apa alasannya kita lakukan hal itu? Padahal sebenarnya lapangan itu terbuka untuk umum, tapi kelakuan kita seolah – olah lapangan itu merupakan tempat terlarang. Aneh. Kita selalu bersama, tak peduli hal bodoh apa yang kita lakukan, yang kita tahu hanya rasa senang saat melakukannya. Permainan – permainan yang menguras banyak keringat menjadi saksi persahabatan kita, meski aku tahu perdebatan dan tangisan juga menyertai setiap tawa kita.  “Hai teman, aku merindu.. Sungguh. Apa kabar kalian? Lama kita tak berjumpa, setelah belasan tahun lamanya. Kebersamaan kita sangat singkat, lebih tepatnya aku yang tak bisa berlama – lama menghabiskan waktu bersama kalian. Rasanya keadaan sangat kejam waktu itu, aku yang baru beberapa bulan bersama kalian harus pergi berpamitan tepat setelah pembagian rapor sekolah. Ada rasa aneh saat itu, tapi aku tak tahu apa. Yang aku tahu besok atau lusa aku tak lagi bersama kalian, aku harus pergi ketempat yang baru, memasuki suasana baru yang aku rasa tak akan aku jumpai seperti saat bersama kalian. Tapi meski sudah belasan tahun kita tak berjumpa, mungkin rasanya aku masih ingat wajah – wajah lugu dan polos, serta gigi yang ompong dan berantakan itu. Seandainya saja, mesin waktu dan pintu kemana saja milik Doraemon itu benar ada, aku ingin kembali, meski hanya sesaat, biarlah.. Aku hanya ingin mengobati rinduku.”

Read More
FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018