×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
gingersfairy
Joined Oct 8, 2018
Words Published
11.8k
Comments Given
0
gingersfairy
Leisure Writer Reader Reviewer
Writer's Blog
From Indonesia Female Born 12th Feb 1999 Some College
Featured Stories
S
Solo Works
C
Collaborative Works
I
Idea Contributors
B
Beta Reader
S
8
ISSUES
UNFORTUNED GIRL: MY FIRST CRUSH
Updated Nov 27, 2018
G
0
45
0
Humor
Friendship

Pernah tidak kamu mendengar atau membaca kalimat ‘gak ada yang namanya sahabat antara cowok dan cewek’?

Waktu itu aku berpikir, hellodari milyaran orang yang hidup di bumi ini gak ada yang gak mungkin apalagi antara cewek dan cowok bisa sahabatan. Dan coba tebak apa reaksi orang-orang setelah mendengar responku?

Pandangan mereka menatapku dengan sinis seolah bilang orang yang belum berpengalaman urusan asmara mending diam saja seperti batu.

Aku mendengus kesal dan diam saja setelah itu.

Yah sayangnya, beberapa tahun kemudian mungkin aku akan meratap ke langit saat aku sendiri yang mengalami kejadian yang sama dengan kalimat itu.

Ini kisahku, Ethellia Zephyrine Denayara, seorang gadis yang sial (musuhnya Dewi Fortuna) ketika pertama kali mendapati syndrom my-first-crush.

Romance
Humor
Friendship
Read More

UNFORTUNED GIRL: MY FIRST CRUSH

Pernah tidak kamu mendengar atau membaca kalimat ‘gak ada yang namanya sahabat antara cowok dan cewek’?

Waktu itu aku berpikir, hellodari milyaran orang yang hidup di bumi ini gak ada yang gak mungkin apalagi antara cewek dan cowok bisa sahabatan. Dan coba tebak apa reaksi orang-orang setelah mendengar responku?

Pandangan mereka menatapku dengan sinis seolah bilang orang yang belum berpengalaman urusan asmara mending diam saja seperti batu.

Aku mendengus kesal dan diam saja setelah itu.

Yah sayangnya, beberapa tahun kemudian mungkin aku akan meratap ke langit saat aku sendiri yang mengalami kejadian yang sama dengan kalimat itu.

Ini kisahku, Ethellia Zephyrine Denayara, seorang gadis yang sial (musuhnya Dewi Fortuna) ketika pertama kali mendapati syndrom my-first-crush.

Read More
S
1
ISSUE
And Then He Saw
Updated Nov 13, 2018
G
1
33
0
Romance
Dark

Bagaimana pun tidak ada yang salah dalam jatuh cinta. Bagaimana pun akan ada fase dimana kamu bahkan tidak mampu untuk menolak fakta bahwa ada seseorang di hatimu yang tidak bisa kamu enyahkan dari pikiranmu. setiap waktu setidaknya satu kali sehari, kamu mengharapkan untuk melihat wajahnya, mendengar suara, atau setidaknya mengetahui bahwa dia ada disekitarmu membuat jantungmu berdegup kencang./

Yah begitulah adanya. Tidak bisa ditolak dan tidak bisa dihindari, kan

Drama
Romance
Dark
Read More

And Then He Saw

Bagaimana pun tidak ada yang salah dalam jatuh cinta. Bagaimana pun akan ada fase dimana kamu bahkan tidak mampu untuk menolak fakta bahwa ada seseorang di hatimu yang tidak bisa kamu enyahkan dari pikiranmu. setiap waktu setidaknya satu kali sehari, kamu mengharapkan untuk melihat wajahnya, mendengar suara, atau setidaknya mengetahui bahwa dia ada disekitarmu membuat jantungmu berdegup kencang./

Yah begitulah adanya. Tidak bisa ditolak dan tidak bisa dihindari, kan

Read More
S
0
ISSUES
introduction, timmy time!
Updated Nov 13, 2018
G
0
13
0

Hello semuanya, perkenalkan namaku gingers, yang akan menemani parafairiesdi sini untuk mungkin bisa menikmati juga hal-hal juga aku pikir menyenangkan dan bissa membaginya kepada semua orang.

semoga semuanya menerimaku dengan baik dan turut berpartisipasi terhadap buah pikiran yang aneh ini ya fairies.

Blog
Read More

introduction, timmy time!

Hello semuanya, perkenalkan namaku gingers, yang akan menemani parafairiesdi sini untuk mungkin bisa menikmati juga hal-hal juga aku pikir menyenangkan dan bissa membaginya kepada semua orang.

semoga semuanya menerimaku dengan baik dan turut berpartisipasi terhadap buah pikiran yang aneh ini ya fairies.

Read More
S
2
ISSUES
FUSS AROUND, BOYS!
Updated Nov 27, 2018
G
0
24
0
Romance
School

ONE

POUR!

Oh sial. Hujan.

Hujan yang datang tiba-tiba memang mengejutkan dan juga sangat menyebalkan. Apalagi di keadaan yang sangat tidak tepat dan mau tak mau membiarkan tubuh diguyur hujan deras. Gin yang baru saja berjalan beberapa langkah dari halte hanya bisa termenung seperkian detik sebelum memperkuatkan batinnya untuk terus melangkah. Sehingga sneakers putihnya yang baru saja dicuci sudah berlumuran lumpur. Jadi, sikap yang awalnya masih santai dan malas-malasan terpaksa harus berlari-lari menembus hujan yang semakin deras.

Padahal tempat yang dituju hanya sepuluh menit dengan jalan kaki apalagi jika berlari tetapi rasanya jauh sekali sehingga Gin ingin mengumpati seseorang di suatu tempat sana yang telah membuat Gin menderita. Jika bukan karena omelan yang harus dia dengar di masa yang akan datang, Gin tidak akan perlu repot-repot meninggalkan kamarnya yang nyaman dan hangat. Dan juga tidak perlu berbasah ria seperti orang idiot.

Kring. Ketika pintu terbuka, suasana ramai langsung memasuki retina Gin.

“Gin Sunbaenim?”

Gin yang masih mengatur nafasnya dikejutkan oleh panggilan seseorang yang berada di belakangnya. Ketika Gin membalikkan tubuhnya, Ahn Yujin, juniornya, sedang menatap Gin dengan wajah syok.

Gin yang masih memiliki moodburuk berusaha menampilkan senyuman yang sesungguhnya jelek sekali. “Oh, Yujin.”

Ahn Yujin yang tidak lebih tinggi dari Gin mengerutkan keningnya saat melihat bahwa hampir keseluruhan bagian tubuh Gin terkena hujan sehingga Yujin menjadi cemas dan buru-buru membawanya masuk.

“Kali ini masih dipaksa Hyo-In Sunbaeuntuk datang ya Sunbaenim?” tanya Yujin dengan cengiran tipis di bibirnya.

Gin mengerutkan keningnya. “Wanita itu tidak membiarkan aku bahagia sedetik saja. Lihat, belum apa-apa aku sudah kebasahan seperti ini.”

“Hahahaha. Yeah, walaupun terlambat, kami memang mengadakan pesta penyambutan angkatan baru di sini. Acaranya sudah dimulai dua jam yang lalu. Aku terlambat karena harus kembali ke apartemen dulu,” balas Yujin dengan tawa kecil.

Keduanya berbincang kecil sembari menaiki tangga ke lantai dua. Di sepanjang jalan, Gin berusaha mengepakkan badannya untuk mengeluarkan air.

“Benar-benar membuang-buang waktu. Para hoobaeitu pasti berpikir bahwa aku kurang kerjaan sehingga harus mendatangi acara jurusan fakultas lain,” tambah Gin dengan moodyang semakin buruk.

Yujin hanya bisa tertawa canggung dan berpikir bahwa lebih baik tidak mengatakan apapun lagi. Ia meneguk air liurnya gugup ketika merasakan aura jahat sekitar Gin Sunbaedan dengan kikuk berjalan di samping Gin.

Sementara itu orang yang menjadi sasaran kutukan Gin malah terlihat riang dengan dandanan bak artis yang berjalan di karpet penghargaan Oscar. Suaranya  bahkan terdengar dari jarak tiga meter. Pada saat wanita cantik berusia 21 tahun itu melihat seseorang yang telah ia tunggu-tunggu, dia langsung saja melambai dan memanggil dengan keras sehingga mengejutkan semua orang.

“Hey, Song Gin! Kemari. Kemari.”

“Apa kamu pikir aku tuli? Jangan membuat malu seperti itu,” gerutu Gin dengan enggan melangkah menuju meja yang penuh dengan wajah-wajah baru.

Yujin yang di sampingnya berpura-pura tidak mendengar apapun lalu berjalan di depan Hyo-In (wanita yang disebut tak tahu malu oleh Gin) dan menyapa. “Halo, Hyo-In Sunbae. Semuanya.”

Hyo-In tersenyum lebar dan menepuk pundak bidang Yujin. “Haha, oke-oke, cepat bergabung. Kamu telah melewatkan sebagian besar fun-nya.”

Disebabkan oleh panggilan Hyo-In, menyentakkan semua orang kembali ke pikiran mereka. Para junior dan teman seangkatan Hyo-In yang telah mengenal Gin saling buru-buru menyapa.

“Selamat malam Gin Sunbaenim.”

“Halo Gin Sunbaenim.”

“Ho~ Song Gin. Apa kabar?”

“Hey kemarilah Gin, ayo bergabung. Lihatlah wajah burukmu menakuti para hoobaeini.”

Suasana yang berbeda telah dirasakan oleh anak angkatan baru. Beberapa di antara mereka saling melirik satu sama lain. Benar-benar tidak bisa mengenali sosok berpakaian olahraga berwarna hitam yang sebagian tubuhnya basah. Apalagi wajah yang ditampilkannya tidak ramah sama sekali.

Hyo-In tampak tidak mempedulikan suasana hati Gin sama sekali. Ia malah terus tertawa setelah menarik Gin duduk di sampingnya. Sepertinya ia benar-benar senang mengejek dan menggoda Gin. Mungkin ia benar-benar ingin membuat Gin menjadi putus asa.

Gin hanya mengangguk kepada junior yang menyapanya dan untuk sebagian besar mahasiswa seangkatan yang telah sering ia lihat wajahnya, ia akan lebih bermurah hati dengan bergumam sebagai balasan. Untuk sebagian besar anak angkatan baru yang tidak tahu mereka menganggap itu sangat buruk dan merusak suasana. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika senior mereka sendiri tidak mempermasalahkannya.

Gadis berkuncir kuda dan berkacamata yang duduk di depan Gin tersenyum kecil saat memberikan segelas penuh bir kepada Gin. “Berhenti mengeluarkan aura tidak mengenakkan itu. Kita disini untuk berpesta.”

Gin menerima gelas bir namun tidak menjawab. Ia memang tidak ingin berbicara sama sekali. Tidak dalam keadaan sebagian basah dan juga dipenuhi dengan orang-orang asing. Gin merasa itu bukan bagian dari cita rasa hidupnya, tidak bagi mereka yang melihatnya seperti melihat seorang gangsteryang berkeliaran di sekitaran Gangnam.

Hyo-In kembali memfokuskan perhatiannya kepada Gin dan menatap Somi (gadis berkuncir kuda dan berkacamata) dengan pandangan mengejek. “Somi-ah, tidak perlu mengasihaninya. Jika bukan karena aku bersikeras, mungkin selama 24 jam ia tidak akan melepaskan pantatnya sama sekali dari kasur. Oh, memikirkannya membuatku terasa buruk.”

Somi mengangkat kacamatanya dengan gaya keren. Matanya kecil dan pupilnya berwarna hitam kelam sehingga pandangannya selalu tajam ketika serius. Ia menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Hyo-In yang asal-asalan.

“Hmm. Walaupun tidak benar tapi masuk akal. Gin, kamu harus berterima kasih untuk itu.”

Fuck-off. Berterima kasih my ass.”

Somi menggelengkan kepalanya. Entah karena prihatin atau memang tidak peduli terhadap pergolakan batin Gin. Sama sekali tidak tersinggung dengan umpatan Gin, Somi meneguk birnya dengan santai dan melanjutkan percakapan dengan topik lain bersama Hyo-In.

“Ngomong-ngomong, bukannya angkatan 20 ini telah memilih ketua mereka? Kenapa sejak tadi tidak nampak batang hidungnya? Ah~ membuat kita para Sunbaeini sangat buruk.”

Yujin yang duduk di meja yang sama tiba-tiba menimpali perkataan Somi dengan senyuman. “Itu. Katanya dia mempunyai urusan mendadak jadi ia akan terlambat untuk datang.”

Hyo-In menyangga dagunya dengan tangan yang berkutek pink dan terlihat sangat cantik. Ia memberikan senyum nakal kepada Yujin. “Yujin-i sangat bisa diandalkan~”

“Tetap saja aku merasa buruk untuk beberapa hal,” imbuh Somi dengan jawaban yang tidak sesuai wajah tidak acuhnya.

Sementara mereka melakukan obrolan yang asyik. Gin seperti alien di planet asing yang tidak sesuai pada tempatnya. Dia sudah beberapa kali mengumpat namun tidak berdaya melampiaskannya. Gin sebenarnya sudah mati kedinginan disebabkan pakaiannya yang basah tetapi tidak ada yang berinisiatif membantunya sama sekali. Lihat, memang kesialannya saat memutuskan untuk datang kemari.

Tidak tahan lagi, Gin berdiri dengan kasar sehingga kursinya berdecit. Itu cukup untuk menarik perhatian orang-orang di meja terdekat untuk menatap ke arahnya. Ditambah lagi, keningnya yang mengernyit jelas menjelaskan suasana hatinya yang buruk. Beberapa junior merasakan bulu kuduk mereka berdiri dan tulang belakang mereka menggigil.

“Aku pergi.”

Bukannya terkejut, Hyo-In malah terlihat tenang. Ini bukan pertama kalinya Gin bertindak kasar seperti itu.

“Baru duduk selama 10 menit lebih dan kursimu belum menjadi hangat. Kamu sudah pergi begitu saja? Aiiii, betapa sikap yang buruk. Sebagai senior kamu harus memperlihatkan jiwa semangatmu kepada junior, Gin~”

“Jiwaku bukan untuk dibagi-bagi. Dan Lee Hyo-In, kamu wanita jahat bahkan tidak merasa bersalah sama sekali. Aku basah dan kamu bahkan tidak memberikan kompensasi. Dan lagi, apa urusanku datang ke acara angkatan Jurusan Manajemen Fakultas Bisnis? Kamu ingin aku memberi mereka pelajaran filsafat? Atau membacakan serangkaian pasal-pasal konstitusi?”

Gin yang kesal telah berbicara lebar. Setiap ejekan yang keluar dari mulutnya terasa sangat masam.

Hyo-In tertawa terbahak-bahak tiba-tiba. Begitu keras sehingga yang awalnya hanya beberapa orang menjadi semua orang fokus kepada meja Gin berada.

Gin berdiri seperti patung. Pikirannya di luar kontrol saat tidak percaya menatap Hyo-In yang tertawa terpingkal-pingkal. Biasanya Gin bukan orang berkulit tipis tetapi untuk hal yang tidak diketahui, ia menjadi malu.

Hyo-In tidak pernah berani menertawakan Gin. Namun saat melihat penampilan marahnya didampingi dengan keadaan basah kuyup, rambut berantakan, dan bibir pucat seperti mayat, itu malah terlihat sangat lucu. Hyo-In memang sangat suka melihat Gin dalam kesialan. Jadi, ia tertawa keras karena senang di atas penderitaan orang lain.

Saat Hyo-In ingin berbicara, seseorang memecah suasana tegang.

“Oohh. Sepertinya semuanya bersenang-senang, ya.”

Dua orang lelaki jangkung tiba-tiba telah berdiri di belakang Gin. Semua orang kembali dari keadaan trans mereka dan anak angkatan baru seolah mendapat suntikan ayam (khususnya gadis-gadis) berdiri dan berbicara sekaligus sehingga menjadi berisik.

Pria yang berbicara adalah seorang lelaki tipe flower boysekali. Dengan kulit putih dan wajah yang sangat good-lookingbelum lagi tubuh proporsional sedang tersenyum genit saat disapa oleh banyak gadis. Sedangkan pria yang satunya lagi, juga tampan dan gagah namun sikap pendiam serta terisolasinya juga sangat menarik perhatian orang-orang.

Pria pendiam itu mulai melangkah dan berhenti di meja Hyo-In berada sembari menyapa dengan sikap formal seorang junior. “Halo Sunbae. Saya Lim Ju, ketua angkatan 20.”

Beberapa detik kemudian, pria yang pertama tiba disamping pria Lim Ju. Tidak sekaku teman sebelahnya, ia dengan senyum tipis namun sangat menarik juga ikut memperkenalkan diri.

“Saya Gong Jiyu. Senang bertemu.”

“Hohohohoho.. Ternyata Duo JeJe yang tampan.”

“Berhubung kalian menarik, kami akan memafkanmu karena terlambat. Untuk sekali ini.”

Tukar sapa semakin ramai namun tidak ada yang memperhatikan Gin berdiri kaku di sekitar mereka. Merasa bahwa nanti akan ada pembantaian jika ia tetap disini sedetik saja, Gin melangkah cepat meninggalkan lantai dua dan menghilang dari pandangan semua orang.

Drama
Romance
School
Read More

FUSS AROUND, BOYS!

ONE

POUR!

Oh sial. Hujan.

Hujan yang datang tiba-tiba memang mengejutkan dan juga sangat menyebalkan. Apalagi di keadaan yang sangat tidak tepat dan mau tak mau membiarkan tubuh diguyur hujan deras. Gin yang baru saja berjalan beberapa langkah dari halte hanya bisa termenung seperkian detik sebelum memperkuatkan batinnya untuk terus melangkah. Sehingga sneakers putihnya yang baru saja dicuci sudah berlumuran lumpur. Jadi, sikap yang awalnya masih santai dan malas-malasan terpaksa harus berlari-lari menembus hujan yang semakin deras.

Padahal tempat yang dituju hanya sepuluh menit dengan jalan kaki apalagi jika berlari tetapi rasanya jauh sekali sehingga Gin ingin mengumpati seseorang di suatu tempat sana yang telah membuat Gin menderita. Jika bukan karena omelan yang harus dia dengar di masa yang akan datang, Gin tidak akan perlu repot-repot meninggalkan kamarnya yang nyaman dan hangat. Dan juga tidak perlu berbasah ria seperti orang idiot.

Kring. Ketika pintu terbuka, suasana ramai langsung memasuki retina Gin.

“Gin Sunbaenim?”

Gin yang masih mengatur nafasnya dikejutkan oleh panggilan seseorang yang berada di belakangnya. Ketika Gin membalikkan tubuhnya, Ahn Yujin, juniornya, sedang menatap Gin dengan wajah syok.

Gin yang masih memiliki moodburuk berusaha menampilkan senyuman yang sesungguhnya jelek sekali. “Oh, Yujin.”

Ahn Yujin yang tidak lebih tinggi dari Gin mengerutkan keningnya saat melihat bahwa hampir keseluruhan bagian tubuh Gin terkena hujan sehingga Yujin menjadi cemas dan buru-buru membawanya masuk.

“Kali ini masih dipaksa Hyo-In Sunbaeuntuk datang ya Sunbaenim?” tanya Yujin dengan cengiran tipis di bibirnya.

Gin mengerutkan keningnya. “Wanita itu tidak membiarkan aku bahagia sedetik saja. Lihat, belum apa-apa aku sudah kebasahan seperti ini.”

“Hahahaha. Yeah, walaupun terlambat, kami memang mengadakan pesta penyambutan angkatan baru di sini. Acaranya sudah dimulai dua jam yang lalu. Aku terlambat karena harus kembali ke apartemen dulu,” balas Yujin dengan tawa kecil.

Keduanya berbincang kecil sembari menaiki tangga ke lantai dua. Di sepanjang jalan, Gin berusaha mengepakkan badannya untuk mengeluarkan air.

“Benar-benar membuang-buang waktu. Para hoobaeitu pasti berpikir bahwa aku kurang kerjaan sehingga harus mendatangi acara jurusan fakultas lain,” tambah Gin dengan moodyang semakin buruk.

Yujin hanya bisa tertawa canggung dan berpikir bahwa lebih baik tidak mengatakan apapun lagi. Ia meneguk air liurnya gugup ketika merasakan aura jahat sekitar Gin Sunbaedan dengan kikuk berjalan di samping Gin.

Sementara itu orang yang menjadi sasaran kutukan Gin malah terlihat riang dengan dandanan bak artis yang berjalan di karpet penghargaan Oscar. Suaranya  bahkan terdengar dari jarak tiga meter. Pada saat wanita cantik berusia 21 tahun itu melihat seseorang yang telah ia tunggu-tunggu, dia langsung saja melambai dan memanggil dengan keras sehingga mengejutkan semua orang.

“Hey, Song Gin! Kemari. Kemari.”

“Apa kamu pikir aku tuli? Jangan membuat malu seperti itu,” gerutu Gin dengan enggan melangkah menuju meja yang penuh dengan wajah-wajah baru.

Yujin yang di sampingnya berpura-pura tidak mendengar apapun lalu berjalan di depan Hyo-In (wanita yang disebut tak tahu malu oleh Gin) dan menyapa. “Halo, Hyo-In Sunbae. Semuanya.”

Hyo-In tersenyum lebar dan menepuk pundak bidang Yujin. “Haha, oke-oke, cepat bergabung. Kamu telah melewatkan sebagian besar fun-nya.”

Disebabkan oleh panggilan Hyo-In, menyentakkan semua orang kembali ke pikiran mereka. Para junior dan teman seangkatan Hyo-In yang telah mengenal Gin saling buru-buru menyapa.

“Selamat malam Gin Sunbaenim.”

“Halo Gin Sunbaenim.”

“Ho~ Song Gin. Apa kabar?”

“Hey kemarilah Gin, ayo bergabung. Lihatlah wajah burukmu menakuti para hoobaeini.”

Suasana yang berbeda telah dirasakan oleh anak angkatan baru. Beberapa di antara mereka saling melirik satu sama lain. Benar-benar tidak bisa mengenali sosok berpakaian olahraga berwarna hitam yang sebagian tubuhnya basah. Apalagi wajah yang ditampilkannya tidak ramah sama sekali.

Hyo-In tampak tidak mempedulikan suasana hati Gin sama sekali. Ia malah terus tertawa setelah menarik Gin duduk di sampingnya. Sepertinya ia benar-benar senang mengejek dan menggoda Gin. Mungkin ia benar-benar ingin membuat Gin menjadi putus asa.

Gin hanya mengangguk kepada junior yang menyapanya dan untuk sebagian besar mahasiswa seangkatan yang telah sering ia lihat wajahnya, ia akan lebih bermurah hati dengan bergumam sebagai balasan. Untuk sebagian besar anak angkatan baru yang tidak tahu mereka menganggap itu sangat buruk dan merusak suasana. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika senior mereka sendiri tidak mempermasalahkannya.

Gadis berkuncir kuda dan berkacamata yang duduk di depan Gin tersenyum kecil saat memberikan segelas penuh bir kepada Gin. “Berhenti mengeluarkan aura tidak mengenakkan itu. Kita disini untuk berpesta.”

Gin menerima gelas bir namun tidak menjawab. Ia memang tidak ingin berbicara sama sekali. Tidak dalam keadaan sebagian basah dan juga dipenuhi dengan orang-orang asing. Gin merasa itu bukan bagian dari cita rasa hidupnya, tidak bagi mereka yang melihatnya seperti melihat seorang gangsteryang berkeliaran di sekitaran Gangnam.

Hyo-In kembali memfokuskan perhatiannya kepada Gin dan menatap Somi (gadis berkuncir kuda dan berkacamata) dengan pandangan mengejek. “Somi-ah, tidak perlu mengasihaninya. Jika bukan karena aku bersikeras, mungkin selama 24 jam ia tidak akan melepaskan pantatnya sama sekali dari kasur. Oh, memikirkannya membuatku terasa buruk.”

Somi mengangkat kacamatanya dengan gaya keren. Matanya kecil dan pupilnya berwarna hitam kelam sehingga pandangannya selalu tajam ketika serius. Ia menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Hyo-In yang asal-asalan.

“Hmm. Walaupun tidak benar tapi masuk akal. Gin, kamu harus berterima kasih untuk itu.”

Fuck-off. Berterima kasih my ass.”

Somi menggelengkan kepalanya. Entah karena prihatin atau memang tidak peduli terhadap pergolakan batin Gin. Sama sekali tidak tersinggung dengan umpatan Gin, Somi meneguk birnya dengan santai dan melanjutkan percakapan dengan topik lain bersama Hyo-In.

“Ngomong-ngomong, bukannya angkatan 20 ini telah memilih ketua mereka? Kenapa sejak tadi tidak nampak batang hidungnya? Ah~ membuat kita para Sunbaeini sangat buruk.”

Yujin yang duduk di meja yang sama tiba-tiba menimpali perkataan Somi dengan senyuman. “Itu. Katanya dia mempunyai urusan mendadak jadi ia akan terlambat untuk datang.”

Hyo-In menyangga dagunya dengan tangan yang berkutek pink dan terlihat sangat cantik. Ia memberikan senyum nakal kepada Yujin. “Yujin-i sangat bisa diandalkan~”

“Tetap saja aku merasa buruk untuk beberapa hal,” imbuh Somi dengan jawaban yang tidak sesuai wajah tidak acuhnya.

Sementara mereka melakukan obrolan yang asyik. Gin seperti alien di planet asing yang tidak sesuai pada tempatnya. Dia sudah beberapa kali mengumpat namun tidak berdaya melampiaskannya. Gin sebenarnya sudah mati kedinginan disebabkan pakaiannya yang basah tetapi tidak ada yang berinisiatif membantunya sama sekali. Lihat, memang kesialannya saat memutuskan untuk datang kemari.

Tidak tahan lagi, Gin berdiri dengan kasar sehingga kursinya berdecit. Itu cukup untuk menarik perhatian orang-orang di meja terdekat untuk menatap ke arahnya. Ditambah lagi, keningnya yang mengernyit jelas menjelaskan suasana hatinya yang buruk. Beberapa junior merasakan bulu kuduk mereka berdiri dan tulang belakang mereka menggigil.

“Aku pergi.”

Bukannya terkejut, Hyo-In malah terlihat tenang. Ini bukan pertama kalinya Gin bertindak kasar seperti itu.

“Baru duduk selama 10 menit lebih dan kursimu belum menjadi hangat. Kamu sudah pergi begitu saja? Aiiii, betapa sikap yang buruk. Sebagai senior kamu harus memperlihatkan jiwa semangatmu kepada junior, Gin~”

“Jiwaku bukan untuk dibagi-bagi. Dan Lee Hyo-In, kamu wanita jahat bahkan tidak merasa bersalah sama sekali. Aku basah dan kamu bahkan tidak memberikan kompensasi. Dan lagi, apa urusanku datang ke acara angkatan Jurusan Manajemen Fakultas Bisnis? Kamu ingin aku memberi mereka pelajaran filsafat? Atau membacakan serangkaian pasal-pasal konstitusi?”

Gin yang kesal telah berbicara lebar. Setiap ejekan yang keluar dari mulutnya terasa sangat masam.

Hyo-In tertawa terbahak-bahak tiba-tiba. Begitu keras sehingga yang awalnya hanya beberapa orang menjadi semua orang fokus kepada meja Gin berada.

Gin berdiri seperti patung. Pikirannya di luar kontrol saat tidak percaya menatap Hyo-In yang tertawa terpingkal-pingkal. Biasanya Gin bukan orang berkulit tipis tetapi untuk hal yang tidak diketahui, ia menjadi malu.

Hyo-In tidak pernah berani menertawakan Gin. Namun saat melihat penampilan marahnya didampingi dengan keadaan basah kuyup, rambut berantakan, dan bibir pucat seperti mayat, itu malah terlihat sangat lucu. Hyo-In memang sangat suka melihat Gin dalam kesialan. Jadi, ia tertawa keras karena senang di atas penderitaan orang lain.

Saat Hyo-In ingin berbicara, seseorang memecah suasana tegang.

“Oohh. Sepertinya semuanya bersenang-senang, ya.”

Dua orang lelaki jangkung tiba-tiba telah berdiri di belakang Gin. Semua orang kembali dari keadaan trans mereka dan anak angkatan baru seolah mendapat suntikan ayam (khususnya gadis-gadis) berdiri dan berbicara sekaligus sehingga menjadi berisik.

Pria yang berbicara adalah seorang lelaki tipe flower boysekali. Dengan kulit putih dan wajah yang sangat good-lookingbelum lagi tubuh proporsional sedang tersenyum genit saat disapa oleh banyak gadis. Sedangkan pria yang satunya lagi, juga tampan dan gagah namun sikap pendiam serta terisolasinya juga sangat menarik perhatian orang-orang.

Pria pendiam itu mulai melangkah dan berhenti di meja Hyo-In berada sembari menyapa dengan sikap formal seorang junior. “Halo Sunbae. Saya Lim Ju, ketua angkatan 20.”

Beberapa detik kemudian, pria yang pertama tiba disamping pria Lim Ju. Tidak sekaku teman sebelahnya, ia dengan senyum tipis namun sangat menarik juga ikut memperkenalkan diri.

“Saya Gong Jiyu. Senang bertemu.”

“Hohohohoho.. Ternyata Duo JeJe yang tampan.”

“Berhubung kalian menarik, kami akan memafkanmu karena terlambat. Untuk sekali ini.”

Tukar sapa semakin ramai namun tidak ada yang memperhatikan Gin berdiri kaku di sekitar mereka. Merasa bahwa nanti akan ada pembantaian jika ia tetap disini sedetik saja, Gin melangkah cepat meninggalkan lantai dua dan menghilang dari pandangan semua orang.

Read More
FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018