Aku menatap Kak Acca yang masih duduk di sofa, rambutnya setengah basah menempel di bahu, tank top putihnya agak transparan karena sisa air mandi. Dia memiringkan kepala, matanya menyipit lucu sambil tersenyum tipis.
“Pusing yang mana lagi ini, Do?” tanyanya pelan, suaranya seperti bisikan yang bikin bulu kudukku merinding.
Aku mendekat sedikit, pura-pura santai. “Yang biasa, Kak… yang cuma Kakak yang bisa obatin.”
Dia terkekeh kecil, lalu menggeleng pelan. “Kamu ini ya… baru pulang sekolah udah minta obat. Makan dulu sana, mie-nya udah mateng.”
Tapi dia nggak bergerak dari tempatnya. Malah selonjor kakinya di sofa, hot pants-nya naik sedikit memperlihatkan paha mulus yang bikin aku susah nelen. Aku duduk di sebelahnya, jarak kami cuma sejengkal.
“Kak Acca nggak lapar?” tanyaku, mata nggak bisa lepas dari lekuk pinggangnya.
“Lapar sih… tapi Kak Acca nggak lapar makan,” jawabnya sambil nyengir nakal. Dia sadar banget aku lagi melotot. Selalu sadar. Tapi dia nggak pernah protes. Malah sering bikin situasi makin panas dengan gerakan-gerakan kecil: menyisir rambut perlahan, meregangkan badan sampai tank top-nya ketarik ke atas, atau sekadar hembusan napas panjang yang bikin dadanya naik-turun.
Sore itu, kami nonton TV bareng—acara random yang nggak ada yang bener-bener nonton. Aku nekat geser lebih dekat, bahu kami bersentuhan. Dia nggak menjauh. Malah condong ke arahku, kepalanya nyender di bahuku sebentar.
“Capek sekolahnya hari ini?” tanyanya lembut.
“Iya, Kak. Tapi capeknya hilang kalau deket Kakak gini.”
Dia tertawa pelan, tangannya memainkan ujung rambutku. “Manja banget sih kamu. Udah gede kok masih kayak anak kecil.”
Aku beraniin diri. Tangan kiriku pelan-pelan melingkar di pinggangnya dari belakang. Dia kaget sebentar, tapi cuma diam. Tubuhnya hangat, kulitnya halus banget di balik kain tipis itu.
“Do… geli tau,” katanya manja, tapi nggak lepas dari pelukanku.
“Maaf, Kak… tapi enak gini,” bisikku. Otongku mulai bereaksi, ngeganjel di celana. Aku geser sedikit biar lebih nyaman—atau mungkin biar dia rasain.
Dia sadar. Pasti. Karena dia geser posisi duduknya, bokongnya sekarang lebih dekat ke pangkuanku. “Kamu lagi-lagi ya… keras gitu.”
Aku malu, tapi juga excited. “Habisnya Kakak… pakai baju gini terus di rumah.”
Dia menoleh, mata kami bertemu dekat banget. “Emangnya salah? Di rumah sendiri, nyaman aja. Lagian cuma kamu yang liat.”
“Cuma aku yang boleh liat,” koreksiku cepat, nada posesif keluar tanpa sadar.
Dia nyengir lebar. “Cemburu ya? Rio tadi pagi aja ngeliatin terus.”
“Jangan bilang gitu, Kak. Aku nggak suka.”
Dia mengelus pipiku pelan. “Tenang… Kak Acca kan punya kamu aja di rumah.”
Kata-katanya bikin aku panas. Aku tarik dia lebih erat, sekarang peluk dari belakang beneran. Daguku di bahunya, napasku di lehernya. Dia nggak meronta. Malah condong ke belakang, badannya nyandar ke dadaku.
“Udah lega pusingnya?” tanyanya pelan.
“Belum, Kak… masih ada yang perlu diobatin.”
Dia diam sebentar, lalu tangannya pelan-pelan turun ke pangkuanku. Jari-jarinya menyentuh tonjolan di celanaku lewat kain. Aku tersentak.
“Kak…”
“Shh… diam aja,” bisiknya. Tangannya mulai gerak pelan, menggosok dari luar celana. Sensasinya gila banget. Aku cuma bisa mendesah di lehernya.
Dia terusin beberapa menit, gerakannya semakin berani. “Cepet banget sih kamu bereaksi,” godanya sambil terkekeh.
Aku nggak tahan. Beberapa menit kemudian, aku keluar di dalam celana. Basah, lengket, tapi lega banget.
Dia tarik tangannya, lalu menatapku dengan mata nakal. “Udah? Sekarang bersihin sendiri ya. Kak Acca nggak mau tangan bau.”
Aku mengangguk lemas. “Makasih, Kak…”
Dia bangun, cium keningku lagi seperti pagi tadi. “Kamu ini… makin hari makin nakal. Tapi ya udah, kali ini aja.”
Malam harinya, aku di kamar sendirian. Masih mikirin sore tadi. Kak Acca udah tidur, katanya capek kuliah online seharian. Tapi sekitar jam sebelas malam, pintu kamar ku diketuk pelan.
“Do… kamu udah tidur?”
Suara Kak Acca. Aku bangun, buka pintu. Dia berdiri di sana, pakai nightdress tipis warna krem yang panjangnya cuma selutut, rambut tergerai basah kayak baru keramas.
“Kak? Ada apa?”
Dia masuk tanpa diminta, lalu duduk di pinggir kasurku. “Kak Acca… agak takut gelap malam ini. Listrik tadi sempet kedip-kedip kan?”
Rumah kami emang sering mati lampu kalau hujan. Tapi malam ini cerah banget.
“Boleh… Kak Acca tidur di sini nggak? Bareng kayak dulu kecil?”
Aku nyengir dalam hati. “Boleh banget, Kak.”
Dia naik ke kasur, selonjor di sebelahku. Jarak kami dekat banget. Aroma sabunnya menusuk hidungku. Tubuhnya hangat di bawah selimut tipis.
Beberapa menit diam. Lalu kakinya sengaja nyenggol kakiku. “Panas ya malam ini…”
Aku balas senggolan. “Iya, Kak… panas banget.”
Dia tertawa pelan di gelap. “Pusing lagi nggak?”
Belum sempat aku jawab, tangannya sudah nyari tanganku di bawah selimut. Jari kami saling genggam.
Malam ini bakal panjang.
(to be continued…)
ns216.73.217.39da2




