Hujan masih deras di luar, suara gemuruh petir sesekali bikin rumah bergetar pelan. Regal diam-diam berdiri di balik celah pintu kamar ibunya, napas tertahan, mata terpaku ke kasur king-size yang diterangi lampu tidur kuning redup. Di sana, Dito sudah naik ke kasur, posisi spooning sempurna dari belakang Bu Rina yang tidur pulas miring menghadap dinding. Daster satin krem tipisnya sudah naik sampai pinggang, celana dalam hitam renda digeser ke samping, pantat montoknya terbuka lebar, celah bokong dalam dan empuk langsung menyambut kontol Dito yang panjang, tebal, urat-urat menonjol, sudah basah di ujung karena precum.
Dito tarik napas dalam-dalam, tangan kirinya angkat sedikit pinggul Bu Rina supaya celahnya lebih terbuka. Kontolnya langsung nyangkut di tengah celah pantat itu, panas kulit bertemu kulit, gesekan pertama masih pelan tapi langsung bikin dia mendesah kasar.
"Hhh… fuck… pantat Tante empuk banget… kayak bantal panas…" suaranya serak, hampir gemetar, napasnya keluar dari hidung berat.
Dia dorong pinggul maju pelan, kontolnya geser naik-turun di celah bokong yang dalam itu. Suara kulit ketemu kulit mulai terdengar samar: plap… plap… plap…
"Ahh… shit… ngejepit kontol gue… Tante… pantatnya ngejepit keras banget…" desah Dito lebih dalam, suara dari dada, bibirnya bergetar.
Gesekannya mulai lebih cepat. Ujung kontolnya berulang menyentuh lubang belakang Bu Rina yang berdenyut pelan, bikin Dito menggigit bibir bawahnya sendiri biar nggak teriak.
"Haaah… ya ampun… lubang belakang Tante… panas… gue pengen dorong masuk… fuck… enak banget gesek gini…" suaranya naik, napas ngos-ngosan, kata-kata keluar putus-putus.
Bu Rina mulai bereaksi dalam tidur: desahan kecil "Mmmh… haa…" keluar dari bibirnya, badannya melengkung sedikit ke belakang, pinggulnya mundur pelan kayak nyari gesekan lebih.
Dito langsung gila. "Ohh… Tante… gerakin pantatnya… ya gitu… dorong balik ke kontol gue… hnnngg… pantat montok Tante… gue mau ngecrot di celah ini…"
Dia percepat ritme, pinggulnya dorong maju-mundur brutal tapi tetap hati-hati biar kasur nggak bergoyang terlalu keras. Kontolnya geser-geser licin sekarang, kena keringat dan cairan yang mulai netes dari celana dalam Bu Rina yang udah lecek.
"Fuck… licin… basah banget… Tante… celana dalamnya basah gara-gara kontol gue… ahh… gue pengen ngerasain lubang belakang Tante… cuma gesek doang aja udah enak gila…"
Desahannya makin kotor, suara serak dan basah, kayak lagi nahan jeritan.
"Haaah… pantat Tante… empuk… kenyal… gue bayangin ngepompa di sini tiap hari… shit… kontol gue berdenyut… mau keluar… tapi gue tahan dulu… pengen nikmatin lebih lama…"
Dia tarik kontolnya keluar sebentar, ujungnya nyentuh lubang belakang Bu Rina, tekan pelan tanpa masuk, cuma nempel dan geser di sekitar situ.
"Ohhh… fuck yes… lubangnya berdenyut… kayak ngisap ujung kontol gue… Tante… kalau Tante sadar pasti minta dimasukin… haaah… gue pengen ngebor pantat Tante sampe merem…"
Lalu dia dorong lagi masuk ke celah bokong, gesek lebih dalam, lebih cepat. Badannya gemetar, tangannya meremas pinggul Bu Rina kuat-kuat.
"Nnggh… enak… enak banget… pantat Tante… gue mau ngecrot banyak… muncrat di celah ini… ahhh… bayangin sperma gue netes-netes di pantat montok Tante… fuck… gue gila…"
Bu Rina mendesah lebih keras dalam tidur: "Ahh… ya… terus…" suaranya serak ngantuk tapi penuh nafsu.
Dito langsung meledak desahannya. "Ya Tuhan… Tante desah gitu… hnnngg… gue nggak tahan lagi… pantatnya ngejepit kontol gue… mau keluar… mau muncrat… ahhh… Tante… terima sperma gue di pantatmu… haaaahhh!!!"
Badannya mengejang keras, kontolnya berdenyut hebat di celah pantat Bu Rina. Sperma panas muncrat banyak, pertama kental di tengah celah, lalu netes-netes ke paha, ke kasur, ke celana dalam yang sudah basah. Dito desah panjang melemah, suara puas dan lemas.
"Ohhh… fuck… banyak banget… muncratnya banyak… pantat Tante penuh sperma gue… haa… enak… gila… mantap banget…"
Dia ambruk pelan di belakang Bu Rina, napas tersengal-sengal, kontolnya masih setengah keras nempel di celah pantat yang lengket dan hangat. Bu Rina cuma mendesah kecil sisa-sisa "Mmm… enak…" lalu napasnya pelan lagi, tidur pulas seperti nggak ada apa-apa.
Dito diam sejenak, lalu bisik pelan sambil ngelap kontolnya pake ujung daster Bu Rina: "Besok malam lagi ya Tante… pantatmu bikin gue ketagihan… gue mau gesek lagi… mau muncrat lagi di situ…"
Regal di balik pintu merasa lututnya lemas total. Celananya basah di depan, tangannya gemetar pegang gagang pintu. Dia nggak marah sepenuhnya—malah ada bagian dalam dirinya yang pengen liat lagi, pengen denger desahan kotor Dito yang lebih gila lagi besok malam.
Malam itu belum selesai. Hujan masih deras, dan Dito belum puas.
ns216.73.217.39da2




