64Please respect copyright.PENANA6hd5WjlfYQ
Pagi berikutnya rumah masih berbau sisa seks malam tadi—aroma sperma kering, cairan memek yang mengering di lantai dapur, dan keringat yang menempel di setiap sudut. Hujan sudah reda, tapi udara tetap lembab dan panas, seperti tubuh-tubuh yang belum puas. Andi terbangun di kamarnya dengan kontol setengah ngaceng, masih lengket oleh sisa sperma dan cairan Sari serta Bu Rina. Dia ingat malam tadi: memek ibunya yang menyemprot squirt deras ke mukanya, lidah Sari yang menjilat bersih creampie dari memek Bu Rina, dan genangan putih kental di lantai yang mereka tinggalkan begitu saja.
Sari sudah bangun lebih dulu, keluar kamar dengan hanya mengenakan kaos longgar tanpa bra dan celana dalam tipis yang sudah basah lagi di bagian tengah. Putingnya menonjol jelas di balik kain tipis, memeknya masih agak bengkak dari malam tadi. Dia turun ke ruang makan, sengaja berjalan pelan biar pantatnya bergoyang-goyang.
Tiba-tiba pintu depan terbuka. Mbak Ani pulang lebih awal dari kantor—kakak perempuan Andi yang berusia 25 tahun, tubuh atletis tinggi semampai, dada sedang tapi kencang, pinggul ramping, bokong bulat rapat, dan kulit sawo matang yang selalu terlihat seksi meski pakai baju kerja formal. Hari ini dia pakai kemeja putih ketat yang sudah agak basah keringat di bagian dada, rok pensil hitam pendek yang menempel di paha, dan stoking tipis yang robek sedikit di paha dalam—tanda dia buru-buru pulang setelah meeting panjang.
Ani masuk, meletakkan tas, dan langsung mencium bau aneh di rumah. “Kenapa bau… aneh gini? Kayak… bau sperma campur memek basah?” katanya sambil mengerutkan hidung, tapi matanya langsung tertarik ke Sari yang berdiri di dapur dengan kaos longgar. “Sari… kamu gak pakai bra? Putingmu nongol jelas banget. Dan… kenapa mukamu merah-merah kayak abis orgasme berulang?”
Sari tersenyum mesum, mendekat ke kakaknya. “Mbak Ani… Kak Andi lagi di atas. Mau ikut main? Memek Mbak pasti udah basah dari kemarin mikirin kontol adik sendiri.”
Ani tertawa kecil, tapi napasnya mulai berat. “Dasar mesum kalian. Tapi… iya deh, semalem aku mimpiin Andi ngecreampie aku sampe banjir. Bangun pagi celana dalam basah kuyup.” Dia angkat roknya pelan, memperlihatkan celana dalam hitam renda yang sudah basah banget di bagian tengah, noda gelap melebar sampai ke paha. “Lihat nih… memek Mbak udah netes dari tadi di mobil.”
Bu Rina muncul dari tangga, masih telanjang bulat, payudara besarnya bergoyang-goyang, memeknya masih merah dan lengket sisa creampie Andi malam tadi. “Ani… akhirnya pulang juga. Ibu udah nunggu. Kontol adikmu gede banget, tebal, berurat… memek Ibu sama Sari udah penuh sperma dia. Sekarang giliran Mbak Ani yang haus itu.”
Ani tak bisa menahan lagi. Dia buka kemeja putihnya kasar, kancing beterbangan, bra hitam renda jatuh ke lantai memperlihatkan payudara kencang dengan puting cokelat muda yang sudah mengeras panjang. Roknya ditarik turun, celana dalam basah dilepas dan dilempar ke lantai—memeknya yang dicukur rapi sudah merah membengkak, klitorisnya menonjol gede, cairan bening menetes deras ke paha dalam.
Andi turun tangga, kontolnya sudah ngaceng keras lagi, ujungnya menetes cairan bening. “Mbak Ani… aku kangen memek Mbak. Dulu pas kecil kita sering mandi bareng, aku suka ngeliat memek Mbak yang masih kecil. Sekarang… pasti udah longgar dan basah banget.”
Ani mendekat, tangannya langsung meraih kontol adiknya. “Kontol adik… gede banget sekarang. Mbak pengen ngerasain dalem mulut dulu.” Dia berlutut, mulutnya langsung menelan kontol Andi sampai pangkal. Lidahnya berputar di batang, menjilat urat-uratnya, menghisap kuat sampai pipi cekung. “Mmm… bau sperma Sari sama Ibu masih nempel… enak banget… Mbak suka kontol yang kotor gini.”
Sari dan Bu Rina mendekat, Sari langsung menjilat memek Ani dari belakang sementara Bu Rina meremas payudara kakak perempuannya. “Ani… memekmu basah banget… lidah Sari masuk dalem nih… ahh… squirt Mbak banyak ya nanti,” desah Bu Rina sambil mencubit puting Ani keras.
Ani mengeluarkan kontol Andi dari mulutnya, benang air liur panjang menjuntai dari bibir ke ujung kontol. “Aku mau naik dulu… pengen ngerasain kontol adik nyodok rahim Mbak.” Dia dorong Andi rebahan di lantai ruang makan, naik ke atas, memegang kontol Andi dan arahkan ke memeknya sendiri. Dengan satu turunan pelan, kontol Andi masuk sepenuhnya—memek Ani ketat meski atletis, dinding dalamnya berdenyut kuat menyambut adiknya. “Ahhh… kontol adik… dalem banget… isi memek Mbak penuh… sodok lebih keras!”
Ani mulai naik-turun ganas, pantatnya naik-turun cepat, suara benturan basah plok-plok-plok bergema keras. Payudaranya bergoyang liar, putingnya mengeras panjang. Sari naik ke wajah Andi, memeknya yang masih penuh sisa sperma menempel ke mulut adiknya. “Kak… jilat memek aku lagi… minum sisa creampie Mbak Ani nanti.”
Bu Rina berlutut di belakang Ani, lidahnya menjilat anus Ani yang mengerut sambil jarinya menyodok memek Ani dari samping, membantu kontol Andi nyodok lebih dalam. “Ani… bokong Mbak rapat banget… anusnya kecil… Ibu pengen jilat dulu sebelum Andi masukin ke situ nanti.”
Ani klimaks pertama lebih dulu—memeknya mengejang hebat, squirt bening menyemprot deras ke perut Andi, membasahi bola kontolnya dan lantai. “Aku… squirt… kontol adik… ahhhh… banjir nih!” Cairannya menyemprot kuat, basah sampai rambut Andi.
Andi tak tahan. “Mbak… aku mau ngecreampie memek Mbak… isi rahim Mbak penuh sperma adik!” Dengan beberapa sodokan naik dari bawah yang brutal, dia melepaskan—sperma panas menyemprot kuat ke dalam memek Ani, memenuhi sampai meluap keluar setiap kali Ani naik-turun. Cairan putih kental bercampur squirt Ani menetes deras ke bola Andi dan lantai, membentuk genangan baru yang lebih besar dari malam tadi.
Sari menyusul, squirt-nya menyemprot ke mulut Andi, membuat adiknya menelan rakus. Bu Rina menjilat sisa cairan dari memek Ani dan kontol Andi, lidahnya bergerak cepat membersihkan semuanya.
Mereka berempat rebahan di lantai ruang makan, tubuh lengket oleh keringat, sperma, squirt, dan air liur. Genangan cairan hasrat membasahi lantai luas, bau seks pekat menusuk hidung. Ani tersenyum lemah, jarinya mengaduk memeknya sendiri yang masih menetes sperma Andi. “Besok… kita ajak Tante Lina. Bibi itu pasti memeknya lebih mesum lagi. Keluarga ini… harus semua basah dan penuh kontol Andi.”
Andi mengangguk, kontolnya masih setengah ngaceng di antara paha Ani. Birahi keluarga semakin larut, semakin kotor, dan tak ada tanda-tanda akan berhenti.64Please respect copyright.PENANAH1UsL3eYMn





