×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Friendship
Short Story
Completed
Can I Believe Once Again?
No tags yet.
Tags
Writer amd_jnt8989
Writer
  • G: General Audiences
  • PG: Parental Guidance Suggested
  • PG-13: Parents Strongly Cautioned
  • R: Restricted
PG-13
RATED
202 Reads
0 Likes
0 Bookmarks
Popularity

Facebook · Twitter

FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018

Get it on Google Play

Download on the App Store

Follow Author
Can I Believe Once Again?
0 Bookmarks
A - A - A
Intro
amd_jnt8989
No Plagiarism!Nx6qQd9oDBDMQrExgb0Hposted on PENANA

Can I Believe Once Again?copyright protection152PENANAUgar6XHPSI

.copyright protection152PENANAcFfj56wfu9

.copyright protection152PENANAQ8WHzBfQMf

HAPPY READING^^copyright protection152PENANAxHwI8DFQsx

.copyright protection152PENANAyEcOXiUuxp

Aku hanya mewujud sebagai harapan kalian semua. Pada akhirnya setelah semua harapan itu terpenuhi, tidak ada rasa sesal lagi dalam hati kalian. Dan selamanya persahabatan kita akan terus ku kenang, ia bagian terindah dalam hidupku yang tertindih oleh kemiskinan. Dan senyuman satu per satu dari kalian diakhir hari adalah kenangan terbaik yang kalian berikan padaku.copyright protection152PENANAEoxA57bkXY

Tetaplah menjadi senja yang selalu merangkulku sahabatku.copyright protection152PENANAAuF6dOKSEc

Namjoon. copyright protection152PENANAqcRD0PVVkt

.copyright protection152PENANAlYRSyXZKiW

[satu]copyright protection152PENANAJSrpZFdJyR

Menggantungkan mimpi pada langit cerah dengan sedikit awan. Sedikit saja. Saat itu mungkin aku agak terkekeh dengan pernyataannya. Terlalu muda untuk sebijak itu, dan juga merutuki diri karena tidak bisa sebijak itu.copyright protection152PENANAWY4OC5Dy0X

Jangan sampai tersandung, kau harus berusaha menghindar. Seperti perkataan yang meremehkan sekaligus kalimat yang menusuk. Meremehkan segala sesuatunya, terkadang. Aku juga manusia.copyright protection152PENANA1lWTeuQef8

Aku berlari disebuah padang rumput yang indah. Tanpa alas kaki, rerumputan hijau menyambutku langsung. Angin berhembus pelan, gemerincing gantungan didepan toko kelontong dipersimpangan jalan menjadi penarik. Cukup sederhana, ya sederhana.copyright protection152PENANAbZ1Do0iCKQ

Senyuman pemiliknya merekah bagai bunga mawar yang tidak pernah layu. Aku berjalan mendekatinya dengan keadaan yang masih sama; tanpa alas kaki. Pandangannya memberikan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang selalu sama setiap hari; tidak menggunakan alas kaki lagi?. Dan seakan mengerti akan cengiran konyol khas ku, dia hanya menggangguk paham lalu kembali pada rutinitasnya pada anggrek yang menjuntai didepan tokonya.copyright protection152PENANAuGPyurD8ZE

Aku masuk kedalam toko kelontong milik kim ahjussi- ayahnya. Mencari rak berisi pilihan berbagai macam merk mie yang tidak kukenal baik. Aku mendengus pelan, apakah semakin hari semakin banyak pilihan rasa mie? Bagaimana jika para konsumen bingung dan akhirnya membeli semuanya? Aku cukup bodoh, nilaiku saja rata-rata merah di raport.copyright protection152PENANA6002UexKsN

Dua cup mie dengan rasa yang sama setiap harinya. Aku terlalu sibuk berkelebat dalam monologku sendiri, dan melupakan tujuan awalku yang hanya ingin membeli dua cup mie rasa soto banjar.copyright protection152PENANATEMVhbVzNG

Ku rogoh uang yang terlipat rapi dalam kantung celana panjang hitam yang kukenakan. Tersenyum sedikit kepada kim ahjumma- ibunya- saat menyadari bahwa usianya yang mencapai kepala tiga tidak menutupi wajah cantiknya. Dia memang memilki ibu yang cantik. Dia sama cantiknya seperti ibunya, namun sedikit perbedaan yang mendasar- dia seorang namja.copyright protection152PENANAphmeQRFt0F

Seperti kebiasaanku setiap harinya, duduk di depan toko kelontong dan menikmati mie soto banjarku bersama sahabat karibku. Saat menunggunya selesai dengan hobinya- menyirami bunga anggreknya- menantinya dan tersenyum seperti orang tidak waras.copyright protection152PENANA86G88AmFlP

“oh ayolah.. jangan tersenyum seperti itu. Apa kau mau dikatakan gila?” kulihat wajahnya yang agak kesal. Dengan segera ditaruhnya watering can tua miliknya dibawah, lalu merebut satu cup mie soto banjar dari genggamanku. Aku hanya tersenyum menatapnya, kebiasaan kami yang tidak berubah.copyright protection152PENANAsftfaKq5ke

“ngomong-ngomong..” dia membuka pembicaraan. Membuatku menolehkan kepalaku sedikit agar bisa menatapnya bicara. Berbicara dengan mulut penuh, kebiasaan jelek yang tidak bisa berubah.copyright protection152PENANAMKw9Ym0EQ0

“telan dulu” kataku mengingatkan. Jika dia lupa bagaimana cara menelan makanan, sebagai seorang sahabat aku harus mengingatkannya.copyright protection152PENANAkY706fAtUV

Dia mengangguk kecil, kemudian tersenyum konyol. Aku hanya tersenyum simpul dengan tingkahnya. Sesuatu yang harus diabadikan. Sayangnya seorang yang tidak memilki apapun tidak mampu membeli kamera. Aku tidak mampu bahkan untuk makanku sendiri.copyright protection152PENANAjnaMClx2rS

Seakan mengerti sorot wajahku yang mendadak berubah, dia memiringkan kepalanya. Menyatukan hitam pada matanya mencoba membuatku tertawa, ditambah lidahnya yang terjulur. Aku hanya tersenyum lebar. Setidaknya ia harus yakin bahwa aku baik.copyright protection152PENANAhdCNmA9nfZ

“aku akan pergi ke busan...” kudengar helaan napas pada kalimat terakhirnya. Aku mencoba fokus pada cup mie ku, berusaha untuk tidak mengetahuinya lebih lanjut.copyright protection152PENANAnzXvz4KaxF

Ia menatapku dengan geram. Pasti sekelebat pikiran negatif tentangku mulai berjalan dalam pikirannya. Kulihat wajahnya yang nampak kesal itu, benar-benar seperti seorang gadis.copyright protection152PENANA6Q2gDFCbH3

“bisa antarkan aku besok? Bukan ke busan, tetapi ke stasiun kereta.” aku terdiam sesaat. Apakah aku harus mengantarkannya ke stasiun besok? Pastilah sangat berat untukku. Sama saja memotong apa yang belum tumbuh.copyright protection152PENANA3ZgFMCgVZw

Dengan ragu kepalaku mengangguk lemah. Membuat senyuman manis khasnya tercetak jelas diwajahnya. Dia selalu seperti itu, bahagia akan hal-hal kecil. Bersamanya, bersahabat dengannya, mengenalnya sudah cukup membuat hariku yang suram menjadi cerah. Sahabat terbaik sepertinya.copyright protection152PENANAVn5TSFXDQu

Cukuplah aku selalu menghiburnya tanpa harus dia yang menghiburku. Kegelapan sudah lama menelanku. Cukuplah ia tidak tahu. Cukuplah ia tersenyum ceria, seperti dirinya yang sekarang ini.copyright protection152PENANAiWlldY0P9I

Dan sore itu kuhabiskan dengan duduk didepan toko kelontong bersamanya. Hari esok yang tidak kukenal baik akan merangkulku perlahan. Aku tidak tahu apakah ia hari yang baik, atau justru hari yang buruk. Dengan dua cup mie soto banjar ini, sudah cukup jelaslah kebahagian hari ini. dan jika hanya ada satu cup mie soto banjar, aku tidak tahu kebahagian esok. Tanpanya.copyright protection152PENANAScH8SuK8qK

.copyright protection152PENANAFl7Lf0qcDh

.copyright protection152PENANAHWd2hq0iga

[dua]copyright protection152PENANA18nJggd1pD

Bahkan dihari yang kutahu semuanya akan mulai berubah dari sana, aku masih memandangi tiap-tiap ujung sepatu orang-orang. Berlalu-lalang begitu saja tanpa saling bertegur sapa, seakan sapaan adalah harga yang terlalu mahal. Aku seakan berada ditempat asing. Tatapan diam yang penuh kematian.copyright protection152PENANAM4ZTPeUgqx

Jemarinya yang hangat menyentuh pelan punggung tanganku. Seulas senyuman tergores diwajahnya, berusaha meyakinkanku bahwa aku akan baik. Dengan penuh keraguan senyum simpul kuberikan padanya, berusaha menyampaikan padanya untuk tidak khawatir.copyright protection152PENANAx8tKaLbb4r

Pemberitahuan keberangkatan kereta menuju busan terdengar disepanjang stasiun. Bisakah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya? Biarkan waktu seakan berhenti hanya untuk kami berdua. Sahabat yang akan kurindukan.copyright protection152PENANAm5zJPQZ2So

Bersamanya selama 6 tahun membuatku cukup yakin menyatakan bahwa aku mengenal dirinya dengan sangat baik. Hobinya memasak, sangat mewarisi ibunya. Wajahnya yang nampak cantik untuk namja. Hobi lainnya seperti bekebun, berlari diantara padang rumput, dan tertidur dimana saja. Berbicara saat mulut penuh oleh makanan, dan kebiasaan lainnya kebiasaannya yang selalu bisa menenangkanku.copyright protection152PENANAGEtFyiTsyk

Anti sosial, tidak pernah ingin berhubungan dengan siapapun- dalam bentuk apapun, mengunci diri dalam kegelapan, meracau tidak jelas, dan sering menangis tanpa sebab. Perlahan ia merangkulku, seperti senja yang kusukai.copyright protection152PENANA05suQDg2Pk

Kehilangan orang tua diusia muda, sudah cukup dengan hal itu. Bahkan ketakutan itu telah berakhir sepenuhnya. Bayangan bagaimana ayah dan ibu tergantung begitu saja dengan darah yang telah berhenti mengalir, membuat ruangan kecil itu berbau anyir. 10 tahun lalu, kurasa itu sudah sangat lama.copyright protection152PENANAtbq3VfUViM

Hanya perlu menghilangkan sikap anti sosialku. Hanya itu. Dan apabila dia pergi maka kurasa aku harus membuang jauh-jauh niat itu, dan mengubur dalam-dalam semua itu.copyright protection152PENANAkYrND05xtE

Dengan keyakinan dalam dadanya, jemarinya beralih menggenggam erat koper cokelatnya. Seulas senyum terukir diwajah sang namja seperti senja.copyright protection152PENANAStKlXAZdCO

“nah.. aku pamit-copyright protection152PENANAy60Y9Ve3Rx

“ya aku tahu.” Kataku menyelanya secepat yang kubisa. Tidak menunjukan artian sebenarnya. Hanya berusaha menutupinya.copyright protection152PENANAQbvhZ9h4HK

“hahaha.. kau selalu seperti ini. baik-baik oke?” tawanya tidak terdengar nyaman. Aku hanya mengangguk kecil, mencoba seperti biasa.copyright protection152PENANAJzetUc3TqG

“jika musim panas telah berakhir aku akan pulang. Percayalah. Bisa kau percaya?” apakah hanya aku yang merasakan pertanyaanmu itu terlalu.. terasa.. berbeda? Kali ini untuk membuang jauh-jauh kemungkinan terburuk, aku menganggukkan kepalaku kecil. Lagi-lagi seperti biasanya.copyright protection152PENANAIYMIXVEcZv

“kalau gitu aku pergi namjoonie..” dia masuk kedalam kereta. Kulihat wajahnya yang selalu tersenyum dengan cara yang sama saat ia telah duduk didalam sana. Tangannya melambai pelan kearahku.copyright protection152PENANAJPHf7GopL5

Kereta mulai bergerak. Semakin menjauh, menjauhkanku darinya.copyright protection152PENANA9vFoYzA1t1

“jin hyung.. jangan lupa kirim surat!” kataku saat mencoba menyamakan wajahku dengan wajahnya dengan cara berlari.copyright protection152PENANAIbZuUXqyaq

“tentu namjoonie” ibu jarinya teracung dikaca jendela kereta.copyright protection152PENANA4TfM8mtxLf

Semakin menjauh bagai titik terkecil diujung sana. Kedua kakiku perlahan berhenti, dengan napas yang tersengal kutatap kereta menuju busan yang semakin menjauh. Semakin hilang pada pandanganku.copyright protection152PENANADVKikISVKm

Pada akhirnya.. tidak ada yang terungkap.copyright protection152PENANAWsxWXsTo13

.copyright protection152PENANAO6X4S6rmDc

.copyright protection152PENANABg8mzs4rnP

[tiga]copyright protection152PENANANjilgfO9EP

Stang sepeda tua yang telah berkarat kusandarkan pada dinding beton yang telah berlumut. Pemiliknya memutuskan mengangkut seluruh keluarga pergi ke kota. Mencoba peruntungan katanya. Begitulah.. semua orang memutuskan keluar dari zona aman. Sedangkan aku? Berputar pada kehidupan monoton yang tidak pernah berakhir.copyright protection152PENANAdsVbxOhYaV

Kaos putih yang perlahan menguning, kuseka wajahku dengan menggunakan handuk putih yang tersampir di leherku. Musim panas telah datang, dan kutahu surat pertamanya pasti akan datang.copyright protection152PENANAbMcj8LMdda

“halo namjoon..” seseorang yang kukenal baik memegang pelan bahuku. Sejenak kuhentikan aktivitasku, dan memberikan senyum kotak padanya.copyright protection152PENANA21ukmKAbUe

“hai hyung.” Ia meraih botol air yang tergeletak di keranjang sepeda milikku, dan dengan santai menenggaknya hingga tak bersisa. Ia hanya bisa tersenyum lebar.copyright protection152PENANA07HWjeLAcV

Kini kusandarkan tubuhku pada tembok berlumut dibelakangku. Ia juga melakukan hal yang sama, menyandarkan tubuhnya. Kulihat jemarinya yang semakin kasar memainkan cincin yang terkalung dilehernya. Senyum simpul terukir diwajah letihnya.copyright protection152PENANAvoIHIQtu3G

“mengapa kau tidak mencoba hyung?” tanyaku yang membuatnya tersentak. Ia tahu betul apa maksudku. Kepalanya menghadap kearahku, dan dengan pasti senyum simpul terukir dikedua sudut bibirnya.copyright protection152PENANAF6H9q4U0fO

“untuk apa? Agar terjatuh?” meremehkan diri sendiri. Kalimat yang aku yakin mencoba membunuh harapan miliknya sendiri.copyright protection152PENANAegWWdfaYQn

Kini aku hanya terdiam. Membiarkan hening menyelimuti suasana sekarang. Biarkan saja, bukankah hening tidak selamanya buruk? Aku menyukai hening terkadang. Membiarkan kita untuk memikirkan diri sendiri.copyright protection152PENANAUlMC3utwYx

“jangan berbicara omong kosong lagi namjoon. Kita tidak bisa mempercayai sesuatu yang letaknya jauh diatas sana.” Aku mengangguk kecil atas sarannya. Wajah dinginnya itu tidak bisa menyembunyikan lukanya.copyright protection152PENANAdEDVO3ZI4f

Kulihat dia yang sudah beranjak dari sampingku. Sebungkus roti yang masih hangat diletakkannya didalam keranjang sepeda tuaku. Langkahnya yang pelan semakin menjauhiku. Dan malam perlahan semakin menyambut kami.copyright protection152PENANAxjwtfJJqHz

Tubuhnya semakin mengecil diujung jalan sana.copyright protection152PENANAOBVAeY4Hv3

“namjoon! Jangan lupa untuk memakannya sewaktu masih panas!” ia berteriak dari ujung sana. Mengingatkanku untuk memakan roti buatannya. Ia tahu aku selalu lupa untuk memakannya selagi hangat, namun biar sedingin apapun aku akan tetap menghabiskannya. Mungkin itulah mengapa ia selalu mengingatkanku setiap hari.copyright protection152PENANAeJHSEvWDe0

Kuraih roti hangat tertutupi kertas cokelat. Aku tahu roti ini baru keluar dari panggangan. Dan satu hal yang kutahu pasti –dia –yoongi hyung –mengambilnya secara diam-diam.copyright protection152PENANATLjpfz8Y0Q

.copyright protection152PENANAyOstpGsuoY

.copyright protection152PENANAyDHfvlLrYZ

[empat]copyright protection152PENANAsSLLh0lqZl

Langkahku yang tidak kecil lagi berjalan diantara deretan padi yang agak menguning. Tugas terakhir hanyalah memastikan bahwa panen akan berhasil, lalu berikutnya aku akan mendapat upahku –sekedar untuk mengambung hidup.copyright protection152PENANAgxaJ1Apt4O

Bel sepeda tua terdengar semakin jelas. Aku tahu pasti sepeda itu mendekat kearah sini. Aku kembali sibuk dengan jemari-jemari kakiku yang masih terselip lumpur. Mencucinya dengan air dari sumur tua, yang dengan susah payah harus menimbanya dulu.copyright protection152PENANArCr9SXuEot

“namjoon..” suara yang sangat kukenali. Begitu menghangatkan seperti sinar matahari pagi.copyright protection152PENANAERlpDDpY3p

Aku menoleh ke sumber suara. Cengiran kecil tersungging diwajahnya. Aku hanya tersenyum simpul, lalu kembali pada aktivitasku.copyright protection152PENANAkkWv3X5tra

“ada surat untukmu”ia mengibaskan sepucuk surat itu dihadapan wajahku.copyright protection152PENANAhTNJ2FGxk5

Sepertinya ia sukses membuatku agak kesal padanya. Terlihat dari wajahnya yang menahan tawa. Diantara kami dialah yang selalu tertawa. Ceria meskipun langit akan gelap. Dialah yang menyimpan luka yang paling banyak.copyright protection152PENANA0YWmnzZNx3

Tanpa sebuah embel-embel terima kasih, kurebut begitu saja sepucuk surat itu dari tangannya. Sebelum membukanya bahkan sebelum menyentuhnya, aku sudah yakin ini adalah surat dari jin hyung.copyright protection152PENANAcSn9nq7tTz

“dari jin hyung bukan?” aku hanya mengangguk sekilas atas pertanyaannya.copyright protection152PENANAEasrTv7A2r

Kubuka surat itu dari ujungnya. Terlihat sebuah lipatan kertas bewarna kuning didalam sana. Gerakan jemariku terhenti. Alangkah lebih baik jika aku membukanya nanti. Mungkin saat itu –adalah tepat.copyright protection152PENANAF3pCqNbpAJ

“kenapa tidak membacanya?” kedua alisnya bertaut, menanyakan mengapa aku tidak lekas membacanya. Aku tersenyum kecil, kemudian disusul gelengan kecil –tanda tidak ada apa-apa.copyright protection152PENANAtNBQWZg4t9

“ada kompetisi menulis lagu di desa sebelah. Apa kau tidak ingin ikut?” surat tadi kulipat dan kumasukan begitu saja kedalam kantung celana panjang hitamku. Ia agak tersentak, sedetik kemudian kulihat ia dapat menguasai diri.copyright protection152PENANAD7k5yeBGPE

“aku tidak tahu. Apa gunanya orang sepertiku?” nada yang sama dari yoongi hyung kutemukan lagi padanya. Kulihat netranya yang tidak bercahaya lagi menahan tangisnya.copyright protection152PENANA7uIx68liyW

Aku kembali diam. Tidak benar kulanjutkan ini semua jika pada akhirnya ia akan terluka. Kulihat wajahnya yang tertunduk dalam.copyright protection152PENANA11JDRGD8K6

“kau tahu? Menggantungkan sedikit harapan pada langit biru.. itu tidak masalah.”copyright protection152PENANAineCtMR5tG

“aku tahu itu namjoon.”copyright protection152PENANAJBbr9iAuA8

Ia segera memegang kedua stang sepeda miliknya. Aku tahu surat milikku adalah surat terakhir yang harus dia antar. Langit semakin menggelap, dan seperti biasanya malam akan menyambutku lagi.copyright protection152PENANAqC99g1QU9A

Bunyi bel sepeda itu semakin menjauh, bersama dengannya. Aku masih diam, aku tahu ia akan pergi dalam kesedihan.copyright protection152PENANA0rYf4s1Wxv

“jangan lupa mengantarku besok!” suara teriakannya membuatku tersadar dari lamunanku. Sedetik kemudian, sepedanya semakin menjauh di ujung jalan sana. Membuatnya terlihat seperti titik kecil hitam.copyright protection152PENANADh6OJf7jJI

Dan pada akhirnya ia menyetujuinya. Menggantungkan harapan yang diyakininya sekali lagi. Meskipun perjalanan kedesa sebelah membutuhkan waktu agak lama, tetapi besok aku akan menjadi kaki penopang untuknya –untuknya terus berharap.copyright protection152PENANArakBkBDavN

.copyright protection152PENANAKweJLjbNfI

.copyright protection152PENANAiTZpHIEO2o

[lima]copyright protection152PENANAwuyR6SsJ3Y

Kami duduk pada sebuah halte yang agak menyedihkan. Menjadi satu-satunya halte bis yang tersedia didesa kami tidak membuat pemerintah desa melayakkannya. Lihat saja tiang penopang yang hampir patah, namun diakali warga sekitar dengan mengikatnya dengan tali tambang.copyright protection152PENANAwNuLwf5H3l

30 menit. Kami menunggu bis datang hampir sejam. Tidak ada jadwal keberangkatan khusus disini, tidak seperti dikota. Bis akan datang jika ia menginginkannya. Jadi tunggu saja sampai ia datang.copyright protection152PENANAqleqKW9pKb

“bisnya akhirnya datang” bukan nada bahagia yang terdengar dari kalimatnya barusan. Keraguan dan ketidakpercayaan terasa kental dalam kalimatnya.copyright protection152PENANAOhFn9LgCvj

“mari aku bantu” kupegang bahunya pelan. Kami memasuki bis dengan rasa yang berbeda. Aku dengan rasa keyakinan, dan ia yang kurasa dengan rasa keraguan akan pilihannya.copyright protection152PENANAA175NDlSlo

Kembali duduk dalam keheningan. Aku mengambil posisi duduk didekat jendela. langit terlihat begitu biru, dengan sedikit awan yang indah. Aku menyukai pemandangan seperti ini. seperti sahabat yang merangkul, saatnya aku yang merangkul mereka.copyright protection152PENANAeMKscvolU9

Kulihat wajahnya yang nampak gugup. Aku tahu ia mencoba meyakinkan hatinya. Tidak mudah mengambil pilihan yang sama. Rasa takut untuk mendapat hasil yang sama saja pasti akan menghantui langkah. Kupegang bahunya pelan, mencoba meyakinkannya bahwa pilihan yang telah diputuskannya itu bukanlah pilihan yang salah.copyright protection152PENANAwJrb6AXmds

“terima kasih” ia nampak lega. Aku yakin ia telah yakin sekarang.copyright protection152PENANAFOuMThqfaM

Dua jam perjalanan. Begitu lama. Aku harap kompetisinya masih dibuka. Dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan, aku membantunya untuk turun. Kami telah sampai. Kulihat sekeliling, berbagai spanduk berisi perlombaan menulis lagu yang akan dilaksanakan terlihat meriah. Sepertinya lombanya sudah dimulai.copyright protection152PENANADoyoRKTg5O

Kami segera memasuki sebuah gedung bercat putih. tidak terlalu besar. Aku pikir animo masyarakat sekitar akan sangat besar, tetapi presepsiku salah. Lomba ini terlalu membosankan untuk anak-anak, juga terlalu hening bagi para orang tua. Jika lomba menulis lagu seperti lomba panjat pinang, mungkin animo masyarakat akan sangat besar. Bagaimana jika mengadakan lomba menulis lagu sambil panjat pinang? Pasti seru sekali.copyright protection152PENANApCxRODsLZF

“mau ikut lomba? Tersisa 30 menit lagi.” Kata seorang penjaga disana. Dengan cepat aku menganggukkan kepalaku.copyright protection152PENANAeFtIsn0TCb

“iya, apa masih bisa?” tanyaku padanya yang sibuk meminum kopi hitamnya.copyright protection152PENANAFgAdErYxH4

“tentu yang mengikuti lomba langsung masuk saja. Sedangkan yang menemani silahkan tunggu diluar. Omong-omong siapa yang mengikuti lomba diantara kalian berdua?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kami.copyright protection152PENANAl7GSYvwqhw

Dengan ekspresi wajah, aku memberitahunya bahwa yang mengikuti lomba adalah sahabatku yang berada disampingku. Awalnya ia masih tidak paham. Namun sedetik kemudian ia ber-oh ria dan mengangguk paham. Dengan cepat ia segera masuk bersama sahabatku.copyright protection152PENANA6vbzeEXexz

Tugasku sekarang hanyalah menunggu hasilnya.copyright protection152PENANApcQ0quro29

.copyright protection152PENANAsnh9ggEMHV

.copyright protection152PENANAjNrunF9kUG

[enam]copyright protection152PENANAUkTKkkeMJg

Beberapa peserta keluar dari ruangan dengan wajah yang berbeda-beda. Ada yang tersenyum bahagia, ada juga yang terlihat menahan kekecewaan. Akhirnya ia keluar, yang tidak kusangka dengan bantuan yoongi hyung.copyright protection152PENANAVbEdlVt0Ha

Aku menatap keduanya dengan bingung. Menyadari arti tatapanku, yoongi hyung memegang pelan bahuku.copyright protection152PENANAV0Ymvl2FFW

“aku rasa, aku perlu percaya sekali lagi. Kemiskinan tidak bisa menghalangi mimpi.” Yoongi hyung tersenyum kecil. Aku tahu ia akan memikirkan kata-kataku kembali. Mengingat yoongi hyung adalah orang yang lebih suka merenung dan memikirkan hidup daripada kami berenam.copyright protection152PENANAmzggkAAymj

“bagaimana hasilnya?”tanyaku tidak sabar. Yoongi hyung dan dia melemparkan pandangan yang sulit kuartikan. Yoongi hyung mulai membuka jawaban atas pertanyaanku.copyright protection152PENANAPivtwQoZQ6

“kau benar. Usaha tidak akan membohongi kita..” kalimatnya sengaja menggantung agar aku lebih penasaran.copyright protection152PENANAaM789Dubja

“aku juara dua. Dan ia juara satu” ia melanjutkan. Aku tersenyum senang, memeluk keduanya tanpa berhenti mengucapkan selamat.copyright protection152PENANA8FKoV4YwDl

“aku tidak tahu mengapa.. langit membuatku kembali bermimpi. Orang sepertiku yang kehilangan sebelah kakiku. Tapi aku berterima kasih padanya, setidaknya aku dapat bermimpi lagi meski untuk yang terakhir.” Aku sama sekali tidak dapat menangkap makna yang tersembunyi dalam kalimatnya.copyright protection152PENANAPsElWacla2

“maksudmu?” tanyaku dan yoongi hyung hampir bersamaan. Seakan tahu ada yang salah dalam pengakuannya, ia hanya tersenyum kecil. Dan memegang kedua bahu kami.copyright protection152PENANAslPAuZeYax

“namjoonie, terima kasih sudah mau menjadi penopangku hari ini. aku tidak akan melupakannya.” Ia tersenyum dengan cara yang manis kearahku. Senyuman yang sama menghangatkannya seperti sinar mentari pagi.copyright protection152PENANA8icSH8WGEz

Dan senja hari ini, kami bertiga pulang dalam kebahagian. Senja merangkul kami dalam pelukannya yang menenangkan. Dan senja hari ini juga berhasil merangkul hoseok yang berusaha menjauh dari semua harapan.copyright protection152PENANA1t2GOYQ0k1

Dia –hoseok adalah orang yang paling ceria –juga paling banyak menyimpan luka. Dia –hoseok yang tersenyum dengan hangatnya seperti mentari pagi –juga menangis dalam diam di keheningan malam.copyright protection152PENANA3MmTmQSAO3

Dia –hoseok.copyright protection152PENANA7XmkP3sMJ6

.copyright protection152PENANAmLAospniqH

.copyright protection152PENANAkuuGnRwfrl

[tujuh]copyright protection152PENANAjziFT8JmUt

Kugulung lengan kemeja bewarna merah yang kukenakan sampai keatas siku. Kemeja satu-satunya yang kumiliki –itupun pemberian jin hyung. Aku –kami semua sama. Kemiskinan. Menekan kami hingga kebawah, hingga mimipi-mimpi yang kami punya hancur dengan sendirinya.copyright protection152PENANAshe3FHs3ZS

Telinga ini bahkan sudah kebal dengan perkataan yang membawa-bawa kemiskinan dalam topiknya. Membicarakan saat lewat dijalan, sungguh aku sudah kebal. Bahkan semasa sekolah kami terbiasa seadanya. Aku yang sedari kecil hidup tanpa orang tua terbiasa menghadapi dunia. Bahkan sejak kematian nenek saat usiaku menginjak 10 tahun, aku sudah siap menghadapi dunia sendirian.copyright protection152PENANALknf0K6x0y

Ku eratkan genggaman jemariku pada satu bungkus roti panas –baru keluar dari panggangan. Yoongi hyung menitipkannya padaku sebagai perayaan atas kemenangan nya dalam meraih mimpinya sejak kecil –menulis lagu. Yang aku tahu pasti ia telah mengambil atau setidaknya mengisihkan beberapa roti dari tempat kerjanya. Ia bekerja sangat keras setiap harinya –berkutat dengan tempat kerja yang meremehkannya.copyright protection152PENANASj8bZ1jIod

Rumah kayu berpagar alang-alang. Rumah yang terlihat tak bernyawa, namun tidak dengan isinya.copyright protection152PENANAbRuqUa7ne7

Dengan hati-hati ku dorong pagar kayu yang hampir patah itu kesamping. Tumbuhan liar tumbuh subur dihalamannya. Dahulu rumah ini selalu bersih, meskipun ia nampak tua. Tanaman sayur, bunga melati yang cantik menggembul dibalik pagar kayu –kisah lama mengenai rumah ini.copyright protection152PENANAgZrDfrnlYo

Beberapa kali ketukan pada pintu reyot ini kulakukan. Aku menghela napas dalam, menyadari betapa bodohnya aku. Dengan perlahan ganggang pintu berkarat itu kutekan kebawah, membuat bunyi decit yang cukup memekakkan telinga.copyright protection152PENANAURH22G4los

Sosok namja muda duduk menghadap kearah jendela. Netra sipitnya yang tertutup, dan kepalanya yang menengadah keatas. Senyuman tulus terpancar dari wajahnya. Aku tahu ia membayangkan hal yang begitu membahagiankan.copyright protection152PENANAzAj30ee7Bs

Angin menghembuskan tirai bewarna cokelat itu pelan. Sesekali surai hitam legamnya juga ikut melambai. Sebuah selimut tebal menutupi tubuh kurusnya. Sudah lama aku tidak mengunjunginya. Bukan karena aku tidak mengingatnya, hanya saja itu karena takut akan reaksinya.copyright protection152PENANAeSsFvH6T35

“dongsaeng tersayangku. Apa kabar?” kuberanikan diri memecah keheningan. Kini kedua netra sipitnya itu terbuka, menyapu pada sekeliling lalu beralih kearahku. Aku tersenyum berusaha menunjukan kebahagianku.copyright protection152PENANAhXWZZYF4k4

Ia balas tersenyum dengan sangat lebar, membuat netra sipitnya itu ikut tersenyum. Seperti bulan sabit yang indah dimalam hari.copyright protection152PENANAwTEQWE5bMH

Terkadang malam hari tidak seburuk yang dipirkan. Ada banyak bintang juga bulan yang bersinar terang disaat tertentu. Ada kalanya juga bulan dan bintang tidak menampakkan dirinya. Kami bertujuh selalu merebahkan diri di padang rumput, menikmati bulan dan bintang juga semilir angin malam. Membicarakan mengenai hidup juga impian dan harapan yang digantungkan pada langit. Namun ada kalanya kami semua merasa harapan yang digantungkan pada langit itu terasa sia-sia –seperti sekarang.copyright protection152PENANAE0z6F4NMYQ

“kau baik?” tanyaku. Ia mengangguk pelan dan tersenyum lagi. Kini pandangannya beralih kearah jendela yang terbuka lebar.copyright protection152PENANARfNOeNNUR7

“kau terluka.. itu terlihat jelas dalam matamu.” Senyuman diwajahnya mengendur. Bibirnya yang semula terkatup rapat terbuka sedikit, namun sedetik kemudian terkatup kembali –berusaha menahan kalimatnya sendiri yang penuh keraguan.copyright protection152PENANAZo0EeXjj85

Aku segera berjalan kesampingnya. Berusaha menangkap apa yang ditangkap oleh netranya. Anak-anak desa yang berlarian dengan riangnya. Mereka bermain kejar-kejaran. Senyuman diwajah mereka begitu lebar. Kesenangan masa kecil yang indah.copyright protection152PENANA0M5ASLFGxD

“hyung..” kalimatnya terdengar lirih –begitu lirih. Membuat netraku seketika memanas.copyright protection152PENANAwpTjd8712Y

“iya?” kataku mencoba kuat.copyright protection152PENANA82m8GB5ZVe

“bisakah kau membantuku meraih harapanku?” tanyanya semakin lirih. Hampir tidak terdengar, menyatu bersama atmosfir sekitar yang begitu hening. Terlalu hening.copyright protection152PENANA5W1awUVbAt

Aku menghela napas untuk kesekian kalinya. Kuletakkan begitu saja sebungkus roti yang kuyakini sudah mulai dingin. Dengan yakin kuanggukan kepalaku kepadanya. Senyuman tergores dikedua sudut bibirnya, senyuman yang membuat matanya ikut tersenyum.copyright protection152PENANAO6SIq6Qx7S

.copyright protection152PENANAwfVSoBuuBp

.copyright protection152PENANAIGlKRREM2f

[delapan]copyright protection152PENANAgRm8zMepkm

Kedua telapak kakiku kini berlari menyusuri padang rumput yang menenangkan –kembali tanpa mengenakan alas kaki. Dapat kurasakan sinar mentari yang hangat menyapa kulitku.copyright protection152PENANAiQBdJ0Pdur

Senyuman lebar tidak mengendur dari kedua sudut bibirku sedari tadi. Kedua pendengaranku dapat menangkap teriakan kecil kebahagian darinya. Sepertinya ia sangat bahagia. Pasti ia juga tersenyum lebar sama seperti ku.copyright protection152PENANADd8YXZPCMS

Tak terhitung berapa langkahku menyusuri padang rumput ini. hingga perlahan jemarinya yang mungil menepuk pelan pundakku, memintaku untuk berhenti. Sepertinya ia menyadari aku sudah terlalu lelah untuk berlari.copyright protection152PENANAS2Kebk1pKl

“aku mengerti.” Sahutku padanya. Kini aku duduk dihamparan padang rumput yang luas.copyright protection152PENANAM3cohWo6aS

“terima kasih hyung” katanya sambil tersenyum. Aku mengangguk kecil, kemudian mengusap surai hitamnya pelan.copyright protection152PENANAyN6GL3GBGt

“tidak ada beban lagi. Aku akan tenang sekarang.” Pandangannya menyapu keatas.copyright protection152PENANAuyweMHzO7j

“apa maksudmu?” aku mengerutkan kedua alisku. Pernyataan yang disampaikannya, menurutku itu terdengar begitu ambigu. Apa yang sedang dipikirkan namja yang lebih muda dariku ini?copyright protection152PENANAaTmmhDjGKu

“terima kasih untuk membantuku meraih harapanku. Itu benar tidak ada salahnya menggantungkan sedikit harapan pada langit. Sedikit saja. Bocah itu memang benar.” Ia terkekeh kecil. Menyadari betapa benarnya bocah itu. Aku tersenyum kecil –ikut membenarkan apa yang disampaikannya.copyright protection152PENANAyjhE03IGFp

“dan juga, terima kasih sudah menjadi kedua kakiku hari ini. saat menutup kedua mataku, aku dapat merasakan bahwa akulah yang sedang berlari. Maaf membuatmu merasa lelah.” Kini ia menatapku dengan senyum tipis. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku.copyright protection152PENANAa9YGoLoXzv

“tidak itu tidak benar. Aku hanya inngin membantumu meraih harapanmu.”copyright protection152PENANAgJpD6Ghpm1

“akhirnya untuk pertama kalinya setelah lima tahun aku dapat berlari, meski tidak dengan kedua kakiku sendiri. Tapi aku merasa sangat bahagia.” Airmata mulai membasahi kedua pipinya. Aku memeluknya erat, berusaha menyampaikan padanya bahwa aku tidak akan menjauh dari siapapun lagi.copyright protection152PENANATVkbAkej1U

Isakannya semakin menjadi. Dapat kurasakan kemeja yang kukenakan basah oleh airmatanya. Sesekali jemari kasarku mengusap pelan punggungnya.copyright protection152PENANAIc3HSrsgo1

“mari kita pulang. Jangan lupa untuk memakan rotinya ya? Itu dari yoongi hyung.” Ia melepaskan diri dari dekapanku. Senyum tulus tergores diwajahnya. Ia mengangguk pelan sambil menyeka kedua ujung matanya.copyright protection152PENANAMFKbjRRAge

“sebelum hari ini berakhir, aku akan memakan rotinya. Sampaikan ucapan terima kasihku pada semua orang.”copyright protection152PENANABaaWlKhA4i

Dan pada akhirnya matahari mulai pulang ke peraduannya. Menyisakan seberkas kejinggan disana. Kami pulang kerumahnya dengan senyuman yang mengembang. Dengan aku yang menggendongnya dibelakangku, dengan aku menjadi kedua kakinya.copyright protection152PENANAvNuyun0WEo

Dia seseorang yang kehilangan kedua kakinya 5 tahun lalu karena kecelakaan kereta. Sehari sebelum kecelakan kereta, kedua orangtuanya meninggal tanpa sebab. Dan pada hari itu ia melepaskan seluruh harapannya. Hidup tanpa harapan. Tanpa senyuman.copyright protection152PENANAYq4JBnAsXR

Hari ini senyuman tulus pertama setelah lima tahun terukir diwajah kurusnya. Tubuhnya yang semaki hari semakin mengenaskan, membuatku tidak sanggup menatapnya. Ia hidup seorang diri. Ia hidup hanya karena belas kasihan warga desa akan nasibnya. Namun sekalipun ia tidak pernah mengasihani dirinya sendiri. Menyalahakan semua takdir buruk itu pada kelahirannya.copyright protection152PENANAHz1RvnCNYG

Dia –park jimin. Namja yang matanya ikut tersenyum jika bibirnya tersenyum. Netranya yang bagai bulan sabit bila tersenyum.copyright protection152PENANA5ttA2XY2TC

Dia –park jimin. Seorang pemuda yang bernasib sama, dipecundangi berulang kali oleh waktu.copyright protection152PENANArS2vBDTb6R

.copyright protection152PENANA2Nq3FWrhJp

.copyright protection152PENANAYPTrqVpoYj

[sembilan]copyright protection152PENANA1pb3UMHOXN

Aku kembali mengitari pasar yang begitu ramai. Para pedagang sibuk menjajakan dagangannya yang beragam. Mulai dari berbagai jenis sayuran, ikan, daging ayam, pakaian, hingga lainnya.copyright protection152PENANAFZB63h2vyM

Tujuan awalku kemari bukanlah membeli sesuatu. Uangku saja sudah sekarat dalam dompet. Ya dompet tipis –itulah julukanku. Aku hanya sibuk mencari kakek tua yang bersedia meminjamkan bukunya secara percuma. Meskipun pendidikanku tidak berlanjut –putus sekolah. Namun aku selalu menyempatkan diri kemari. Sekedar membaca berbagi macam buku agar menambah pengetahuan. Aku iri pada mereka yang bisa mengenyam bangku pendidikan yang tinggi.copyright protection152PENANAVxCOY3KnrI

“halo kakek..” sapaku hangat. Diusianya yang sudah tidak muda lagi, kakek itu masih saja terlihat sehat dan bugar.copyright protection152PENANAHs7Sw2EdQC

“halo namjoonie. Aku ada buku baru, bacalah.” Senyum manis terukir diwajahnya yang keriput. Aku tersenyum senang. Kedua netraku pasti berbinar saat ini. buku baru adalah hal yang kutunggu. Ya sekitar satu minggu untuk memesannya kata kakek. Karena memesannya dikota.copyright protection152PENANA1wBCCFTFas

Dengan cepat aku segera duduk, mengambil buku yang masih baru –terlihat dari sampulnya, lalu duduk dengan tenang membacanya. Tidak berselang lama, teriakan warga mengecoh konsentrasiku.copyright protection152PENANAr6Z4UY7Fmz

“MALING!!”copyright protection152PENANAn32vVyyAMo

“MALING!! KEJAR DIA!!”copyright protection152PENANAcNVOqxukcF

“JANGAN BIARKAN DIA LOLOS!!”copyright protection152PENANAMELMIFLPl8

Ada maling. Berbaju hitam dan melewatiku begitu saja secepat angin. Tunggu.. sepertinya aku mengenalinya. Bukankah dia? Tunggu.. apa jangan-jangan..copyright protection152PENANAoJbqe7ZMIL

Dengan cepat aku segera memacu lariku. Meninggalkan begitu saja buku yang belum sempat kubaca. Saat ini yang ada dipikiranku hanyalah tentang namja itu. Sepertinya aku dapat mengejarnya, terbukti dengan lengannya yang dapat kuraih. Secepat yang kubisa, aku segera menariknya bersembunyi di sebuah gudang kosong. Tidak akan ada yang melihat kami disini.copyright protection152PENANAbUz6JZEdjQ

Aku menghela napas berulang kali. Menghirup kemudian menghembuskannya, mencoba mengembalikan detak jantungku menjadi normal. Kulihat wajahnya yang masih sama –namun tertutup topi hitam yang dikenakannya. Ia juga menghela napasnya berulang kali –sama sepertiku.copyright protection152PENANAS6vDTdjF3E

“apa kabar?” tanyaku padanya. Ia menoleh dengan gemetar.copyright protection152PENANANsnZSC7SpP

“aku? A-aku baik.” Cukup singkat. Berbeda dengan dirinya yang dulu.copyright protection152PENANAEBKdItcmGw

“mengapa sekarang ka-copyright protection152PENANAdyCIcwWvbZ

“tidak memiliki uang. Dan kau tahu apa alasannya.” Selanya secepat yang ia bisa. Kulihat ia menghela napas panjang. Aku tahu, harusnya aku tahu alasannya akan hal yang ia lakukan.copyright protection152PENANAaZrxYka5cz

“bagaimana keadaannya?” tanyaku kembali. Ia tidak menatapku, netranya diedarkan pada pintu masuk gudang kosong.copyright protection152PENANAVQbF4T8ggO

“kau tahu.”copyright protection152PENANANunqczW958

“jangan bersikap dingin seperti itu.” Kataku lirih.copyright protection152PENANA8f7AN5VXb8

“kalian yang memaksa kami seperti itu!” nadanya agak sedikit membentakku –meskipun aku lebih tua darinya.copyright protection152PENANAx6ZIL3CUkT

“kami salah. Kita salah. Dengan pergi tidak ada yang terselesaikan. Harapan yang kita gantungan pada langit biru yang cerah, harapan itu perlahan kita tarik kembali. Aku hanya ingin mewujud sebagai mimpi kalian semua.” Ia terdiam. Perlahan airmata mulai membasahi kedua pipinya.copyright protection152PENANAJ7n7xzGuJM

“kau benar hyung. Bantu aku mewujudkan harapanku.” Isakannya semakin terdengar jelas.copyright protection152PENANACR1KsOQnM1

“aku tahu. Aku akan membantumu membuat jungkook tersenyum lagi.”copyright protection152PENANAvj8u2UyFOS

.copyright protection152PENANAyyZVFxvm1e

.copyright protection152PENANA8E69oyYeWK

[sepuluh]copyright protection152PENANAgs4pX7jvM8

“jungkook…” aku memanggil namanya dengan hati-hati. Takut-takut kalau kedatangan kami tidak membuatnya bahagia.copyright protection152PENANAnkGnflVLHW

Aku tidak sendirian sekarang. Aku sudah berhasil membawa yoongi hyung, hoseok, dan juga jimin kemari. Melalui sederet permohonan pada mereka, akhirnya mereka mau datang kemari –kerumah jungkook dan taehyung.copyright protection152PENANAZPB5Z0EYeA

Kami bertujuh bersahabat sejak kecil. Ya tidak terlalu kecil juga. Kira-kira semenjak aku duduk dikelas 4.copyright protection152PENANAIv2NUZUdvH

Saat kami lulus smp, kami semua mulai berubah. Ya kami hanya lulusan smp. Jika ingin melanjutkan ke sma harus ke desa sebelah. Karena desa kami yang masih terbelakang waktu itu. hanya ada sekolah sampai jenjang smp. Uang lagi-lagi penghalang kami untuk bisa meneruskan sekolah.copyright protection152PENANAmS12ghob25

Kami saling berjauhan. Tidak menyapa dengan hangat lagi, juga mulai melupakan kenangan lampau –akan masa masa kami bersama. Ada banyak kenangan yang kami ingat, namun kami berpura-pura melupakan.copyright protection152PENANA82VK7VKLTZ

Aku tahu saatnya untuk melupakan semuanya. Menyatukan semuanya kembali. Kemudian aku bisa tenang.copyright protection152PENANAmCupqpokDT

“namjoon hyung? Itu kau bukan?” Tanya nya padaku. suaranya begitu kecil, seperti bisikan angin.copyright protection152PENANA1ZM323lqeo

“iya ini aku. Tebak siapa yang datang.”kini kulihat taehyung mulai menangis. Air mata terus mengalir dari kedua ujung matanya. Tetapi ia menahan isakannya –agar jungkook tidak bersedih.copyright protection152PENANAwnqs7ynRkh

“kalian semua datang?” nada kalimat yang terlontar dari bibir pucatnya kini naik satu oktaf. Aku tersenyum simpul. Kuanggukkan kepalaku kecil –membenarkan pertanyaannya.copyright protection152PENANAQGTl5jKuEn

Kini ia berbalik. Semula ia duduk membelakangi kami, duduk di sebuah kursi kayu reyot dengan memegang sebuah buku lama. Senyuman mengembang indah diwajahnya. Ia memang paling rupawan diantara kami. Saat ia tersenyum, wajahnya sangat indah seperti bunga yang mekar.copyright protection152PENANAoGnbKpe5Pt

Semua terdiam. Tidak ada yang berani membuka suara. Senyuman yang sudah kami siapkan dengan sempurna mengendur dengan pasti –terkecuali taehyung. Kurasa inilah alasan yang jelas mengapa taehyung mencuri tadi. Keadaan lagi-lagi membuat semuanya terlihat rumit.copyright protection152PENANAtmRUOYsbQM

Taehyung menggigit bibir bawahnya. Ia berusaha menahan isakan yang mencoba lolos dari bibirnya.copyright protection152PENANAtGtm2zGM4l

“kau menangis hyung?” jungkook memegang lengan taehyung. Sepertinya ia sangat mengetahui banyak hal sekarang. Ia menjadi lebih peka –dari sebelumnya.copyright protection152PENANAat1xEMWTRM

Taehyung menggeleng pelan. Jemarinya balas menggenggam erat jemari jungkook. Tidak ada satupun dari kami yang tidak menangis saat itu. kami berusaha mati-matian menahan isakan kami –sama seperti taehyung.copyright protection152PENANAnl8egXcI82

“sebenarnya tidak se-copyright protection152PENANAvBJZYMyFyD

“apa jin hyung disini?” ia menyela kalimatku.copyright protection152PENANA0J62hKOdEG

“…” kami semua terdiam. Tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu dengan jawaban apa.copyright protection152PENANA0129gi6t1f

“aku tahu. Jangan dilanjutkan.” Ia melanjutkan sendiri kalimatnya.copyright protection152PENANAvxRfwQ15vA

“jungko-copyright protection152PENANAIwjPyAAmOe

“terima kasih.. kalian sudah mau datang mengunjungiku. Aku pikir sampai aku mati, kalian tidak sudi melihat wajahku. Maaf sudah membuat semuanya berubah.” Ia kembali menyela.copyright protection152PENANA3Pg5Zwn5Zp

“tidak jungko-copyright protection152PENANAlvWdLt3Nyz

“aku tahu. Tapi bisakah kalian mewujudkan harapan terakhirku? Aku janji ini adalah harapan yang terakhir. Tidak aka nada harapan lagi nantinya.” Airmata mengalir dari kedua ujung matanya. Tetapi isakan sema sekali tidak keluar dari bibir pucatnya.copyright protection152PENANAnh5H6DiG07

Kami semua menangguk.copyright protection152PENANAV3Xb8WIw2H

“apa itu?” kini yoongi hyung membuka suara.copyright protection152PENANAVodSBYlELU

“antar aku menemui jin hyung.”copyright protection152PENANAe9bjQiX9ZX

.copyright protection152PENANAgU1e6aaOHd

.copyright protection152PENANAwDBJvcIQRt

[sebelas]copyright protection152PENANAK5DWptfmDe

Kereta yang kami tumpangi membawa kami menuju busan. Kami semua sepakat untuk mengantarkan jungkook menemui jin hyung.copyright protection152PENANAkU9m8gwj5e

Setelah mengalami sederet permasalahan, akhirnya kami mendapatkan uang untuk pergi kesana. Yoongi hyung kali ini mencoba melawan. Gaji yang belum dibayar selama dua bulan, yoongi hyung mendesak bosnya hingga akhirnya bosnya mau memberikan gajinya –meskipun kurang dari setengah yang dijanjikan.copyright protection152PENANAwBR7lmj3db

Hoseok memecahkan celengan ayam kesayangannya. Lalu uang itu diberikannya pada yoongi. Aku menagih janji tuan tanah mengenai gaji mengurus sawahnya. Semua uang itu kami gabungkan menjadi satu, lalu kami segera membeli tiket kereta sebanyak enam buah. Sisanya kami gunakan sebagai uang makan selama disana.copyright protection152PENANAxXgaUFE92h

“mengapa firasatku tidak enak ya namjoon?” yoongi hyung yang duduk bersebelahan denganku memegang lehernya. Aku menggeleng pelan. Ia menghembuskan napas dalam, mencoba mengusir perasaan aneh yang dirasakannya.copyright protection152PENANAombxJkNfDT

Jujur sebenarnya aku juga merasakan perasaan aneh. Sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Firasat buruk.copyright protection152PENANAt9ukhQHBTU

“hyung..” jungkook memegang bahuku.copyright protection152PENANAMrS3BMJgWL

“ya? Ada apa?” aku menoleh kepadanya. Ia tersenyum –senyum yang aneh.copyright protection152PENANAxl8JSR4G7H

“sepertinya kita tidak bisa menemui jin hyung ya?”copyright protection152PENANAzBR4W9UDKO

.copyright protection152PENANAyxgqASdk8a

.copyright protection152PENANA5Gveqo6u5e

[dua belas]copyright protection152PENANAcFP4KMdEqY

Untuk namjoonie,copyright protection152PENANAtYvJp6BDqK

Namjoon.. apa kabar? Sepertinya ini surat pertamaku sesampainya aku di busan. Disini menyenangkan namjoon. Laut dan pemandangannya. Andai kita semua bisa kemari. Sekarang aku sendirian disini. copyright protection152PENANAOwqjKQIRlN

Ini sepertinya surat yang pertama sekaligus yang terakhir namjoon. Aku memutuskan mengakhiri semuanya disini –busan. Saat senja tiba. Aku merindukan senja bersama kalian.copyright protection152PENANA5xtUCdHPS7

Titip pesan untuk yoongi, bilang padanya untuk bekerja keras dalam meraih mimpinya. Bilang pada hoseok untuk selalu semangat, kehilangan satu kaki itu tidak merubah segalanya. Ia harus kuat agar ia dapat menjadi composer nantinya. Untuk jimin, bilang padanya bahwa aku menyayanginya. Jadilah kedua kaki untuknya namjoon. Titip pesan juga untuk taehyung dan jungkook. Bilang pada mereka untuk jangan khawatir, aku tidak membenci mereka. Meskipun mereka berdua telah membuat tunanganku gila. Ya bilang seperti itu. aku menyesal, telah menarik dengan keras kursi yang dulu diduduki jungkook. Aku tidak pernah menyangka itu akan membuatnya kehilangan penglihatannya. Tapi itu sebenarnya cukup pantas untuk dia dapatkan.copyright protection152PENANAOl5j5vqG9R

Nah namjoon.. aku ke busan karena orang tua Ye jin meneleponku. Tebak apa yang mereka katakan.. kau tidak bisa? Baiklah, mereka mengatakan bahwa Ye jin membunuh dirinya sendiri. Tragis bukan? Padahal aku ingin melamarnya saat ia sembuh. Semua karena kakak beradik sialan itu! Tapi aku tidak akan bersikap tidak dewasa lagi. copyright protection152PENANAqXnRh8HZZ3

Jadi.. aku memutuskan untuk membunuh diriku sendiri. Setidaknya aku dan Ye jin akan bisa bersama. Jadi hiduplah dengan baik. Jangan lupa memakai alas kaki, nanti kakimu terluka lagi.copyright protection152PENANAN4AgZcuG2m

Tinggal beberapa detik lagi, reaksi racun yang kuminum mulai bekerja. Terima kasih namjoon mau menjadi sahabatku selama ini. aku sangat menyayangimu.copyright protection152PENANANQHTaMpBty

10 detik lagi.copyright protection152PENANAsUvPMNXtMX

Namjoon aku tidak bisa mempercayainya lagi. Meskipun itu untuk sekali lagi.copyright protection152PENANAxA18R1klHn

.copyright protection152PENANAHvepopcO0G

.copyright protection152PENANAmtASjmFhQs

[tiga belas]copyright protection152PENANAen2gvThQeY

Harapan ku hanya satu. Agar persahabatan kita kembali. Pada akhirnya apa yang aku perjuangkan berbuah dengan manis. Semuanya mulai kembali, kenangan yang mulai memudar, juga wajah-wajah yang kurindukan.copyright protection152PENANAeWutlSSyHT

Saat satu lagi harapanku terwujud, semua yang tidak diharapkan itu muncul. Membuat lidahku terasa kelu, tubuhku mati rasa, seakan rasa sakit tidak dapat lagi kurasakan.copyright protection152PENANAe3nPWGbBX2

Semuanya terasa melayang. Bunyi decit tak terhindarkan, juga suara-suara memekak kan telinga. Pada akhirnya tidak ada yang terdengar. Tidak ada lagi yang dapat terlihat –kecuali senyuman kalian semua.copyright protection152PENANA3bq6rW0JNf

Pada akhirnya kini aku terbangun. Segala yang kupikir mimpi buruk, bahkan semua ini lebih dari mimpi buruk.copyright protection152PENANAI2bcvx5o5M

Tubuh-tubuh yang membeku. Jemari-jemari yang terasa dingin. Pada akhirnya aku berlari sendiri, menyusuri jalan gelap yang seakan tak berujung.copyright protection152PENANAijQF8Mlkni

Dan pada akhirnya, tidak ada yang tersisa.copyright protection152PENANAnruOyWKyFy

Semuanya telah pergi. Dan aku sendiri disini. Menatap keenam makam yang saling berjajar. Dibawah senja yang senantiasa merangkulku layaknya kalian. Pada akhirnya hanya senjalah yang tersisa bersamaku –selain kenangan indah dan menyakitkan.copyright protection152PENANANoAYA6vFuB

Aku telah mewujud sebagai mimpi kalian semua. Aku telah berhasil, walau pada akhirnya kalian semua pergi. Hanya isakan yang memenuhi tempat ini. isakan yang keluar tanpa henti dari bibirku.copyright protection152PENANAsMUir34Nos

Seperti kenangan yang dulu kita habiskan. Bisakah aku mempercayai semuanya lagi? Bisakah aku percaya sekali lagi, bahwa harapan itu ada?copyright protection152PENANA6LUBzsxk0d

Jika bisa, aku ingin kalian kembali. Aku ingin kalian memegang bahuku dan tersenyum lebar padaku. Menunjukan ciri khas kalian masing-masing yang kurindukan.copyright protection152PENANASNBtMcziR3

.copyright protection152PENANATkQOCiSH5g

.copyright protection152PENANA9c13NBwlVw

[empat belas]copyright protection152PENANAyNkah6mQoe

Pada akhirnya, senja jugalah yang merangkul kalian semua untuk pulang.copyright protection152PENANAUiyK6a2YS8

.copyright protection152PENANAe1lg58RBtN

.copyright protection152PENANA82BscSzzIX

author note: thank you for reading my story. this is bts fanfiction. i hope you all like it. thank you very much^^copyright protection152PENANANCflnmwqko

54.80.198.173

ns54.80.198.173da2
Comments ( 0 )

No comments yet. Be the first!
Loading...
X