Jam dinding berdentang sepuluh kali saat hujan deras tiba-tiba mengguyur atap rumah kami, seolah alam sendiri ingin mengusir para tamu yang sudah berjam-jam betah duduk melingkar. Biasanya pengajian di komplek ini tak pernah selama ini, tapi malam ini, Kyai Farid yang biasanya cerewet soal disiplin waktu justru terus menerus "lupa" menutup ceramahnya. Matanya yang hitam pekat itu bolak-balik antara Tania di kirinya yang kini duduk dengan posisi lebih dekat dari sopan, dan Devita di kanannya yang hijab longgarnya sudah melorot sampai memperlihatkan rambutnya yang harum.
326Please respect copyright.PENANA2nY7gu1gzQ
Pak RT adalah yang pertama mengangkat tangan sambil menggosok-gosok perutnya yang buncit seperti orang yang baru saja kenyang meski hanya makan kue. "Wah, sudah larut nih," ujarnya dengan suara serak, tapi matanya yang keruh itu tidak lepas dari Tania yang sedang membungkuk mengambil piring. Tangannya yang besar dan berkeringat itu menjulur ke arahku untuk salaman, tapi tubuhnya condong ke arah Tania seolah magnet. "Makasih jamuannya, Dedi."
326Please respect copyright.PENANAGoR91S2QZV
Aku merasakan genggamannya yang lembab dan terlalu kuat, tapi yang membuat telingaku panas adalah bagaimana ia segera beralih ke Tania. Tangannya yang kasar itu menggenggam tangan Tania terlalu lama, jempolnya menggosok-gosok punggung tangan Taniaku yang halus dengan gerakan yang jelas bukan sekadar salam biasa. "Istri Dedi memang selalu..." napasnya berat, "...terawat ya."
326Please respect copyright.PENANAqLLSVMNbkO
Tania tersenyum kecil, tapi aku melihat bagaimana jari-jarinya mencoba melepaskan diri dari genggaman Pak RT yang semakin erat. Daster kuningnya yang sudah lembab itu bergerak saat ia mencoba mundur, memperlihatkan lebih banyak kulit dari bahunya yang halus. "Terima kasih sudah datang, Pak," ucapnya dengan suara yang terlalu tinggi, tapi Pak RT tidak segera melepaskan.
326Please respect copyright.PENANAFAvuRWT8fk
Dari sudut mataku, aku melihat Mas Gino sudah mengantri di belakang Pak RT, matanya yang kecil itu menyapu tubuh Devita dari ujung kepala sampai kaki. Saat gilirannya tiba, tangannya yang kasar itu langsung menggenggam tangan Devita dengan cara yang membuat jantungku berdebar kencang. "Anak Dedi sudah gede ya," bisiknya sambil jempolnya mengelus-elus pergelangan tangan Devita yang halus. "Dulu masih kecil..."
326Please respect copyright.PENANAXNf597As20
Devita tersipu, tapi aku melihat bagaimana ia tidak langsung menarik tangannya. Hijab longgarnya bergerak saat ia sedikit membungkuk, seperti memberi ruang lebih bagi Mas Gino untuk terus memeganginya. "Terima kasih sudah datang, Mas," ucapnya dengan suara kecil yang sengaja dipelankan, membuat Mas Gino tersenyum lebar, giginya yang kuning terlihat jelas.
326Please respect copyright.PENANAmy0yXo5tfV
"Anaknya sekarang semester berapa, ya?" Mas Gino bertanya dengan suara serak sambil menggeser posisi duduknya lebih dekat ke Devita. Tangannya yang kasar itu menepuk-nepuk paha sendiri dengan ritme gugup, sementara matanya yang kecil dan tajam seperti tikus itu tidak sekali pun mengarah ke wajah Devita, terpaku di bagian dadanya yang bergerak naik turun di balik hijab longgar.
326Please respect copyright.PENANAN6PbfQRz1j
Devita tersenyum kecil, tanpa menutupi dadanya seperti biasanya. Justru ia sedikit mencondongkan badan ke depan saat menjawab, "Semester lima, Mas. Skripsi mulai tahun depan." Suaranya sengaja dipelankan, membuat Mas Gino harus mendekatkan kepala ke arahnya, posisi yang membuat wajahnya hampir sejajar dengan belahan dada Devita.
326Please respect copyright.PENANAzecUGW0C4o
Aku melihat dengan mata yang semakin panas bagaimana Mas Gino menelan ludahnya keras-keras saat pandangannya tersangkut di lekukan payudara Devita yang jelas terlihat dari sudut ini. Bibir atasnya yang pecah-pecah itu menjilat bibir bawah dengan gerakan lambat, seperti orang yang menikmati bayangan makanan lezat. "Wah... berarti sebentar lagi lulus," ucapnya sambil tangannya membuat gerakan melingkar di udara, bukan menggambarkan kelulusan, tapi jelas merujuk pada sesuatu yang lebih... fisik.
326Please respect copyright.PENANARkl9fMPFFL
"Kalau... kalau nanti sudah kerja, jangan lupa sama komplek ya," lanjut Mas Gino dengan suara semakin serak. Tangannya yang berkeringat itu bergerak tak menentu, sesekali menyentuh lutut Devita dengan dalih menyesuaikan posisi duduk. Setiap kali Devita tertawa kecil, sengaja dibuat lebih bergetar dari biasanya, dadanya yang besar itu bergoyang perlahan, membuat Mas Gino tersedak ludahnya sendiri.
326Please respect copyright.PENANAWNG4hlbTPj
Aku berdehem keras, suaranya sengaja dibuat lebih kasar dari biasanya. "Mas Gino, sudah larut nih," ujarku sambil melangkah mendekat, tangan kananku mengetuk-ngetuk jam tangan dengan gerakan yang terlalu tegas. Mataku tidak sekali pun melihat wajahnya, terpaku pada tangannya yang masih mencengkeram pergelangan tangan Devita dengan cara yang membuat otot rahangku mengeras.
326Please respect copyright.PENANA5NYvh6wGBp
Mas Gino tersentak seperti anak ketahuan mencuri, tapi yang membuat telingaku panas adalah bagaimana ia tidak langsung melepaskan genggamannya. Jari-jarinya yang kasar itu masih melingkari pergelangan tangan Devita selama dua detik yang terasa seperti dua jam, jempolnya menggosok-gosok kulit halus Devita dengan gerakan terakhir yang jelas bukan sekadar salam biasa. "Iya, iya," gumamnya dengan suara serak, baru berdiri setelah aku melangkah lebih dekat lagi, jarak yang sengaja kubuat terlalu dekat untuk disebut sopan.
326Please respect copyright.PENANAhNyRXYZowl
Tapi yang membuat dadaku sesak, Devita tidak menarik tangannya dengan cepat. Malah, ia tersenyum kecil pada Mas Gino dengan ekspresi yang membuatku merasa seperti orang asing di rumah sendiri. "Besok-besok main lagi ya, Mas," ucapnya dengan suara manja yang biasanya hanya ia gunakan untukku, sambil dengan sengaja membetulkan hijab longgarnya yang melorot, gerakan yang justru memperlihatkan lebih banyak kulit lehernya yang halus.
326Please respect copyright.PENANAoZge7x2WBB
****
326Please respect copyright.PENANA3xDd561UGn
Semua bapak-bapak kini sudah pergi pulang, sebagian besar lari terbirit-birit di tengah rintik hujan dan dinginnya angin malam. Sementara itu Kyai Farid masih duduk di ruang tamu dan sepertinya enggan beranjak.
326Please respect copyright.PENANAMgsq45P9Gg
Kyai Farid menggulung sedotan plastik antara jari-jarinya yang gemetar, matanya, Astaghfirullah, tak pernah benar-benar meninggalkan siluet Tania yang sedang menata piring kotor di meja. Air mineralnya sudah habis lima menit lalu, tapi sedotannya masih bergerak-gerak tak karuan, mengeluarkan suara cempreng yang memecah kesunyian ruangan. Hujan deras di luar jendela seperti tirai tebal yang mengurung kita semua dalam ruang beruap panas ini.
326Please respect copyright.PENANAiAyzobmmhI
Aku mengamati dari sudut dapur bagaimana Kyai Farid menggeser posisi duduknya, bukan ke arah pintu, tapi mendekati sofa tempat Devita sedang duduk sambil memainkan ujung hijabnya yang lembab. Jubah putihnya yang biasanya rapi kini berkerut di bagian paha, membentuk lipatan-lipatan aneh seolah ada sesuatu yang disembunyikan di baliknya. "Anak muda sekarang..." ujarnya tiba-tiba dengan suara serak yang sama sekali tidak seperti suara pengajiannya yang merdu, "...sangat... eh... rajin beribadah ya." Tangannya membuat gerakan melambai yang tidak wajar ke arah Devita, seolah memuji hijabnya yang sudah melorot sampai memperlihatkan rambut hitamnya.
***
326Please respect copyright.PENANA4AbmSukWCe
Kini saatnya aku bersih-bersih, meski kyai juga belum beranjak pulang. Tapi aku tiba-tiba membeku, saat kain tikar yang sedang kugulung tiba-tiba terasa berat di tangan. Kyai Farid membungkuk seolah membantu merapikan, tapi bibirnya yang masih basah oleh air mineral tadi mendekat ke telingaku. "Sedekahkan mereka sekarang juga," bisiknya dengan suara bergetar yang sama sekali tidak seperti nada ceramahnya yang biasanya percaya diri. Napasnya panas dan cepat, seperti anak kecil yang memohon permen. "Seperti yang aku ajarkan tadi."
326Please respect copyright.PENANAU1bv0SLgwG
Tanganku menggenggam tikar lebih kencang. Selama ini kupikir itu hanya ilustrasi dalam ceramah, metafora tentang kedermawanan. Tapi Kyai Farid menatapku dengan mata yang tidak main-main, sementara tangannya menekan pahaku dengan gerakan yang jelas bukan sekadar dorongan biasa. "Tidak perlu cerai," bisiknya lagi, suaranya serak tapi tegas. Ia menggeleng, jubah putihnya bergerak aneh di pangkuannya. "Tania tetap istrimu, hanya...sedekah sementara."
326Please respect copyright.PENANAjnhps4YWPj
Dari sudut mataku, aku melihat Tania sedang membungkuk mengambil gelas-gelas kosong di meja tamu, daster kuningnya yang lembab itu menempel erat pada lekuk tubuhnya. Kyai Farid mengikuti pandanganku, lalu tersenyum kecil, senyum yang membuat perutku bergetar aneh. "Pahalamu akan besar," bisiknya lagi, lalu, Astaghfirullah, tangannya membuat gerakan melingkar di udara, persis seperti bentuk payudara Tania yang bergoyang saat ia berjalan. "Sangat... sangat besar."
326Please respect copyright.PENANAR4k2q5YewG





