×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Action
Online Game
Start Point
Writer Izul
Writer
  • G: General Audiences
  • PG: Parental Guidance Suggested
  • PG-13: Parents Strongly Cautioned
  • R: Restricted
PG
RATED
2975 Reads
28 Likes
3 Bookmarks
Popularity

Facebook · Twitter

FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018

Get it on Google Play

Download on the App Store

Follow Author
Start Point
3 Bookmarks
A - A - A
7 8 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19
#13
START Point Phase 2 (Issue 8 - 12)
By Izul
Izul
Jan 17, 2017
1
0
233
151 Mins Read
No Plagiarism!JUfsV6zCDYuFceM33OUsposted on PENANA

Satu tahun sudah berlalu sejak saat itu dan dua bulan sudah berlalu sejak perilisan game Start Point keseluruh penjuru duniacopyright protection233PENANAm4St4umnba

Satu tahun sudah berlalu sejak saat itu dan dua bulan sudah berlalu sejak perilisan game Start Point keseluruh penjuru dunia. Game Start Point mendapat sambutan hangat dari pemain dan kritikus. Dengan gameplaynya yang unik dan memuaskan, game ini langsung menjadi salah satu game paling populer didunia. Servernya yang lancar dan juga banyak membuat meledaknya jumlah pemain yang ada didalam game. Bahkan, sudah beberapa minggu berlalu dan Start Point tetap menjadi topik hangat di media sosial. Bahkan saat disekolah. Ngomong-ngomong, sekarang aku, Zaki, Sindy, dan Leila sudah menjadi seorang murid SMA. Di kota ini, hanya terdapat tiga sekolah SMA sehingga membuat kami berempat lagi-lagi satu sekolah. Berbeda dari sebelumnya, kali ini kami menjadi satu kelas.copyright protection233PENANANV52o09YCN

Kembali ke topik utama, dengan kacamata khusus— tidak, dengan GFP atau Google For Player, aku bahkan bisa melihat banyak pemain dimana-mana. Bahkan aku bisa melihat salah satu dari mereka yang sedang bertarung dilapangan sekolah. Melawan seekor monster singa raksasa. Tetapi itu bukanlah urusanku.copyright protection233PENANAW6s9keco36

Aku melepas kacamata GFP, lalu berjalan kekantin. Aku menaiki anak-anak tangga menuju kelantai tiga. Melangkahkan kakiku melewati kerumunan murid-murid yang sedang asik membicarakan game Start Point. "(Dimana-mana, topiknya selalu saja sama. Apa mereka tidak bosan?)" Sesampainya dikantin, aku tak menyangka bahwa aku akan dihadapkan dengan sebuah antrian panjang. Antrian ini disebabkan oleh roti-roti isi yang rasanya sangat enak yang dijual dikedai kantin. Namun bukan itu yang menjadi masalah, tetapi jumlah dari roti tersebut yang terbatas. Akibat dari rasanya yang enak, membuat para murid berbondong-bondong untuk membelinya. Untuk menghindari suatu hal yang tak diinginkan, pihak kantin terpaksa membuat sebuah sistem antrian. Setelah beberapa menit mengantri, akhirnya aku mendapat giliranku untuk membeli roti tersebut. Namun, ternyata roti yang enak tersbeut sudah terjual habis. Aku menghela nafasku lalu mengambil satu kantung plastik berwarna putih yang agak transparan. Aku isi kantung plastik itu dengan roti isi coklat yang kubeli.copyright protection233PENANARqbJTfegDq

Setelah membayar roti ini, aku langsung keluar antrian untuk mencari meja untukku memakan roti-roti ini. "Dimo, disini!" Dari sebuah meja yang letaknya tepat disebelah jendela, Zaki melambaikan tangannya memanggilku. Sementara itu, Sindy dan Leila yang sedang asik memakan bekalnya langsung menengok kearahku seketika setelah Zaki memanggilku. Zaki dan Leila yang duduk disebelah jendela dan Sindy yang duduk bersebelahan dengan Zaki. Aku menghampiri mereka dan duduk disebelah Leila. Seketika pipi Leila langsung memerah, dia langsung meminta kepadaku untuk bertukar posisi dengannya yang ada disebelah jendela. Tentu saja, dengan senang hati aku akan menerima permintaannya. Aku menaruh kantung plastik itu keatas meja, lalu mengeluarkan roti isi coklat yang ada didalam kantung plastik dan membuka bungkus plastik yang membungkus roti isi coklat punyaku ini.copyright protection233PENANAqrmvtKwDJ8

Sesuai dengan apa yang kuduga, Zaki, Sindy, dan Leila akan membicarakan game itu. Tetapi, aku sama sekali tak punya niatan untuk bergabung dengan pembicaraan mereka. Aku lebih memilih untuk diam dan memakan roti isi coklatku ini sembari melihat aktivitas sekolah melalui sebuah jendela berbentuk kotak. Walau agak berkabut, aku tetap menikmati aktivitas sekolah seakan-akan kaca jendela yang agak berkabut ini bukanlah sebuah masalah. Tetapi, walau begitu, aku merasa kesepian. Entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak menikmati kesendirianku ini. Tak biasanya aku merasakan perasaan ini. Sebuah perasaan yang hampa, dan sangat tidak mengenakkan. "(Apa sebaiknya, aku kembali bermain saja, ya?)"copyright protection233PENANAqFfTPA81Zc

Seketika, penglihatanku mulai memudar, dankepalaku terasa sangat sakit. Saat kukedipkan mataku, tepat dihadapanku, munculsebuah mata dari monster raksasa dari balik jendela. Sebuah mata yang besartepat menatap kearahku seakan-akan menyadari keberadaanku.    copyright protection233PENANA8QCjAwzPMc

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773copyright protection233PENANAfdDBI7meL5

Tubuhku tak bisa bergerak. Aku tak bisa berpikir jernih dan kepalaku terasa sangat sakit. Aku melirik kearah Zaki dan Leila, namun nampaknya mereka tak merasakannya. Tetapi, saat aku menengok Sindy, nampaknya dia juga mengalami sakit kepala ini. Sindy terus menerus memegangi kepalanya sembari menengok kearah jendela, ketempat dimana monster itu berada. "Dimo?" Zaki menyadari gerak-gerikku yang aneh. "Sindy juga....?!" Leila juga nampaknya mulai menyadarinya.copyright protection233PENANAncLD5BeeCe

Setelah beberapa menit mengalami sakit kepala yang tak tertahankan, akhirnya keadaan kembali menjadi seperti semula. Rasa sakit yang ada dikepalaku mulai hilang, dan penglihatanku kembali normal. Monster besar yang kulihat dari balik jendela juga sudah menghilang. Sindy juga nampaknya sudah kembali seperti biasa. "A-aku tak apa-apa,'kok. (Tadi itu, apa?)"copyright protection233PENANAqL425FzEul

Seperti biasa, aku, Zaki, dan Leila pulang bersama-sama sepulang sekolah. Namun, nampak masih ada rasa penasaran yang muncul dari Zaki. Dahinya terus menerus berkerut, dan dia terus saja melamun sampai pada akhirnya Leila mengajaknya ngobrol. Awalnya, Zaki tak menyadarinya, tapi dia mulai menyadari itu disaat Leila menepuk pundaknya. Leila mencoba mengajak Zaki untuk membicarakan game Start Point, namun nampaknya Zaki agak tidak peduli karena rasa penasaran yang dimilikinya saat ini. Dia sesekali menanggapi pembicaraan itu, namun nampak sekali dia tak peduli. Leila yang menyadari tingkah Zaki langsung meminta maaaf dan berhenti mengajaknya mengobrol. Akibatnya, Zaki mulai merasa bersalah dan berbalik meminta maaf. "Maaf, Leila. Hanya saja, ada sebuah pertanyaan yang terus mengganjal dipikiranku sejak tadi." Zaki berhanti berjalan dan menengok kearahku "Dimo, sebenarnya, tadi itu apa?" Mengikuti Zaki, aku dan Leila serentak ikut berhenti. Aku menggaruk rambutku, lalu kembali berjalan. Aku melangkahkan kakiku seakan-akan aku sendiri tidak peduli dengan sakit kepala tadi, namun sebenarnya, akulaha yang paling penasaran dengan apa yang terjadi tadi "Entahlah...".copyright protection233PENANARKyvmhDJwp

Aku, Zaki, dan Leila melanjutkan perjalanan. Sebuah perjalanan yang tenang dan sunyi tanpa adanya sepatah katapun yang keluar. Namun, seketika perjalanan yang tenang itu menjadi berubah menjadi sesuatu yang tak terduga sama sekali. Lagi-lagi, perasaan yang sama dengan apa yang terjadi tempo hari. Kepalaku mulai sakit, dan penglihatanku mulai memudar. Tubuhku terasa lemas, dan berat. Aku tak sanggup menggerakkannya, sampai-sampai aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. "Dimo?!" Zaki dan Leila langsung menaruh tasnya dan menghampiriku yang terkapar lemas dijalan. Walau samar-samar, aku melihat seorang pemain dan seekor monster yang sedang bertarung tepat diseberang jalan. Tak lama, semuanya mulai menjadi hitam, aku tak bisa melihat apa-apa. Apakah aku pingsan? Atau hanya imajinasiku saja?copyright protection233PENANAPUBAyHbMVO

Aku terbangun. Melihat sebuah atap besi yang dingin yang biasa kulihat dipagi hari. Dengan kasur yang empuk dan selimut yang hangat menutup sekujur tubuhku. Aku menengok kelaci yang tepat ada disebelah kasur. Diatasnya, terdapat semangkuk bubur yang dibungkus oleh plastik transparan. Disampingnya, terdapat sebuah secarik kertas—sebuah catatan. Dari gaya tulisannya yang berantakan, tak salah lagi, ini adalah tulisan Zaki.copyright protection233PENANA1lz5oELXjg

"Dimo, semoga kau baik-baik saja. Oh ya, ini ada semangkuk bubur ayam hangat yang aku dan Leila beli. Kami patungan untuk membelinya, jadi aku dan leila berharap kau memakannya sampai habis. Temanmu, Zaki dan Leila."copyright protection233PENANAjb0RHn9l6G

Aku tersenyum lalu menaruh kembali secarik kertas itu keatas laci "Dasar mereka itu... Terima kasih.". Aku berjalan menghampiri lemari, lalu aku mengambil pakaian biasaku. Aku melepas kancing-kancing kemeja sekolahku, lalu aku menggantungkannya disamping lemari. Aku mengganci celana abu-abu sekolah dengan celana biasa, lalu aku pakai pakaian biasa. Aku memakai sepatu, lalu keluar dari rumah containerku. Berjalan menyeberang jalan menuju ketaman. Kurasa, lebih baik aku mencari udara segar di taman. Udara dingin yang ada, keadaan taman yang sepi, dan lampu-lampu taman yang menerangi jalan. Bintang-bintang dan bulan yang menghiasi langit malam sekan menjadi kesan tersendiri.copyright protection233PENANAKVAmw93IVY

Tak lama kemudian, angin mulai berhembus kencang. Membuat satu persatu daun yang ada dipohon mulai berguguran. Sebuah angin kencang yang nampak tak normal. Tiba-tiba, sebuah dentuman besar mulai muncul. Sebuah suara yang sangat kencang dari tempat yang jauh. Aku yang awalnya berjalan langsung menghentikan langkahku dan mengengok kearah dimana suara dentuman itu berasal. Seketika, putih menjadi hitam, dan hitam menjadi putih. Warna-warna yang ada berubah menjadi warna inverse. Rambut hitamku berubah menjadi putih, langit malam yang berwarna hitam berubah menjadi putih, bulan dan bintang yang memancarkan cahayanya berubah menjadi berwarna hitam. Daun-daun dan rerumputan yang berwarna hijau berubah menjadi berwarna merah muda, celana dan sepatuku yang berwarna coklat berubah menjadi biru. Terjadi dentuman kembali, dan seluruh warna yang ada kembali menjadi normal.copyright protection233PENANAwWk62ILOF5

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773Untuk mencari jawaban, aku langsung berlari menuju kerumah. Aku menengok kesana kemari, semua orang mulai keluar dari rumahnya, dengan satu pertanyaan yang sama "Apa itu tadi?". Lalu lintas menjadi kacau, kemacetan terjadi dimana-mana. Keadaan sangatlah bising. Suara dari klakson mobil dan motor dimana-mana. Tak hanya itu, makhluk-makhluk dan monster mulai bermunculan dimana-mana. Masyarakat yang panik mulai berlarian kemana-mana. Untuk menghilangkan kepanikan publik, polisi mulai mengerahkan pasukannya untuk memberantas monster-monster yang muncul. Tanpa kusadari, muncul seekor monster ular dibelakangku. Monster itu mengibaskan ekornya kearahku, namun aku langsung menunduk dan berlari bersembunyi dibalik pohon. "(Gawat, jika terus begini...)" Aku mengambil sebuah batu bata, lalu melemparkannya kearah yang berlawanan dengan arah kemana aku akan pergi. Suara dari benturan antara rumput dan batu bata itu menarik perhatian monster ular. Monster itu langsung menghampiri sumber suara. Sementara aku langsung berlari menuju kearah rumah. Walau terjadi kemacetan dimana-mana, aku beruntung karena tidak terjadi kemacetan dijalan yang terdapat didepan rumahku. Aku menekan tombol untuk menyalakan televisiku. Di saluran manapun, berita yang disampaikan hampir sama.copyright protection233PENANA4Yg5QYs0jz

"Selamat malam pemirsa. Malam ini, terjadi sebuah ledakan diperusahaan Bum Corp. keadaan perusahaan yang baru-baru ini mengeluarkan gamenya yang berjudul Start Point sangat mengkhawatirkan. Akibat dari ledakan ini, seluruh server dari permainan itu terputus dan membuat seluruh pemain di seluruh dunia terputus dari game. Berikut video amatir detik-detik sebelum ledakan terjadi." Sebuah videopun diputar. Divideo itu, terjadi sebuah gempa di area sekitar perusahaan selama beberapa menit. Tak lama kemudian, keluar sebuah bola berwarna hitam dari dalam gedung. Bola hitam itu terus menerus membesar seakan-akan melahap gedung itu. Warna dari area gedung yang sudah terlahap bola hitam itu berubah menjadi warna inverse. Bola tersebut semakin membesar dan semakin membesar. Merasa terancam, sang perekampun mulai berlari menjauhi bola hitam yang perlahan-lahan semakin besar. Disaat bola hitam itu sudah berukuran dua kali lebih besar daripada gedung Bum Corp. bola hitam itupun meletus dan membuat efek inverse menyebar keseluruh dunia. Semakin merasa terancap, sang perekam semakin mempercepat langkahnya sembari merekam seluruh kejadian sebisa mungkin. Tak lama setelah semuanya kembali seperti semula, sang perekampun berhenti berlari dan berbalik. Namun, sesuatu yang tak diharapkannya muncul tepat dihadapannya. Sebuah makhluk berwarna hitam yang menyerupai manusia menyergapnya dan melemparkan sebuah bola hitam kearah kamera. Membuat seluruh layar kamera menjadi berwarna hitam tanpa setitik cahaya.copyright protection233PENANAG4uhq1qtJm

"Tak salah lagi, itu ulahnya...."copyright protection233PENANAsgjMnmv8ab

"Untungnya, tak ada korban jiwa. Bum Rahmatullah, selaku pemilik perusahaan Bum Corp. diketahui mengalami luka-luka. Walau begitu, sampai sekarang masih belum diketahui pe—" Aku langsung mematikan televisi dan tidur. Ada sesuatu yang harus kuhadiri besok.copyright protection233PENANAdfauk1tN2M

Sejak malam itu, keadaan telah berubah. Menurutkomentar pak Bum diawak media, ledakan yang terjadi menyebabkan dimensi gamedan dimensi didunia nyata menyatu menjadi satu. Sekarang, orang-orang dapatmelihat pemain dan monster tanpa harus menggunakkan GFP. Namun, pak Bum sudahmenjamin bahwa dia akan bertanggung jawab atas kejadian ini. Beliau berjanjiakan mencari cara untuk mencegah adanya korban dengan menciptakan sebuah timkhusus bernama Eraser. Sebuah tim yang bertugas untuk melindungi warga sipil dariancaman monster. Hari ini, sehari setelah malam itu, aku berniat untukmenanyakan kebenaran yang ada kepada pak Bum.copyright protection233PENANAmIRQ0hRrKB

Kaca-kaca pecah, tembok beton yang tebal nan kokoh menjadi hancur, sebuah gedung paling tinggi yang pernah kulihat sebelumnya, sekarang berubah menjadi sebuah gedung yang berbeda. Sebuah keadaan yang sangat kacau. Aku membuka pintu berwarna cokelat, memasuki gedung Bum Corp. menurut berita, aku yakin bahwa pak Bum baik-baik saja. Akibat insiden semalam, pegawai yang bekerja diliburkan sehingga membuat gedung sangat sepi. Insiden itu juga membuat server dari game Start Point menjadi kacau. Apalagi monster yang mulai bermunculan dimana-mana. Aku berharap bisa menemui pak Bum sehingga aku bisa menanyakan secara langsung mengenai apa yang terjadi semalam. Dilorong-lorong yang sepi aku berjalan melangkahkan kakiku menuju keruangan pak Bum. Lampu yang menerangi terkadang mati dengan sendirinya, namun lampu akan menyala kembali tak lama setelahnya. Ruangan turnamen yang kemarin bahkan sampai hancur. Sampai-sampai aku tak bisa memasuki ruangan tersebut dikarenakan puing-puing yang memenuhi ruangan.copyright protection233PENANANdR70etvnE

"Dimo?" Suara seorang perempuan muncul dari belakangku. Suara yang nampaknya kukenal. Membuatku harus menghentikan langkah kakiku untuk menengok kebelakang. Sindy berdiri memegang sebuah buku novel yang nampak sangat baru, menatapku dengan tatapannya yang seperti biasa seakan-akan dia sudah tahu bahwa aku akan pergi kesini "Halo..."copyright protection233PENANAHATR5eTz1V

Aku memasukkan koin-koin uang kedalam mesin penjual minuman kaleng. Memasukkannya sesuai dengan harga minuman coklat yang kubeli. "Jadi, apa yang kaulakukan disini?" Aku mengambil kedua minuman kaleng yang kubeli, lalu duduk disebuah kursi yang tepat bersebelahan dengan mesin penjual minuman. Aku membuka salah satu minuman kaleng dan memberikan yang satunya kepada Sindy. Dia berterima kasih, menerimanya, lalu lanjut membaca novel yang dibawanya. "Sama dengan apa yang ingin kau lakukan disini." Dengan suara yang pelan dia berkata, membuka minuman kaleng lalu meminumnya perlahan-lahan. Aku tersenyum kecut. Sebenarnya aku tahu bahwa dia akan berkata seperti itu, namun aku malah menanyakan hal yang sudah jelas seperti itu "Benar juga...".copyright protection233PENANAlnEceEu65e

Sindy menaruh minuman kaleng itu dikursi, lalu membuka kembali novelnya "Kau juga menyadarinya bukan?". Aku menyeruput minuman kaleng yang sedang kupegang sampai habis lalu melemparnya kearah tempat sampah yang letaknya tak jauh dari kami "Ya....". Disaat yang bersamaan, kak Indra keluar dari sebuah ruangan yang letaknya tepat disebelah dari tempat sampah itu. Menyadari ada kaleng minuman yang baru saja masuk kedalam tempat sampah, dia langsung menengok kearah asal dari minuman kaleng itu berasal—kearah kami "Kalian.....".copyright protection233PENANAHTsy1sNuYa

".... Jadi begitulah..." Mendengar penjelasan Sindy, pak Bum hanya terdiam. Duduk diatas kursi rodanya menatap mejanya dengan tajam melalui kacamatanya, tak lama, dia melepas kacamatanya lalu mengusap wajah "Baiklah, aku akan menceritakan semuanya.". Dia meminta kepada kak Indra untuk mengambil sebuah benda, dengan cepat, Indra mengangguk dan pergi keluar ruangan pak Bum. "Semua ini bermula dari kemarin sore. Tiba-tiba, terjadi sebuah error yang tak wajar didalam server Start Point. Entah kenapa, error ini mengakibatkan beberapa orang pemain mulai mengalami sebuah sakit kepala yang amat sangat." Sindy terdiam, sedikit menggigit bibirnya. Tangannya mulai mengepal dan alisnya mulai mengkerut, seakan-akan dia masih teringat dengan rasa sakit itu. "Lalu, apa bapak tahu apa penyebab dari semua itu?" Aku mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan itu, tapi nampaknya itu tidak membantu.copyright protection233PENANA9FL2xRhqqi

Pak Bum kembali memakai kacamatanya dan melanjutkan penjelasannya "Beberapa jam kemudian, terjadi sebuah error yang sangat besar di arena bertarung. Error itu mengakibatkan para pemain tak bisa memasukinya. Untuk memperbaikinya, kami terpaksa harus membuat seluruh pemain log out. Seusai diperbaiki, aku meminta Indra dan Dinda untuk masuk kedalam game dan mengecek arena. Dari situlah, mulai kacau." Entah kenapa pak Bum berhenti dan menghela nafas. Tak lama kemudian kak Indrapun tiba. Membawa sebuah tablet, tablet yang sama dengan sebelumnya. "Pada awalnya, semua berjalan lancar. Sampai dia muncul." Kak Indra membuka sebuah file video yang terdapat di tablet yang dipegangnya, lalu menyerahkannya kepada kami "Video itu kami dapatkan dari salah satu drone. Sampai saat ini, kami belum menunjukkan video tersebut kepada pihak kepolisian".copyright protection233PENANAmMG0ZUFt1L

Didalam video rekaman tersebut, Shadow Player tepat berdiri didepan drone tersebut, mengacungkan pedang hitamnya yang panjang kearah drone. Dari wajahnya yang kosong, muncul sebuah lekukan berwarna merah, sebuah lekukan yang nampak seperti sebuah mulut. Lekukan tersebut mulai membesar sampai seukuran dengan setengah wajahnya "Mulai sekarang, rencanaku akan segera dimulai. Akan ada perubahan besar! Dan kalian, manusia, bukan bagian dari rencana tersebut." Dengan suaranya yang berat dan mengerikan, dia mengayunkan pedangnya dan menghancurkan drone tersebut bersamaan dengan berakhirnya video. "Menyadari kejadian itu, aku langsung memerintahkan Dinda dan Indra untuk segera keluar dari dalam game. Namun, Shadow Player berhasil meretas sistem dan membuat mereka berdua tak bisa keluar dari dalam game. Dia juga meretas sistem teleportasi dan merusaknya, membuat sistem tersebut tak berfungsi kembali. Aku langsung berinisiatif dengan mematikan server untuk mengeluarkan mereka berdua, namun disaat yang bersamaan, aku terlambat. Shadow Player seketika tepat berdiri dibelakangku."copyright protection233PENANAIIFahGC5aA

Kemarincopyright protection233PENANAfjg1mOSEei

"Ba-bagaimana mungkin?" Pak Bum membalik kursi rodanya, dengan perlahan-lahan dia memundurkan kursi rodanya mendekati tombol evakuasi tang tertempel disebuah tembok yang tak jauh dibelakangnya. Sesekali dia sedikit menengok kebelakang untuk memeriksa apakah arah yang ditujunya sudah benar. Tanpa menyadari maksud tersembunyi dari pak Bum, Shadow Player berjalan mendekatinya. Dia menarik pedang hitam keluar dari dalam tubuhnya, disaat bersamaan pak Bum sudah tiba didepan tombol. Tangan kirinya meraba kebelakang mencari tombol tersebut, sementara matanya tak bisa mengalihkan pandangannya dari Shadow Player untuk memastikan bahwa dia tak menyadari tersembunyi itu. Shadow Player mengangkat pedangnya keatas, setinggi yang dia bisa, lalu membaliknya "Dimensi bukan masalah lagi bagiku!" Dia menancapkan pedangnya kedalam lantai, tancapan pedangnya itu mengguncangkan area disekitarnya. Mencipatkan sebuah gempa. Menyadari situasi yang semakin genting, pak Bum langsung berbalik dan menekan tombol evakuasi. Suara nyaring mulai muncul, lampu-lampu berwarna merah mulai keluar dari langit-langit ruangan. Memancarkan cahaya merahnya keseluruh gedung. Menandakan kepada seluruh orang untuk segera pergi meninggalkan gedung.copyright protection233PENANAWB5DC4yhxz

Dari dalam lantai yang tertancap pedang, muncul sebuah bola berwarna hitam. Bola tersebut mulai membesar, seakan-akan memakan semua yang ada disekitarnya. Sementara itu, pak Bum menyadari bahwa Shadow Player sudah menghilang dari tempat itu. Dia langsung menggerakkan kursi rodanya untuk masuk kedalam lift, namun, akibat gempa jalan yang akan dilaluinya terhalang oleh puing-puing akibat runtuhnya lantai atas. Dia mencoba untuk mencari jalan lain, tetapi seketika ada sebuah puing-puing yang jatuh diatasnya. Pak Bum langsung melompat menuruni kursi rodannya untuk menghindar.copyright protection233PENANA3fiIqzo3Ez

Bola hitam itu semakin membesar, sampai akhirnya berukuran lebih besar dari gedung Bum Corp. saat mencapai puncaknya, bola hitam itupun meletus dan mengakibatkan seluh warna didunia berubah menjadi warna inverse selama beberapa detik.copyright protection233PENANAEUTUVgIOUX

"Pak Bum...?"copyright protection233PENANA7Rycuah2sO

"Pak Bum??"copyright protection233PENANACv4UdvtCy8

Indra menggeser puing-puing yang sedikit menimpa pak Bum. Pak Bum beruntung puing-puing yang berat dan dingin itu tak memberinya luka berat. "Apa anda baik-baik saja?" Dinda mengambil sebuah kubus dan menekan tombol lalu menaruh kubus tersebut. Seketika, kubus itu berubah menjadi sebuah kursi roda. Indra mengangkat pak Bum dan membuatnya duduk kembali diatas kursi roda. "Ya, aku baik-baik saja. Yang lebih penting, kita harus segera mencari biang keladi dari semua ini, yaitu Shadow Player." Pak Bum membersihkan pakaiannya lalu menepuk pundak Dinda. Tak lama kemudian, datang salah seorang pegawai. Berlari dengan tergesa-gesa seperti habis baru saja melihat hantu. Dia membawa sebuah tablet, dan menunjukkan berita yang terdapat ditablet tersebut.copyright protection233PENANAbc356YlPNf

"Dunia gempar! Teror monster di mana-mana."copyright protection233PENANANU7l7BwoEZ

Headline isi dari berita tersebut membuat kak Indra, mbak Dinda, dan pak Bum tak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Dengan refleks, Indra langsung berlari mendekati jendela dan membukanya. Lagi-lagi dia semakin tak bisa mempercayai matanya sendiri. Karena apa yang dia lihat saat ini, sesuai dengan apa yang tertera didalam berita. Monster ada dimana-mana, sejauh mata memandang, selalu ada monster. Dia menyadari, walaupun server dari Start Point sudah terputus, itu tak berpengaruh sama sekali.copyright protection233PENANAcgvhaJMElk

Saat Inicopyright protection233PENANANxwQCDPYtC

Aku menaruh kembali tablet kemeja. Aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan mengenai semua ini. Semuanya benar-benar kacau. Aku menunduk karena tak tahu lagi apa yang harus aku katakan atau aku lakukan. "Ada satu hal lagi.... yang ingin kutanyakan...." Suara lantangnya membuatku kembali mengangkat wajahku untuk menengok kearahnya. Sindy menatap pak Bum dengan tatapannya yang fokus seperti biasa. Nampak tangannya terus menutup buku novel yang dia baca sebelumnya seakan-akan menolak untuk menyentuh selembarpun kertas dari novel tersebut ".... lebih tepatnya apa, yang akan anda lakukan setelah ini?". Pak Bum lagi-lagi melepas kacamatanya lalu membersihkannya. "Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas insiden ini. Aku akan membuat sebuah asuransi gratis bagi yang terkena dampak dan serangan dari monster-monster tersebut dan membentuk sebuah komisi penanggulangan khusus yang bertugas untuk menumpas monster-monster tersebut dan menghentikan Shadow Player. Aku takkan membiarkannya merenggut lebih banyak nyawa lagi menggunakkan permainan yang sudah kuciptakan dengan susah payah ini."copyright protection233PENANAegwlCDX91B

Untuk mencegah monster-monster yang terus-menerus bermunculan dimana-mana, pak Bum akan menciptakan sebuah komisi penanggulangan khusus bernama ERASER. Komisi itu mertugas untuk melindungi penduduk sipil dari serangan monster dan tidak hanya itu, ERASER juga bertugas untuk menupas monster-monster yang ada dan menghapus titik-titik dimana monster ter-respawn. Kelompok ini terdiri dari para pemain-pemain yang handal dan sangat mahir dalam bermain game. Pak Bum juga memperbarui sistem log in dari game dan menyesuaikannya dengan kondisi saat ini. Untuk log in, sekarang sudah tidak membutuhkan sofa atau kursi lagi. Sekarang ada sebuah alat portabel berbentuk persegi. Bentuknya seperti sebuah tablet, namun lebih kecil sampai-sampai benda tersebut bisa muat di dalam kantung celana. Untuk log in, pemain hanya tinggal menempelkan salah satu jarinya di salah satu sisi dari benda tersebut. Benda itu akan mengscan jari pemain selama beberapa saat. Setelah itu, tubuh pemain akan mulai bercahaya dan berubah menjadi avatar dan terlogin sepenuhnya kedalam game. Diminggu pertamanya, ERASER melakukan pekerjaan yang cukup memuaskan, mereka berhasil menumpas hampir seluruh monter yang ada di kota Rempah.copyright protection233PENANA8eRDw2niHI

Akibat hasil yang memuaskan ini, ERASER disambut hangat oleh pemerintah dan ditetapkan sebagai lembaga resmi milik pemerintah dunia. Akibatnya, mulai muncul organisasi kecil seperti KPM atau Komisi Penanggulangan Monster. Organisasi milik kepolisian itu beranggotakan para gamer-gamer yang handal dan sudah teruji keahliannya. Dampak dari keputusan pemerintah itu juga menjalar kedunia pendidikan. Pemerintah memutuskan untuk membuat mata pelajaran dan metode belajar yang baru. Didalam mata pelajaran tersebut, pelajar akan diajarkan dasar-dasar dari permainan Start Point dan informasi mengenai monster yang ada. Para pelajar juga diwajibkan untuk memiliki satu akun Start Point sebagai perlindungan diri dari monster.copyright protection233PENANADugalTNaSg

Aku sempat diajak oleh Zaki untuk ikut masuk kedalam ERASER sepertinya, namun aku menolaknya mentah-mentah.copyright protection233PENANAM6xjs9XpiY

Beberapa bulan setelahnya, ERASER mendapat informasi mengenai keberadaan Shadow Player. Informasi itu menuntun mereka luas dari luas sebuah lapangan sepak bola. Berdasarkan informasi itu, ERASERpun membuat serangan berskala besar demi menangkap akar permasalahan dari ini semua, yaitu Shadow Player. Sesuai informasi, banyak monster yang keluar menghadang dari dalam gua tersebut. Membuat ERASER semakin yakin dengan informasi tersebut. Panah-panah ditembakkan, pedang-pedang ditarik dari sarangnya, peluru-peluru berjatuhan, perisai dihadapkan dengan segala yang ada, bahkan sihir yang paling kuatpun dikerahkan demi menangkap monster itu. Kak Indra yang memimpin regu penyergap memimpin pasukan dengan berani dan semangat juang yang tinggi. Sementara mbak Dinda yang memimpin regu penembak siap mendukung serangannya dari belakang. Mereka terus menekan monster-monster sampai mereka masuk kedalam titik dimana cahaya tak sanggup memasuki gua. Penyerangan yang berjalan mulus itu berjalan terlalu mulus sampai-sampai tak jatuh satupun korban dipihak ERASER. Seakan-akan mereka memang mengundangnya untuk makan malam.copyright protection233PENANA0rdS5JVs1D

Setelah beberapa menit beristirahat, merekapun melanjutkan penelusuran lebih dalam. Mereka sampai disebuah persimpangan. Membuat kedua regu yang ada harus membelah menjadi dua untuk menelusuri persimpangan tersebut. Pilihan ini dianggap pilihan yang paling tepat karena bisa menghemat waktu. Regu penyergap dan penembak yang bersama kak Indra menelusuri terowongan bagian kanan sementara mbak Dinda sebaliknya. Disaat ditelusuri lebih dalam, kak Indra mulai merasakan keganjilan. Mulai dari menghilangnya monster-monster, sampai sekan-akan mereka terus menerus berputar-putar. Akibat keanehan ini, pak Bum menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dan disengaja. Dari radio, muncul suara panggilan dari markas pusat yang memerintahkan mereka untuk segera mundur. Namun, sebelum perintah selesai diucapkan, komunikasi terputus. Tiba-tiba komputer-komputer di markas pusat mengalami error. Membuat sistem komunikasi terputus. Tentu saja ini bukanlah pertanda baik. Komunikasi sangatlah dibutuhkan didalam kondisi seperti ini. Kak Indra terus-menerus mencoba memanggil kantor pusat melalui radio, namun dia tetap tak bisa menghubunginya. Sistem teleportasi juga rusak akibat insiden saat itu sehingga mereka harus menggunakkan kaki mereka untuk pergi dari tempat itu.copyright protection233PENANAbF8rPtlCDd

Kak Indra langsung memerintahkan regu yang bersamanya untuk segera pergi keluar dari dalam gua. Namun, saat mereka berbalik, jalan yang mereka cari sudah tak ada lagi. Semua jalan yang mereka lalui sebelumnya, berubah menjadi sebuah jalan buntu dari gua. Bahkan tak terdapat celah sekecilpun. Kak Indra berusaha menghancurkannya menggunakkan pedang airnya, namun itu percuma. Mereka berbalik dan mencari jalan lain, namun setiap jalan yang mereka lalui selalu menuntun mereka kejalan buntu lainnya. "Sial...!" kak Indra melampiaskan kekesalannya dengan menendang sebuah batu yang terdapat dipinggir gua "Apa yang harus kita lakukan?!". Tak lama, kabut mulai bermunculan dari celah-celah yang ada di gua. Kabut yang awalnya tipis itu mulai menebal dan menyebar keseluruh gua. Menyadari itu, kak Indra langsung memerintahkan regu yang bersamanya untuk tetap tenang dan berkumpul disatu titik untuk menghindari hal yang tak diinginkan "Semuanya, tetap tenang dan tetap bersama!". Tetapi semuanya terlambat. Saat dia sadari, kabut sudah memenuhi gua dan menghalangi penglihatannya "(Gawat. Aku terlambat)". Di gua yang pada awalnya sunyi tersebut, mulai bermunculan suara-suara teriakkan. Sebuah suara yang tak pernah diinginkan. Suara kesakitan dari para anggota regu.copyright protection233PENANATqjqKMAHbT

Suara tersebut satu persatu bermunculan. Suara teriakkan yang memekakkan telinga itu semakin dekat dan semakin kencang mendekati kak Indra. Kak Indra menghitung jumlah dari teriakkan yang muncul dan menyesuaikannya dengan jumlah anggota regu yang ada. Walau tak bisa mempercayainya, jumlah yang dia hitung dan jumlah dari anggota regunya, sama. Satu-satunya yang tersisa hanyalah dia. Suara yang memekakkan telinga itu menghilang seketika. Tergantikan dengan suara langkah kaki yang menggema keseluruh gua. Merasa terancam, kak Indra langsung menarik pedangnya keluar dari sarung pedang, lalu dia memanipulasi pedang tersebut, mengubahnya menjadi pedang air yang sanggup membelah batu sekalipun "Siapa kau sebenarnya?". Bersamaan dengan pertanyaan yang dilontarkan, suara dari langkah kaki itu terhenti. "Siapa aku? Kau tahu dengan pasti siapa aku." Langkah kaki yang terhenti itu muncul kembali dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.copyright protection233PENANAFckT4qC0SE

Dari serong kiri kak Indra, pedangnya membelah kabut dengan cepat. Namun dengan sigap kak Indra langsung menepisnya. Pedang itu kembali menghilang tertelan kabut. Menyadari itu, kak Indra langsung menebas pedangnya kearah dimana pedang itu berasal, namun dia tak bisa menemukkan siapa-siapa disitu. Walaupun begitu, dia tetap tak mengurangi pengawasannya. Kak Indra menengok kesana kemari, mewaspadai area disekitarnya, menghitung kemungkinan dari arah mana serangan berikutnnya akan dilancarkan "Apa yang sudah kau lakukan kepada rekan-rekanku?". Ada sebuah pedang dilemparkan kearahnya, pedang yang berbeda dari yang sebelumnya. Kak Indra langsung menunduk dan tiarap. Saat dia sadari, ternyata itu hanya pengalih perhatian. Pedang yang sama dengan serangan sebelumnya tepat sedang diayunkan diatas kepalanya. Dengan tergesa-gesa, kak Indra menggelindingkan tubuhnya untuk menghindari serangan tersebut. Akibat tindakannya yang tergesa-gesa, membuatnya menabrak dinding gua. Serangan itu menyusulnya. Lagi-lagi dari dalam kabut, pedang-pedang dilemparkan kearahnya. Kak Indra melompat menjauhi serangan tersebut "Jawab aku!".copyright protection233PENANAD4jLw8fRLT

"Bagaimana ya.... singkatnya sih..."copyright protection233PENANA4Fjo63aGKm

"Mem-bu-nuh-nya....!" Dari belakang, sebuah ayunan penuh dikerahkan kearahnya. Ayunan penuh yang membelah kabut dan membuatnya semakin memudar. Membuat sebuah sayatan besar dipunggunya. Akibat serangan itu, kak Indra langsung reflek melompat menjauhi lokasi serangan itu berasal. Kak Indra memeriksa luka dipunggungnya "Oi, oi, ini gawat....". "Open the seal : Focus eye." Mata kak Indra berubah menjadi berwarna biru, lalu bersinar. Membuatnya bisa melihat setiap gerakkan yang ada disekitarnya. Bersamaan dengan kabut yang semakin menipis, serangan terus menerus dikerahkan kearahnya. Dengan pedang airnya, kak Indra terus-menerus menepis serangan yang terus diarahkan kepadanya. Terus menunggu celah muncul dari serangan tersebut. Tak lama kemudian, diserangannya yang kesekian kali ini, celahpun muncul. Kak Indra langsung menepis serangan tersebut dan menebas penyerang dicelah yang ada. Serangan itupun berhasil dilancarkan. Membuat penyerang terluka dan harus mundur. Saat kak Indra sadari, kabut sudah menghilang sepenuhnya. Dia menyadari, inilah saatnya untuk melihat siapa penyerang sebenarnya.copyright protection233PENANAzqyUkCkWDd

Dengan senyuman liciknya dan tatapannya yang fokus kepada satu tujuan, yaitu membunuh, dia mengayunkan pedangnya kesamping. "Kau...." Kak Indra tak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Luka yang baru saja dia berikan kepada penyerang, sembuh begitu saja. Bahkan jaket yang seharusnya sobek akibat serangan tadi, seakan-akan tak pernah sobek sekalipun. Rambut dan wajah yang dikenalnya, tepat berdiri didepannya "Apa sekarang kau sudah kenal denganku?".copyright protection233PENANABghU2N3hEO

"Dimo...?!copyright protection233PENANAaJtu8Ayigj

"Kenapa kau melakukan ini?" Kak Indra mengangkat pedang airnya, menunjuk Dimo yang berdiri tepat didepannya"Kenapa kau melakukan ini?" Kak Indra mengangkat pedang airnya, menunjuk Dimo yang berdiri tepat didepannya. Dengan santai, Dimo menyarungkan kembali pedangnya "Apa masih belum jelas? Sudah pasti untuk menghabisi kalian." Dia membuka inventori miliknya, mengambil sebuah pistol dan menembakkannya kearah kak Indra. Namun, dengan mudahnya kak Indra mengangkap peluru-peluru tersebut menggunakkan pedang airnya. Sementara kak Indra yang sedang sibuk mengatasi peluru-peluru itu, Dimo langsung melesat kearahnya. Sambil menembakkan peluru-peluru dari pistol di tangan kirinya, tangan kanannya menarik pedang dan mengayunkannya dengan cepat kearah kak Indra. Serangan kombinasi itu membuat kak Indra harus melompat mundur menjauhi ayunan pedangnya. Akibatnya, satu peluru tersarang dipundak kanan dan kaki kirinya. Disaat kak Indra baru saja mendarat, Dimo sudah tepat berada didepannya. Ayunan pedang dari Dimo langsung ditahan oleh kak Indra. Sementara serangannya tertahan, Dimo langsung menembakkan peluru kearah kaki kanan kak Indra untuk menghancurkan keseimbangannya. Menyadari itu, kak Indra langsung berbalik menendang tangan kiri Dimo dan membuat pistol yang digenggamnya terlepas dan terlempar kesisi lain dari gua. Setelah itu, kak Indra langsung mendorong pedang Dimo yang dia tahan dengan pedang airnya. Dengan segenap kekuatannya dia mendorong Dimo sampai punggungnya menabrak dinding gua "Keparat, siapa kau sebenarnya?"copyright protection233PENANAEQKcK4P51t

"Lho, apa kau tidak mengenalku? Aku ini Dimo." Pedangnya langsung bercahaya. Cahaya berwarna merah gelap seperti darah. Cahaya berwarna merah itu menerangi seluruh gua sampai ketempat gelap sekalipun. Kak Indra langsung menyadari bahwa pedang air yang dipegangnya mulai mendidih akibat menahan cahaya berwarna merah itu. "(Pedangnya....)" Kak Indra mengubah pedangnya menjadi pedang biasa lalu melompat menjauh. Dengan sigap, Dimo merespon gerakan kak Indra dengan mengayunkan pedangnya yang sudah bercahaya. Cahaya yang terdapat dipedangnya langsung terlempar setelah dia mengayunkan pedangnya. Cahaya berwarna merah itu mulai berubah menjadi seperti pecahan-pecahan kecil dari bulan itu melesat dengan kecepatan tinggi. "(Itu... Moonlight Shard?!) Open the seal : Water Sword" Pedang yang kak Indra pegang di tangan kanannya kembali berubah menjadi air. Lalu, dia menancapkan pedangnya kedalam tanah. Seketika, air yang terdapat dipedagnya langsung mengalir masuk kedalam tanah. Tak lama kemudian, air yang sebelumnya terserap kedalam tanah mulai keluar didepan pedang. Air tersebut memancur keluar dari dalam tanah, menciptakan sebuah tembok air yang besar. Kak Indra menarik kembali pedangnya dari dalam tanah lalu menusukkannya kedalam tembok air kokoh yang tepat didepannya.copyright protection233PENANAiCJAxMnA32

Air yang dingin itu langsung berubah menjadi es yang dingin dan keras yang cukup kuat untuk menahan serangan Moonlight Shard. Es itu meledak. Dari balik asap akibat ledakan es, Dimo sudah siap mengayunkan pedangnya. "Gawat....!" Akibat ledakan yang terjadi sebelumnya, pedang yang tertancap di tembok es langsung terlempar ketempat dimana kak Indra tak bisa menggapainya. Kondisi ini membuatnya harus menunduk menghindari ayunan serangan dari Dimo. Dia beruntung, itu adalah detik-detik terakhir sebelum kemampuan fokusnya habis sehingga membuatnya dapat selamat dari serangan tersebut. Namun, efek samping dari kemampuan fokus mulai muncul disaat yang tak diinginkan. Efek samping dari kemampuan itu membuat penglihatan kak Indra mengalami rabun selama beberapa menit. Keadaan gua yang gelap saja sudah menyulitkannya, apalagi kondisi seperti ini. Kak Indra kehilangan keseimbangannya dan terjatuh akibat terpeleset setelah menginjak salah satu bongkahan es. Disaat penglihatannya yang mulai memburuk, kak Indra melihat pedangnya tepat ada dibelakangnya. Dengan segenap tenaga yang tersisa, kak Indra langsung bangun dan berlari untuk menggapai pedang tersebut.copyright protection233PENANApeLTJTthcK

Tetapi Dimo sudah mendahuluinya dan menendang pedang tersebut menjauh dari kak Indra. Dia mengangkat pedangnya—mengacungkannya kearah kak Indra lalu berjalan perlahan mendekatinya "Ini sudah berakhir...!". Dimo mengayunkan pedangnya kearah kak Indra tanpa ragu sedikitpun.copyright protection233PENANAARAk4loUrq

Besi dingin berwarna perak itu diayunkannya tanpa adanya rasa ragu sedikitpun. Tetapi, tiba-tiba kak Indra melihat sebuah cahaya berwarna merah terpantul dari pedang tersebut. Dia sadar bahwa refleksi tersebut berasal dari suatu tempat yang tak jauh darinya. "Open the seal : Fire punch." Mbak Dinda mendarat disampingnya. Dengan kepalan tangannya yang membara, dia memukul wajah Dimo. Dorongan dari api ditangannya yang panas itu membuat Dimo terlempar sejauh beberapa meter. Mbak Dinda langsung memanfaatkan momen tersebut dengan mengambil pedang milik kak Indra lalu mengambil bom asap dari inventorinya. Dari jari telunjuknya keluar kobaran api, seperti sebuah pemantik. Dia menyalakan sumbu dari bom asap tersebut menggunakkan api yang muncul di jari telunjuknya lalu melemparkan bom asap tersebut ketanah. Dia membantu kak Indra untuk berdiri, lalu langsung pergi dari tempat itu sebelum asap yang dihasilkan dari bom asap mulai habis.copyright protection233PENANAnJ27kzTHaX

Setelah berhasil meloloskan diri dan beberapa menit berjalan menelusuri gua yang gelap, kak Indra dan mbak Dinda memutuskan untuk beristirahat selama beberapa saat. Mereka berhenti berjalan dan duduk di pinggiran gua. Sempat terjadi kesunyian sesaat diantara mereka. Udara di gua yang dingin menambah kesan tersendiri dikesunyian itu. Tetasan air menetes dari langit-langit gua, melubangi batu yang dibawahnya sehingga menciptakan sebuah lubang besar yang penuh dengan genangan air. Mbak Dinda yang mulai merasa canggung dengan kesunyian ini mulai mencari cara untuk memulai obrolan. Dia melirik kearah kak Indra, dan tak sengaja melihat luka yang ada di punggungnya. "I-ini, ambillah! Walau ini takkan mengobati luka di tubuh aslimu, setidaknya ini bisa menghilangkan rasa sakitnya untuk sementara waktu." Mbak Dinda mengambil sebuah botol ramuan penyembuh dari inventorinya. "Terima kasih..." Kak Indra membalasnya dengan senyuman hangat lalu menerimanya lalu meminum ramuan berwarna merah tersebut. "Te-tetapi, apa tadi itu benar-benar Dimo?"copyright protection233PENANAJzcvtVpXcC

Kak Indra selesai meminum ramuan itu, lalu melihat kepada refleksi dari dirinya yang terpantul di botol kaca ramuan tersebut. "Aku tidak yakin...." Tak lama, ramuan yang sudah selesai diminumnya mulai bercahaya lalu menghilang. Walau hanya sebentar, cahaya itu menerangi seluruh area gua. "Ngomong-ngomong, Dinda.... kemana perginya anggota regu yang sebelumnya bersamamu?"copyright protection233PENANAHNti8xExs5

"Aku memerintahkan mereka untuk pergi keluar terlebih dahulu"copyright protection233PENANAXPPZW9zQRJ

"Tunggu dulu, maksudmu kau pergi sendirian hanya untuk menyelamatkanku? Kenapa? Kau seharusnya pergi bersama mereka." Kak Indra langsung menengok kearah mbak Dinda. Dengan suaranya yang lantang dan kencang, dia mengatakan semua itu. "Maaf, hanya saja.... aku ingin menyelamatkanmu...." Mendengar teguran itu, mbak Dinda langsung tertunduk dengan pipinya yang agak memerah. Melihat reaksi mbak Dinda yang tak diduganya, kak Indra tersadar bahwa yang sudah dikatakannya sudah berlebihan. Dia menghela nafas dalam-dalam dan memalingkan wajahnya "Maafkan aku.... Kurasa aku sudah terlalu berlebihan." Lagi-lagi, keheningan tercipta diantara mereka berdua. Tak ada satupun dari mereka yang tahu bagaimana cara untuk memulai kembali pembicaraan. Yang ada hanya suara tetesan air.copyright protection233PENANAOBj06NWwK9

Tak lama, mulai muncul suara dari radio. Seketika, mbak Dinda yang sebelumnya hanya terdiam tertunduk menatap ketanah, langsung terangkat bersamaan dengan munculnya suara itu. Begitu pula dengan kak Indra, dia langsung melupakan apa yang sebelumnya sudah terjadi seakan-akan itu tak pernah terjadi sama sekali. "Halo? Apa ada yang mendengar?" Suara panggilan dari markas mulai muncul. Dengan sigap, kak Indra langsung membalasnya, memberitahu kondisi mereka, dan meminta bala bantuan secepatnya.copyright protection233PENANA8rWBK49oBB

Dua hari kemudian, di sekolah. Kelas sangat ramai akibat tugas matematika. Apalagi karena guru di kelas kami sedang dipanggil ke ruang guru karena suatu urusan. Disaat aku baru saja mendapatkan salah satu jawaban dari kelima soal yang ada, tiba-tiba Zaki menepuk pundakku dari tempat duduknya yang tepat berada dibelakang tempat dudukku. Awalnya, aku memutuskan untuk mengabaikannya dan tetap fokus kepada soal-soal ini, tetapi dia terus-menerus menepuk pundakku. Semakin aku mengabaikannya, semakin kencang dia menepuk pundakku. Dia juga mulai memanggil namaku melalui bisikan-bisikannya "Dimo... hei....".copyright protection233PENANAuyrkyou7el

Maka aku memutuskan kembali. Aku menangkap tangan kanannya yang terus saja menepuk pundakku dan mencengkramnya sekencang yang kubisa. Aku perlahan menengok kebelakang, walau tetap mencoba untuk menahan rasa kesalku akibat ulahnya, rasanya aku tetap tak bisa melakukannya. Dengan tatapan penuh kekesalan dan alis yang mengkerut keatas, aku mencoba menggigit bibirku untuk mengurangi rasa kesal yang ada "Apaan....?". "Aduduh, sakit, sakit...." Zaki mencoba menarik tangan kanannya dari cengkramanku, bahkan dia mencoba dengan menggunakkan kedua tangannya. Dia terus menarik sekencang yang dia bisa, sampai-sampai kursinya terus bergonyang dan hampir jatuh. "(Kurasa, dia sudah menariknya cukup kencang.)" Aku melepas tangan Zaki bersamaan disaat dia menariknya sekuat yang dia bisa, mengakibatkannya terdorong kebelakang akibat daya tarik yang dia buat sendiri. Akibatnya, dia terjatuh kebelakang bersama dengan kursinya.copyright protection233PENANAR3Wa33X0zI

"Kali ini apa? Game lagi?" Aku memutar kursiku berlawanan dengan mejanya, membuatku lebih mudah berkomunikasi dengan manusia sepertinya. Zaki merapihkan kembali kursinya dan membersihkan seragam putihnya. Dia mengambil pulpennya dan mengambil buku catatan miliknya. Entah untuk apa dia melakukan itu. Dia berbalik, seakan-akan sedang menulis sesuatu yang penting. Setelah selesai, dia menutup kembali pulpennya dan membantingnya kemeja. Lalu mengulurkan tangan kirinya yang memegang buku catatan miliknya yang terbuka lebar membuka sebuah halaman yang baru saja dia isi "Ini.... Ini....." Aku tak bisa mempercayai apa yang sedang kulihat saat ini. Tulisan itu....copyright protection233PENANA9Ha5iUasjM

Zaki tertawa, suara tawanya yang kencang lebih kencang dari murid-murid lainnya, lalu dia menunjuk kearah tulisan yang baru saja dia tulis. Seketika perhatian seluruh kelas langsung tertuju kearahnya. Bahkan Leila dan Sindy yang menyadari tingkah laku Zaki ini, menolak untuk tidak melewatkannya. Sebuah tulisan kramat yang tertulis dibukunya mengambil alih seluruh kelas. Tulisan yang berisikan "Dimo, jawaban dari no. 1 sampai no. 5 dong....".copyright protection233PENANA4Nlv8TTC18

Aku langsung menarik buku tersebut dan melemparkannya kearah Zaki. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku tak percaya aku bisa mempunyai teman sepertinya. Sungguh.... Memalukan....copyright protection233PENANAXSbU3fX1fw

Maka, aku kembali memutar kursiku menghadap kembali keposisi awal, lalu kembali melanjutkan tugas matematika ini. Tak lama kemudian, pak guru kembali memasuki kelas. Membuat suasana kelas yang sebelumnya ramai, kembali menjadi tenang. Tapi, kali ini dia membawa tamu bersamanya. Kak Indra dan mbak Dinda memasuki ruang kelas bersamaan dengan pak guru. Dengan pakaian jas yang rapih nan formalnya, mereka memasuki ruang kelas. Seluruh kelas langsung tertuju kepada mereka berdua. Banyak yang bertanya-tanya siapa mereka sebenarnya, namun aku, Zaki, Leila, dan Sindy tahu betul siapa mereka "(Kak Indra dan mbak Dinda, apa yang sebenarnya mereka lakukan disini?)". Aku memutuskan untuk tidak memperhatikan dan kembali melanjutkan tugasku. Namun, isi dari pensil mekanikku yang terus patah sepertinya bukanlah pertanda baik. Tetapi aku rasa aku hanyalah berlebihan. Selagi aku masih memiliki cadangannya, itu bukanlah masalah sama sekali. "Dimo Ramadhan." Aku langsung mengangkat wajahku menatap lurus kearah depan. Kurasa lagi-lagi aku mematahkan isi pensilku "Y-ya..." Perhatian seluruh kelas yang awalnya hanya tertuju kepada kak Indra dan mbak Dinda langsung berpindah kearahku.copyright protection233PENANAJodTuwOFY7

"Dipersilahkan untuk maju!"copyright protection233PENANAr2VMx3GrGI

"Ba-baiklah...." Dengan firasat yang tak enak, aku berdiri—bangun dari kursiku. Melangkahkan kakiku secara perlahan melintasi kursi dan meja. Aku menengok kepada semuannya, satu-persatu. Tatapan-tatapan yang aneh mulai dikeluarkan. Sebuah tatapan yang tak menyenangkan. Mereka juga mulai berbisik diam-diam. Aku memutuskan untuk diam dan tak menegur mereka seakan-akan aku tak melihat apa-apa. Semua itu menggangguku, sampai akhirnya aku menengok kepada Sindy, Leila, dan Zaki. Berbeda dengan yang lainnya, ekspresi yang mereka keluarkan adalah ekspresi kekhawatiran. Menunjukkan betapa pedulinya mereka kepadaku. Tatapan itu menghilangkan rasa tak nyaman yang dari tadi terus menghantuiku. Sekarang, yang harus kulakukan adalah, mencari tahu. Apa yang sebenarnya terjadi disini.copyright protection233PENANAADALxE1vGh

Kami menaiki sebuah mobil dan pergi menuju Bum Corp. yang saat ini adalah salah satu markas besar dari ERASER. Aku masih tidak mengetahui alasan mengapa mereka membawaku kesana. Disaat aku bertanya, kak Indra dan mbak Dinda hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikitpun. Setelah beberapa menit mengalami perjalanan, akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang Bum Corp.copyright protection233PENANA1qFekaK8PI

Akibat insiden tahun lalu, membuat gedung Bum Corp. harus direnovasi. Sekarang, Bum Corp. sangatlah berbeda dengan yang dulu. Sekarang ini adalah sebuah markas besar, yang mengemban tugas besar yaitu menyelamatkan masyarakat dari seluruh monster yang ada. Setiap hari, pintu gerbang tak pernah ditutup. Hampir setiap jam, setiap menit, dan setiap detik, orang berlalu lalang melintasi pintu gerbang yang besar dan megah ini. Dari pekerja kantoran, sampai anggota ERASER selalu melintas melaluinya. Tetapi, walau begitu, dengan sistem keamanan yang baru, membuat tempat ini tak bisa dilalui sembarang orang begitu saja.copyright protection233PENANAghLc4jfKKW

Aku keluar dari dalam mobil. Menapakkan sepatuku dari mobil, kejalan setapak. Sudah lama sejak aku terakhir kali ketempat ini. Walaupun banyak yang sudah berubah, namun rasanya tempat ini tak pernah membuatku tak takjub. Aku tahu bahwa pak Bum memanglah seorang milyader, tapi, aku tak menyangka dia sampai bisa membuat tempat semegah dan seluas ini.copyright protection233PENANAslz377I8Co

Sementara aku sedang melihat sekeliling, kak Indra menghampiriku dan menepuk pundakku "Kemarilah.". Aku langsung menuruti perintah kak Indra dan mbak Dinda untuk masuk kedalam gedung. Dengan statusnya sebagai pegawai lama, kak Indra dan mbak Dinda sangat dipercaya sampai-sampai mereka tak harus melewati sistem keamanan terlebih dahulu. Walau begitu, ekspresi muram yang terus mereka tunjukkan dari tadi, tak pernah berubah. Disaat aku sudah melalui gerbang, seketika firasat tak enakku muncul kembali. Orang-orang dari ERASER yang melintas dan melihatku langsung berhenti dan menatapu dengan tatapan penuh kebencian. Bahkan mereka sampai melupakan aktivitas mereka dan melihatku dengan tatapan penuh kebencian. Aku berhenti dan menengok kearah sekitar. Aku menyadari bahwa seluruh orang yang berada disana sudah berhenti melangkahkan kakinya dan menatapku dengan tatapan yang sama. Tatapan kebencian.copyright protection233PENANApEO5S8gDh6

Menyadari aku yang berhenti berjalan, mbak Dinda menghampiriku dan mencoba menghiburku "Dimo, jangan pikirkan mereka. Ayo." Aku menuruti perkataan mbak Dinda dan kembali melanjutkan langkah kakiku menuju kedalam Bum Corp. tetapi aku tak mengerti sama sekali. Kenapa mereka menatapku dengan tatapan seperti itu. Sesampainya didepan pintu, kami dihadapkan dengan salah seorang ketua divisi dari ERASER yang sedang bertugas menjaga pintu. Kak Indra dan mbak Dinda berdiri dengan tegak dihadapannya, lalu memberi hormat. Ketua divisi itu membalas hormat mereka, lalu kak Indra dan mbak Dinda melaporkan diri mereka sebagai ketua dan wakil ketua divisi 7 kepadanya. Ketua divisi itu melirik kearahku lalu mengambil sebuah foto dari kantung celananya. Dia lalu melirik lagi kearahku dan kearah foto yang dipegangnya secara bergantian seakan-akan dia sedang memastikan sesuatu. Tak lama setelah dia mengantungi kembali foto itu, mereka mengangguk satu sama lain dan mempersilahkan kami untuk masuk.copyright protection233PENANAlxn7JrqZcb

Setelah melewati pintu, mataku langsung ditutupi oleh sebuah kain berwarna hitam yang diikatkan kekepalaku. Sepertinya mereka tak ingin aku tahu kemana arah aku akan pergi.copyright protection233PENANAVFwvJDDrMg

Dengan mata yang tertutup, mereka menuntunku berjalan menuju ke sebuah tempat yang kurasa cukup jauh dari pintu depan. Tanpa tahu kearah mana aku menuju, aku melangkahkan kedua kakiku secara perlahan. Sampai akhirnya, mereka memintaku untuk berhenti berjalan. Kak Indra melepas kain yang menutup mataku ini, lalu memintaku untuk duduk disebuah kursi yang ada didepanku. Aku berada disebuah ruangan yang cukup gelap. Satu-satunya penerangan adalah lampu yang ada diatas kursi itu. Aku memeriksa sekitar, tetapi aku tak bisa menemukan pintu keluar karena gelapnya ruangan. Setelah melepas kain penutup mata, kak Indra mundur memasukki bayang-bayang.copyright protection233PENANAQcUEiNNzq4

Aku memutuskan untuk menuruti apa kata mereka dan duduk di kursi tersebut. Tak lama, pak Bum menghampiriku. Beliau memegang pundakku dan berkata "Dengar, nak Dimo. Katakan yang sejujurnya." Setelah itu, beliau kembali menggerakkan kursi rodanya memasuki bayang-bayang. Beberapa menit kemudian, muncul sebuah cahaya dihadapanku. Sebuah video rekaman.copyright protection233PENANAFMC2TmuklG

"(Apa-apaan.....)" Sebuah video rekaman dari insiden penyerangan yang diduga dilakukan olehku. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihatnya. Aku melihat seseorang yang nampak sama sepertiku sedang bertarung dengan kak Indra.copyright protection233PENANAvhl2M4Gqwt

"Itu adalah rekaman dari insiden penyerangan yang terjadi tiga hari yang lalu." Kak Indra mematikkan rekaman tersebut lalu menghampiriku. "Dimo, jawab sejujurnya. Apakah benar, orang yang dilawanku itu adalah kau?" Aku langsung bangun dari kursi dan memegang pundak kak Indra "Tentu saja bukan a—"copyright protection233PENANAGmFB1YoPxO

Tiba-tiba, kursi yang berada dibelakangku menjadi hancur. Aku menengok kebelakang, dan menemukan seorang wanita yang membelah kursi itu dengan pedang besarnya. "Anna?! Apa yang kau lakukan disini?" kak Indra langsung berjalan kedepanku, dan mendorongku kebelakang. "Menuntut keadilan!"copyright protection233PENANATcAwetSIOe

"Dimo, lari!" kak Indra mengscan jarinya lalu mendorongku menjauh dari tempat itu. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi aku memutuskan untuk menuruti perintah dari kak Indra dan pergi menjauh. Lampu-lampu menyala kembali, ruangan yang awalnya gelap berubah menjadi penuh penerangan. Aku melihat ada sebuah pintu disudut ruangan, tanpa pikir panjang aku langsung berlari kepintu tersebut. "Takkan kubiarkan!" Dari belakangku, muncul dua orang berjubah dan bertudung berlari mengejarku. Mereka melompat lalu menembakkan bola-bola api kearahku. Aku menghindar dengan melompat menjauh saat bola api tersebut ditembakkan kearahku. Aku menengok kebelakang dan melihat lantai-lantai yang gosong akibat terkena bola api yang panas itu "Hampir saja... (Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku terkena bola api itu...)" Namun, walau aku bisa menemukan lantai yang gosong, aku tak bisa menemukkan kedua orang bertudung yang menyerangku tadi. "Gawa—" Aku kembali menengok kedepan, dan menemukkan mereka yang sudah berada didepan pintu—bersiap untuk menembakkan laser kearahku. Aku menunduk sesaat laser itu ditembakkan sehingga aku berhasil menghindarinya.copyright protection233PENANApjvLmiP2Im

Sambil menunduk, aku merangkak menghampiri mereka lalu kutendang kaki mereka. Setelah mereka terjatuh, aku langsung berlari mememasukki pintu. Aku berlari dari satu lorong ke lorong lainnya tanpa tahu arah kemana aku pergi. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah persimpangan. Aku menengok kebelakang dan tak menemukan dua orang berjubah yang mengejarku. Aku rasa aku sudah berhasil melarikan diri dari mereka. "Kenapa mereka mengejarku?" Aku mengatur nafasku lalu membeli sebuah minuman kaleng rasa jeruk dari mesin penjual minuman yang terdapat dipinggir lorong. Sambil meminum es jeruk, aku melanjutkan perjalananku melalui salah satu persimpangan dari dua persimpangan yang ada.copyright protection233PENANAvpIb0K9ozH

Namun, disaat aku sedang meneguk es jeruk, tiba-tiba kaleng dari es jeruk tersebut terlempar dari genggamanku. Air jeruk tertumpah dari dalam kaleng tersebut. Saat aku sadari, terdapat sebuah lubang besar di tubuh kaleng. Perlahan, aku menengok kebelakang sambil berharap bahwa dugaanku ini salah.copyright protection233PENANActTNZ8hSR5

Bola api ditembakkan, aku langsung menunduk menghindar dari serangan yang berbahaya tersebut. Dengan segenap tenaga yang tersisa, aku langsung mengambil langkah seribu.copyright protection233PENANA6gpB1LUROC

"Apa yang terjadi?" Zaki berhenti berlari sesaat setelah dia melihat para anggota ERASER yang terus berlarian kesana kemari. Perilaku mereka yang nampak sangat kewalahan membuat pertanyaan bermunculan dibenak Zaki. "Ada apa, Zaki?" Leila dan Sindy ikut menghentikan langkah kakinya seketika setelah Zaki berhenti berlari. Pertanyaan itu membangunkan Zaki dari lamunannya, membuatnya kembali teringat dengan tujuan awal mereka kesana. "Tidak, tidak ada apa-apa. Ayo!" Zaki yang awalnya terhenti kembali melangkahkan kakinya menghampiri pintu depan dari Bum Corp. Kondisi didalam gedung yang tak jauh berbeda dengan kondisi diluar tak membuat Zaki terkejut. Diapun merogoh saku celananya, mengambil smartphone miliknya lalu mencoba menelponku. Namun, telephone tersebut tak kunjung mendapat tanggapan. Diapun mencoba cara lain dengan mencari kak Indra dan mbak Dinda. Untuk itu, Zaki bertanya kesalah satu ketua divisi mengenai lokasi kak Indra saat iini.copyright protection233PENANAdj1Wv2GFqf

"Kalian...." Disaat Zaki sedang bertanya kesalah satu anggota, kak Indra tak sengaja melintas melaluinya. Dia langsung terhenti seketika setelah melihat kedatangan Zaki, Leila, dan Sindy. "Kak Indra?!" Zaki yang awalnya hendak akan bertanya langsung mengurungkan niatnya. Namun, dia menyadari satu hal penting yang menghilang "Tunggu dulu, dimana Dimo?". Kak Indra menghela nafas lalu kembali berjalan "Ayo, ikut aku. Akan kujelaskan semuanya di perjalanan." Tanpa pikir panjang, Zaki, Leila, dan Sindy langsung pergi mengikuti kak Indra tanpa tahu kemana mereka akan pergi. Diperjalanan, mereka bertemu dengan mbak Dinda yang juga sedang hendak mencariku.copyright protection233PENANAmDJfqIoIAf

"Apa kau sudah menemukannya?"copyright protection233PENANANHwdixYcpM

"Belum, tapi mereka mungkin bisa membantu kita." Kak Indra menengok kearah Zaki, Leila dan Sindy. Zaki langsung berjalan menengahi mereka lalu memotong pembicaraan "Tunggu dulu, sebenarnya apa atau siapa yang sedang kita cari?". Tetapi, kak Indra dan mbak Dinda tak kunjung menjawab pertanyaan itu. Melihat reaksi mereka berdua semakin membuat Zaki merasa bahwa ada yang tak beres. Tak lama kemudian, Sindy yang awalnya diam, mulai berjalan menghampiri Zaki "Zakarya benar, kita tak bisa begitu saja mengikuti kalian tanpa tahu apa yang sedang terjadi." Kata-kata itu langsung membuat kak Indra dan mbak Dinda tersadar bahwa tak ada pilihan lain selain menjelaskan seluruh situasi yang terjadi. "Baiklah, akan kujelaskan...."copyright protection233PENANAPD6RzCTghk

"Gawat, gawat, gawat, gawat, gawat.....!!! Kapan ini akan berakhir?" Aku berlari menyusuri gedung tanpa tahu arah sebenarnya aku pergi. Bagaikan domba yang tersesat dihutan yang penuh dengan serigala dimalam hari. Sambil berlari, aku menengok kebelakang. Berharap bahwa aku sudah berhasil melarikan diri dari mereka. Tetapi, kedua orang berjubah dan bertudung tersebut masih saja mengejarku. Mereka melemparkan dua bola api berukuran raksasa kearahku, namun aku menyadari itu dan langsung berbelok kekoridor disebelah kananku. Hasilnya, kedua bola api itu berhasil kuhindari. Namun, tanpa kuduga, aku melihat seorang perempuan diujung koridor. Perempuan yang nampaknya pernah kujumpai sebelumnya. Aku terus berlari dan terus berlari tanpa menghiraukannya sampai pada akhirnya aku teringat. Dia adalah perempuan yang menghancurkan kursi dimana aku duduk saat diinterogasi tadi. "Gawat....." aku langsung menghentikan langkah seribuku dan berbalik, mencoba untuk menghindari perempuan itu. Tapi nampaknya aku lengah, aku lupa bahwa dua orang berjubah dan bertudung itu masih mengikutiku. Kurasa takkan ada yang membantuku dikarenakan mereka menghancurkan setiap kamera pengawas yang mereka lalui. Tak ada pilihan lain selain menghadapi mereka.copyright protection233PENANAwDYfTpYh7y

Akupun berhenti berlari, mencoba mencari cara untuk mengecoh mereka bertiga. Dengan penuh percaya diri, aku mulai kembali berlari kearah dua orang berjubah tersebut. Disaat mereka melafalkan mantra dan mengumpulkan energi untuk membuat bola api, aku tetap berlari kearah mereka. Sejak berlari tadi, aku terus menghitung waktu yang dibutuhkan untuk mengisi energi bola api dan waktu yang dibutuhkan untuk meluncurkannya, dan tentu saja, membawa bola api berenergi tinggi seperti itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Lalu, aku melihat efek yang terjadi kepada tembok ketika bola api tersebut mengenainya. Tembok akan mulai terkikis dan hancur dengan sendirinya karena tak kuat menahan energi dari bola api yang amat panas. Dengan data yang sudah kukumpulkan itu, aku terus berhasil menghindar dari serangan tersebut. "Kalau begitu...." Aku berlari melewati mereka, membuat mereka harus berbalik untuk mengejarku.copyright protection233PENANAxVg38yB6L0

Tetapi, disaat mereka berbalik, mereka tak menemukanku. Tanpa mereka duga, aku berada ditengah-tengah mereka. Menunduk diam dan menunggu waktu yang tepat. Aku menarik kaki mereka, membuat mereka terjatuh dan membuat mereka kehilangan konsentrasi. Akibatnya, bola api yang awalnya mereka bawa tertembak kelangit-langit koridor, membuatnya mulai runtuh. Sementara puing-puing mulai berjatuhan, mereka mencoba untuk berdiri dan berlari menghindar. Namun, mereka tak sanggup berdiri maupun berlari karena kaki mereka yang kuikat satu sama lain dengan sabukku saat aku menunduk tadi. Dengan begitu, mereka tertimpa puing-puing dan tak sadarkan diri. Kondisi mereka itu membuat sistem memutus koneksi dan membuat mereka terlog-out dengan sendirinya. Tapi, aku yakin mereka akan baik-baik saja karena sistem Start Point yang akan meminimalisir luka yang terjadi di tubuh asli. Namun, dengan begini, membuat salah satu jalan kaburku menjadi terhalang oleh puing-puing yang ada.copyright protection233PENANATBE0tdCmuU

"Kurasa tinggal kita berdua." Aku berbalik dan melihat perempuan yang sejak tadi terus-menerus terdiam diujung koridor. Perempuan berambut hitam sepanjang pundak itu terus terdiam menatapku dengan tatapannya yang penuh kebencian kepadaku. Entah apa yang sudah kulakukan sehingga membuatnya membenciku seperti itu. "Kenapa kalian mengejar dan menyerangku?" Aku berjalan menghampirinya sembali membersihkan seragam putihku dari debu. "Jawablah!" Aku mencoba membentaknya sampai-sampai membuat suaraku bergema diseluruh koridor, namun dia tak menjawab maupun mengeluarkan suara sama sekali. Aku terus mengulang pertanyaanku, sampai akhirnya dia mulai angkat bicara "Diamlah....". Tetapi volume suaranya yang kecil membuatku tak sanggup mendengarnya "A-apa? Apa kau bisa mengulanginya lagi?"copyright protection233PENANAH0xFgr4eJb

"Diam kau!!" Dia meneriakkan kata-kata itu dengan sangat kencang sembari berlari kearahku dengan kecepatan yang tak biasa. "Ap—" Tanpa kuduga, perempuan itu sudah berada didepanku. Kecepatannya yang luar biasa membuatku tak berkutik dan tak sanggup menghindar. Dia menarik pedang dari sarungnya, lalu mengayunkannya kearahku dengan cepat. Serangan itu nyaris saja mengenaiku, untungnya, serangan itu hanya menggores baju putih dan dasi abu-abuku. Aku melirik kearah bajuku sebentar, lalu dengan cepat kembali melihat kearah perempuan tersebut. Namun, dengan cepat dia sudah disampingku dan siap mengayunkan pedangnya. Dengan kedua tanganku, aku langsung menahan tangan kanannya yang memegang pedang tersebut.copyright protection233PENANANg63jfCUlo

"Te-tenanglah..... Ma-maafkanlah apapun yang sudah kulakukan kepadamu sehinga membuatmu marah seperti ini" Aku terus menahan tangan kanannya yang memegang pedang, tetapi dia terus memusatkan energinya kepedang tersebut sehingga membuatku semakin kewalahan menahan serangan itu. Pedangnya yang kutahan sedikit demi sedikit semakin mendekati leherku "Ki-ki-kita bisa membicarakan ini baik-baik....". Aku langsung menendang kaki kanannya dan membuatnya setengah berlutut, sehingga pedang tadi berhasil dijauhkan dari leherku. Tetapi, dengan cepat dia membalikkan keadaan dengan memukul perutku menggunakkan pedangnya. "Open the seal : Light Hand" Telapak tangan kirinya mulai bercahaya, cahaya berwarna putih yang sangat terang. Dia mengarahkan telapak tangannya kedepan mataku, menggunakkan cahaya tersebut seperti efek flash yang timbul dari kamera saat memotret. "Mataku." Cahaya tersebut langsung membuatku tak bisa melihat apa-apa. Aku langsung terjatuh kebelakang akibat tersandung salah satu puing-puing.copyright protection233PENANAVf0zftNSQh

"Menyerahlah! Tenang saja, aku pasti akan memberimu kematian yang cepat!" Tak lama kemudian, penglihatanku mulai kembali. Tetapi, itu hanyalah kabar baik sementara. Hal pertama yang kulihat adalah mata pedang dari perempuan itu yang menghadap langsung kearahku. Saat kusadari, kedua tanganku sudah diikat dengan tali. "A-anu..... Apakah ada pilihan yang lain?" Perlahan, aku mencoba berdiri sementara mata pedang tersebut terus-menerus diarahkan keleherku. Aku melangkah mundur perlahan-lahan sampai akhirnya aku menabrak tembok dibelakangku. Perempuan itu tak mendengarkan kata-kataku dan dengan perlahan mengangkat pedang. Kedua tangannya memegang pedang itu dengan sangat erat, matanya tepat tertuju kearahku sampai-sampai tak ada keraguan sedikitpun terpancar. Sampai akhirnya pedangnya mencapai puncak. Aku memejamkan kedua mataku, berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi dan aku akan terbangun setelah aku membuka kembali mataku.copyright protection233PENANAMxikczMgNv

"Dimo!" Aku mendengar suara Zaki. Entah kenapa aku mendengar suara manusia seperti dia. Aku memberanikan diriku untuk membuka kedua mataku. Tak ada yang berubah dari yang kulihat. Perempuan itu masih saja berdiri dihadapanku dengan mengangkat kedua tangannya yang siap untuk menebasku. Tunggu dulu, kenapa dia tak melakukannya?copyright protection233PENANAsBLyF4NiZ9

Perlahan, aku menengok kearah pedang yang dia genggam. Pedang tersebut tertahan oleh sebuah aliran air. Seakan-akan air tersebut menahan pedang itu untuk tidak diayunkan. Aku melihat aliran panjang air tersebut yang berasal dari koridor dimana perempuan itu berasal. Dari salah satu belokan, kak Indra datang dengan kondisi log in. Saat kusadari, aliran air tersebut berasal dari pedang miliknya "Sudah cukup, Anna!". Dari belakang, mbak Dinda, Zaki, Leila, dan Sindy datang mengikutinya. Zaki langsung berlari kearahku dan melepas tali yang mengikat tanganku "Apa kau tidak apa-apa, Dimo?". Melihat Zaki yang kesulitan melepas tali yang mengikatku, Sindy dan Leila langsung membantunya. "Ya, berkat kalian, aku masih utuh." Aku tertawa kecil, merasa lega karena mereka datang menyelamatkanku. Sementara kak Indra menarik pedang itu dari genggaman mbak Anna dan melemparnya menjauh dari dia. "Kenapa kau menghentikanku, Indra si Hantu Air?"copyright protection233PENANAHUpHtFahx0

"Kau harus tenang, bocah ini tidak tahu ap—"copyright protection233PENANAykyRFKqr1e

"Tidak tahu apa-apa?" Anna berbalik dan membentak kak Indra. "Tidak salah lagi, dialah pelakunya! Kenapa kau menghentikanku untuk membunu—"copyright protection233PENANAWtPI2vMQOM

"Membunuhnya? Apa dengan membunuhnya akan membuat Andri kembali?" Kak Indra menyarungkan kembali pedangnya, lalu memegang pundak Anna. "Apa kau yakin ini yang diinginkan Andri? Apa kau yakin, dia akan senang melihat dirimu menjadi seorang pembunuh berdarah dingin?" Seketika, mbak Anna langsung tertunduk. Rasa benci yang terpancar dari kedua matanya langsung sirna. Dia menjatuhkan lututnya, lalu mengusap wajahnya. Tanpa dia sadari, air mata mulai mengalir jatuh dari matanya. Perasaan sedih yang selama ini terbendung oleh rasa bencinya langsung tertumpah.copyright protection233PENANAZvGpca4nrC

"Sebenarnya, apa yang terjadi.....?" Aku berbisik ke Zaki, Leila dan Sindy. Mbak Dinda yang tak sengaja mendengar pertanyaanku langsung menghampiriku "Dia adalah Anna Nirmawati, ketua dari divisi ke-4. Dua hari yang lalu, wakil divisinya sekaligus tunangannya yang bernama Andri, telah dibunuh oleh orang yang berpenampilan mirip denganmu." Aku tertegun. Sekarang aku mengerti, mengapa dia menatapku dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Sekarang aku mengerti mengapa dia sangat ingin menghabisiku. Aku menghampiri mbak Anna, lalu mengulurkan tanganku. Mbak Anna yang menyadarinya, langsung mengusap wajahnya lalu menengok kearahku. "A-anu, mungkin ini terdengar lancang tapi..... Aku akan membuktikan bahwa diriku tidaklah bersalah, dan aku berjanji, aku akan membantumu menangkap pelaku sebenarnya." Mbak Anna meraih tanganku, lalu membantingku "Kau tidak perlu repot-repot jika kaulah pelakunya." Dia lalu pergi meninggalkanku dan yang lainnya "Sampai jumpa lagi. Tuan penangkap pelaku sebenarnya."copyright protection233PENANAo0XWRCHh4I

Setelah itu, aku, kak Indra, mbak Dinda, Zaki, Leila, dan Sindy kembali kedalam ruang interogasi. Setelah dilakukan beberapa tes, terbukti bahwa aku berada ditempat yang berbeda disaat penyerangan di gua terjadi. Tetapi, tetap dilakukan pengawasan terhadapku. Selama 12 jam sehari, aku akan diawasi oleh salah satu ketua divisi dan divisinya. Orang yang bertugas mengawasiku adalah mbak Anna, kurasa dia mengajukan diri untuk menjadi sukarelawan dalam misi ini. Dan karena kondisi yang terjadi, aku terpaksa harus menjadi salah seorang anggota ERASER di divisi yang dipimpin oleh mbak Anna, karena itulah dia yang bertugas menjadi pengawasku. Berbeda denganku, Zaki, Leila, dan Sindy berada di divisi 7 yang diketuai oleh kak Indra.copyright protection233PENANAw1blJdRw3F

Mulai saat itu, setiap hari, selama 12 jam, mbak Anna akan terus mengawasiku. Dari pagi, hingga sore hari. Mau di sekolah, di rumah, di toko swalayan, di jalan, di manapun, dia akan terus mengawasiku. "Anu.... kurasa sudah lebih dari 12 jam deh." Aku memergoki mbak Anna yang sedang membuntutiku di taman di jam 8 malam. Disaat dimana sudah melewati waktu pengawasan. Dia yang sedang terduduk di sebuah kursi yang bersebelahan dengan mesin penjual minuman. Sembari meminum sebuah es jus lemon, dia langsung berpura-pura bahwa dia tak mendengar pernyataanku tadi dan bersiap untuk pergi meninggalkanku. Penampilannya yang mencoloklah yang membuatku mudah menemukannya. Bayangkan saja, orang macam apa yang mengenakkan mantel tebal, berkacamata hitam, memakai masker, dan memakai topi dimalam hari yang dingin seperti ini. Sebelum dia sempat meninggalkanku, aku menarik mantelnya "Kau mau pergi kemana, mbak Anna?". Dia berbalik lalu berprilaku seolah-olah tidak pernah mendengar nama itu dengan berpura-pura mengingat lalu menggeleng-gelengkan kepalanya "Ti-tidak, sepertinya kau salah orang". "oh, begitu ya..." Aku langsung menarik kacamatanya, lalu melepas topinya "....sekarang, apa aku masih salah orang?".copyright protection233PENANAi3aZsn9xLB

Karena sudah tidak punya cara untuk mengelak, mbak Anna melepas masker dan mantelnya lalu duduk kembali kekursi "Baiklah, kau menang.". "Kenapa kau masih mengikutiku? Bukankah ini sudah lewat jam pengawasan?" Aku membeli dua buah jus dari mesin penjual minuman lalu memberikan satu kepada mbak Anna "Terima kasih....". Aku membuka minuman kaleng itu lalu meminumnya sementara mbak Anna yang terus terdiam—enggan meminumnya dan menaruhnya disebelahnya. Sebuah lampu jalan menjadi satu-satunya penerangan ditempat itu, aku melihat sebuah serangga ngengat yang terus terbang mengitari lampu itu tanpa tahu kapan akan berhenti. Cahaya berwarna putih kekuningan yang dipancarkan oleh lampu yang nampak seperti mataharilah yang membuat ngengat itu begitu tertarik dengan cahayanya. Aku melirik kearah mbak Anna yang terus terdiam—menunduk menatap kearah genangan air yang memantulkan pancaran cahaya dari lampu dan cahaya bulan yang berwarna perak terang "Hei, mengenai seseorang yang telah... kau tahu.... membunuh tunanganmu..... Bagaimana penampilan orang itu...?" Wajahnya langsung terangkat dan menengok kearahku, seketika dia terbangun dari lamunannya setelah mendengar pertanyaan dariku. Tetapi, ekspresinya yang kosong langsung berubah menjadi ekspresi kekesalan.copyright protection233PENANAa9B76tKNLP

"Wajah yang sama dengan wajah yang sedang kutatap saat ini." Mendengar jawabannya dan ekspresinya saat ini membuat diriku merasa sedikit tidak nyaman. "Be-begitu ya...." Aku membuat senyum palsu dan langsung mundur beberapa meter menjauh darinya, namun dia terus mendekatiku dengan ekspresi kesalnya yang menyeramkan. Aku terus-menerus mundur sampai akhirnya aku menabrak mesin penjual minuman dibelakangku. Aku kembali menengok kearah ngengat yang mengitari lampu tadi yang rupanya sudah tidak mengitari lampu dan berhinggap di tiangnya. Aku kembali melihat kearah mbak Anna yang sudah tepat berada dihadapanku. Aku memejamkan mataku, karena aku tak ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.copyright protection233PENANAvhQGDzUu6Y

Aku mendengar sebuah suara pembuka kaleng yang terbuka. Aku buka kedua mataku dan melihat mbak Anna yang sedang meneguk minuman kaleng yang kubeli tadi. Dia meneguk habis seluruh jus dan melemparnya kearah tempat sampah yang terletak tak jauh dari kursi dimana kami berada. "Yah, begitulah. Sampai nanti, Dimo." Mbak Anna berdiri dan pergi meninggalkanku begitu saja. Aku menghela nafas lega atas kepergian mbak Anna, lalu meneguk minuman kaleng yang sedang kugenggam. Tetapi, tanpa kusadari, itu hanyalah sebuah kaleng kosong. Seluruh isi dari minuman tersebut sudah tumpah sesaat aku mundur tadi. Akupun melirik kembali serangga ngengat yang sudah tidak ada. Kulihat tempat sampah tadi, lalu kulempar kaleng minuman ini kearahnya. Tetapi, lemparanku meleset sehingga kaleng minuman itu membentur tubuh dari tempat sampah dan terjatuh didepannya. Kuambil kaleng minuman tersebut, lalu memasukkannya kedalam tempat sampah.copyright protection233PENANAao1lnuIx2t

"Dimo, hari ini pergi berburu monster bersamaku, yuk." Aku menengok kebelakang, melihat Zaki yang seperti biasa membalik kursinya untuk berbicara kepadaku. "Tidak, aku tidak ikut. Ramalan cuaca hari ini mengatakan bahwa hari ini akan turuh hujan deras." Sebuah kata-kata menjadi sebuah alasanku untuk menolak ajakanannya. Aku kembali menengok kedepan untuk merapihkan buku-buku dan alat tulisku dan bersiap untuk pulang. "Sungguh?! Gawat, aku tidak membawa payung." Zaki langsung berlari keluar ruang kelas dan melihat langit yang nampak mendung. Tak ada satupun awan putih yang menyelimuti langit, hanya terdapat awan berwarna hitam kelam yang menyelimuti langit tanpa ada celah sedikitpun. "Ambil ini...." Aku sedikit menjitak kepala Zaki menggunakkan payung yang kupegang. Setelah Zaki berbalik, dia melihat payung milikku yang kupegang "Apa kau yakin? Lalu, bagaimana denganmu?". "Hari ini aku membawa dua payung." Aku menunjuk kearah payung yang tersimpan didalam tas milikku. Zaki tersenyum lega lalu meraih payung yang kugenggam "Sip, terima ka—"copyright protection233PENANA9cDLkJe4xZ

"Tetapi, dengan satu syarat. Selama seminggu ini, jangan sekali-sekali kau mengajakku untuk bermain game online maupun offline." Aku memotong kata-katanya, lalu menarik mundur payung yang hendak akan kupinjamkan. "Oke." Zaki mengangkat jempolnya lalu mengambil payung milikku. Tak lama kemudian, hujanpun turun. Diperjalanan menuju ke gerbang sekolah, aku melihat Leila yang sedang berteduh didepan pos satpam. Walau begitu, nampak pakaiannya sudah sedikit basah karena hujan. Sesekali dia mengulurkan tangannya kedalam hujan untuk memeriksa tingkat kederasan hujan. Disaat dia sedang memeriksa kederasan hujan, tiba-tiba tak ada satupun air hujan yang menetes di telapak tangannya. Diapun menengok keatas dan melihat ada sebuah payung yang menaungi dirinya. Perlahan, Leila menengok kearah payung itu berasal dan menemukanku yang tersenyum ramah kepadanya "Mau pulang bareng?"copyright protection233PENANAT2hKJUkEpq

Suara dan aroma hujan yang menyelimuti, serta orang-orang dan kendaraan yang melintas terus menghiasi perjalanan kami. Apalagi suara khas dari air hujan yang dihasilkan dari perbenturannya dengan payung. Wajah Leila yang memerah sepanjang perjalanan membuatku merasa khawatir. Semoga dia meminum obat demam secara teratur. Sebuah perjalanan yang sangat canggung, dimana tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Aku kembali menengok kearah Leila, namun aku tak bisa menemukannya. "Dimo...." Aku mendengar suaranya dari belakang. Aku berbalik dan melihatnya yang nampak dalam keadaan hampir basah kuyup karena hujan. "A-apa yang kau lakukan, kalau kau kehujanan, nanti demammu akan bertambah pa—"copyright protection233PENANACzPDUc8DKa

"A-apa ada.... o-orang yang kau suka?" Seketika, langkahku terhenti. Pertanyaan yang barusaja dia ajukan, membuatku diam seribu bahasa. Rambutnya yang basah menutupi matanya, membuatku tak bisa melihat bagaimana ekspresinya saat ini. Tetapi, wajahnya yang semakin memerah menunjukkan bahwa demamnya yang semakin memburuk. "A-anu... so-soal itu..... ba-bagaimana ya menjawabnya...."copyright protection233PENANA6TmKEHuTL1

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773copyright protection233PENANATF4aqN4Ksu

"Ka-kalau begitu..... Ba-bagaima pendapatmu mengenai Sindy?"copyright protection233PENANAb430IYcQBX

"Sindy? Ku-kurasa dia itu baik, hebat, dan seorang pemberani. Ba-bahkan mungkin kemampuannya dalam bermain game lebih hebat dibanding diriku. A-aku tidak membenci tipe perempuan sepertinya."copyright protection233PENANA1IRotv5XpR

"Be-begitu ya...." Suaranya yang kecil dan uap yang dikeluarkan darinya saat bernapas menunjukkan betapa dinginnya suasana saat itu. Akupun menghampirinya dan menaunginya menggunakkan payung milikku tanpa berpikir panjang "Me-memangnya ada apa, tiba-tiba kau bertanya hal seperti ini.". Leila menggelengkan kepalanya lalu tersenyum manis "Ti-tidak, aku hanya iseng.".copyright protection233PENANAYix2sXQxIi

"Dimo, terima kasih karena mau mengantarku." Leila mengambil handuk yang tergantung sembari membuka pintu depan rumahnya lalu mengeringkan rambutnya. Aku memberinya jempol lalu tersenyum "Ya. Tak masalah." Leila tertawa kecil melihat tanggapanku, lalu tersenyum ramah "Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah."copyright protection233PENANA2Tn5T546WG

Aku berhenti di sebuah lampu merah. Menunggu saat dimana pejalan kaki diperbolehkan untuk menyebrang. Sepatuku yang sudah mulai penuh dengan air mulai membuatku merasa tak nyaman. Suara dari mobil-mobil dan motor yang terus saja melintas menyatu dengan suara hujan. Diseberang jalan, aku melihat ada seorang perempuan yang berpenampilan sangat mencolok. Dengan mantel tebal, masker, serta kacamata yang dia pakai membuatnya menjadi pusat perhatian. Diantara orang-orang yang berkumpul untuk menunggu lampu merah, dialah yang berpenampilan paling mencolok. Aku tahu siapa dia, tak lain dan tak bukan adalah mbak Anna. Entah mengapa dia berpikir dengan penampilannya yang mencolok itu dapat membuatku tak menyadari keberadaannya. Lampupun menjadi merah, kendaraan-kendaraan yang melintas mulai berhenti dan pejalan kaki mulai melangkahkan kakinya menyebrangi jalan. Kehadiran mbak Anna membuatku mengurungkan niatku untuk menyebrang. Sementara pejalan kaki yang lainnya mulai menyebrang, aku berbelok dan mengambil jalan memutar. Melihat tingkahku, mbak Anna langsung menyebrang berlari mengejarku.copyright protection233PENANA3YpUmSqrPP

Aku mempercepat langkahku—menyamakan kecepatanku dengan langkah kaki mbak Anna. Aku tahu bahwa ini adalah salah satu kesepakatan dengan ERASER, tetapi entah mengapa aku mempunyai firasat buruk disaat aku melihat mbak Anna. Aku terus berlari dan terus berlari, dengan sepatu yang basah dan nafas yang mulai terasa berat, kulangkahkan kedua kakiku menuju kerumah. Namun, tiba-tiba aku tersandung sebuah batu. Akibatnya, payungku terlepas dari genggamanku dan aku terjatuh. Seluruh seragamku basah karena aku terjatuh disebuah genangan air, dan tas beserta isinya juga akan segera menyusul jika aku tidak segera kembali memakai payung. Setelah bangun, aku langsung berlari mengambil payungku yang terlempar beberapa meter dari tempatku terjatuh "Mau kemana kau? Dan kenapa kau lari dariku?" Suaranya yang berasal dari belakangku langsung membuat bulu kudukku berdiri. Dengan senyuman pahit, aku perlahan berbalik menghadapnya "Yo.... Halo....."copyright protection233PENANAiO7PQANH8v

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773copyright protection233PENANA0aonghtloq

"Kau masih belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau lari dari—" Tiba-tiba, seekor monster singa langsung menabraknya. Memotong pembicaraan dan membuat mbak Anna terlempar kesebuah lapangan luas yang penuh dengan rerumputan yang cukup tinggi. "Mbak Anna....!" Melihat ada salah seorang monster singa yang hendak akan mencakarku, aku langsung menutup payungku dan menahan cakaran itu menggunakkannya "(Gawat.....)". Dari belakangku, muncul monster singa lainnya. Sebuah pedang cahaya yang terlempar kearah kakinya yang hendak akan mencakarku. Dengan cepat pedang tersebut membelah dan memotongnya. Tak lama setelah pedang tersebut tertancap ditanah, pedang cahaya tersebut mulai menguap dan menghilang. Aku menengok kearah asal dari pedang tersebut, yaitu lapangan dimana mbak Anna berada "Jangan berani-berani menyentuhnya. Dia milikku!" Dengan kondisi yang sudah ter log in kedalam Start Point, mbak Anna melempar pedang cahaya itu kearah monster singa yang hendak akan mencakar punggungku itu. Pedang tersebut tepat menembus tubuhnya bagaikan pisau yang membelah tahu.copyright protection233PENANA1roqmKiMc8

"Open the seal : Light Boost" Dia hentakkan kakinya yang mulai bercahaya ketanah, lalu mendorong tanah tersebut sekuat yang dia bisa. Dorongan tersebut membuatnya bergerak dengan sangat cepat. Saat aku sadari, mbak Anna sudah tepat berada dibelakangku. "Open the seal : Light Sword" Dia menarik sebuah cahaya keluar dari dalam pedangnya. Sebuah cahaya yang bentuknya nampak menyerupai pedangnya. Perlahan, pedang tersebut mulai menggandakan dirinya menjadi banyak dan berkumpul dibelakang mbak Anna. Dengan cepat, mbak Anna berpindah kebelakang monster singa yang sedang kutahan, lalu menusukkan pedang-pedang cahaya ke tubuh sang monster singa. Tubuh monsterpun mulai bercahaya lalu menghilang "Terima kasih. Lalu, apa kau baik-baik saja?".copyright protection233PENANABvWJlNk8ut

"Kau bisa tanyakkan itu nanti."copyright protection233PENANADvE2TUkngI

Seakan tak memberikan waktu untuk bernapas, monster singa lainnyapun datang sesaat setelah monster singa sebelumnya menghilang. Aku menyimpan payungku kedalam tasku lalu memindai sidik jariku dan log in kedalam Start Point. Kutarik pedangku dan kukeluarkan pistol dari dalam inventori, lalu kuberlari kearah salah satu monster. Meyadari seranganku, monster tersebut berinisiatif untuk menyerangku terlebih dahulu dengan mencakarku, namun aku menunduk dan merosot dibawahnya. Jalan yang basah karena hujan menjadi nilau plus tersendiri karena membuatku lebih mudah dan lebih cepat merosot dibawah cakar tajam monster singa itu. Sembari merosot, aku menebas kaki-kaki dari monster singa tersebut. Sampai akhirnya aku terhenti dibawah tubuhnya. Agar tak tertimpa tubuh singa yang sudah tak kuat berdiri, aku langsusng menggelindingkan tubuhku menjauh darinya. Namun, aku telah menggelindingkan tubuhku kearah yang salah. Seekor monster singa telah menungguku dan siap menerkamku kapan saja. Karena jarakku dengannya yang cukup dekat, monster tersebut mulai melompat untuk menerkamku. "Gawat...!" Aku menghentikan tubuhku dengan menancapkan pedangku kedalam tanah lalu berdiri. Tetapi sudah terlambat, jarak antara aku dengan terkaman monster singa tersebut sudah sangat dekat sehingga tak memungkinkanku untuk menghindar.copyright protection233PENANANhacIwX1ja

"Jangan lengah! Dasar bodoh." Mbak Anna melemparkan pedang-pedang cahayanya kearah monster singa yang akan menerkamku, membuatnya terbawa oleh pedang tersebut dan berhasil dijauhkan dariku. Mbak Anna berlari kebelakangku seakan melindungiku. "Terima kasih. Tapi kenapa lagi-lagi kau melindungiku....? Bukankah kau membenciku?"copyright protection233PENANA9UF5E0TZ8o

"Jangan salah paham dulu. Aku terpaksa melindungimu karena itu salah satu tanggung jawabku. Memangnya kau kira, siapa disini yang begitu ingin menghabisimu selain aku....?"copyright protection233PENANAsMT7PM299i

Aku tertawa kecil "Benar juga.... Kalau begitu, mohon bantuannya ya, kak Anna." Aku menarik kembali pedangku yang tertancap dari dalam tanah. Air hujan yang terus turun membasahi pedangku—membersihkannya dari lumpur-lumpur yang tersisa akibat ditancapkan tadi. Aku menembakkan pistolku kearah monster-monster singa tersebut, namun nampak tak terlalu berdampak kepada mereka. "(Kalau begini....) Open the seal : Moonlight Shard" Aku menyalurkan seluruh energi yang dihasilkan oleh moonlight shard kedalam pistolku. Membuat pistol tersebut menjadi bercahaya. Cahaya peraknya bersinar di cuaca yang mendung dan gelap ini. Aku mulai menembakkan pistolku yang sedang dilapisi oleh energi dari moonlight shard. Peluru yang dikeluarkan berbentuk seperti sebuah cahaya yang amat terang. Peluru cahaya tersebut kutembakkan kearah monster-monster singa. Peluru tersebut menembus tubuh mereka—menyisakan sebuah titik atau lubang ditubuh mereka. Menghabisi mereka hanya dengan satu peluru.copyright protection233PENANASXz3aiz8jS

"Gawat.... mereka tak ada habisnya....." Nafas kami terasa berat, mana kami tersisa sedikit, tubuh kami yang basah karena air hujan juga sudah mulai lelah. Peluru dari pistol yang kumiliki juga sudah habis. Namun, monster-monster singa ini terus menerus berdatangan. Mereka terus saja berdatangan bagaikan air hujan. Aku mendongkak kearah langit yang masih dipenuhi oleh awan hitam. Tak ada tanda sama sekali bahwa hujan akan reda. Kami bersembunyi di antara rerumputan dilapangan dimana mbak Anna terlempar tadi. Rumput yang cukup tinggi membuat kami mudah untuk bersembunyi dari monster-monster singa itu. Untungnya, hujan yang nampaknya takkan reda ini menghapus bau kami dari penciuman mereka "Dimo, apa kau masih sanggup...?".copyright protection233PENANAisNXysXrr5

"Tidak bisa dibilang begitu sih.... tapi dengan manaku yang tersisa, aku masih bisa bertarung."copyright protection233PENANAPUSJ2Hv4RF

"Bertahanlah, aku sudah menghubungi anggota divisiku, mereka pasti akan tiba beberapa menit lagi."copyright protection233PENANAmKDWNOemWy

"Kenapa mereka tak bersamamu.....? Bukankah divisimu yang bertugas mengawasiku?"copyright protection233PENANAfe03bzv80X

"Karena hujan, aku meminta mereka untuk mengambil hari libur."copyright protection233PENANAeQS7zUO5ZG

"Lalu kau bisa mengawasiku sendirian?"copyright protection233PENANALlqpiedxB9

"Tak sopan sekali, padahal kau sudah kuselamatkan." Mbak Anna menjitak kepalaku. "Sakit, kenapa kau ini....?!" Aku menekan bagian kepalaku yang barusaja dia jitak. Aku ingin membalas perbuatannya, namun aku sadar bahwa itu hanya akan memperburuk suasana hatinya. "Hei...."copyright protection233PENANA5Qn6TyFpHG

"Apa...?"copyright protection233PENANAmVwf26aRc9

"Mungkin sudah terlambat untuk mengatakannya tapi, aku turut berduka.... mengenai tunanganmu....." mendengar itu, ekspresi yang ditunjukkan wajahnya langsung berubah menjadi tenang. Nampak ada kesedihan yang dipancarkan, namun nampaknya dia tak ingin menunjukkannya.copyright protection233PENANAyXuYmNdAkO

"Begitu..... Terima kasih....." Mbak Anna menggeser beberapa rerumputan agar membuatnya dapat melihat sekitar. Nampak monster-monster singa masih mencari keberadaan kami. "Gawat..."copyright protection233PENANAJpE6vyEbYl

"Ada apa?" Aku ikut menggeser rerumputan untuk melihat alasan mengapa mbak Anna terkejut. Aku berharap bahwa yang dia lihat bukanlah hal yang berbahaya dan dapat mengancam kami berdua. Namun, yang kulihat adalah situasi yang tak diharapkan yang bahkan lebih buruk dari dua kemungkinan tadi. Seorang anak perempuan melintas membawa boneka beruangnya. Dengan polosnya anak tersebut melintas tanpa mengetahui bahaya yang mengancamnya. Aku langsung menengok kesana kemari mencari orang tua dari anak tersebut namun aku tak bisa menemukannya. Tak lama kemudian, anak perempuan itupun terjatuh terpeleset. Akibat suara cipratan air yang tercipta akibat dirinya yang terjatuh, monster-monster singapun menyadari keberadaan anak tersebut. Mereka mulai melupakan kami dan mulai berlari menuju keanak tersebut.copyright protection233PENANARlhoAkuKbH

"(Apa yang harus kulakukan....? Light boostku takkan bisa menggapai jarak yang cukup dekat untuk menyelamatkan anak itu.)"copyright protection233PENANATJFoI2cVCw

"Dimo, kau tunggu di si—" Mbak Anna berdiri dan hendak akan menembakkan pedang-pedang cahayanya kearah monster-monster singa tersebut, namun langsung menahan niatnya setelah melihatku yang mulai berlari kearah monster-monster tersebut.copyright protection233PENANAJlWorsX6DV

"(Sial.... Aku terlalu lambat. Kalau begini terus, aku takkan sempat....)" Dengan kecepatan ini, aku takkan bisa mencapai dirinya. Apalagi dengan adanya rumput-rumput yang tinggi ini yang membuat lariku semakin lambat. Sial, andai sistem teleportasi sudah diperbaiki. Tetapi, sejak malam itu, sistem teleportasi masih saja rusak.copyright protection233PENANAsuhJSR4nCg

"Open the seal : Light Boost" Wajahku terdongkak seketika. Mendengar mantra yang dilafalkan oleh mbak Anna, aku menengok kebelakang. "Bersiaplah, Dimo!" Dengan kecepatan tinggi, mbak Anna melesat menuju kearahku. "Eh?!" Mendengar perintahnya yang menyuruhku untuk bersiap, aku langsung menarik pedangku keluar dari sarangnya dan menghadap lurus kedepan—kearah monster-monster singa yang sedang berlari kearah anak perempuan itu. Dengan kecepatan yang tinggi, mbak Anna mendorongku. Membuatku terlempar dengan kecepatan yang cukup untuk mengejar monster-monster singa tersebut. Aku menarik nafas dalam lalu berteriak sekuat tenaga "Kalian.... menjauh dari anak itu!!!" Mendengar suaraku, monster-monster singa itu langsung menghentikan larinya dan berbalik menghadangku. "Open the seal : Super Moonlight Shard, Super Moonlight Sword" Aku mengangkat pedangku setinggi yang kubisa lalu kutebas monster-monster tersebut disaat aku melesat melewati mereka. Pedangku yang sudah dipertajam dengan super moonlight shard menebas mereka satu persatu tanpa terkecuali. Lalu kubalik pedangku, mengarahkan mata pedang kebawah dan kutancapkan pedang tersebut ketanah untuk menghentikan tubuhku yang masih terlempar.copyright protection233PENANA5wZKVIM7Ep

Monster-monster singa itupun mulai bercahaya dan menghilang—berubah menjadi butiran-butiran cahaya kecil bersamaan dengan hujan yang mulai berhenti. Kutarik keluar pedangku, menyipratkan sisa lumpur yang menempel dipedang ketanah, lalu menyarungkannya kembali. Langit mulai memancarkan cahayanya kembali. Awan-awan hitam yang selama akhir-akhir ini menaungi langit mulai menghilang dan cahaya mentari yang hangat kembali bersinar. Aku berbalik dan menghampiri anak perempuan yang terjatuh tadi. Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya kembali berdiri. Walau malu-malu, anak perempuan yang masih polos tersebut menerima bantuanku dan kembali berdiri tanpa tahu bahaya yang baru saja mengancamnya. Dan itulah yang terbaik. "Apa kau baik-baik saja." Dengan lugu, anak itu mengangguk-angguk bersamaan dengan senyum polosnya. "Dimo, apa kalian tak apa?" tak lama, mbak Anna berlari menghampiri kami. "Ya, kami berdua ok" Aku tersenyum lebar lalu mengacungkan jempolku. Melihatku, anak perempuan itu menirukan tingkahku dengan polosnya.copyright protection233PENANAEoKANc2KjG

Tak lama kemudian, anggota divisi mbak Annapun tiba. Setelah menjelaskan situasi, mbak Anna memerintahkan mereka untuk mengantar anak perempuan itu kembali kerumah sementara dia akan mengantarku—mengawasiku sampai ke rumah.copyright protection233PENANAGLaXv3PArs

Keesokan harinya, aku mengalami demam tinggi karena hujan deras kemarin. Berbeda dengan kemarin, cuaca saat itu sangat cerah dan mendukung untuk melaksanakan aktivitas. Andai saja tak ada penyerangan kemarin, mungkin aku takkan mengalami demam ini dan tetap bersekolah. Gejala ini mulai muncul saat tengah malam. Awalnya aku menganggap enteng demam ini dan kembali tidur, tetapi aku terbangun jam 3 pagi dan demamku semakin parah. Aku mengecek kotak obatku yang terdapat diatas kulkas, namun aku tak menemukkan adanya obat demam. "Gawat....." Aku mengambil smartphoneku dari atas meja belajarku, lalu aku langsung menelpon Zaki untuk memintanya membeli obat demam.copyright protection233PENANAQwYQgTy31d

"Halo, ada apa Dimo? Tumben sekali kau menelfon pagi buta begini."copyright protection233PENANAtFBdgoqi9J

"ah, halo Zaki.... maaf, apa kau bisa belikan aku obat demam.....?" Kataku dengan nada suara yang bergetar karena kedinginan. Aku berjalan menghampiri kasurku lalu kutarik selimutku dan kututup seluruh tubuhku dengannya.copyright protection233PENANAYQv9O1dDBE

"Lho Dimo, kenapa kau?"copyright protection233PENANA5ra4hrXQvZ

Aku terdiam sejenak lalu kubuka selimutku untuk memeriksa jam dinding. Kututup kembali selimutku lalu kudekatkan smartphoneku ketelingaku "Jadi, bisa tidak?"copyright protection233PENANA3YEFcU3Ddd

"Oke, kau sakit demam. Baiklah, tunggu saja, aku akan segera belikan." Zaki menutup telefon tak lama setelah dia membalas.copyright protection233PENANAnc3TmRUzvw

Beberapa menit kemudian aku mendengar suara ketukan dari pintu containerku. Dengan tubuh yang tertutup selimut yang tebal nan hangat, aku berjalan menghampiri pintu dari kasurku. Karena merasa tak ada tanggapan sama sekali dari dalam rumah, ketukan di pintu semakin kencang dan semakin cepat. Mendengar ketukan itu membuat kepalaku semakin menjadi sakit. "Ya, ya, sabar." Aku mengambil kunci dari dalam sakuku lalu membuka pintuku yang masih terkunci. Ketukan itu terhenti setelah mendengar suara dari pintu yang sedang dibuka kuncinya. Aku kantungi kembali kunci itu lalu kubuka pintu. Zaki terdiam sesaat setelah melihat kondisiku. Kulitku pucat, tubuhku lemas dan menggigil kedinginan, serta aku yang menggunakkan selimut seperti kura-kura menggunakkan tempurungnya. Zaki menguap karena masih merasa mengantuk, dia menutup mulutnya yang masih menguap dengan tangannya lalu dia mengusap wajahnya. Rambutnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur, matanya juga masih nampak merah karena kantuk. Bahkan pakaiannya masih rangkap dengan pakaian tidurnya.copyright protection233PENANAeAXpEfRC5m

"Ah, maaf. Ini obat demamnya." Zaki mengangkat tangan kanannya yang membawa sebuah kantung plastik yang berisikan obat demam yang kuminta. Aku menerimanya dan sempat memeriksa isinya. Aku merogoh kantung belakang celanaku dan mengambil dompetku "Ini semuanya berapa? Biar kuganti." Zaki dengan santainya tersenyum dan menggaruk-garuk rambutnya "Tidak, tidak perlu Dimo."copyright protection233PENANAC8lhNycRbp

"Apa kau yakin?"copyright protection233PENANA5zC9sY1myw

"Ya, tenang saja." Zaki mengangkat jempolnya lalu berbalik. "Sampai jumpa." Dia mulai berjalan pergi meninggalkan rumahku.copyright protection233PENANASM7QbL52oa

Aku mengantungi kembali dompetku dan baru saja menyadari hal penting yang sudah kulupakan "Zaki, tunggu dulu" mendengar panggilanku, Zaki berhenti berjalan dan berbalik lalu kembali menghampiriku. Aku mengambil sebuah surat izin dari meja belajarku yang sempat kutulis sebelumnya lalu kuserahkan kepada Zaki "Ini, surat izin tak masuk sekolahku. Aku masih butuh tanda tangan dari paman Tedi sebagai waliku." Zaki menerimanya dan tersenyum.copyright protection233PENANAp0jLi7juZv

"Oke, tenang saja, aku pasti akan menemuinya sesaat sebelum berangkat ke sekolah"copyright protection233PENANAT54wexufT3

"Aku mengandalkanmu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi."copyright protection233PENANALMPSD1EI33

"Ya, sampai jumpa lagi." Zaki kembali berbalik lalu melambaikan tangannya dan kembali berjalan pulang. Aku membalas lambaiannya dengan melambai balik lalu menutup pintu dan menguncinya.copyright protection233PENANATt4demlxQk

Setelah meminta tanda tangan dari paman Tedi, Zaki sampai disekolah. Zaki menggantung tasnya disamping mejanya. Lalu dia buka rel sleting dari tasnya dan hendak mengambil surat izin milikku. Tetapi, tiba-tiba ada tangan yang menggenggam tangan kananya yang hendak akan mengambil surat izin itu seakan-akan melarangnya untuk melanjutkan lebih jauh lagi. Perlahan Zaki melihat keatas—melihat wajah dari orang yang menghentikannya itu "Di-Dimo?! Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau demam?" Dimo tersenyum lalu melepaskan genggaman tangannya dari Zaki. Dia kembali berjalan menuju kemejanya lalu menggantung tasnya disamping mejanya. Lalu dia memutar balik kursinya menghadap kearah Zaki dan duduk "Tenang saja, aku sudah sembuh, kok."copyright protection233PENANA3Kq8gEFLTz

Sindy terus memperhatikan mereka dari mejanya sejak Dimo memasuki kelas. Dia merasa ada suatu hal yang berbeda dari Dimo kali ini "(Rasanya ada yang aneh.)". Diam-diam, Sindy terus memperhatikan gerak-gerik Dimo. Tetapi sejauh ini, belum ada hal yang mencurigakan yang nampak dari Dimo. Zaki mulai membuka bekal miliknya, begitu pula dengan Leila. Sementara Sindy yang sejak awal jam istirahat terus terdiam memperhatikan Dimo. Roti yang dia beli dari kantin sekolah juga terus dia genggam "(Ini aneh.... apa hanya perasaanku saja. Zaki dan Leila juga nampak tak merasakan hal yang aneh dari Dimo.)"copyright protection233PENANAOFmEyZFcHI

"Sindy, ada apa?" Pertanyaan yang diajukan oleh Leila membangunkan Sindy dari lamunannya. Sindy menengok kearah Zaki, dan Leila yang nampak terdiam melihat kearahnya. Diapun tersadar bahwa tanpa dia sadari, dia telah meremas roti yang sejak tadi digenggamnya. Dia kembali menengok kearah Dimo yang ada dihadapannya. Reaksi yang dimunculkannya sama dengan Zaki dan Leila, dia berhenti memakan rotinya dan memperhatikan Sindy dengan ekspresi penuh tanya.copyright protection233PENANAgBbkPqHaYy

"(Ada yang aneh...)"copyright protection233PENANAv1iV9zzPlt

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Sindy melihat Dimo yang keluar kelas sendiri seakan menghindar untuk pulang bersama Zaki dan Leila. Dia melirik ke Zaki dan Leila yang nampak tak menyadari Dimo yang baru saja keluar kelas. Sindypun berkemas dan memakai tasnya, lalu pergi membuntuti Dimo. Sesekali, Dimo menengok kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya, disaat itu Sindy langsung bersembunyi dibalik tembok atau masuk kedalam kelas lainnya yang sudah kosong. Sindy terus mengikuti Dimo sampai akhirnya dia memasuki sebuah ruangan "Perpustakaan...?" Sindy melihat label yang tertera diatas pintu dari ruangan yang dimasuki Dimo. "(Kenapa dia kesini....?)" Sindy melepas sepatunya lalu mengikat rambutnya. Dia taruh tasnya lalu mengambil kacamata komputer miliknya dari dalam tas. Setelah memakai kacamata, Sindy kembali memakai tas lalu mengikuti Dimo memasuki perpustakaan. Dia melihat Dimo yang terduduk meminum sebuah minuman kaleng yang dibelinya sesaat sebelum memasuki perpustakaan. Dimo nampak sedang membaca sebuah buku. Sebuah buku yang nampak sudah agak tua dilihat dari warna kertasnya yang sudah agak kekuningan. Sindy mengambil sebuah buku dan duduk dimeja yang letaknya tak jauh dari Dimo sembari berharap bahwa penyamarannya tidak ketahuan. Sembari berpura-pura membaca, Sindy memperhatikan Dimo dengan tajam. Matanya melihat dengan detil setiap gerak-gerik yang dikeluarkan Dimo.copyright protection233PENANAo98LOGKtTs

Merasa tak cukup, Sindypun mengambil smartphonenya lalu membuka kamera. Dia mengsenyapkan smartphonenya sehingga tak menimbulkan suara saat dia memotret Dimo. Pertama dia memotret buku yang dibaca Dimo, lalu memotret wajah Dimo dan yang terakhir memotret keduanya. Setelah memeriksa hasil potretan, Sindy kembali memperhatikan Dimo, tetapi, tanpa dia duga Dimo sudah pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Anehnya, dia meninggalkan buku yang dibacanya begitu saja. Sindypun menutup buku yang dibacanya dan menaruhnya kembali kedalam rak. Dia hampiri meja yang dipakai Dimo dan melihat sampul buku yang dibacanya "Teori Dunia Paralel.... Apa ini....? Kenapa dia membaca ini?". Sindypun duduk dan membuka buku tersebut. Sindy bertanya-tanya mengapa Dimo membaca buku yang nampak tebal dan agak tua ini. Dia melihat daftar isi dan menyadari suatu hal yang ganjal. Ada beberapa huruf yang dilingkari dengan pensil "(Mungkin dia melingkarinya saat aku sedang memeriksa hasil foto tadi.)" Sindy mengambil buku catatan dan pulpen lalu dia tulis dan urutkan setiap huruf yang sudah dilingkari dibuku tersebut.copyright protection233PENANAca3ouTOc3M

"GRZNAZH NQN CNQNXH...... apa maksudnya?" Sindy menutup buku yang dibaca Dimo lalu memperhatikan setiap huruf yang dia dapat dibuku catatannya ini. Disaat dia sedang berpikir dan sedikit bermain-main dengan pulpennya, Sindy tak sengaja melihat mbak Anna yang hendak akan keluar dari perpustakaan "Dia....". Sindy mendapat ide untuk memberitahu ini kepada mbak Anna, orang yang sedang bertugas untuk menjaga dan mengawasi Dimo. Disaat mbak Anna akan keluar, dia memanggil mbak Anna dan meminta bantuannya secara blak-blakkan.copyright protection233PENANAKyO3uYC4NX

"Jadi begitu...." Mbak Anna menarik mundur kursi lalu duduk. Dia tarik buku yang dibaca Dimo dan melihat daftar isi yang diberitahu oleh Sindy. "Apa kak Anna tahu, apa maksud dari huruf-huruf ini?" Sindy mendorong buku catatannya mendekati mbak Anna yang sedang sibuk menelaah buku tentang teori dunia paralel tersebut. Tak lama kemudian, mbak Anna menutup buku tersebut dan melirik buku catatan milik Sindy. Setelah beberapa menit menatap buku tersebut, mbak Anna mengambil handphonenya lalu memotret huruf-huruf tersebut "Maaf, aku tak tahu. Tapi aku akan mencari tahu lebih lanjut nanti.". Setelah memotret, mbak Anna berdiri dan merapihkan kembali kursi yang dipakainya. Sindy menarik kembali bukunya dan menutupnya "Begitu ya....". Mbak Anna tersenyum lalu memegang pundak Sindy "Tenang saja, aku akan beritahu kau jika sudah mengerti maksud dari tulisan tersebut." Mbak Anna lalu merapihkan pakaiannya, menaruh sebuah secarik kertas berisikan nomor hanphonenya dan berjalan keluar sembari melambaikan tangan. Sindy membalasnya dengan tersenyum dan melambaikan tangan juga.copyright protection233PENANAxc7GXVnHpg

Keesokan harinya, Akupun sembuh. Setelah sampai ke sekolah aku langsung berjalan kekelas untuk menanyakan tugas-tugas kepada Zaki, namun aku sama sekali tidak menemukannya. Padahal, dia biasa tiba terlebih dahulu ke sekolah dibandingkan aku.copyright protection233PENANAaBqeZV7N8a

Aku berjalan kemejaku dan menggantung tasku. Sembari menunggu Zaki tiba, aku mengeluarkan buku catatan dan sebuah pensil dari dalam tasku. Namun, disaat aku melihat mejaku, terdapat sebuah coret-coretan yang sebelumnya tidak ada. Sebuah coret-coretan yang tidak biasa. Sebuah tulisan. "Pecahkan teka-tekiku, atau kau takkan bertemu lagi dengannya. (Apa maksudnya...?)" Aku menganggap tulisan itu hanyalah tulisan iseng dan segera menghapusnya. "Hei, Dimo." Zaki menepuk pundakku lalu menaruh tasnya diatas meja.copyright protection233PENANAASJoVdmyia

"Oh ya, Zaki, boleh aku pinjam catatanmu?"copyright protection233PENANAwPmEwkzT1Z

"Oke." Zaki membuka rel sleting tasnya dan mengambil buku catatan miliknya. "Ngomong-ngomong, kemana saja kau kemarin? Aku mencarimu saat pulang sekolah."copyright protection233PENANAabABpAxwoF

"Apa katamu?!" Aku tertegun, aku bahkan tak bisa percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Tanpa kusadari, tubuhku langsung berdiri dengan cepat dan mendorong kursiku hingga membuatnya terjatuh. Seketika, seluruh kelas terdiam, semuanya menatap kearahku karena apa yang sudah kulakukan. Bahkan Zaki yang letaknya paling dekat denganku tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Aku langsung memperbaiki kursiku lalu menarik Zaki keluar dari dalam kelas.copyright protection233PENANAHYyrntFJ2X

"Tunggu dulu Dimo, kau ini kenapa?" Zaki menarik tangan kanannya— melepaskan cengkramanku dari tangannya. "Baiklah Zaki, jelaskan secara rinci aktivitasku kemarin!" Aku merapihkan pakaianku lalu duduk disebuah kursi yang terdapat didepan kelas. Zaki yang masih bingung dengan maksudku, langsung duduk disebelahku dengan polosnya "Apa maksudmu....?"copyright protection233PENANATyMgdjANcC

"Aku—tidak, orang yang mirip aku, yang kau temui kemarin bukanlah ak—."copyright protection233PENANAMmNmXdWuKl

"Bukanlah Dimo." Sindy keluar dari kelas membawa sebuah buku catatan. Sembari memotong kata-kataku, dia duduk disebelahku. "Bagaimana kau tahu?" Aku dan Zaki menengok kearahnya. "Sejak awal, aku memang sudah curiga kepadanya, jadi aku mengawasi dia sampai akhirnya aku mendapatkan ini." Sindy membuka buku catatannya, lalu dia menunjuk beberapa huruf yang tertulis dengan tinta hitam dari pulpennya. "GRZNAZH NQN CNQNXH.... maksudnya apa?" Zaki meminjam buku tersebut lalu memperhatikan setiap kata yang ada. Melihat tulisan yang terdapat dibuku catatan itu membuatku teringat dengan tulisan yang terdapat dimejaku "(Teka-teki.... Jangan-jangan....) Sindy, bisa pinjam pulpenmu?" Aku mengulurkan tanganku sementara Sindy menarik pulpennya yang tergantung di saku kemejanya. Setelah menerima pulpen itu, aku langsung menerjemahkan setiap huruf yang ada. "Selesai." Aku menutup pulpen milik Sindy lalu menyerahkannya kembali. "Ini....."copyright protection233PENANAasjITGcyqe

Temanmu ada padakucopyright protection233PENANAvjNiA0BaNO

"(Temanku? Tapi siapa?)" Aku menyerahkan kembali buku catatan milik Sindy lalu mengambil smartphoneku dari dalam kantung celanaku untuk memeriksa jam. "Jam 7:03" Aku kembali berdiri lalu menengok kedalam kelas melalui jendela. "(Hampir semuanya sudah hadir, Zaki dan Sindy juga ada bersamaku..... tunggu dulu.....)" Aku langsung berlari meninggalkan Zaki dan Sindy. "Dimo, tunggu!" Zaki dan Sindy langsung ikut berlari mengejarku. Aku terus berlari keluar dari sekolah dan tiba di depan rumah Leila. Dengan nafas yang masih terasa berat, aku bersandar di pagar beton depan rumah Leila. Tak lama kemudian, Zaki dan Sindy tiba. Dengan napasnya yang masih terasa berat, Zaki langsung memegang pundakku dengan erat lalu mendorongku ke pagar beton "Dimo, jelaskan dulu kepada kami!" Setelah mengatur pernapasan, Sindy menyadari bahwa mereka tepat berada di depan rumah Leila, diapun menghampiriku dan memegang tangan Zaki yang mencengkram pundakku. "Zaki, tenanglah. Dimo pasti punya alasan yang kuat dengan semua ini." Zaki melemaskan cengkramannya lalu melepaskan pundakku. Tanpa memperdulikan pernapasanku yang masih terasa berat, aku langsung menjelaskan kepada mereka.copyright protection233PENANAMzaAW8OTDz

"Jadi begitu, dengan ancaman itu, kau merasa bahwa Leilalah targetnya."copyright protection233PENANAeN1ywVeItE

"Ya, sekarang sudah pukul 7 lebih dan Leila belum tiba di sekolah. Sudah lagi catatan itu menyatakan bahwa dia memiliki temanku—teman kita." Aku memeriksa jam di smartphoneku lalu menengok kearah rumah Leila. "Kurasa aku harus memeriksa apakah Leila ada di rumah atau tidak." Aku mengantungi kembali smartphoneku dan berjalan menuju pintu gerbang rumah Leila. Tiba-tiba, Sindy berjalan melewatiku dan menghentikanku "Biar aku saja. Kau telefon saja kak Anna dan beri tahu dia situasi saat ini." Sindy menyerahkan smartphonenya yang sedang menelfon mbak Anna, setelah itu dia mulai memasuki gerbang untuk menanyakan kondisi Leila kepada ibunya. Setelah kudekatkan smartphone itu ketelingaku, mbak Annapun menjawab panggilan dari Sindy. Setelah menjelaskan situasi, aku meminta bantuan kepada mbak Anna dan divisinya untuk mencari Leila dan memberitahu situasi kepada kak Indra, mbak Dinda, dan pak Bum. "Ibunya bilang bahwa dia sudah pergi berangkat ke sekolah dengan Dimo tadi pagi." Sindy menutup kembali pintu gerbang lalu menghampiri kami.copyright protection233PENANAXZYKiyLTJy

"Bagaimana ini, Dimo?" Zaki menggaruk-garuk rambutnya seakan bingung dengan apa yang harus dia lakukan.copyright protection233PENANAHw8S750VYE

"Aku sudah memberitahu situasi kepada mbak Anna, dia dan divisinya akan mencari Leila keseluruh kota. Tentu saja, kita juga tidak tinggal diam." Aku tersenyum lalu memberikan kembali smartphone milik Sindy. Setelah itu, kamipun berpencar dan mencari keseluruh kota.copyright protection233PENANAudswLYr0GV

Setelah mencari selama berjam-jam, aku dan yang lainnya masih belum bisa menemukan Leila. Walau banyak anggota ERASER yang sudah dikerahkan, rasanya masih kurang cukup untuk mencarinya. Wajar saja, ini adalah kota yang besar dengan penduduk yang padat. Mencari Leila saat ini sama saja seperti menari jarum ditumpukan jerami, aku butuh magnet untuk mendapatkan jarum itu. Aku menelpon Zaki, Sindy dan yang lainnya untuk menanyakan situasi, tetapi hasilnya nihil. Mereka juga masih belum bisa menemukan keberadaan Leila. "Sial, kenapa dia menculik Leila? Sebenarnya, apa maunya?" Aku tersadar, bahwa untuk melawan orang sepertinya, aku membutuhkan alat scanner untuk log in kedalam Start Point. Setelah kuperiksa seluruh kantung celanaku, aku sama sekali tidak bisa menemukan alat untuk log in itu. Aku memeriksa kantung dikemejaku, namun tak ada juga. Aku teringat bahwa aku lupa untuk membawanya karena terburu-buru ke sekolah untuk mencatat pelajaran yang sudah kulewati dan mengerjakan PR yang ada.copyright protection233PENANAFDUDocc96W

Setelah sampa dirumah, aku terkejut bahwa pintu rumahku yang seharusnya sudah terkunci malah tidak terkunci. Aku menelan ludahku dan menyeka keringatku lalu perlahan memasuki rumahku. Walau begitu, tak ada banyak perubahan yang terjadi didalam rumahku. Lampu masih mati, sprei dan selimutku juga masih tertata rapi. Tak lama, aku mendengar sebuah suara getaran dan suara lantunan musik. Setelah kunyalakan lampu, aku melihat sumber dari suara tersebut. Suara itu berasal dari sebuah telefon genggam yang tergeletak diatas meja belajarku. Handphone tersebut tergeletak begitu saja bersebelahan dengan alat scanner untuk log in. Seakan dia tahu bahwa aku akan kembali untuk mengambil alat itu. Aku mengambil handphone itu lalu kudekatkan ketelingaku. Dengan keringat yang terus bercucuran, aku memberanikan diriku untuk menekan tombol untuk menjawab panggilan.copyright protection233PENANAIOsRGzWHvV

"Akhirnya, kau menjawabku juga." Suara yang sama dengan suaraku langsung muncul tak lama setelah aku menjawab panggilan itu. Aku langsung menarik kursi belajarku dan duduk.copyright protection233PENANAl09NwULYVs

"Apa maumu dan siapa kau sebenarnya? Dan dimana kau menyembunyikan Leila?"copyright protection233PENANATA5Oeu1qD7

"Kukira aku akan mendapat sambutan hangat darimu, tetapi yang kudapatkan hanyalah pertanyaan yang menyusahkan."copyright protection233PENANAmmVPdCp9jU

"Jawab pertanyaanku!" Bentakkucopyright protection233PENANA5FUetq9ep4

"Baik, baik. Pertama, kau harus ingat ini. Aku adalah kau, dan kau adalah aku. Kedua, mauku? Maaf sekali, tetapi aku tak bisa menjawab itu. Ketiga, temui aku diatas gedung Bum Corp."copyright protection233PENANAHiEN6Sh8jV

Aku langsung mengambil alat scan untuk log in dan mengantungi handphone tersebut lalu langsung berlari menuju ke Bum Corp. Sembari berlari, aku langsung menghubungi semuanya untuk memberitahu lokasi dalang dari semua ini dan Leila. "Dimana..... ini?" Leila terbangun, dia melihat tas miliknya dan tas milik Dimo yang tergeletak disudut lantai "(Apa yang sebenarnya terjadi?)". Angin berhembus dengan kencang mengibarkan rambutnya, suara dari angin yang bergesekan dapat didengarnya dengan jelas, cahaya matahari yang terik seakan membakar kulit, langit biru yang luas membentang seakan tak ada batasnya. Leila menyadari bahwa kedua tangannya sudah terikat kepada tiang dibelakangnya. Dia menengok kesana kemari, mencari cara untuk membuka ikatan kencang yang mengikat kedua tangannya. Tak sengaja, dia melihat Dimo yang sedang berada dipinggir—berpegangan kepada pagar sembari menatap kebawah "Oh, kau sudah bangun? Tenang saja, kita ada di Bum Corp." Dia menatap kearah langit lalu berbalik sembari mengscan jarinya. Setelah ter-log in, Dimo berjalan secara perlahan menghampiri Leila. Dia sedikit menyeringai lalu menarik napas dalam-dalam "Disini sangat tenang ya." Setelah menghampiri Leila, diapun duduk disebelahnya.copyright protection233PENANAfGhbwuOVE7

"Dimo— tidak, siapa kau sebenarnya?"copyright protection233PENANAPJNJYga7vz

"Tenang saja, aku adalah Dimo, tetapi bukan Dimo yang kalian kenal."copyright protection233PENANAccRRZYKh74

"Apa maksudmu dan apa maumu?"copyright protection233PENANAcmKtygYmbC

"Tenang saja." Dia kembali berdiri lalu berjalan menuju kepagar, dia membuka inventori miliknya dan mengambil sebuah telur berukuran bola sepak "Nanti, kau juga akan tahu.". Telur tersebut dia jatuhkan, lalu setelah pecah, asap langsung keluar dari dalamnya. Asap tersebut semakin membesar dan semakin membesar sampai-sampai menutupi seluruh area disekitar Bum Corp.copyright protection233PENANAu1lhKkxUr2

Karena kejadian itu, lalu lintaspun menjadi padat. Kemacetan terjadi dimana-mana karena adanya kecelakaan yang diakibatkan oleh asap tersebut. Dan akibat kemacetan ini juga, angkutan kota yang sedang kutumpangi tak bisa bergerak lebih jauh lagi. Setelah keluar dan membayar ongkos, aku langsung berlari menuju Bum Corp. untungnya, tempat dimana aku turun dan gedung Bum Corp. tidak terlalu jauh "(Sebenarnya, berasal dari mana asap itu?)". Diperjalanan, aku bertemu dengan Sindy dan Zaki. Sindy baru saja mendapat informasi dari mbak Anna bahwa tiba-tiba telah muncul sebuah monster tak dikenali di halaman depan gedung Bum Corp. Tak lama kemudian, kamipun tiba. Asap yang menyelimuti tempat itu berangsur-angsur mulai memudar dan menghilang. Betapa terkejutnya aku melihat wujud dari monster tersebut. Monster tersebut nampak seperti monster singa yang menyerangku dan mbak Anna kemarin, namun kali ini ukurannya berkali-kali lebih besar dan lebih kuat. Bahkan anggota-anggota ERASER yang sudah tiba ditempat tersebut tak sanggup untuk melawannya. Aku tersadar, bahwa semua ini sudah direncanakannya. Begitu pula dengan serangan monster dua hari yang lalu. Monster tersebut terus mengamuk dan memporak-porandakan Bum Corp. serta semua yang ada disekitarnya. Untungnya, para pegawai di Bum Corp. sudah di evakuasi. Melihat itu, Zaki dan Sindy langsung log in kedalam Start Point dan segera membantu anggota ERASER yang ada. Tiba-tiba, telepon genggam yang kukantungi mulai bergetar. Aku langsung mengambilnya dan mengangkat telepon tersebut.copyright protection233PENANAuEfmvflfws

"Keparat........ Siapa kau sebenarnya?"copyright protection233PENANAkJO4dnlbJw

"Kalau kau ingin tahu, tunggu apa lagi? Kemarilah, lawan aku!" Dia langsung memutus telepon. Dengan rasa kesal yang tak tertahankan, aku langsung berlari memasuki Bum Corp. namun, aku tak bisa menggunakan lift dikarenakan sistemnya yang rusak. Akibatnya, aku harus memutar balik dan pergi melalui tangga darurat.copyright protection233PENANANex9vit3dV

"Gawat, kalau begini terus...." Aku menutup pintu dan mendorong sebuah lemari yang berada disebelahnya kedepan pintu. Walau tak terlalu membantu, namun ini cukup untuk mengulur waktu.copyright protection233PENANA6HAl35Aol7

"Dimo, bersiaplah, aku akan melemparmu dengan menggunakkan Light Boost milikku." Mbak Anna menghampiri sebuah jendela dan menengok kebawah dan keatas—memeriksa jarak antara lantai yang paling atas dan yang paling bawah dengan lantai dimana kami berada. Setelah yakin, dia menggunakkan skill Light Swordnya dan menghancurkan jendela tersebut. Angin kencang langsung menerpa dari luar, seakan menarik kami untuk keluar dari gedung. "Ayo, kemarilah." Mbak Anna bersiap dengan mengikat dirinya dengan sebuah pilar diruangan tersebut menggunakkan sebuah tali yang cukup panjang dan berjalan ke jendela yang sudah dihancurkannya untuk melompat keluar dan melafalkan Light Boost miliknya, namun aku tak bergerak sedikitpun dari tempatku berada "Tidak, kita tidak bisa menjamin kau akan selamat setelah kau mendorongku keatas." Aku menyimpan kembali pedangku kedalam inventoriku dan bersiap dihadapan lemari yang menghalang pintu. "Apa yang kau lakukan? Kita tak punya pilihan lain, bukan?" Tak lama kemudian, pintu yang terhalang oleh lemari itu mulai terdobrak. Nampaknya monster-monster singa tersebut sudah mulai mencoba mendobrak memasuki ruagan dimana kami berada. Aku mendorong lemari tersebut agar tidak terjatuh dengan seluruh tubuh dan tenagaku.copyright protection233PENANAQFRFK435gM

"Dimo, cepatlah!" Karena bingung, aku terus menerus menengok kearah pintu dan mbak Anna secara bergantian. "Persetaaaaan!!" Aku langsung melepaskan diriku dari lemari yang kudorong dan berlari kearah jendela yang sudah dihancurkannya lalu melompat keluar. Mbak Anna langsung tersenyum dan ikut melompat keluar. "Raih tanganku!" Dia mengulurkan tangannya kearahku yang terdapat dibawahnya. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. "Oke, Open the Seal : Light Boost." Seketika, tangannya yang sedang berpegangan dengan tangankupun mulai bercahaya. Cengkramannya semakin menguat bagaikan cakar elang yang mencengkram mangsanya. Dia menarikku dan melemparku keatas dengan kecepatan yang luar biasa.copyright protection233PENANAC31adwtHzG

"Dimo, tolong hentikan semua ini!" Dengan tangannya yang masih terikat, Leila mengdongkak menghadap kearah Dimo yang hendak berjalan kearahnya. "Tenang saja, semuanya akan berakhir sebentar lagi." Dimo memegang pundak Leila lalu tersenyum. Dia menengok kesana kemari, seakan sedang memastikan sesuatu lalu kembali menatap dalam kepada Leila. Dia mendekatkan wajahnya kesamping Leila lalu berbisik "Leila, dengar ini.... aku akan memberitahumu semuanya." Leila memejamkan matanya, seakan tak mau mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulutnya, namun perlahan matanya terbuka kembali karena semua yang dikatakannya. Dimo kembali menjauhkan kepalanya lalu tersenyum kaku. Dia dekatkan jari telunjuknya kedepan bibirnya lalu mengubah senyum kakunya menjadi sebuah senyum yang hangat "Tolong.... rahasiakan ini ya." Suaranya yang sebelumnya terkesan kasar dan berat langsung berubah menjadi suara yang halus dan lembut. Setelah itu, Dimo kembali berjalan pergi.copyright protection233PENANADFod1sjCQF

"Kenapa.... kau menceritakan ini kepadaku?" Mendengar pertanyaan Leila, Dimo langsung terhenti dan berbalik "Entahlah..... mungkin, karena aku suka padamu.". Angin kembali berhembus kencang, meniup rambut Leila dan rok abu-abunya, dilangit yang cerah dengan sedikit awan ini, Leila tak dapat mempercayai apa yang sudah didengarnya.copyright protection233PENANAKHkBn5FqaV

Perlahan mulai muncul sebuah suara. Suara tersebut semakin jelas dan semakin jelas seiring berjalannya waktu. Dimo menghampiri sumber suara tersebut yang letaknya nampak dari samping gedung. Dia berpegangan kepagar beton lalu menengok kebawah. Kedua matanya langsung terbuka lebar, pelipis yang berwarna hitam itu menunjukkan rasa tidak percaya dan rasa terkejutnya. Aku meluncur kearahnya lalu mengambil pedangku dari dalam inventoriku "Leila!" Aku tancapkan pedangku kepagar dari gedung dan meraih pagar tersebut. Dengan gravitasi yang seakan menarik kakiku, aku memanjat pagar tersebut dan sampai ditempat yang selama ini kutuju.copyright protection233PENANAdNZeXdLqVl

Aku menarik kembali pedangku lalu berbalik dan melihat Leila yang bersama dengan peniruku "Leila, apa kau baik-baik saja?" Leila nampak tak berdaya dan terikat disebuah tiang. copyright protection233PENANA7y1vM2X6EO

Aku menarik kembali pedangku lalu berbalik dan melihat Leila yang bersama dengan peniruku "Leila, apa kau baik-baik saja?" Leila nampak tak berdaya dan terikat disebuah tiangcopyright protection233PENANALow50UaGkl

Aku langsung berlari kearahnya dan hendak akan memotong ikatannya, namun peniruku menghalangiku dan akan menebasku. Aku menepis pedangnya dan melompat kebelakang "Sial, siapa kau sebenarnya?". Dia menyeringai lalu merapihkan rambutnya yang sama seperti rambutku "Aku adalah kau, dan kau adalah aku." Dia mengangkat pedangnya dan menunjukku dengan pedangnya. "Jangan bercanda!" Aku berlari kearahnya lalu melafalkan skill moonlight shard. Dengan pedangku yang bercahaya yang lebih kuat dari pedang pada umumnya, aku mengayunaknnya dengan segenap kekuatanku. Namun, dengan mudah dia menangkis pedangku. Pedangnya yang berwarna hitam, berkebalikan dengan pedangku, dengan mudahnya menangkis seranganku "Bukan hanya kau yang bisa menggunakkan skill ini.". Aku menendang kakinya dan berhasil merusak keseimbangannya, aku mendorongnya dan membuatnya terjatuh. Aku langsung memanfaatkan momen itu untuk menyelamatkan Leila, namun dia menebas kakiku dan membuatku terjatuh.copyright protection233PENANABy8BN6PyxK

Luka akibat serangannya nampak berbeda dengan serangan pada umumnya. Biasanya, luka pada tubuh sebuah avatar akan mengeluarkan cahaya, namun pada serangannya, luka yang diakibatkan mengeluarkan sebuah asap berwarna hitam pekat. "Apa kau bingung? Tenang saja, perlahan luka tersebut akan menyebar keseluruh tubuhmu." Dimo menancapkan pedangnya kelantai untuk membantunya kembali berdiri tegak sementara aku yang bangun dan mundur secara perlahan menghampiri Leila. Aku melirik sebentar kearah Leila lalu menyembunyikan tangan kiriku kebelakang tubuhku. Sebelum aku mendarat, atau sesaat setelah mbak Anna mendorongku, aku menyempatkan diriku untuk mengambil revolver milikku dan menyimpannya disaku belakang celanaku. Dengan jaket milikku, revolver dan saku belakang tersebut takkan nampak dan diketahui olehnya.copyright protection233PENANAUEjV96X7cC

Aku diam-diam mengambil revolver tersebut lalu menembakkannya dengan cepat. Namun, dengan mudahnya dia menepis peluru tersebut dengan pedangnya "Kau kira aku takkan menduga serangan tersebut?". Dia menyeringai lalu mengangkat pedangnya "Seharusnya kau melakukan lebih dari itu." Perlahan, enerji mulai terkumpul didalam pedangnya. Energi tersebut terkumpul dengan sendirinya tanpa dia harus lafalkan terlebih dahulu. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kuda-kuda "Open the Seal : Moonlight Shard!" sebelum dia selesai mengisi energi, aku melemparkan satu serangan penuh moonlight shard kearahnya. Dengan santainya, dia menatap moonlight shard milikku. Energi yang sudah terkumpul dipedangnya membuat pedangnya menjadi berwarna hitam pekat dengan aura berwarna merah. "Open the Seal : Dark Moonlight Shard" Dengan cepat dan tanpa ragu dia mengayunkan pedangnya—melempar moonligh shard miliknya. Cahaya berwarna hitam dengan aura merah tersebut terlempar dari pedangnya dengan cepat.copyright protection233PENANAVX1s31meHH

Moonlight Shard miliknya nampak lebih kuat dan lebih cepat dari milikku dan dengan mudahnya mengalahkan moonlight shard milikku. Aku menyadari Leila yang sedang berada dibelakangku takkan mampu menghindari serangan yang tepat mengarah kearahku itu "(Gawat!) Open the Seal : Super moonlight shard" Aku menahan serangan tersebut dengan pedangku yang sudah kulapisi dengan super moonlight shard. Moonlight Shard miliknya terasa berat sampai-sampai membuatku sempat terdorong kebelakang. Apalagi dengan kondisi luka dikakiku yang nampaknya mulai menyebar. Namun, dengan sekuat tenaga aku langsung menepis serangan tersebut setelah beberapa menit menahannya. Akibatnya serangan tersebut berbelok kearah lain dan menghilang. Setelah mengatur napas dan memastikan kondisi Leila yang baik-baik saja, aku melompat mundur menghampiri Leila.copyright protection233PENANAAjfIV3PLBm

Setelah mengatur napas dan memastikan kondisi Leila yang baik-baik saja, aku melompat mundur menghampiri Leilacopyright protection233PENANAww0PraWph8

"Leila, apa kau baik saja?"copyright protection233PENANA2d64Ga62oO

"A,aku baik-baik saja. Yang lebih penting, kalian harus menghentikan pertarungan kalian."copyright protection233PENANAJY7ZH32wOE

"Bertahanlah, aku akan segera melepaskan ikatanmu setelah mengatasinya." Tanpa mendengarkan perkataan Leila, aku langsung berlari kearahnya. Aku melirik kesana kemari, mencari cara untuk mengatasi lemahnya moonlight shard milikku. Namun, nampaknya dia sudah mempersiapkan tempat ini sehingga membuatku tak bisa memanfaatkan apapun. "Melihat apa kau?" Tanpa kusadari dia sudah berada dibelakangku dan siap untuk menebasku kapan saja. Disaat dia mengayunkan pedangnya, aku lengsung menahannya dengan segenap kekuatanku. Namun, tiba-tiba kepalaku terasa sakit tak lama setelah pedang kami beradu. Sakit kepala ini juga nampaknya dialaminya, akibatnya dia langsung mundur menjauh dariku. Disaat sakit kepala itu menerjang, muncul beberapa ingatan yang sangat asing dikepalaku seakan ingatan tersebut mencoba untuk mendobrak memeasukki kepalaku "(Apa itu tadi...?)" Sembari memegang kepalaku yang masih terasa agak sakit, aku berbalik menghadapnya. Tanpa menghiraukan sakit kepala itu, Dimo mulai tersenyum dan tertawa lepas. "Apa yang kau tertawakan?" Dia tertawa lepas sampai-sampai matanya mengeluarkan air mata. Setelah menyeka air mata dan tawanya mereda dia mulai tersenyum "Tidak, hanya saja, aku tidak menduga bahwa kau dulu tak bisa membaca strawberry."copyright protection233PENANATkaUaB471m

Mataku langsung terbelalak, rasa malu bercampur rasa sedih langsung menghampiri diriku. Tak lama kemudian mulai muncul rasa kesal, rasa kesal dan rasa sedih yang tak tertahankan. Aku menatap tajam dia "Dari mana kau tahu itu?" Aku langsung berlari menerjang kearahnya dengan cepat. Melihat reaksiku, senyum itu langsung terhapus dari wajahnya dan mulai muncul tatapan serius dari matanya. Aku menyimpan kembali revolver milikku lalu menggenggam pedangku dengan kedua tanganku. "Open the Seal : Moonlight Shard" Aku mengayunkan pedangku secara vertikal dan melempar skill tersebut. Akibatnya, moonlight shard yang tercipta tegak lurus dan lebih tinggi dariku. "Kau tidak belajar dari pengalaman, ya." Dengan mudah Dimo menghindar dari moonlight shard milikku dengan menepisnya menggunakkan pedangnya yang sudah berubah menjadi hitam, namun tanpa dia duga, aku akan muncul dari balik moonlight shard yang kulempar dan sudah siap untuk menebasnya "Open the Seal : Super Moonlight Shard" tebasan tersebut berhasil mengenai pundak kirinya. Disaat tangan kirinya siap menebasku dengan pedangnya, tangan kiriku langsung melepaskan genggamannya dan mengambil kembali revolver milikku lalu menembak tangan kirinya. Akibatnya, pedangnya terlepas dan terlempar dari tangan kirinya "Boleh juga."copyright protection233PENANAf3Am7gwdiV

Tangan kanannya mulai berubah menjadi hitam lalu mencengkram pedang milikku yang tertancap dipundaknnya. Cahaya berwarna perak yang terdapat dipedangku perlahan mulai padam seakan terhisap kedalam tangan kanannya. Setelah seluruh cahaya yang ada dipedangku terhisap sepenuhnya, dia dengan mudah mengangkat pedang tersebut dari pundak kirinya. Rasa sakit mulai muncul dari luka yang mulai menyebar dikaki kiriku—membuatku mulai kehilangan keseimbangan dan tenaga. "Ada apa? Apa lukamu mulai menyebar?" Sembari menahan rasa sakit, perlahan aku menodongnya dengan revolver milikku dan berniat untuk menembaknya, namun dia menendang perutku terlebih dahulu dan membuatku terjatuh. Setelah mengambil pedangnya, dia langsung mengalirkan energinya kedalam pedangnnya dan menyerangku. Aku yang masih dalam kondisi terjatuh, menghindarinya dengan menggulingkan tubuhku kebelakang lalu melompat untuk berdiri. Sesaat tak lama setelah aku kembali berdiri, dia berhasil menusuk pundakku dan mendorong mundur diriku. Karena efek terkejut sehabis tertusuk, secara tak sengaja pedangku terlepas dari tangan kananku. Dia terus mendorongku sampai aku menabrak pagar pembatas, tak cukup sampai disitu, dia terus mendorongku sampai membuatku hampir terjatuh. "Dimo!" Leila yang khawatir atas kondisiku terus mencari cara untuk melepas ikatannya, tetapi tali yang mengikat kedua tangannya terlalu kencang sampai-sampai membekas ditangannya.copyright protection233PENANA21Ua1Bd382

Sembari terus mencoba untuk menarik keluar pedang tersebut dari pundakku, perlahan warna hitam yang terdapat di pedang tersebut merambat menyebar ketangan dan pundakku. "Gawat...... gawat....." Aku menendang kakinya lalu membenturkan kepalaku dengan kepalanya. Akibatnya, aku berhasil terlepas dari genggamannya. Aku mencabut pedangnnya dari pundakku, namun terasa sebuah sensasi yang sangat tak mengenakkan saat aku menggenggam pedang tersebut. Pedang tersebut terasa seperti hidup dan seperti menghisap energiku. Warna hitam yang terdapat dipedang tersebut juga semakin menyebar ditangan kananku. Entah mengapa, instingku mengatakan untuk segera melepas pedang tersebut. Maka kutancapkan kelantai pedang tersebut lalu berlari mengambil pedangku. Dimo kembali berdiri lalu menarik kembali pedang miliknya yang tertancap dilantai. Aku melihat kembali kedua tangan dan pundakku, warna hitam yang sebelumnya menyebar ditangan dan pundakku mulai menghilang sejak kulepaskan pedang tersebut.copyright protection233PENANAH2nRWyt0Fu

"Kurasa sudah cukup bermain-mainnya."copyright protection233PENANAnVyXhGdOTw

"Kau benar." Aku kembali menyimpan revolver milikku setelah mengisi ulang pelurunya lalu menggunggam pedangku dengan kedua tanganku lalu mengambil kuda-kuda. Sementara dia yang mengangkat pedangnya kesamping dan kembali membuat pedangnya menjadi hitam. "(Kurasa, satu-satunya pilihan untuk menghadapi pedang tersebut adalah dengan menggunakkan super moonlight shard) Open the Seal......" Pedangku mulai bercahaya, cahayanya yang samar-samar karena cahaya matahari yang begitu cerah. Bersamaan pedangnya yang mulai mengeluarkan cahaya berwarna hitam dengan aura merah yang sangat mencolok. Perlahan, kami berdua mengangkat pedang kami berdua, lalu mengayunkannya secara bersamaan.copyright protection233PENANAJVyD6zfjCn

".....Super Moonlight Shard"copyright protection233PENANAmjqJbmhEmX

"Super Dark Moonlight Shard"copyright protection233PENANA8KSHH9nVXh

Cahaya raksasa berwarna perak yang kulemparkan dari pedangku melesat dengan cepat bersamaan dengan cahaya berwarna hitam dengan aura berwarna merah miliknya. Kedua cahaya tersebut beradu, antara hitam dan putih, antara ada dan tiada, menciptakan sebuah warna baru yang merupakan perpaduan dari keduanya. Kedua cahaya tersebut tercampur dan berubah menjadi sebuah bola enerji berwarna abu-abu yang perlahan semakin membesar. Tak lama kemudian, cahaya tersebut meledak. Suara ledakannya terdengar sampai ketelinga anggota ERASER yang terdapat dibawah. Getaran akibat ledakan tersebut terasa sampai kebawah. Bahkan asap yang tercipta akibat ledakan sangat besar dan padat. Akibat ledakan tersebut, Dimo terlempar terjatuh dari atas gedung. Namun, seakan belum kehabisan ide, dia mencoba menghentikan tubuhnya yang sedang terjatuh dengan menancapkan pedangnya ketembok gedung lalu mengambil pistol dari dalam inventorinya. Dia tembak kaca jendela yang berada disebelah tembok dimana dia menancapkan pedangnya. Setelah melancarkan beberapa tembakkan dan membuat kaca tersebut rentan akan kerusakan, dia mengayunkan tubuhnya dan melompat kekaca. Lalu dia tendang kaca tersebut dan membuatnya berhasil masuk kembali kedalam gedung. Dengan pedangnya yang masih tertancap diluar dia mengalirkan energinya keseluruh tubuhnya dan menciptakan sebuah koneksi akan dirinya dengan pedangnya. Pedang itu bereaksi dengan energinya dan mulai terlepas dari tembok. Setelah terlepas, pedang tersebut berayun masuk kedalam gedung dimana Dimo berada seakan menjawab panggilannya.copyright protection233PENANArHd0kjzzCc

Aku tersadar, aku terbatuk karena asap yang memenuhi tempat ini. Aku mengayunkan tanganku untuk menghilangkan asap yang ada disekitarku lalu mencari Leila "Leila, apa kau baik-baik saja?". Karena tak ada tanggapan sama sekali, aku langsung berlari ke tiang dimana dia berada. Saat kutemukan, Leila ada dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tiang yang menimpa kakinya. Tubuhnya sedikit lecet dan kemeja putihnya kotor karena debu. Setelah menyingkirkan tiang yang menimpa kakinya aku menghampiri Leila lalu mengelus pipinya dan sedikit mengayunkan tubuhnya "Leila, hei! Sadarlah!".copyright protection233PENANAXZwnIHJ0m6

"Di...mo...." Tak lama kemudian Leilapun tersadar. Aku bisa bernapas lega dibuatnya. Rasa khawatir yang sebelumnya sangat membuatku cemas langsung hilang seketika. "Apa kau sanggup berdiri?" Aku memegang pundak Leila lalu mencoba membantunnya untuk berdiri, namun nampaknya kakinya terkilir akibat tertimpa tiang tadi.copyright protection233PENANAYvQQcy0ztX

"Dimo, kau harus hentikan pertarungan ini. Dia, dia terpaksa harus melakukan ini. Semua yang sudah dia lakukan kepada kita, itu semua bukan karena dia ingin melakukannya." Leila memegang pundakku sementara aku yang hanya bisa terdiam seribu bahasa dihadapannya. Entah apa yang dikatakannya itu benar atau hanya sebuah kebohongan, aku tidak tahu. Namun untuk saat ini, aku hanya ingin untuk mempercayainya. Aku mengangkat tangannya dari pundakku lalu mengganggam tangannya dan tersenyum lembut "Tenang saja, aku pasti...... akan menyelamatkannya juga.".copyright protection233PENANAQVE3VZmvyZ

"Tunggu sebentar, aku akan mencari cara untuk membawamu pergi dari sini." Aku kembali berdiri lalu berlari menuju ketaangga darurat, namun nampaknya jalan menuju ke tangga darurat terhalang oleh puing-puing akibat ledakan tadi. "Tak ada pilihan lain." Aku menampilkan kembali sarung pedangku lalu menyarungkan pedangku dan berlari kembali ke Leila. Aku berdiri membelakanginya lalu jongkok. Namun, nampaknya dia masih tidak mengerti apa maksudku dan hanya terdiam "Ayo, kita tidak bisa melewati tangga darurat dan kau sedang tidak bisa berjalan, jadi tak ada pilihan lain selain menggendongmu dan mencari cara lain untuk turun dari atas sini." Setelah mendengar penjelasanku, pipinya langsung memerah padam. Wajahnya yang sebelumnya nampak lemas akibat ledakan tadi langsung berubah menjadi merona. "Ayo, kita tidak punya banyak waktu." Aku menengok kebelakang, entah kenapa, melihat wajahnya yang memerah membuatku merasa sedikit malu. Namun, tiba-tiba Leila terhenti. "Tu-tunggu sebentar...." Setelah melihat luka dikaki kiriku yang semakin menyebar, dia langsung menyobek bagian bawah roknya dan mengikatkannya keluka yang ada dikaki kiriku. "Aku tak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi..... kuharap ini bisa menunda penyebaran yang ada." Leila tersenyum manis. Ikatannya yang begitu kencang bisa kurasakan dikakiku, entah mengapa, aku enggan untuk menengok kebelakang karena tersipu malu.copyright protection233PENANAIwYeUHWEIi

Setelah berhasil kugendong, aku berjalan menghampiri pagar pembatas, aku melompat keatasnya lalu menengok kebawah. Aku bisa mendengar suara napasnya yang berampur dengan suara angin. Asap akibat ledakan tadi juga sudah mulai menghilang. Aku sedikit melirik kebelakang dan tersenyum "Apa kau siap?"copyright protection233PENANAKGNBxZ9xyD

"Y,Ya.... aku siap." Suaranya yang pelan terdengar jelas ditelingaku, membuatku sedikit merasa merinding. Aku kembali memfokuskan diriku dan menengok kebawah "Baiklah..... aku akan melompat!" Aku mengambil napas dalam-dalam lalu melompat kebawah. Leila sontak berteriak bersamaan denganku yang melompat. Angin kencang bisa kurasakan disekujur tubuhku. Mengibarkan rambutku dan rambut oranye miliknya. Leila memejamkan matanya dan semakin berpegangan erat kepadaku. Leila berteriak karena sudah tak sanggup menahan rasa takutnya, suara teriakkannya terdengar sangat kencang sampai-sampai aku tak bisa mendengar suara gesekan udara. Namun, tiba-tiba aku teringat bahwa aku lupa untuk mencari cara untuk mendarat. Disaat kami yang semakin dekat dengan daratan, aku mencari cara yang aman untuk mendarat. Asap yang masih menutupi daratan membuatku tak tahu seberapa dekat kami dengan daratan, namun membuatku teringat kembali dengan insiden dimana aku terjatuh dari langit saat class meeting.copyright protection233PENANAupz9sv9P1I

"Log out...." Setelah kembali kewujud asliku, aku melihat alat scan yang sudah kugenggam ditangan kananku yang sedang menggendong Leila. Aku sedikit melirik kebelakang—melihat Leila yang sedang memejamkan kedua matanya sembari berteriak. "Leila, tenanglah!" Mendengar panggilanku, Leila kembali membuka kedua matanya. Leila nampak bingung setelah melihatku yang sudah kembali kewujud asliku, namun aku akan segera menjelaskannya dengan singkat, padat, dan jelas. "Aku ingin kau menggunakkan skill yang kau gunakkan kepadaku disaat class meeting untuk mendaratkan kita berdua. Tetapi, untuk itu aku harus melepasmu, apa kau sanggup?"copyright protection233PENANAPJeOX9wTNe

"Y,ya. Aku akan berusaha sebaik mungkin." Sembari menolak untuk melihat kebawah, Leila mengangguk penuh percaya diri.copyright protection233PENANAbyVZatYk0w

"Baiklah, ayo mulai." Aku melepas Leila yang sebelumnya kugendong, lalu melemparkannya scanner untuk log in. Setelah menangkapnya, Leila langsung mengscan ibu jarinya lalu mengambil busur dan dua anak panah. Dia arahkan busur dan kedua anak panah itu kebawah, lalu menariknya sekuat yang dia bisa. "O-Open the Seal : Tornado Explotion Level High." Kedua anak panahnya mulai bercahaya, cahaya berwarna hijau yang sangat terang. Dia tembakkan kedua anak panah tersebut kedaratan. Keduanya menembus asap berwarna kelabu, menjadi satu-satunya cahaya didalam asap yang kelam itu. "Di-Dimo, bersiaplah!" Leila menyimpan busurnya lalu mulai memejamkan matanya, sementara aku yang dengan polosnya tetap menatap kearah dimana kedua anak panah yang dia tembakkan berada.copyright protection233PENANAXvWwFo2Oe3

Tak lama kemudian, mulai muncul dua buah tornado raksasa. Keduanya menghisap habis asap yang berada didaratan bagaikan mesin penyedot debu. Kedua tornado itu juga menarik setiap benda yang ada didaratan untuk menjadi salah satu bagiannya. Dari atas, aku bisa melihat jelas anggota-anggota ERASER yang sedang berlindung dari tornado tersebut. Tetapi, nampaknya kedua tornado raksasa tersebut tak terlalu berpengaruh kepada monster singa raksasa namun cukup untuk menghentikan pergerakkannya karena membuatnya harus menancapkan kuku-kukunya yang tajam kedalam tanah. Juga ada beberapa anggota ERASER yang memasang penghalang berupa sihir dihadapan Bum Corp. untuk mencegah tornado dari merusak gedung tersebut. Tak butuh waktu yang lama bagiku dan Leila untuk terhisap kedalam tornado tersebut. Kepalaku terasa sangat pusing, aku langsung memejamkan mataku karena tak tahan dengan perpuataran dari tornado yang sangat kencang "(Gawat, aku sudah tak tahan lagi....)" Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku lalu menelan kembali muntah.copyright protection233PENANAw3MLSKUoEH

"Ba-batalkan!" Sembari memejamkan kedua matanya, Leila merapatkan kedua telapak tangannya. Tak lama kemudian, tornado mulai mereda dan akhirnya mengecil. Aku dan Leilapun berhasil mendarat dengan selamat berkat tornado tersebut. Tak lama kemudian, kedua anak panah yang ditembakkan oleh Leila kembali bercahaya dan terbang masuk kembali kedalam arrow rest miliknya. Aku kembali membuka mataku, untungnya aku mendarat di semak-semak sehingga rasanya tak terlalu sakit saat aku mendarat. Setelah kembali bangun dan membersihkan kemeja putih serta celana abu-abu milikku aku melihat Leila yang mendarat dengan aman berkat kemampuannya sebagai seorang Archer. Walau begitu, luka dikakinya tetap membuatnya tak sanggup untuk berdiri ataupun berjalan. Tapi, nampaknya berkat tornado tadi, asap yang sebelumnya menyelubungi daratan sudah menghilang. Aku tersenyum sesaat lalu berlari kearahnya yang sudah melakukan log out.copyright protection233PENANADPgzPq2NK2

"Leila, apa kau baik-baik saja?"copyright protection233PENANAkIygfdFh1T

"Y-ya, te-terima kasih sudah mengkhawatirkanku."copyright protection233PENANAkxX6jPQddu

"Yah, ini semua berkatmu. Jika saja kau tidak mempunyai kemampuan itu, entah bagaimana jadinya." Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi merah padam, pipinya berubah menjadi merona dan matanya berbinar. Dia langsung mengalihkan pandangannya dariku sementara aku yang ikut duduk disebelahnya. "Dimo.... Leila..... apa kalian baik-baik saja?" Zaki dan Sindy berlari kearah kami. Tangan Zaki yang sedang memegang pedang dan perisai melambai, melihanya aku kembali berdiri dan melambai balik "Ya, kami baik-baik saja. Tapi nampaknya kaki Leila terkilir." Leila langsung menengok kearahku dengan tatapan penuh kegelisahan. Mungkin dia khawatir dengan luka yang terdapat dikaki kiriku "Tenanglah, luka ini nampaknya bukan luka yang bisa disembuhkan dengan perawatan medis biasa. Sekarang, aku lebih mengkhawatirkanmu dibandingkan dengan luka yang ada di kakiku ini." Mendengar jawabanku mengenai kondisi kami berdua Zaki langsung berbalik dan meminta bantuan kepada tim medis dari ERASER sementara Sindy yang memberi Leila pertolongan pertama. Setelah menjauh beberapa meter dari mereka, aku menggulung celanaku lalu melepas perban yang sebelumnya diberikan Leila. Berkat perban darinya, sepertinya penyebaran luka sudah diperlambat. Jika saja dia tidak berinisiatif melakukan ini, mungkin luka ini sudah menyebar kesebagian kaki kiriku. Tetapi, walau aku sudah ada dalam keadaan log out, luka ini tetap menyebar.copyright protection233PENANAVQkbq9BsXm

Setelah mengikat kembali kaki kiriku, aku kembali menghampiri Leila yang sudah diberi perawatan dari tim medis. Zaki dan Sindy juga nampaknya sudah pergi karena monster singa tersebut belum berhasil dikalahkan. "Syukurlah. Untung saja mereka punya pasukan medis." Aku tertawa kecil sembari mengelus belakang leherku. Tak lama kemudian Leila menarik celanaku, lagi-lagi dia memunculkan ekspersi penuh kekhawatirannya "Tapi lukamu.....". Aku kembali duduk lalu memegang pundak Leila dan tersenyum lebar untuk mencairkan suasana "Sudah kubilang bukan, kau tak perlu khawatir." Wajahnya kembali berubah menjadi merah padam, dia kembali menatap lurus seakan aku tak berada disampingnya.copyright protection233PENANAvh43xjgcAh

"Oh ya, Dimo......"copyright protection233PENANA5VP318SSm6

"Ada apa?"copyright protection233PENANAnhXHtnR5PO

"I-ini....." Seakan menolak untuk memandangku, Leila mengulurkan tangannya yang menggenggam scanner log in milikku. "Oh iya, aku hampir saja lupa." Setelah menerimanya, aku kembali mengantunginya.. Tak lama kemudian, terjadi kehebohan. Monster singa raksasa yang sedang dilawan oleh pasukan dari ERASER tiba-tiba berhenti bergerak dan wujudnya mulai berkedip lalu memudar. Aku berlari menghampiri Zaki dan Sindy yang mematung setelah melihat kejadian tersebut. Tak ada satupun anggota ERASER yang berani mendekati monster tersebut, mereka lebih memilih diam dan bersiap daripada memanfaatkan kejadian ini untuk menyerang.copyright protection233PENANArk5woDQEPq

"Apa yang terjadi?"copyright protection233PENANAWVmMYnVRgh

"Entahlah.... tadi tiba-tiba ada sebuah pedang yang terlempar, lalu monster itu mulai berhenti bergerak dan menjadi seperti ini" Zaki menyarungkan kembali pedangnya dan menggantungkan perisainya ke punggungnya. "Pedang?" Aku berlari mendekati monster tersebut lalu berlari mengitarinya untuk mencari pedang yang dikatakan Zaki. Sebuah pedang, pedang yang kukenal, menancap tepat di tubuh dari monster singa tersebut. "Pedang ini...." Tak lama kemudian, angin mulai berhembus kencang, monster yang memudar tersebut kembali menjadi padat dan mulai terhisap kedalam pedang yang tertanam ditubuhnya. Perlahan demi perlahan, tubuh besar monster itu terhisap kedalam pedang bagaikan pedang tersebut melahapnya. Sesaat setelah monster tersebut sepenuhnya dilahap oleh pedang tersebut, pedang itu mulai bercahaya. Setelah cahaya dipedang tersebut sudah meredup, pedang tersebut mulai terjatuh. Tanpa pikir panjang, aku langsung log in dan berlari untuk menangkap pedang tersebut, namun pedang itu mulai terbang saat aku melompat untuk menangkapnya. Seperti anjing yang mencari majikannya, dengan cepat pedang tersebut mulai bergerak dengan sendirinya. Aku kembali bangun dan membersihkan pakaianku sembari melihat kemana pedang itu menuju. Semua orang, tanpa terkecuali, pandangannya tertuju kepada pedang tersebut.copyright protection233PENANAXDzUk2ic77

Dengan mudahnya, Dimo menangkap pedang miliknya itu. Aku tertegun, aku hampir saja lupa dengan dirinya. Dihadapannya, terdapat mbak Anna yang sudah dalam keadaan log out terkapar tak sadarkan diri dengan luka yang cukup parah. Semua orang menjadi geram melihatnya, apalagi anggota divisi yang dipimpin oleh mbak Anna. Mereka langsung berlari dan bersiap untuk melawan Dimo, namun dihentikan oleh kak Indra. "Pilihan yang bijak. Kau pasti mengerti apa yang akan terjadi dengannya jika kalian berani melawanku." Dimo menancapkan pedangnya tepat didepan kepala mbak Anna sebagai gertakan kepada kami. Aku menengok kebelakang untuk memastikan kondisi Leila dan yang lainnya. Leila yang terduduk lemas sembari menengok kearahku sementara Sindy dan Zaki yang mundur untuk melindungnya "(Saat ini, Leila sedang dalam kondisi dimana dia takkan bisa bergerak, sementara Zaki dan Sindy yang sepertinya akan melindunginya, jadi aku tak perlu khawatir.)" Aku kembali menghadap kedepan, lalu berjalan menghampiri kak Indra yang letaknya tak jauh dari Dimo.copyright protection233PENANA1ys65QKVvz

"Tolong hentikan ini, dan menyerahlah." Sembari memberi kode kepada anggotanya untuk bersiap menyerang, kak Indra sepertinya mencoba cara negoisasi. Bila negosiasi yang dia lakukan tidak berhasil, maka anggotanya akan berusaha untuk menangkap Dimo. "Sebenarnya siapa kau dan apa tujuanmu?" Perlahan, mereka sedikit demi sedikit melangkah maju mendekati Dimo. Namun, sebagai orang yang baru saja melawannya, kurasa Dimo menyadari dan sudah memprediksi pergerakkan mereka.copyright protection233PENANAmrvIdt59ll

"Siapa aku dan kenapa aku melakukan ini tidaklah penting."copyright protection233PENANAqiZ0dk2vw9

"Apa maksudmu?"copyright protection233PENANADxI6ENXoIs

"Sudah cukup basa-basinya." Dimo mengumpulkan energi keseluruh telapak tangannya, lalu dia genggam pedangnya yang sudah tertanam. Akibatnya, seluruh energi yang sudah terkumpul ditelapak tangannya langsung tersalurkan kedalam pedangnya dan menyebabkan ledakan energi. Tanah mulai bergetar, kak Indra langsung memerintahkan seluruh anggotanya untuk menyerang Dimo, namun telah terlambat. Dari dalam tanah, mulai bermunculan duri-duri berwarna hitam dengan aura berwarna merah yang sangat tajam. "Gawat!" Aku langsung melompat mundur menghindari duri-duri yang terus bermunculan dari dalam tanah. "Dimo, kemarilah!" Aku melirik kebelakang, Zaki, Leila, dan Sindy yang nampaknya sudah berlindung di dalam perisai api milik Zaki. Zaki membuat perisai api tersebut dengan megkolaborasikan pengendalian apinya dengan perisai miliknya sehingga perisai tersebut menyatu dengan api dan membentuk sebuah bungker bulat yang luarnya tercipta dari api yang tahan dari serangan apapun. Sembari mengulurkan tangannya dari lubang besar yang sengaja dia sisakan dibungker tersebut, Zaki memanggilku dan menungguku untuk ikut berlindung bersamanya. Aku langsung berlari kearahnya dan melompat untuk meraih tangannya. Setelah berhasil meraih tangannya, Zaki langsung menarikku masuk kedalam bungker milikknya. Setelah berhasil naik, Zaki dan aku langsung mundur dan dia menutup lubang tersebut.copyright protection233PENANAY4TtM7XShi

"Astaga, yang tadi itu apa?"copyright protection233PENANAeIBdIPxKl4

"Kurasa itu salah satu kekuatannya."copyright protection233PENANAUYCD5gq2F9

"Yang benar saja?!" Zaki terduduk lemas dengan nafasnya yang berat. Kami berempat berlindung di bungker berbentuk bulat yang terasa sempit dan gelap ini. Aku sedikit penasaran dengan apa yang Leila katakan sesaat sebelim aku dan dia melompat dari atas gedung. Namun, dilihat dari kondisi Leila, kurasa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan itu. "Zaki, apa kau bisa membuka sedikit celah untukku melihat?" Aku kembali berdiri lalu mendekat kedinding bungker. "Oke...." Zaki berdiri lalu menyentuh dinding bungker. Seketika, terciptalah sebuah lubang lingkarang oval yang horisontal yang cukup besar untuk melihat dengan kedua mata. Melalui lingkaran itu, aku melihat kondisi diluar. Pertumbuhan duri nampaknya sudah berhenti, Dimo juga sudah tidak menggenggam pedangnya dan terduduk. Syukurlah, walau duri terdapat dimana-mana, namun tak ada satupun duri yang mengenai mbak Anna yang masih tak sadarkan diri. Anggota ERASER juga nampaknya baik-baik saja, dengan penyihir yang mereka punya, mereka menciptakan semacam medan pelindung dari duri-duri tersebut.copyright protection233PENANAuDdo70w4TN

"Kurasa waktu bermain sudah berakhir. Tak kusangka, hanya segini energi yang kudapatkan setelah menghisap monster itu" Dimo kembali berdiri lalu menyentuh tanah. Tak lama, duri-duri kembali memasuki tanah seakan terhisap kedalam. Setelah semua duri sudah menghilang, Zakipun membatalkan skill perisai apinya dan menurunkan kami. Dimo kembali menarik pedangnya lalu dia angkat pedangnya dan menunjukku menggunakkannya "Dimo Ramadhan, jika kau peduli dengan orang ini, maka aku menantangmu untuk melanjutkan pertarungan kita!"copyright protection233PENANAn7vYldNTY8

"Baiklah, aku menerimanya. Tapi, kau harus melepaskannya terlebih dahulu!"copyright protection233PENANAYS7AvcRWew

"Cukup adil. Baiklah, aku akan melepaskannya." Dimo berjalan melewati mbak Anna sembari menyarungkan kembali pedangnya. Kemudian, kak Indra segera memerintahkan anggotanya untuk segera mengevakuasi mbak Anna.copyright protection233PENANA5Jaj7hjDmd

"Ada satu hal lagi yang kuinginkan." Aku yang awalnya ingin menarik pedangku, namun aku langsung mengurungkan niatku setelah teringat dengan perkataan Leila sesaat sebelum melompat bersamaku "Siapa kau sebenarnya?".copyright protection233PENANAqJkWIG9wA8

Dia terhenti. Dirinya langsung mematung seketika setelah aku menanyakan hal itu "Oke, kali ini akan kujawab pertanyaanmu. Aku adalah kau, dan kau adalah aku, apa kau ingat? Namaku adalah Dimo Radhika, begitu juga dirimu, Dimo Ramadhan."copyright protection233PENANAFy1M8xZZtd

Kamipun berlari menuju satu sama lain, dia menghunuskan pedangnya dan hendak berniat menebasku. Namun, aku langsung menunduk lalu memukul perutnya. Tetapi, dia sudah mengantisipasi hal itu sehingga pukulanku tak membuatnya goyah sedikitpun. Setelah membalik pedangnya dan hendak menusukku, aku menendang kakinya dan membuatnya tergelincir sehingga serangannya luput dariku. Disaat aku hendak akan melompat menjauh darinya, sebuah duri keluar dalam tanah dan menusuk kaki kiriku. Duri tersebut muncul bersamaan dengan pedangnya yang tertancap di dalam tanah dari serangannya yang luput tadi. Akibat duri itu, lompatankupun gagal dan akupun terjatuh. Disaat aku terjatuh, dia melompat kearahku dengan pedangnya yang sudah dilapisi dengan cahaya berwarna hitam. Aku menghindar dengan berguling kearah yang berlawanan dari serangan itu berasal.copyright protection233PENANAwzWHS4ZcHl

"Open the seal : Dark Moonlight Shard!" Dimo melemparkan cahaya-cahaya itu kearahku yang sedang bergelindung. Melihat serangannya, aku langsung bangun dan menarik pedangku. Kuaktifkan skill Moonlight Sword dan menepis serangan-serangan itu. Dia muncul dibalik Dark Moonlight Sword terakhir miliknya, lagi-lagi dengan pedangnya yang sudah menghitam. Aku menepis pedangnya dengan sisa-sisa akhir dari Moonlight Swordku lalu kubenturkan kepalaku dengan kepalanya. Akibatnya, kami berduapun terjatuh. Disaat aku hendak akan bangun dengan bertumpu pada pedangku, Dimo sudah berada dihadapanku. Tanpa pikir panjang, tanganku langsung bergerak dengan sendirinya menepis serangannya. Aku terdorong beberapa meter setelah menerima serangannya.copyright protection233PENANAp85K4Orek1

"(Ada apa ini.... serangan dan kecepatannya lebih kuat dari sebelumnya)" Aku menyarungkan kembali pedangku dan melompat mundur lalu berlari menghampirinya "Open the seal : Moonlight Shard" Karen aku menyarungkan pedangku, energi dari moonlight shard dengan sendirinya terkumpul kedalam kedua kepalan tanganku. Disaat energi itu sudah terkumpul sepenuhnya, cahaya yang ada dikedua tanganku mulai berubah menjadi seperti sarung tinju."Moonlight Fist!" Aku mengepalkan kedua tanganku lalu memukulnya. Tetapi, dia berhasil menghindari seranganku dengan mudah. Dia kumpulkan seluruh energi kedalam pedangnya yang kemudian berubah menjadi hitam lalu hendak memotong tangan kananku. Dengan sigap aku langsung menangkap pedangnya dengan tangan kiriku. Untungnya, cahaya yang ada ditangan kiriku melapisi tanganku sehingga tak terluka saat menangkap pedang miliknya.copyright protection233PENANAmZzoLIVKIp

Tak butuh waktu lama, warna hitam yang terdapat dipedangnya mulai mengalir kedalam cahaya di tangan kiriku bagaikan limbah yang mencemari sungai. Aku langsung melepaskan genggamanku dari pedang tersebut sebelum kegelapan itu semakin melahap cahayaku. Meskipun begitu, kegelapan itu semakin menyebar sama seperti luka yang ada dikaki kiriku. Sebagai tindakkan pencegahan, aku menonaktifkan skill moonlight shard milikku sebelum kegelapan melahap seluruh cahaya di tangan kiriku. Dimo tak berdiam diri melihatku, diapun menancapkan pedangnya kedalam tanah, lalu keluarlah duri-duri yang mengincar kakiku. Aku melompat mundur menghindari duri-duri itu. Tetapi, rasanya itu saja tidaklah cukup. Seberapa kalipun aku menghindar, duri-duri tersebut akan terus mengejarku. "Kalau begitu...." Aku mengambil revolverku dan menembak tangan Dimo yang menggenggam pedangnya. Setelah genggamannya terlepas, duri-duripun berhenti bermunculan dan aku berhenti melompat. "Sudah kuduga. Duri-duri tersebut bukan berasal dari pedangmu, namun berasal dari energi yang disalurkan oleh tanganmu kedalam tanah dengan pedang sebagai media untuk menyalurkannya."copyright protection233PENANAYfYVWR0V4H

Dimopun tertawa dan menarik pedangnya yang tertancap. Peluru yang kutembakkan perlahan keluar dari luka yang ada ditangannya bersamaan dengan tangan tersebut yang pulih kembali. Tangannya yang pulih tersebut nampaknya akibat dari energi hitam yang mengalir di tangannya. "Kau benar. Tetapi bukan itu saja yang kupunya......" Setelah menarik pedangnya, tiba-tiba Dimo sudah berada dihadapanku dan menebasku. Karena terkejut aku langsung menarik pedangku dan menepis pedangnya meski agak terlambat dan melompat mundur. Namun, berkat itu aku berhasil mencegahnnya melukaiku lebih parah lagi. Serangannya berhasil mengenai pundak kiriku.copyright protection233PENANAhuQneUbG9w

"(Tadi itu apa...?! Jika saja aku tidak menepisnya tadi, mungkin tebasannya juga bisa mengenai dadaku)" Sembari menekan luka akibat tebasannya, aku melirik luka tersebut. Aku beruntung luka yang berada dipundakku tidak menyebar seperti yang ada dikaki kiriku.copyright protection233PENANAHwvhUhZP2I

"Apa kau terkejut karena kecepatanku? Biar kujelaskan, kecepatan dan kekuatan untuk mengeluarkan duri ini kudapatkan setelah aku menyerap monster tadi."copyright protection233PENANAf1XdWT5WP9

"Cih, apa kau berpikir bahwa aku akan percaya kepadamu?"copyright protection233PENANAE7DuuSpGzz

"Mau percaya atau tidak, itu terserah padamu. Aku memberitahumu karena sebentar lagi kau akan kuhabisi."copyright protection233PENANAcg5IyZZyP1

"Coba saja kalau bisa." Aku menyimpan revolverku kembali kedalam inventory lalu mengambil kuda-kuda untuk menahan serangannya. Dengan tangan kiriku yang menggenggam pedang, dan tangan kananku yang siap untuk memukul kapan saja. Saat ini, sangatlah tidak mungkin bagiku untuk bisa mengimbangi kecepatannya, yang bisa kulakukan hanyalah bertahan dan mencari celah untuk menyerang.copyright protection233PENANAg42diZ7nWW

Dimopun mulai menyerang. Dengan kecepatannya yang tinggi, dia terus memojokkanku dan tak memberiku celah untuk menyerang balik. Aku terus menepis serangannya sebanyak yang kubisa meski kutahu sangat mustahil untuk menghalau seluruh serangannya. Luka yang kudapatkan terus bertambah, dan aku sama sekali tak bisa memberikan satu seranganpun padanya. Tapi, aku tak bisa terus seperti ini. Jika terus seperti ini, aku akan kehabisan Hpbar dan kalah darinya. Aku harus mencari cara untuk mengimbangi kecepatannya.copyright protection233PENANAxA4a5y3vfC

"Ada apa? Kenapa kau tak ingin menggunakkan pedangmu dan menyerangku?"copyright protection233PENANA4sTaara90Z

"Aku tidak perlu menggunakkan pedangku untuk bisa mengalahkanmu."copyright protection233PENANAbg4dumdBK9

"Kalau begitu, akulah yang akan menggunakkan pedangku untuk mengalahkanmu." Dimopun berhenti di belakangku dan sudah siap untuk menusuk punggungku dengan pedang miliknya. Pedangnya yang sudah berwarna hitam dan aura merah, akan menusuk punggungku.copyright protection233PENANAyhJCsPawlq

"Dimo!" Tanpa pikir panjang, Zaki langsung berlari kearahku untuk menghentikan Dimo. Namun, Sindy langsung memegang tangannya dan mencegah Zaki untuk menghampiriku.copyright protection233PENANA8pS2A2uKbu

"Tunggu dulu."copyright protection233PENANAJnLOAfbNQV

"Tapi...." Zaki menengok kebelakang dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari Sindy.copyright protection233PENANAXodH0FwbbR

"Wah, Tadi itu bahaya sekali." Mendengar suaraku, Zaki kembali menatap lurus kearahku yang sudah berada dibelakang Dimo. Betapa terkejutnya Dimo, pedangnya yang ditujukkan kepadaku hanya menusuk udara kosong. Aku lalu memukul punggung Dimo dengan gagang pedangku hingga terjatuh.copyright protection233PENANABkhumRwQBI

"Bagaimana mungkin....?!"copyright protection233PENANAll56aGlluc

"Mudah saja. Selama ini, aku selalu mengalirkan energi Moonligt Shard ke satu titik saja. Tapi, bagaimana jika aku mengalirkannya keseluruh tubuhku? Aku akan mendapat kecepatan yang sama dengan kecepatan milikku."copyright protection233PENANAhrAu8BaFMl

"Maksudmu...."copyright protection233PENANAwoGOS2GpTi

"Ya benar, yang tadi itu, Open The Seal : Super Moonlight Shard – Moonlight Speed. Bahkan, karena terlalu cepat.... aku sempat mengira bahwa aku telah memperlambat waktu. (Meski begitu, skill ini terlalu membebani tubuhku dan aku hanya bisa bertahan selama 4 detik menggunakkannya.)"copyright protection233PENANA8eDdlOUG9o

Dimo kembali bangun dan lagi-lagi tertawa. Suara tawanya bahkan begitu kencang. Setelah tertawa, Dia mengangkat dan membalik pedangnya. Lalu kedua tangannya menggenggam erat pedang tersebut. Pedangnya kembali berubah menjadi hitam. Namun, ada yang berbeda kali ini. Aura berwarna merah yang dipancarkannya begitu terang dan energi yang dipancarkan terasa menusuk kedalam tulang-tulangku. Begitu terangnya, sampai-sampai membuat area disekitarnya berubah menjadi berwarna merah. Kaca-kaca gedung Bum Corp. bergetar karena energi yang dipancarkannya. "Ku akui, kau membuatku kagum. Tapi, kau salah akan satu hal. Pedang ini bukanlah pedang biasa!" Dimo menancapkan pedangnya kedalam tanah dengan sangat dalam. Saking dalamnya, beton yang berada disekitar pedang tersebut retak.copyright protection233PENANASrPtVY45DR

"(Tunggu dulu, jangan-jangan....)" Tanpa pikir panjang kak Indra berlari menerjang kearah Dimo dan berniat untuk mencabut pedang miliknya. Namun, sebelum tangan kak Indra sempat meraih pedang tersebut, sebuah duri muncul dan menusuk kaki kak Indra sehingga membuatnya terjatuh. Sesaat setelah terjatuh, kak Indra berniat menarik pedangnya keluar dari sarung pedangnya lalu mengubahnya menjadi pedang air. Namun, lagi-lagi Dimo berhasil mengantisipasi itu dan menusuk kedua tangannya dengan duri yang keluar dari dalam tanah. Melihat kondisi kak Indra, seluruh anggota dari ERASER yang sebelumnya mengikuti perintah untuk tidak ikut campur langsung berlari menerjang untuk menyelamatkan kak Indra. Tetapi, duri-duri yang besar bermunculan di hadapan mereka seakan memang ditujukkan untuk menghalangi mereka.copyright protection233PENANAr9g7Y8aEy3

"Berhentilah, jika kalian mendekat lebih dari ini, maka akan ada sebuah duri yang menembus tengkorak kepala dari orang yang bernama Indra ini." Dimo menyeringai puas sembari menengok perlahan kearah mereka.copyright protection233PENANAWGiAUDoOjy

Mendengarnya, mbak Dinda langsung memerintahkan kepada mereka untuk diam dan menuruti apa permintaan dari Dimo. Dimopun sedikit bertepuk tangan lalu kembali menggenggam pedang miliknya. "Baiklah, sekarang.... it's show time. Open the Seal : Sword of Fog." Dengan cepat, pedangnya bercahaya dan mengeluarkan kabut dari dalam tanah dimana pedang itu tertanam. Kabut itu menelan suara dan menutupi cahaya untuk masuk kedalamnya. Semuanya seakan dalam mode senyap. Aku bahkan hanya bisa mendengar suaraku dan tak bisa mendengar suara orang lain. Sudah lebih dari lima kali aku berusaha memanggil yang lainnya, namun sama sekali tidak ada tanggapan.copyright protection233PENANAccZ2GV0K1D

"(Gawat.... kabut ini, kabut yang sama dengan yang dia keluarkan saat di gua.)" Aku menghunuskan pedangku dan mengambil posisi bersiap akan serangan. Dengan posisiku yang sama sekali tidak diuntungkan, sangat rentan bagiku untuk bisa menerima serangan.copyright protection233PENANACsNSzM1Jqz

Tiba-tiba, ada sebuah kilatan cahaya berwarna hitam yang menerjang kearahku. Kilatan cahaya berwarna hitam itu berasal dari pedang milik Dimo yang menyerangku. Untungnya, aku berhasil menepis serangan itu karena reflek. Tapi, aku sama sekali tidak tahu apakah aku bisa menerima serangannya yang selanjutnya atau tidak. Ditambah lagi, saat ini sepertinya luka di kaki kiriku sudah menyebar ke seluruh betis kaki kiriku sehingga sangat sulit bagiku untuk bisa menghindar.copyright protection233PENANANng5XaImZ2

"Kau pasti sudah tahu mengenai kabut ini bukan? Namun, setelah aku menghisap energi dari monster tadi, kabut ini telah naik ke tingkatan yang berbeda." Sembari dia menjelaskan, dia terus menyerangku bertubi-tubi dengan membabi buta. Namun, aku tidak bisa terus seperti itu. Aku tidak bisa terus bertahan. Aku juga tidak bisa selalu bergantung kepada skill Moonlight Speed karena skill itu terlalu membebani tubuhku. Aku menarik pedangku keluar dan membuka inventory lalu mengambil pedang ogre sword dan menggunakkannya di tangan kiriku. Aku mengambil posisi dan mulai menepis serangan-serangan itu sembari berjalan mundur. Walau masih ada beberapa serangan yang tak bisa kutepis, namun aku bisa meminimalisir serangan yang kuterima.copyright protection233PENANAVcfVeVQfGS

Dengan kabut yang tebal seperti ini, aku tak tahu saat ini aku sedang berada di mana. Aku juga tidak tahu apakah ada tembok yang menanti di belakangku atau tidak. Saat ini, aku hanya bisa berharap ada tembok di belakang tubuhku. Dengan adanya tembok dibelakangku, maka serangan yang akan dilancarkannya hanya akan berasal dari depanku dan kemungkinan besar aku bisa menepis serangan-serangannya. Aku terus mundur dan terus mundur, sampai akhirnya aku menabrak tembok dari gedung Bum Corp.copyright protection233PENANATikGbUscDT

"(Sip!) Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Sword" Aku alirkan energi moonlight shardku kekedua pedang milikku. Dengan kekuatan dari Moonlight Swordku, aku berhasil menepis setiap serangan yang diberikannya. Tak lama setelah semua serangannya berhasil kutepis, diapun berhenti menyerang. "Ada apa?" Aku menyeringai. Namun, tiba-tiba aku teringat. Seharusnya disaat aku sedang tersudut seperti ini, dia pasti akan menggunakkan duri-durinya untuk menterangku. Namun sejak kabut ini mulai menyebar, dia sama sekali tidak menggunakkan duri-duri itu untuk menghentikan pergerakkanku. Padahal, saat ini dia bisa saja menyerangku dengan duri-duri miliknya dan membalikkan keadaan.copyright protection233PENANAMrg2wedfBc

"(Durasi Moonlight Swordku juga sudah mulai habis. Tunggu dulu, pedang. Untuk mengeluarkan kabut ini, dia menancapkan pedangnya kedalam tanah. Dia juga menggunakkan metode yang sama untuk mengeluarkan duri. Pedangnya.... disaat dia menarik pedangnya, maka duri akan menghilang. Berarti itu juga berlaku untuk kabut ini. Tapi kenapa... kabut ini sama sekali tidak menghilang? Padahal, tadi jelas-jelas dia menggunakkan pedang yang sama untuk menyerangku. Jangan-jangan.....)" Skill Moonlight Swordkupun habis, dan aku menyarungkan pedangku serta menyimpan Ogre Swordku kedalam inventory. Walau harus menghancurkan tubuhku, selagi aku bisa mengakhiri situasi ini, maka ini patut dicoba. "Open the Seal : Super Moonlight Shard – Super Moonlight Speed."copyright protection233PENANAixoysDtjSa

("Dengan kondisi tubuhku yang tidak baik, aku hanya bisa bertahan selama 2 detik saja. Jika lebih dari segitu, maka tubuhku takkan bisa menahannya dan malah akan merusaknya.)" Aku berlari dan terus berlari mengitari kabut mencari pedang miliknya. Walau begitu, kabut ini benar-benar membutakkan arahku. Walau kecepatanku sudah mencapai batasnya, aku tetap tak bisa menemukannya. Padahal aku sangat yakin. "Itu dia!" Sesuai dugaanku, pedang miliknya yang asli masih tertanam dan pedang yang dia gunakkan untuk melawanku tadi hanyalah imitasi. Itulah mengapa dia tak bisa mengeluarkan duri. Sebelum Super Moonlight Speedku habis, aku langsung berlari menuju kepedang itu tanpa pikir panjang dan berniat untuk mencabutnya. Namun, tiba-tiba kaki kiriku mati rasa dan membuatku terjatuh sebelum berhasil meraih pedang itu. Dengan terjatuhnya aku, durasi dari Moonlight Speedkupun habis. Padahal aku hampir saja berhasil meraih pedang tersebut. Jarak antara jari-jariku dengan pedang itu hanyalah beberapa senti. Aku benar-benar lupa dengan luka di kaki kiriku ini sampai-sampai aku tidak menduga hal ini akan terjadi. Luka di kaki kiriku nampaknya sudah menyebar sepenuhnya ke seluruh kaki kiriku.copyright protection233PENANAbLtwsEqVQ4

Tapi sekarang bukanlah saatnya untuk memikirkan itu. Aku merayap dengan menyeret diriku menuju ke pedang tersebut dan akan mencabutnya. Tiba-tiba, disaat tangan kananku akan meraihnya, sebuah pedang menusuk punggung tangan kananku dan menancapkannya kedalam tanah. "Selanjutnya, akan kupastikan bahwa kepalamulah yang akan kena." Dimo mengambil pedang lainnya dari dalam inventorinya dan menodongkannya kewajahku. Aku berusaha menahan rasa sakit dari tangan kananku dan mencoba meraih pedang itu dengan tangan kiriku, namun dia menginjaknya terlebih dahulu. Tanpa kusadari, aku berteriak karena tak kuasa menahan rasa sakit di tiga titik dari tubuhku. Suara teriakanku menggema di kesunyian kabut. Walau aku tahu, takkan ada yang bisa mendengar suaraku, namun aku tetap berharap ada yang mendengarnya walau hanya sedikit saja dan bergegas untuk membantuku. "Dengan begini, aku akan menepati kata-kataku sebelumnya." Dimo membalik pedangnya dan mengangkatnya setinggi mungkin. "Mati kau!!" Dia genggam erat-erat lalu mendorongnya menuju kearah kepalaku. Saat itu, aku bahkan tak menyadari, bahwa aku menutup kedua mataku dengan sendirinya.copyright protection233PENANAODv5F1kThW

"Ketemu!!" Kak Indra menepis pedang Dimo dengan menggunakkan pedang es miliknya lalu menendang Dimo untuk menjauh dariku. Dia menarik pedang yang tertancap di tangan kananku lalu berniat untuk menarik pedang Dimo.copyright protection233PENANA5Atu8W7CgZ

"Takkan kubiarkan!" Dengan kecepatannya yang luar biasa, Dimo berlari menerjang kak Indra. Tentu saja, kak Indra sudah mengantisipasi itu dan langsung mengurungkan niatnya untuk menangkis serangan Dimo. Dengan kondisi Dimo yang lebih diuntungkan, dia berhasil mendorong mundur kak Indra sehingga menjauh dari pedang tersebut.copyright protection233PENANAMsLgYdUo8L

Sementara Dimo sibuk mengatasi kak Indra, aku memanfaatkan momen itu untuk menarik pedangku dan berusaha berdiri dengan bertumpu pada pedang tersebut. Dimo yang menyadariku langsung berbalik dan berlari kearahku. Kak Indra menancapkan pedangnya kedalam tanah dan menghentikkan Dimo dengan membekukkan kedua kakinya "Dimo, sekarang!!!"copyright protection233PENANAsXoY340nXh

Tangan kiriku bertumpu pada pedangku, aku pegang pedang miliknya lalu menariknya sekuat tenaga. Namun, tanganku terlalu lemah akibat serangan tadi sehingga takkan kuat menarik pedang tersebut. "Kalau begitu...." Aku membuka inventori dan mengulurkan tangan kananku untuk menangkap Ogre Sword "Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Sword!" Aku mengayunkan pedangku yang bercahaya perak dengan sekuat tenaga. "....jika aku tak bisa menariknya, maka aku hancurkan saja!" Pedang tersebutpun patah menjadi dua, serpihan-serpihan pedang perlahan mulai bercahaya dan pedang itupun menghilang bersamaan dengan menghilangnya kabut tersebut. Perlahan, aku bisa merasakan kembali kaki kiriku dan akupun bisa kembali berdiri dengan normal. "Ini sudah berakhir...." Aku melepas Ogre Sword lalu tertawa sejenak sebelum terjatuh karena tak kuasa menahan lelah.copyright protection233PENANAk3RNx0KEC0

Kak Indra semakin menancapkan pedangnya kedalam tanah dan es yang sebelumnya hanya membekukkan kaki Dimo perlahan merambat kesetengah tubuh Dimo "Dimo Radhika, ini sudah berakhir. Kau sudah tertangkap."copyright protection233PENANAEptqFrDzQM

Dua hari kemudian.copyright protection233PENANAljKKhNOhbM

Aku baru saja pulang sekolah dan hendak akan melepas seragamku lalu menggantinya dengan kaos yang biasa kukenakan. Disaat aku sedang merapihkan seragam pramukaku dan hendak akan menggantungnya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku. Dia terus mengetuk pintu rumahku sampai aku merespon dengan berkata "Ya, tunggu sebentar."copyright protection233PENANAzvPqjmq313

Aku membuka pintu. Leila berdiri tertunduk dengan ekspresi yang nampak campur aduk. Nampak dari seragam pramuka yang masih dia kenakan, dia sepertinya langsung datang kemari sesaat setelah pulang sekolah. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini, tak biasanya Leila datang kerumahku dengan masih mengenakkan seragam seperti ini. Mungkin ada sesuatu yang penting yang ingin dia sampaikan. Sesekali dia melirik kearahku sembari membuka sedikit mulutnya, namun dia langsung mengurungkan niatnya dan kembali menunduk. Kugaruk rambutku sembari melangkah keluar rumah dan kututup pintuku lalu kuhampiri Leila "Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"copyright protection233PENANA4Gsx67ZKHP

Wajahnya kembali terangkat sesaat setelah mendengar pertanyaanku. Leila membuang pandangannya dengan wajah yang sedikit memerah lalu duduk di teras depan rumahku. Melihatnya membuatku semakin penasaran. Akupun berjalan menghampirinya dan duduk disampingnya "A-anu, Dimo... Sebenarnya, ada yang ingin kuberitahukan padamu."copyright protection233PENANAw29gMq4BHf

"Sesuatu yang ingin diberitahukan padaku?"copyright protection233PENANAnhLcH4z88B

"Ya... ini, mengenai apa yang Dimo Radhika beritahukan padaku."copyright protection233PENANAcdiELoLK8s

Angin yang berhembus kencang membawa daun-daun. Langit yang mendung sejak pagi. Serta suasana taman yang sepi. Tanpa kusadari, aku langsung menengok kearahnya.copyright protection233PENANAAFvJWha0SS

"Dimo Radhika!?"copyright protection233PENANAfg91sR520e

"Sebenarnya, aku sempat ragu untuk memberitahumu ini. Tapi, sekarang aku sudah memutuskan untuk memberitahumu. Saat itu—saat aku sedang ditawan olehnya, dia memberitahuku sesuatu." Leila mengangkat wajahnya lalu menatap langit yang mendung. "Saat itu, dia berkata bahwa dia—" Tiba-tiba smartphonekupun bergetar dan berdering. Membuat Leila menengok kearahku dan terhenti. Setelah kuambil dari kantungku, ternyata itu adalah panggilan yang berasal dari kak Indra.copyright protection233PENANAEcrWQdlCYt

"Leila, tunggu sebentar, kak Indra meneleponku." Aku berjalan menjauhi teras sembari menekan tombol untuk mengangkat telepon darinya. Sementara itu, Leila kembali tertunduk. Dia meremas rok berwarna coklat itu sembari menunjukkan ekspersi masamnya. ".... baiklah, aku akan segera kesana." Aku menutup telepon dari kak Indra lalu mengantungi kembali smartphone itu sembari berjalan menghampiri Leila.copyright protection233PENANA4y9Ai5Rt5K

Menyadari kedatanganku, wajah Leila kembali terangkat mendongkak menatapku "Dimo, tadi itu....?"copyright protection233PENANAll0umtmswm

"Ya, lagi-lagi Dimo Radhika tak mau angkat bicara terkecuali aku ada di sana." Aku berjalan menghampiri pintu dan menutupnya lalu menguncinya "Kali ini, kurasa tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaannya."copyright protection233PENANAGay87ols0j

Setelah mendengar penjelasanku, Leila berdiri dan menghampiriku lalu menggenggam kedua tanganku "Dimo, bolehkah aku ikut denganmu?" Tatapannya yang serius membuatku tak punya alasan untuk menolak, terlebih lagi, Leila sudah terlibat terlalu jauh dengan Dimo Radhika.copyright protection233PENANAW5S5FbaxEg

"Y, ya tak masalah..... dan juga um, bolehkah kau lepaskan tanganku?" Aku tersenyum lalu menengok kekedua tanganku yang digenggam olehnya. Menyadari itu, wajahnya langsung berubah memerah dan merona dan langsung melepaskan tanganku.copyright protection233PENANAhZChuYKQqg

Leila mundur dua langkah dan mengayun-ayunkan kedua tangannya serta menggelengkan kepalanya "Ma, maaf... aku tidak bermaksud..." Melihat Leila yang sudah kembali seperti biasanya membuatku tertawa. Melihat tawaku membuat Leila menjadi tersipu malu. Aku menggaruk tambutku lalu tersenyum lega.copyright protection233PENANAc7rKfz9A19

"Syukurlah, kau sudah kembali seperti biasanya. Nah, ayo kita berangkat."copyright protection233PENANATYfL3UWerA

Dimo Radhika dikurung di sebuah sel khusus yang letaknya ada di lantai 2 gedung Bum Corp. selama ini, sejak dia dikurung, dia tak pernah mengeluarkan sepatah kata sedikitpun. Itulah, yang kudengar dari kak Indra. Sel tersebut dibuat khusus untuk orang-orang pengikut dari Shadow Player. Sel itu dapat menetralisir energi dan membuat player takkan bisa melakukan login disaat sedang berada diwilayah sel tersebut.copyright protection233PENANAvJA7055LWw

Saat ini, aku, Leila dan kak Indra sedang berjalan menuju ke sel milik Dimo Radhika. Melewati koridor-koridor dengan tembok berwarna putih dengan lampu yang begitu terang. Lantai yang memantulkan refleksi dari apapun yang ada diatasnya, serta suhu ruangan yang begitu dingin.copyright protection233PENANA28DtTS32s4

"Ngomong-ngomong, sekarang ada dimana dia?"copyright protection233PENANAcm3r76m4lO

"Siapa?"copyright protection233PENANAFQxgYyl3jh

"Zaki lho, Zaki. Tadi sepulang sekolah dia terlihat terburu-buru sekali."copyright protection233PENANAAlqePj6Smz

"Oh ya, tadi saat aku sedang berjalan menuju ke rumahmu, aku melihat Maulana sedang mengendarai motor menuju ke suatu tempat."copyright protection233PENANAXzW0147o8s

"Dasar, dia itu..."copyright protection233PENANAcOjJ4hiplB

"Maaf menyela pembicaraan kalian, tapi sepertinya aku tahu dimana Zakarya berada." Kak Indra tersenyum kecut sembari memegang rambutnya.copyright protection233PENANAHWX7aMrhEN

"Sungguh...?"copyright protection233PENANAQCnMCoQJMZ

"Yah, itu...."copyright protection233PENANAcZNwJRO1ha

Tanpa kami sadari, kamipun telah tiba di depan sel milik Dimo Radhika. Namun, ada sesuatu yang lebih membuatku terkejut. Aku mendengar suara tawa seseorang dari dalam sel tersebut. Suara yang nampaknya sangat kukenal "Suara ini, jangan-jangan...." Aku menengok kearah kak Indra yang masih tersenyum. Senyumnya membuatku semakin yakin dengan seseorang yang ada dibalik pintu ini. Aku menelan ludahku lalu menggenggam gagang pintu. Kubuka pintu tersebut dengan penuh keyakinan.copyright protection233PENANACY6z5gmwy1

"Dimo, kau terlalu payah bermain ini. Tak seperti Dimo yang satu lagi." Zaki menyeringai puas sembari menunjuk Dimo. Dia mengangkat-angkat kartunya dengan ekspresi yang nampak begitu puas. "Lihat, aku dapat full house." Zaki menaruh kartu-kartu di tangannya keatas meja. Dimo yang merasa sudah kalah langsung menghambur-hamburkan kartu miliknya.copyright protection233PENANAkpDIcg730T

"Aduh, ini sudah yang keempat kalinya." Dimo menggaruk-garuk rambutnya karena kesal sudah kalah berkali-kali saat melawan Zaki. Kekalahan itu sangat tertera diwajahnya yang penuh dengan coret-coretan berwarna hitam.copyright protection233PENANA2dTQJCIyEZ

Zaki mengambil sebuah spidol yang tergeletak diatas meja lalu membuka tutupnya "Hayo, sini. Aku akan menggambar kumis Naruto diwajahmu."copyright protection233PENANAIgXOQ35dAE

Aku menghampiri Zaki lalu menendang kursinya hingga membuatnya terjatuh "Makan nih full house." Semuanya hanya terdiam melihat apa yang sudah kulakukan kepada Zaki. Mereka bingung harus membela siapa.copyright protection233PENANAeV3SDf8Ki8

"Kenapa kau ada disini, Zaki?!"copyright protection233PENANAEklxb5aTDO

"Apa maksudmu? Tentu saja untuk bermain poker." Zaki berdiri sembari membersihkan kausnya lalu merapihkan kartu poker yang berserakkan dilantai dan meja. Tanpa memperdulikan situasi, Zaki kembali duduk lalu mengocok kartu dan membagikannya kepada Dimo dan dirinya.copyright protection233PENANASl5QaWTg9u

"Bukan itu yang kumaksud!" Aku memukul meja. "Maksudku adalah, kenapa kalian bisa bermain poker dan seakrab ini?" Aku menunjuk mereka berdua dan kartu poker yang masih Zaki bagikan.copyright protection233PENANAUnpXg2coNv

"Sudah, sudah. Ayo, kau juga ikut bermain sini." Zaki tersenyum lebar lalu mulai membagikan kartu kepadaku.copyright protection233PENANAxrQTZ1Y9UC

"Mana sudi! Dan sekarang bukanlah waktunya untuk bermain poker."copyright protection233PENANAYNY3D9Zxp9

Leila menghampiriku dengan senyuman polosnya lalu memegang pundakku untuk membuatku tenang. "Dimo, tenanglah. Zaki hanya bermain poker dengannya, dan lagi, Dimo Radhika tidak sejahat yang kau pikirkan." Bisiknya.copyright protection233PENANA1kxrhNuubh

"Kau juga?!"copyright protection233PENANA0JJQCIRBSM

Aku menghela napas lalu menarik Zaki keluar dari dalam sel sementara kak Indra tinggal untuk mengawasi gerak-gerik Dimo. "Zaki, dengar, kenapa kau bisa ada disini dan bermain poker dengannya?"copyright protection233PENANAdRzcUdlUKL

"Tak ada alasan khusus sih...." Zaki melirik keatas lalu bersiul seakan tidak mempermasalahkan pertanyaanku sama sekali. Aku sangat ingin menghajarnya, tapi Leila menahanku. "Kau tahu, Dimo dan aku sudah sangat akrab. Dan bahkan dia lebih mengasikan daripada Dimo yang disana itu." Zaki mendekati Dimo Radhika dan bersender padanya lalu menunjukku dengan ekspersi menyeringai sementara aku yang sedang mengangkat kursi dan siap untuk melemparkannya namun ditahan oleh kak Indra.copyright protection233PENANA3M5BenoISA

Disaat sedang menurunkan kursi, tiba-tiba aku teringat dengan apa yang sebelumnya Leila katakan. Aku menengok kearah Leila lalu memanggilnya. "Oh ya Leila, sebelumnya, apa yang ingin kau beritahu saat sedang dirumahku?"copyright protection233PENANAZSjJIWsAxk

"Ah, itu...."copyright protection233PENANAmLbWY69j1U

"Semuanya dengar!" Tiba-tiba semuanya tertegun dan menengok kepada Dimo Radhika bersamaan. Dia bangun dari kursinya lalu berjalan menghampiri kami "Selagi semuanya ada disini, dan nampaknya mereka tidak mengawasiku. Aku akan memberitahu kalian semua."copyright protection233PENANA45HaGVx4Dq

"Apa maksud—" Leila menarik kausku, seakan mengisyaratkan kepadaku untuk percaya pada apa yang akan dikatakan Dimo. Aku menengok kearah Leila, lalu dia mengangguk dengan tatapan yang sangat meyakinkan.copyright protection233PENANAEDiYn1UPCs

Jika Leila seyakin itu, maka aku akan percaya dengan apa yang akan dia katakan.copyright protection233PENANAaZdmVbt5vu

Aku berjalan menghampiri pintu lalu menutup pintu sel lalu kembali "Jadi, apa yang ingin kau katakan?"copyright protection233PENANAZAzHKfCikg

"Sebelum itu, sebenarnya aku sudah memberitahu hal ini kepada Leila." Seketika, semuanya langsung menengok kearah Leila, dan Leila hanya menunduk dan mengangguk. "Selama ini, menurut kalian keberadaanku disini itu apa?"copyright protection233PENANAIZT1Xg2S6F

"Keajaiban alam." Jawabku.copyright protection233PENANAkgEyCzK6Ef

"Sihir." Jawab Zaki.copyright protection233PENANAAEPalzqYSK

"Sebuah kesalahan." Jawab kak Indra.copyright protection233PENANAeAK8BIpEAv

"Ke-kembarannya Dimo." Jawab Leila.copyright protection233PENANAkVMYtpxdvc

"Apa kalian serius menjawab seperti itu?" Dimo menghela napas setelah mendengar jawaban dari kami semua. Dia bingung ingin tertawa atau malah kesal atas jawaban tersebut. "Baiklah, tentu kalian pernah melihat diri kalian saat bercermin bukan?" Aku dan yang lainnya mengangguk. "Aku berasal dari dunia cermin, dengan kata lain bisa kalian sebut dunia paralel."copyright protection233PENANAt5RifdSFcK

"Tunggu dulu, kalau begitu kau adalah aku, namun dengan pikiran yang berbeda?"copyright protection233PENANAqqlazXTYCt

"Ya benar. Awalnya, kedua orang tuaku menghilang tiba-tiba saat sedang berlibur. Lalu, saat aku selidiki, ternyata Shadow Player sudah membawanya kedunia ini. Tak lama setelah aku mengetahui kenyataan ini, Shadow Player langsung membawaku ke dunia sini juga. Monster licik itu menawan kedua orang tuaku dan mengancam akan membunuh mereka terkecuali aku ikut bergabung dengannya." Dimo mengepalkan tangannya. Wajahnya terlihat kesal dan putus asa. Kurasa, bergabung dengan mereka adalah keputusan yang paling masuk akal. Jika aku jadi dia, aku pasti akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan saat ini. Zaki dan yang lainnya juga hanya tertunduk terdiam, tak tahu apa yang seharusnya mereka katakan. "Tapi, saat ini aku punya secercah harapan untuk menyelamatkan mereka." Dimo berlutut lalu bersujud dihadapan kami berempat "Kumohon, bantu aku menebus semua kesalahanku dan menyelamatkan kedua orang tuaku!!"copyright protection233PENANAuWpgUSFs6b

"Tapi, meskipun kau berkata seperti itu. Kau sudah membunuh banyak orang. Kami tak bisa begitu saja mempercayaimu." Kak Indra menghampirinya lalu membantunya berdiri.copyright protection233PENANAEzhwRxKKdW

"Aku mungkin sudah lancang sampai berkata seperti ini, tapi.... semua orang yang sebelumnya kuhabisi, masih hidup!! Kita masih bisa menyelamatkan mereka!" Tiba-tiba pintu terbuka, mbak Anna langsung menerjang menghampiri Dimo dan menarik kerahnya. Dia dorong Dimo sampai dia menabrak tembok dibelakangnya. Aku langsung berlari menghampiri mbak Anna untuk menghentikannya, namun kak Indra bergeleng seakan memintaku untuk tidak ikut campur.copyright protection233PENANAuDmPOVMHUo

"Apa-apaan kau?! Setelah apa yang sudah kau lakukan, setelah semuanya..... kau pikir kami akan memaafkanmu dan membantumu begitu saja?!!" Tangan Dimo yang sebelumnya mengepal mulai melemas, genggaman tangan mbak Anna yang menarik kerah Dimo semakin kencang. "Apa kau pikir.... apa kau pikir...." Suara mbak Anna yang sebelumnya tegas mulai berubah menjadi suara yang lemas diikuti dengan suara terisak-isak. Kemejanya mulai basah. Air itu terus menetes turun dari matanya membasahi kemeja Dimo. Mbak Anna terus mencoba menahan agar suara tangisannya tidak terdengar. Namun dia tak kuasa menahan tangisannya "Apa kau pikir.... Andri masih hidup.....?"copyright protection233PENANAbokAFfslHz

Dengan wajahnya yang terlihat memelas karena melihat mbak Anna. Namun, Dimo tak ingin menjawabnya dengan ekspresi yang menyedihkan itu. Maka, dia bulatkan niatnya lalu tersenyum tulus.copyright protection233PENANAwm8NS0kDKy

"Ya."copyright protection233PENANAzfbW50SSHM

Sebuah jawaban yang begitu sederhana, namun dapat menciptakan secercah harapan dihati seorang gadis. Suara tangisannya menggema keseluruh ruangan, begitu penuh dengan rasa bahagia, dan begitu penuh dengan rasa syukur. Mbak Hana melepaskan kerah Dimo, lalu berlutut lemas dihadapannya. Air matanya mengalir deras menuruni wajahnya. Membasahi lantai dan membasahi wajahnya.copyright protection233PENANAhSaBsQRVby

Hari itu, pertama kalinya aku melihat mbak Anna seperti itu. Tangisannya terdengar seperti seorang gadis kecil.copyright protection233PENANAuHUDvNEQqp

Sejak saat itu, kami setuju untuk mempercayai Dimo Radhika dan bersiap untuk menyerang markas dimana anggota ERASER yang masih hidup ditawan. Selagi proyek ini sedang dijalankan, kami setuju untuk memanggil Dimo dengan nama belakangnya yaitu Radhika. Karena terdapat dua Dimo dengan penampilan yang sama persis, maka nama belakang ini dapat mempermudah orang-orang dalam membedakan kami berdua.copyright protection233PENANAo0EAWKAOCh

Namun, sebelum hari penyerangan dilaksanakan, aku, Radhika, Zaki, kak Indra, dan mbak Anna berniat untuk mengobservasi tempat yang menurut Radhika adalah tempat dimana anggota ERASER ditawan.copyright protection233PENANABTaMvDCmzN

“Disinilah lokasinya. Mereka menangkap anggota-anggota ERASER yang sudah kukalahkan dan menawannya disini, termasuk kedua orang tuaku.” Radhika melepas teropong lalu memberikannya kepada Zaki. Setelah menerimanya, Zaki menggunakkan teropong itu dan melihat tempat yang sebelumnya disebut oleh Radhika.copyright protection233PENANAV4vPH1DmS4

Gedung itu adalah sebuah tempat bekas les yang sudah tidak terpakai dan agak terbengkalai. Gedung dengan total lantai 4 lantai ini sudah berdiri sejak 6 tahun yang lalu, namun entah mengapa sejak 2 tahun yang lalu tempat les ini menjadi terbengkalai dan sudah tidak digunakkan lagi.copyright protection233PENANALg5qR1arQN

“Tunggu dulu, lokasi tempat ini’kan tak jauh dari sekolahku dan Dimo. Aku dan Dimo sering pulang melintasi tempat itu, namun tak ada yang mencurigakan selagi kami melintasinya.” Zaki melepas teropong dan berdiri karena terkejut. Aku menarik celananya dan memintanya untuk kembali tiarap, karena ada kemungkinan musuh bisa melihatnya. Saat ini, kami sedang berada diatap sebuah gadung yang letaknya cukup jauh dari gedung tersebut. Kami juga mengenakkan jaket berwarna hitam agar bisa berkamuflase dengan langit di malam hari. Walau begitu tak menutup kemungkinan bahwa musuh juga bisa menemukan kami.copyright protection233PENANAJrGUdcxPz6

Mbak Anna mengulurkan tangannya “Bisa kupinjam sebentar?” Zaki yang sebelumnya mengalungi teropong tersebut melepasnya dan menyerahkannya kepada mbak Anna. “Apa kau yakin ini tempatnya, Radhika?” Dia melepas teropong lalu menengok kearah Radhika.copyright protection233PENANADua9kSaXe2

“Ya, tidak salah lagi. Aku bertugas di tempat tersebut, jadi tidak salah lagi.” Radhika mengambil sebotol air mineral dan hendak membuka tutupnya, namun tiba-tiba ada sebuah pedang cahaya meluncur kearahnya dari arah serong kanannya. Untungnya, kak Indra menyadari hal tersebut dan berhasil menahan pedang tersebut menggunakkan tembok es miliknya yang tercipta dari air mineral yang digenggam Radhika. Karena terkejut, secara tak sengaja botol air mineral tersebut terlepas dari tangannya “Te, terima kasih....”copyright protection233PENANA20j7qa9BCZ

“Siapa disana!?” Kak Indra yang sudah dalam keadaan terlogin langsung berdiri dan menengok kesana kemari mencari pelaku dari serangan ini diikuti olehku dan yang lainnya. Dari sebuah gedung yang lebih tinggi dari gedung kami muncul seseorang dengan lingkaran berwarna biru bercahaya dibelakangnya diikuti dengan pedang-pedang bercahaya. Rambutnya yang pirang, dan tatapannya yang dingin menciptakan sebuah tekanan yang mencekam. Pedang-pedang dibelakangnya bercahaya dimalam hari bagaikan rembulan.copyright protection233PENANAolr5gEhNuQ

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773“Di.... Dia....” Radhika melakukan login. Tatapannya yang serius menatap orang tersebut, lalu tangannya yang mengepal karena geram. “Begitu, jadi kaulah yang menggantikanku bertugas disana.” Dia meneriakkan kata-kata tersebut lalu berjalan menuju kearah dimana orang tersebut berada.copyright protection233PENANAU8k5hFYrDc

Aku yang melihatnya melewatiku dengan tatapan yang serius seperti itu, membuatku merasakan firasat buruk. Aku menghampirinya lalu memegang pundaknya “Ada apa, Radhika?”copyright protection233PENANAtFdNNDXWez

“Dia adalah salah satu dari anggota dari kelima anggota besar.”copyright protection233PENANAWDVnIb20Zw

“Lima anggota besar?”copyright protection233PENANARUEbZWRXnu

“Ya, Lima anggota besar adalah lima orang pengikut Shadow Player yang menjadi orang kepercayaannya. Termasuk aku, maka sekarang hanya tersisa 4 orang.” Radhika melangkah dua langkah lalu menunjuk orang tersebut “Kukira sang Ratu Putihlah yang akan datang kemari, tapi ternyata itu malah kau, Dent si Ahli Seribu Pedang.” Selagi melakukan gertakan, Radhika sedikit melirik kearahku lalu berbisik kepadaku “Dimo, beritahu yang lainnya untuk bersiap untuk kabur. Saat ini, percuma saja melawannya, kita takkan bisa mengalahkannya dengan jarak yang jauh seperti ini. Dialah yang akan diuntungkan karena jaraknya dalam melemparkan pedang-pedang tersebut sangatlah luas.”copyright protection233PENANAaR9nEX1BTg

Aku mengangguk lalu perlahan berjalan mundur dengan tenang agar Dent tidak mencurigai gerak-gerikku. Aku menghampiri Zaki dan yang lainnya satu-persatu dan memberi tahu mereka siapa orang itu sebenarnnya. “Kenapa pengkhianat sepertimu berani menampakkan diri di sini?” Dent mengangkat kedua tangannya kedepan, seketika pedang-pedang yang melayang dibelakangnya terbang kedepan mengikuti perintah dari Dent. Radhika menengok kebelakang, lalu aku mengangguk, menandakan bahwa kami sudah siap untuk pergi dari tempat itu. Aku melihat dua buah bom asap yang digenggam tangan kirinya yang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya.copyright protection233PENANAbQU6dCifDi

“Sekarang!!”copyright protection233PENANAMucrGbnx9L

Radhika melemparkan kedua bom asap itu ke lantai. Asap berwarna putih keluar bersamaan dengan ledakan dari bom tersebut, menutupi kami semua dan membuka celah bagi kami untuk kabur. “Percuma saja!!” Dent melemparkan setengah dari pedangnya menuju ke pintu yang terarah langsung kepada tangga darurat. Akibatnya, pintu tersebut terkunci dan takkan bisa dibuka dikarenakan oleh pedang-pedang tersebut. Namun, tanpa dia duga, kami berlari keluar dari asap yang arahnya berlawanan dengan pintu tersebut. Kami melompat terjun dari atas gedung sembari mengscan jari kami semua dan login kedalam sistem Start Point. Kami melompat dari gedung tinggi yang memiliki 4 lantai ini.copyright protection233PENANA1kCbIg8KS2

Melihat kami yang melakukan tindakkan tidak terduga tidak membuat konsentrasi Dent hancur. Dia memperhatikan kami dengan tenang dan tidak terpengaruh sama sekali dengan tindakkan kami berlima. Dia bahkan mengumpulkan energi lebih untuk menciptakkan lebih banyak pedang cahayanya. Walau samar, aku bisa melihatnya. Pedang-pedang cahaya itu tercipta dari kumpulan energi yang keluar dari lingkaran berwarna biru dibelakangnya. Sungguh energi yang besar, aku tak percaya dia bisa mengendalikan pedang sebanyak itu. Saat 12 pedang sudah tercipta, dia meluncurkan pedang-pedang itu kearah kami berlima. Kak Indra tidak tinggal diam saat menyadari serangan yang akan muncul selanjutnya. Dia langsung menarik pedangnya dari dalam sarungnya lalu mengubah pedang itu menjadi air. Dia pisahkan pedangnya dari airnya lalu melemparkan air tersebut ke tembok.copyright protection233PENANA04SVb6xtmb

Keluarlah sebuah tembok air yang besar dan berbentuk persegi dari dalam tembok tersebut. Lalu, kak Indra melemparkan pedangnya ke tembok air itu dan mengubahnya menjadi tembok es yang keras dan dingin. Berkat tembok es tersebut, 9 pedang cahaya milik Dent berhasil dihalau, namun 3 pedang sisanya berbelok dan berhasil menghindar.copyright protection233PENANAL8FYAl9XSj

“Open the seal : Dark Moonlight Shard!” Radhika melemparkan Dark Moonlight Shard dan berhasil mengenai serta menghancurkan ketiga pedang cahaya milik Dent. Namun, tanpa diduga, puluhan pedang cahaya berhasil menghancurkan dan menerobos tembok es milik kak Indra. Aku juga tak bisa tinggal diam melihat jumlah pedang yang terarah kepada kami.copyright protection233PENANAJTEl5mCd7v

Walau ini hanya bantuan kecil, namun ini lebih baik dari pada tidak melakukan apapun sama sekali!copyright protection233PENANAf8z83KeBeA

Aku menarik pedangku dan mengumpulkan energi “Open the seal : Moonlight Shard - Moonlight Speed!” Setelah energi dari Moonlight Shard sudah tersebar keseluruh tubuhku, aku membuka inventori lalu tangan kiriku mengambil pedang ogre sword yang sudah dimaksimalkan oleh sistem Start Point yang baru. “Open the seal : Super Moonlight Shard!” Kedua pedangku bercahaya. Dengan energi dari Super Moonlight Shard yang sudah tersebar rata dikedua pedangku, dan juga dukungan dari Moonlight Speed, aku melemparkan Super Moonlight Shard sebanyak dan secepat yang kubisa kearah pedang-pedang milik Dent. Namun, beban yang diterima tubuhku terlalu berat, aku bisa merasakan tulang-tulangku berderit, otot-ototku terasa nyeri, dan penglihatanku mulai memudar, namun aku tidak bisa berdiam diri melihat kondisi kami yang sedang tersudut seperti ini “Zaki, apa masih belum?!”copyright protection233PENANAMZJrYjM7hF

“Sebentar lagi, aku sedang mengumpulkan energi!” Kedua tangannya menggenggam perisai miliknya dan menyalurkan seluruh api yang tercipta ditubuhnya kedalam perisai tersebut sementara kami berempat melindunginya.copyright protection233PENANAr0z5mEsYSz

Tubuhku terasa sakit. Terasa sakit dan terasa nyeri sampai aku tidak tahu lagi.copyright protection233PENANAt8H3gLNvm1

“Open the seal : Light Hand.” Tiba-tiba, mbak Anna meluncur kearahku dengan menggunakkan Light Boost miliknya lalu membutakkan penglihatanku untuk sementara waktu menggunakkan Light Hand. Akibatnya, pergerakkankupun terhenti dan skill Moonlight Speed dan Super Moonlight Shard milikku ikut terhenti. Tak lama kemudian, dia memukul perut dan pundakku dengan sangat kencang sehingga membuatku pingsan.copyright protection233PENANA581PzZ8m7q

“Kak Anna, apa yang kau lakukan?!” Protes Zakicopyright protection233PENANA2zqCFNg8L9

“Jika dia terus kubiarkan menggunakkan skill itu, dia hanya akan membebani tubuhnya sendiri dan menghancurkan dirinya sendiri! Pokoknya, kau fokus saja menciptakkan pelindung itu!” Mbak Anna mengangkat dan menggendongku yang sudah pingsan dan secara otomatis terlogout dari dalam Start Point.copyright protection233PENANAHfhpixa53w

“Sip, semuanya minggir! Open the seal : Fire Element – Fire Shelter.” Zaki melemparkan perisai api miliknya keatas kami semua, lalu perisai itu membesar dan menjadi pelindung diatas kami dari pedang-pedang milik Dent. Bentuk dari pelindung tersebut dapat diubah Zaki sesuka hati seperti di saat insiden duri saat melawan Radhika. Pelindung itu juga akan terus mengikuti Zaki dan yang lainnya sampai durasi dari skill tersebut habis.copyright protection233PENANA78F9Yf86Cg

“Semuanya bersiap! kita akan segera mendarat!” Kak Indra mengambil pedang baru dari inventorinya dan mengubahnya menjadi pedang air. Dia berbalik menghadap kebawah lalu melemparkan pedang tersebut ke tanah. Tak lama kemudian tanah disekitar pedang tersebut berubah menjadi sebuah kolam air yang cukup dalam. Yang membuat air ini berbeda dari air biasa, air ini takkan membuat kami cidera saat kami mendarat di dalamnya.copyright protection233PENANAxEQYgvLxDw

Setelah mendarat dan berhasil kembali ke permukaan tanah, kolam tersebut kembali menjadi tanah biasa setelah kak Indra mencabut pedang miliknya. Setelah itu, entah mengapa Dent tidak menyerang kami lagi dan membiarkan kami kabur.copyright protection233PENANAGlMYK4wVaz

***copyright protection233PENANAsiI7rGmANZ

Kedua tangan Dent tak bisa bergerak. Tubuhnya kaku dan seakan membeku karena tatapan dari orang itu “Kenapa kau menghentikanku, Ratu Putih?” Dent menghilangkan lingkaran dibelakang punggungnya. Tak lama kemudian tubuhnya bisa kembali digerakkan, diapun berbalik menghadap seorang gadis berjubah dan bertudung putih.copyright protection233PENANARkDHiUc3sP

“Kenapa? Karena mereka masih bisa dimanfaatkan.” Ratu Putih menunduk lalu menarik tudung miliknya kebawah sehingga semakin menutupi wajahnya. Dia berjalan ketepian lalu melihat kami yang sedang berusaha kabur.copyright protection233PENANAA9bm7WrERC

Dent memejamkan kedua matanya lalu merapihkan kembali jasnya. Dia berjalan berpapasan dengan Ratu Putih lalu berhenti “Entah apa tujuanmu yang sebenarnya, aku tidak peduli. Namun, jika kau menghalangiku lagi, maka aku takkan tinggal diam.” Dent kembali berjalan lalu meninggalkan tempat itu dengan terbang kembali ke markas. Ratu Putih yang hanya terdiam membisu terus menatap seseorang diantara kami. Dia melepas tudungnya. Membiarkan rambut putihnya kembali tertiup oleh angin malam yang dingin. Tiba-tiba rintik-rintik air jatuh. Ratu Putih menengok keatas, awan mendung diatasnya yang mulai menurunkan airnya. Hujan dimalam hari yang perlahan semakin deras itu membuat udara malam semakin menjadi dingin. Hujan deras, dengan aroma khasnya.copyright protection233PENANAdjUVrmCOWp

“Dimo....”copyright protection233PENANANNJrv2mH6O

***copyright protection233PENANAxGYI36EvKw

Beberapa hari kemudian, persiapan untuk penyeranganpun selesai. Empat pasukan divisi sudah dikerahkan untuk menyerang gedung les yang sudah tidak terpakai tersebut. Divisi 4 dan divisi 5 bertugas untuk menyerang dari depan, sedangkan Divisi ke-7 dan ke-6 bertugas menyerang dari belakang.copyright protection233PENANA7XQ1Thnv6k

Dua peluru bius ditembakkan. Keduanya mengenai leher dari kedua orang yang baru saja keluar dari gedung tersebut. Bahkan untuk berjaga-jaga, mereka sampai meretas kamera pengawas yang berada di sekitar gedung les. Walau begitu, entah mengapa mereka tak bisa meretas kamera pengawas yang ada di dalam gedung. Setelah berhasil mengikat kedua orang tersebut dan mengamankannya untuk bisa diinterogasi, anggota-anggota dari divisi 4 dan divisi 5-pun mulai berjalan menuju ke pintu masuk dari gedung tersebut. Namun, sesaat sebelum mereka memasuki ruangan, mereka memberi sinyal kepada divisi 7 yang sudah berjaga di pintu belakang gedung. Aku merasa agak khawatir dengan Zaki, Leila, dan Sindy yang ada bersama divisi 7, namun selagi kak Indra bersama mereka, aku yakin mereka pasti akan baik-baik saja.copyright protection233PENANAVT8FlDIHkO

Sesaat setelah sinyal diberikan, divisi 6 dan 7 yang sudah siaga langsung mendobrak pintu belakang dan masuk bersamaan dengan divisi 4 dan 5.copyright protection233PENANAwSvuBzBf4l

Sedangkan, untukku dan Radhika, kami memiliki rute kami sendiri. Disaat perhatian musuh sedang terpusat kepada divisi 4 sampai divisi 7, kami berdua sudah bersiap untuk masuk melalui jalur udara. Di sini, kamilah yang memegang peran penting dalam melepaskan tawanan. Kami berada di sebuah gedung yang lebih tinggi dan jaraknya tak jauh dari gedung les dimana penyerangan berlangsung. Bahkan di atas gedung ini terasa sangat dingin, ditambah lagi, dengan udara malam. Aku bahkan bisa melihat uap yang keluar dari mulut dan hidungku saat aku bernafas.copyright protection233PENANALbjCddTBJ0

“Baik, dimengerti. Dimo, penyerangan sudah dimulai. Kita juga harus segera bersiap.” Radhika menutup saluran radio yang dia pakai di telinga kirinya lalu mulai mengenakan tas parasut sementara aku hanya duduk terdiam memandangi gedung tersebut. Sejak tadi—tidak, sejak Radhika memberi tahu siapa dia yang sebenarnya, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Melihatku yang sudah larut dalam lamunanku, Radhika menghampiriku lalu hendak akan memegang pundakku untuk menyadarkanku “Dimo, ada apa?”copyright protection233PENANAVEU3kfH2X1

Aku terkejut. Aku terlalu larut dalam lamunanku sampai-sampai aku lupa dengan apa yang harus kulakukan saat ini. “Tidak, bukan apa-apa...” Aku langsung cepat-cepat bangun dan mengenakan tas parasut. Saat ini bukan waktunya untuk memikirkan hal ini, aku harus fokus untuk bisa menyelamatkan para tawanan.copyright protection233PENANAQtUmYvVzLZ

Itulah yang kukira dan kupikirkan.copyright protection233PENANAVxbe9ps30b

“Kita harus cepat-cepat karena semuanya mengandalkan kita.” Radhika berjalan menuju ke pagar lalu menaikinya dan bersiap untuk terjun. Namun aku hanya terdiam seperti batu. Mau bagaimanapun, aku tetap tidak bisa menghilangkan hal yang mengganggu pikiranku.copyright protection233PENANA3WQXZacHca

“Radhika, sebenarnya ada satu hal yang ingin kutanyakan.” Mendengar kata-kataku, Radhika langsung menengok dan berbalik menghadapku. Aku yang terdiam mulai melangkahkan kakiku menghampirinya. Aku bersandar di pagar lalu menatap gedung les tersebut. Disana terdapat anggota-anggota ERASER yang ditawan, bahkan kedua orang tuanya Radhika juga berada di tempat itu. “Sebenarnya, siapa aku ini? Itulah pertanyaan yang selama bertahun-tahun ada di benakku.”copyright protection233PENANAI3DDpC8lbT

“Dimo...” Radhika menatap wajahku yang penuh dengan kekosongan. Ekspresiku yang datar dan murung, entah mengapa membuatnya ikut merasa sedih.copyright protection233PENANAk7qwmAVODW

“Dulu sekali, sebelum aku bertemu dengan Zaki, dengan kakak dan yang lainnya. Aku sebatang kara. Aku bahkan tidak ingat siapa diriku ini.”copyright protection233PENANA0GSQES1Rzd

***copyright protection233PENANA1ihFVHh42t

Disaat itu, tiba-tiba aku terbangun. Hujan deras membasahi tanah dan seluruh tubuhku. Aroma hujan dan aroma tanah serta rumput yang basah begitu menyengat. Pakaianku penuh dengan lumpur, bahkan penglihatanku begitu kabur. Diriku yang kecil tiba-tiba mendengar sebuah suara ledakan. Aku yang saat itu tidak tahu apa-apa langsung mencoba berdiri. Dengan kedua tangan dan kakiku yang begitu terasa lemas, aku mencoba untuk berdiri. Walau aku bisa merasakan ada cairan kental berwarna merah mengalir jatuh di wajahku. Tubuhku yang juga lebam serta dengan pikiranku yang kosong, aku mencoba mengikuti sumber suara ledakan tersebut.copyright protection233PENANAXnAoTWZPLC

Saat itu aku kehilangan ingatanku.copyright protection233PENANALLjDBXvDP5

Hujan deras yang tak kunjung henti, sudah seperti lagu pengantar tidur bagiku. Aku bahkan bisa mencium aroma yang juga menuntunku ke sumber suara ledakan tadi. Sembari menekan luka di pundak kiriku, aku berjalan dan terus berjalan. Bahkan walau harus merangkak sekalipun, aku rela melakukannya asalkan aku bisa sampai ke sumber suara tadi. Entah mengapa firasatku mengatakan bahwa aku harus pergi ke sana.copyright protection233PENANARQn8viPNmS

Entah mengapa, sumber suara ledakkan tersebut tak jauh dari tempatku terbangun. Aku melihatnya. Aku melihat seorang perempaun dewasa dan lelaki dewasa yang terbaring lemas di tak jauh dari mobil yang terbakar. Asap berwarna hitam pekat yang keluar dari mesin mobil yang terbakar, mulai menyebar ke segala arah. Aku menghampiri kedua orang tersebut lalu menatap keduanya. Pakaiannya tidak terlihat mewah namun entah mengapa terdapat kesan bahwa mereka akan pergi ke suatu tempat untuk berlibur. Tiba-tiba, perempuan dewasa yang sebelumnya tak sadarkan diri itu batuk dan tersadar. Tubuhnya yang terluka dan juga kaki kanannya yang terkena sedikit luka bakar membuatnnya tak sanggup lagi berdiri. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampirinya.copyright protection233PENANAgkfQJ9NIYy

Perempuan dewasa itu langsung tersenyum tulus saat melihatku. Entah mengapa keberadaanku disana membuatnya merasa senang. Tangannya yang hangat perlahan meraih dan mengelus pipiku “Dimo....” Tiba-tiba air mata mulai mengalir keluar dari kedua matanya. Aku tidak tahu apakah itu air mata bahagia atau air mata kesedihan. Air mata dan senyumnya yang begitu tulus itu entah mengapa membuat hatiku terasa sakit. Padahal, tidak ada luka yang bisa membuatku merasa sesakit itu, tapi kenapa aku merasakannya. Seakan-akan rasa sakit yang dialami tubuhku tak sebanding sama sekali dengan rasa sakit yang ada di hatiku. Aku meremas pakaianku. Kedua tanganku bergerak dengan sendirinya memegang tangan perempuan itu. Tangannya yang hangat dan lembut perlahan mulai menjadi dingin. “Dimo... syukurlah... kau selamat.... syukurlah. Tapi.... maafkan.... Ibu..... nampaknya Ibu... tak bisa ikut bersamamu...” Tangannya yang sebelumnya memegang pipiku dengan kuat mulai melemas dan akhirnya terlepas. Cahaya yang terpancar dari matanya mulai memudar. Matanya yang sebelumnya menatapku perlahan mulai menutup. Namun walau begitu, senyuman tulus itu tetap terjaga. Ekspresinya yang sungguh hangat membuat hatiku terasa hancur.copyright protection233PENANAlKjEnVCTyr

Saat itu, entah mengapa air mataku mengalir dengan sendirinya. Rasa sakit di dadaku yang tak tertahan membuatku tak bisa menahannya. Entah mengapa aku tak ingin tangannya terlepas dari pipiku. Entah mengapa aku menangis.copyright protection233PENANAYpimyOEnB1

Ibu....copyright protection233PENANAgSmvI6EvOD

***copyright protection233PENANA39nnOLiqFR

“Radhika, siapa sebenarnya aku ini?” Angin berhembus kencang, meniup rambut gondrongku dan Radhika. Tatapan serius yang kukeluarkan tak membuat Radhika terganggu sedikitpun. Dia tetap berusaha tenang dalam segala keadaan. Bahkan, walau saat ini kedua orang tuanya sedang ditahan, dia tetap tenang dan tidak bertindak ceroboh.copyright protection233PENANASEgb0O0FcC

Radhika kembali menatap langit hitam berhias bintang-bintang. Rembulan yang terang memancarkan cahayanya, membuat malam menjadi terang. “Benar juga ya. Kau adalah aku dan aku adalah kau.” Radhika kembali tertunduk dan menengok gedung les tersebut. Mendengar jawabannya, membuatku merasa dilema, aku tak ingin mengakui hal itu, namun mau tidak mau itulah kenyataan. Aku menggigit bibirku, tanganku mengepal karena kenyataan ini dan entah mengapa aku tidak berani untuk menatap ke depan. Namun tak lama kemudian, dia menengok ke arahku dan tersenyum.copyright protection233PENANAHsu3YcaDIY

“Tapi, mau bagaimanapun juga, kau adalah Dimo Ramadhan. Terlepas dari siapa diriku ini. Kenyataan bahwa siapa dirimu yang sebenarnya memang tidak bisa diubah, namun bukan berarti kau harus hidup sebagai diriku. Kehidupanmu adalah kehidupanmu, kehidupanku adalah kehidupanku.”copyright protection233PENANAgL8E9Wprn4

Wajahku terdongkak, kata-katanya yang tak terduga membuat dilemaku menghilang. Aku menatapnya lalu tersenyum lega “Benar juga, ya....”copyright protection233PENANAigJzrJorpA

“Ayo, kita harus segera pergi.” Radhika menunjuk gedung les itu dengan menggerakkan kepalanya. Dia mundur beberapa langkah lalu melompat terjun diikuti olehku. Setelah jarak antara kami dengan atap gedung sudah cukup dekat, kami menarik dan membuka parasut. Angin-angin dengan kencang meniup kami. Aku bahkan bisa mendengar suara gesekan udara dengan sangat jelas.copyright protection233PENANA363xa1KkEs

Setelah mendarat dan merapihkan parasut, kamipun melapor dan mulai masuk dengan melalui tangga darurat. Tiba-tiba, terdengar sebuah ledakkan dari dalam gedung. Asapnya yang berwarna putih kecoklatan meluap keluar melalui sebuah kaca yang pecah.copyright protection233PENANAjVesznoZPM

***copyright protection233PENANA482NHtx6VW

Terdengar suara teriakkan yang menggema ke seluruh koridor. Bahkan Sindy, Zaki dan Leila yang terpisah dari Divisi 7 akibat ledakan tadi bisa mendengarnya dengan jelas dari sisi lain gedung yang terpisah akibat ledakan. Hawa panas menyengat yang berasal dari api yang tercipta akibat ledakan tadi seakan-akan membuat tubuh mereka meleleh.copyright protection233PENANAGY3KwdMgyq

“Suara apa itu?!” Zaki yang penasaran langsung berlari menghampiri sumber suara tersebut.copyright protection233PENANAJSmYkVlJUb

“Tunggu dulu!” Sindy mengangkat tangannya dan berniat untuk meraih kerah Zaki, namun dia terlambat. Tiba-tiba terjadi ledakan kembali. Membuatnya terasa tak mungkin untuk bisa dipadamkan dalam waktu dekat. Sindy dan Leilapun mengurungkan niatnya untuk menunggu Kak Indra memadamkan api tersebut dan pergi mengejar Zaki.copyright protection233PENANAvYjxM11j7W

Suara teriakkan itu menuntunnya menuju ke sebuah tangga yang mengarah langsung ke lantai di atasnya. Satu demi satu anak tangga dia naiki. Sampai akhirnya, dia sampai di lantai dimana suara itu berasal. Zaki melihat orang-orang dari anggota divisi terbaring tak sadarkan diri di ruangan itu. Dia langsung menghampiri satu persatu anggota dan berusaha untuk membangunkannya, namun tak berhasil. Tiba-tiba, terdengar lagi suara teriakkan seseorang. Dia juga melihat sebuah cahaya berwarna merah berkedip di ruangan tersebut.copyright protection233PENANAfOVizrwlI4

“Siapa kau?!” Zaki menarik pedangnya dan mengambil perisai miliknya. Di hadapannya, terdapat seseorang yang memakai topeng dan jubah yang tangan kirinya menggenggam wajah dari salah seorang anggota divisi 6 yang nampak berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan orang itu dari wajahnya. Namun tak lama kemudian, tangan kanan dari orang itu menyentuh sebuah pilar disampingnya.copyright protection233PENANALsW8qh3M0Y

“Open the Seal : Craft – Stone Sword.” Tiba-tiba dia menarik sebuah pedang batu dari dalam pilar tersebut dan hendak akan menusuk orang yang digenggamnya.copyright protection233PENANAXvXh3Jj42r

“Tidak!!!” Zaki langsung berlari untuk menghentikannya, namun dia terlambat. Pria bertopeng itu tepat menusuk leher orang yang digenggamnya dan melepaskannya bersamaan dengan pedang batu yang tertancap di lehernya. “Siapa kau sebenarnya?” Menyadari keberadaan Zaki, Pria Bertopeng itu melepas jubahnya dan mengusap percikan darah yang mengotori topengnya. Dia berlutut lalu kedua tangannya menyentuh lantai. Melihat sarung tangan putih yang dikenakkannya, Zaki mendapat satu kesimpulan “Begitu ya... Jobmu adalah Alchemist.”copyright protection233PENANA1igXAPo7a7

“Open the Seal : Craft – Stone Sword and Stone Shield.” Lagi-lagi, dia menarik pedang batu dan perisai batu dari dalam tanah.Wujud dari pedang dan perisai itu nampak persis seperti pedang dan perisai milik Zaki. Bahkan hampir seperti dua benda yang sama. Dia kembali berdiri. Melihat itu, Zaki langsung bersiap dan mengambil kuda-kuda untuk menyerang. Setelah melihat kuda-kuda Zaki, diapun mengambil posisi yang sama persis.copyright protection233PENANAcWA940q8Nq

Zaki berlari menghampirinya. Lalu dia ayunkan pedangnya, namun berhasil dihindari Pria Bertopeng. Namun, Zaki tetap memanfaatkan momen. Dia ayunkan perisainya ke wajah Pria Bertopeng, tapi Pria Bertopeng itu sudah memperkirakannya dan menahannya menggunakkan perisai miliknya. Pria Bertopeng itu mengayunkan pedangnya dan berhasil menggores perut Zaki. Merasa gawat, Zaki langsung menendang orang itu dan melompat menjauh darinya. Dia kembali berlari menghampiri Pria Bertopeng lalu kembali menyerangnya dengan pedang. Namun setiap serangannya berhasil dibaca dan ditepis dengan mudah oleh Pria Bertopeng “(Apa-apaan orang ini?)” Di sela-sela penyerangan, tiba-tiba dia menunduk dan menendang kaki orang itu. Namun, tiba-tiba Pria Bertopeng melempar perisainya ke bawah untuk melindungi kakinya. Tapi, itu sama seperti yang sudah Zaki harapkan.copyright protection233PENANA6LW32ZMm4P

Zaki melempar pedangnya ke arah orang itu dan berhasil menggores pundaknya. Tak berhenti di situ, Zaki memanfaatkan perisai milik musuh dengan mengambilnya dan menggunakkannya. Dia kembali berdiri dan memukul perut Pria Bertopeng menggunakkan perisainya lalu dia pukul wajah orang itu dengan perisai batu. Akibatnya, orang itu terpental beberapa meter dan menabrak tembok. Tiba-tiba, pedang batu itu terlempar keluar dari asap dan menusuh paha kiri Zaki. Akibatnya, dia berlutut karena tak sanggup berdiri. Dia taruh kedua perisainya dan menarik pedang itu keluar dari pahanya. Setelah pedang itu dicabut, perlahan pedang dan perisai batu mulai terurai menjadi debu. Melihat itu, Zaki semakin waspada. Dia hendak akan mengambil perisainya, namun tiba-tiba “Open the Seal : Craft – Stone Wall.” Tercipta sebuah tembok batu diantara dirinya dan perisai miliknya. Tembok batu yang tinggi itu mengelilingi perisai miliknya sehingga membuatnya tak bisa mengambilnya lagi. Ditambah lagi, saat ini pedangnya tergeletak jauh darinya. Inventorinya juga kosong dan tak ada senjata pengganti.copyright protection233PENANAN5733ITsP3

“(Gawat, apa yang harus kulakukan?)” Zaki kembali berdiri, dia langsung berlari menghampiri pedangnya dan berhasil mengambilnya. Asap sudah menghilang. Pria Bertopeng itu berjalan dengan santainya seakan tak terjadi apa-apa. Sembari membersihkan rompi dan kemejanya dari debu, dia berjalan menghampiri Zaki. Zaki yang masih dalam kedaan siaga, langsung mengayunkan pedangnya tanpa pikir panjang. Namun, dengan keadaan masih membersihkan rompinya, dia menangkap pedang Zaki. Zaki mencoba untuk menarik pedangnya, namun genggaman orang itu begitu kuat sampai-sampai dia tak sanggup untuk menarik pedangnya.copyright protection233PENANAz1Z9a4aBcX

Pria Bertopeng itu memukul perut Zaki lalu menendangnya sekuat tenaga hingga membuat genggamannya terlepas dari pedangnya dan terlempar hingga menabrak salah satu pilar. Pria Bertopeng menaruh pedang milik Zaki lalu kembali berlutut serta menyentuh lantai. “Open the Seal : Craft – Stone Leash.” Dari Pilar dibelakang Zaki, muncul sebuah batu yang mengikat seluruh tubuh Zaki. Sekuat apapun, Zaki tak sanggup untuk menggerakkan tubuh, kedua tangan, dan kakinya. Satu-satunya yang bisa dia gerakan hanyalah kepalanya. “Sudah berakhir.” Dia mengambil pedang milik Zaki dan berjalan menghampirinya.copyright protection233PENANA1iIXmLX971

Dia angkat pedang itu tinggi-tinggi dan hendak akan menusuk Zaki. Daripada melihat pedang itu, Zaki lebih memilih untuk menutup kedua matanya. Tiba-tiba “Hentikan!” Sindy menembak tangan milik Pria Bertopeng itu dan mengakibatkan pedang milik Zaki terlepas dari genggamannya dan terjatuh ke lantai.copyright protection233PENANAYV76ZaOSCD

“Open the Seal : Triple Wind Arrow.” Anak panah itu ditembakkan kearah Pria Bertopeng. Melihat serangan itu, dia melompat mundur untuk menghindar. Bersamaan dengan mundurnya Pria Bertopeng itu, Leila dan Sindy langsung berlari menghampiri Zaki. Sementara Sindy mencari cara untuk menghancurkan batu yang mengikat Zaki, Leila mengarahkan busur dan anak panahnya ke Pria Bertopeng “Apa kau baik-baik saja, Maulana?”copyright protection233PENANAWcFWmQ0wrc

“Ya, berkat kalian.” Zaki tertawa lega.copyright protection233PENANAusvdqSZn17

“Siapa kau sebenarnya?” Sindy berbalik dan mengangkat tangan kanan yang menggenggam pistol.copyright protection233PENANApZ2w52HUVk

Pria Bertopeng itu tertawa setelah melihat Sindy “Ironi sekali. Lama tak berjumpa, Sindy. Sekarang kau sudah besar ya.” Dia menghampiri salah satu pilar dan bersandar.copyright protection233PENANAySwdOS3Ppu

“Jawab saja! Siapa kau sebenarnya?” Bentak Sindy sembari mengangkat tangan kirinya.copyright protection233PENANA2UXx7op6Mr

“Oi, oi, kau ini kejam sekali karena tidak mengingatku. Ya sudahlah, lupakan saja. Perkenalkan, namaku adalah The Mask aku adalah salah satu dari kelima Anggota Besar. Karena kalian adalah teman Sindy, kalian boleh memanggilku Seno.” Seno membelakangi Sindy dan yang lainnya lalu melepas topengnya untuk memamerkannya. Lalu, dia kenakan kembali topeng itu dan kembali menghadap Sindy.copyright protection233PENANAebqgIwjprf

“(Seno?!) Jawab, bagaimana caranya untuk menghilangkan batu ini?!”copyright protection233PENANAJZ7fcV8gLy

“Jika itu adalah maumu, Dek Sindy” Dia menepuk pilar di sebelahnya, lalu tak lama kemudian batu yang mengikat Zaki serta tembok batu yang mengelilingi perisai milik Zaki mulai mengurai menjadi debu. Setelah terurai sepenuhnya, Zaki langsung kembali berdiri dan mengambil perisai serta pedangnya. Semuanya terheran-heran, mengapa Seno dengan mudahnya melakukan hal yang diinginkan oleh Sindy. Namun, semuanya juga tak mau memikirkan hal itu, saat ini yang terpenting adalah mengalahkan orang itu. Disaat Sindy, Zaki dan Leila hendak akan maju bersama, tiba-tiba ada batu yang keluar dari lantai yang mengikat Zaki dan Leila. Melihat itu, Sindy langsung terhenti dan berbalik “Tunggu dulu, tahan dulu. Aku hanya tertarik untuk bertarung melawan Dek Sindy.”copyright protection233PENANALNsJlA7KHT

“Jangan bercanda! Kau kira kami akan bersedia begitu saja?” Sindy berbalik dan mulai menembaki Seno. Namun walau begitu, Seno langsung menghindar dengan bersembunyi di balik pilar.copyright protection233PENANAbV5CcN9wcA

“Siapa bilang aku butuh persetujuanmu?” Tiba-tiba, batu yang mengikat tubuh Leila dan Zaki semakin kencang dan semakin kencang. Membuat Zaki dan Leila semakin tak kuasa bernapas.copyright protection233PENANALWAScMOl3A

Sindy terdiam. Kekesalannya semakin memuncak setelah melihat kondisi Leila dan Zaki. “Baiklah! Akan kuturuti permintaanmu!” Bentak Sindy. “Tapi sebelum itu, lepaskan dulu teman-temanku.”copyright protection233PENANATOnmxIXFtE

“Baiklah, cukup adil.” Dia menepuk pilar dan batu yang mengikat Leila dan Zakipun mulai mengurai. Dia berjalan menjauhi pilar dengan kedua tangan terangkat ke atas. Setelah terlepas, Zaki dan Leilapun terjatuh lemas. Mereka terbatuk-batuk karena sebelumnya tak bisa bernapas.copyright protection233PENANAzFAEiNrrjE

“Zaki, Leila, pergilah duluan. Aku yang akan menanganinya.” Sindy berjalan manju sembari mengisi ulang amunisi pistolnya.copyright protection233PENANA25ADYMpM8t

“Sindy....” Zaki mencoba untuk berdiri dengan bertumpu dengan pedangnya lalu membantu Leila untuk berdiri.copyright protection233PENANAm1hKoPsluW

“Tenang saja, aku pasti akan menyusul kalian.” Sindy sedikit menengok dan tersenyum tulus. Melihat senyuman tulusnya, membuat Zaki tak bisa berkata-kata. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah mempercayakan semuanya kepada Sindy.copyright protection233PENANA03BAHTo9lH

“Tapi—”copyright protection233PENANANoMn1Karxj

“Baiklah, kami mengerti. Kami akan segera pergi dari sini.” Potong Zaki sembari menggantung perisainya dan menyarungkan pedangnya sementara Leila menyimpan panahnya di Arrow Rest “Oh ya, Sindy. Pastikan kau menghajar orang itu dan segeralah susul kami.” Zaki dan Leilapun berlari menuju ke sebuah lorong yang terhubung dengan ruangan lain.copyright protection233PENANAUUkcFI184w

“Tentu saja.” Sindy melambaikan tangannya saat Zaki dan Leila pergi. Tak lama kemudian tatapannya berubah. Dengan kedua tangannya yang menggenggam pistol, dia tatap Seno dengan fokusnya yang tinggi.copyright protection233PENANA44AFFiz3rV

“Baiklah, ayo kita mulai permainan ini.”copyright protection233PENANAKejxCliNMQ

***copyright protection233PENANA6HLrTqaVye

Sebuah pedang cahaya melesat dengan cepat dan menggores pundak Mbak Anna. “(Gawat....) Semuanya, berlindung!” Mbak Anna melompat memasuki sebuah ruangan kelas untuk menghindari pedang-pedang cahaya sementara anggota-anggota divisi 4 dan 5 berlindung dengan bersembunyi di balik ruang kelas. “(Pedang itu, tidak salah lagi....)” Mbak Anna menarik pedang dari sarung lalu sedikit menengok ke luar ruangan—memastikan bahwa anggotanya baik-baik saja lalu menengok kearah dimana pedang cahaya itu berasal.copyright protection233PENANArCi2iXkS0L

Di lorong antar kelas, seorang pria berjalan dengan santainya. Lingkaran berwarna biru yang ada dibelakangnya terus menciptakan pedang-pedang cahaya bagaimanapun keadaannya. Suara langkah kakinya yang menggema keseluruh lorong membuat atmosfir semakin mencekam.copyright protection233PENANANL07jCsCqf

“Mau sampai kapan kalian bersembunyi?” Dent mengambil sebuah pedang cahaya, lalu perlahan pedang cahaya itu berubah menjadi pedang yang nampak elegan dan juga baru. Mbak Anna melempar sebuah meja keluar lalu berlindung di belakangnya.copyright protection233PENANAswWdXQE7Lc

“Open the Seal : Light Sword.” Dari tangan kirinya tercipta sebuah pedang cahaya. Lalu, dia lempar pedang tersebut ke arah Dent. Melihat itu, Dent melempar salah satu pedang cahayanya untuk menahan pedang cahaya milik Mbak Anna. Tak cukup sampai disitu, kali ini Mbak Anna melempar tiga pedang sekaligus. Namun, lagi-lagi pedang itu berhasil ditepis olehnya.copyright protection233PENANAmdPEf8BA0C

“Hmm... kemampuan yang sama dengna milikku. Menarik.” Dent menunduk dan melihat pedang-pedang cahaya milik Mbak Anna. Tanpa dia sadari, Mbak Anna sudah tepat dihadapannya.copyright protection233PENANAlOolVHYojo

“Open the Seal : Light Boost” Dengan cepat dia menarik pedangnya dari dalam sarungnya lalu mengangkat pedangnya. “Open the Seal : Light Sword” Disaat pedang yang digenggamnya mulai bercahaya, Mbak Anna langsung mengayunkan pedangnya dan hendak akan menebas Dent. Namun, Dent dengan mudahnya menahan serangan itu menggunakkan pedang yang digengamnya. Mbak Anna berdecap kesal “Open the Seal : Light Hand.” Dia mendekatkan tangan kirinya yang bercahaya kewajah Dent lalu melompat mundur. Sementara Dent yang sibuk mengusap matanya akibat serangan tadi “Aku tak punya waktu untuk meladenimu.” Mbak Anna membuka inventori lalu mengambil sebuah pedang untuk digunakan di tangan kirinya.copyright protection233PENANADMVz0TpE1b

“Begitu. Kalau begitu, aku akan mengakhirinya dengan cepat.” Tiba-tiba Dent sudah berada di belakang Mbak Anna. Saat Mbak Anna menyadarinya, sudah terlambat. 3 Pedang cahaya milik Dent langsung menusuk tubuh Mbak Anna.copyright protection233PENANARnpH1EPDeQ

Dengan perlahan, Mbak Anna menengok ke bawah—melihat ketiga mata pedang yang sudah tertusuk di tubuhnya. Tubuhnya terasa lemas, pandangannya mulai kabur, pikirannya mulai kosong, tak lama kemudian Mbak Anna terjatuh lemas. Melihat kondisi Mbak Anna, dua orang berjubah yang merupakkan anggota divisi 4 langsung berlari menghampiri Mbak Anna.copyright protection233PENANAgAFEWAmUZF

“Kak Anna, bertahanlah!” Salah seorang menghampiri Mbak Anna dan memberinya penanganan medis. Dan yang satunya berdiri melindung Mbak Anna.copyright protection233PENANAjCsecs7C68

“Kau... berani-beraninya kau melakukan ini kepada Kak Anna” Dia mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya ke depan. Di depan telapak tangannya mulai keluar bola api yang perlahan semakin membesar. Bola api itu terus membesar dan terus membesar sampai ukurannya hampir memenuhi lorong.copyright protection233PENANANXwcEyRub6

“Hentikan, kau bisa melukai semua yang ada di lantai ini, Eni, Ani!” Mbak Anna keluar dari dalam ruang kelas sembari menekan perutnya seakan-akan terdapat luka di perutnya. Tak lama setelah Mbak Anna keluar dari ruang kelas, tubuh Mbak Anna yang sudah tertusuk pedang mulai bercahaya dan menghilang.copyright protection233PENANAlsG06CBtxA

“Kak... Anna.” Eni yang sebelumnya sedang merawat luka dari tubuh Mbak Anna yang menghilang perlahan berdiri dan memeluk Mbak Anna. Melihat kondisi Mbak Anna yang baik-baik saja, Ani langsung membatalkan bola apinya dan menghampiri Mbak Anna.copyright protection233PENANA8QcA4p3c19

“Tapi... bagaimana bisa? Padahal Barusan...”copyright protection233PENANAlO7R1MpShB

Kak Anna tersenyum lalu mengelus kepala keduanya “Open the Seal : Light Clone. Ini adalah skill yang jarang kugunakkan karena membutuhkan banyak mana dan juga bisa berdampak buruk bagi penggunanya jika luka yang dialami kloning terlalu parah.” Mbak Anna berjalan maju melewati Ani dan Eni lalu menarik pedang dari sarungnya. “Namun, keuntungan dari skill ini adalah....” Perlahan-lahan muncul sebuah lingkaran berwarna keemasan di belakang punggung Mbak Anna. Cahaya keemasan itu menyinari lorong yang gelap. Bagaikan emas, cahaya itu begitu terang dan berkilauan “....membuat penggunanya dapat menyalin kemampuan musuh.”copyright protection233PENANAZC3FCaidDQ

Mbak Anna menengok ke arah Ani dan Eni “Kalian bawalah semuanya pergi menjauh dari pertarungan ini. Karena ada kemungkinan tempat ini akan hancur.” Ani dan Enipun mengangguk lalu pergi memberi tahu semuanya.copyright protection233PENANAOMG1nLqrYr

Dent menghela napas lalu memejamkan kedua matanya “Kau pikir kemampuan pinjamanmu itu dapat menandingi kemampuanku?” Tiba-tiba, sebuah pedang bercahaya emas langsung meluncur dan berhasil menggores pundaknya Dent.copyright protection233PENANAAjfIbhvB9M

Setelah melihat anggota divisinya dan divisi 5 telah pergi, Mbak Anna tersenyum “Entahlah, bagaimana jika kita coba saja?”copyright protection233PENANAc8ogO1r7f5

“Jangan sombong dulu!” Dent mengangkat tangannya hingga setinggi pundak dan tubuhnya mulai melayang. Perlahan-lahan, seluruh tubuhnya mulai mengeluarkan aura berwarna biru dan angin disekitarnya mulai berhembus kencang.copyright protection233PENANAX3SE4fquGp

Mbak Anna mengangkat tangan kanannya yang menggenggam pedang lalu menunjuk Dent “Kaulah yang tidak boleh meremehkan lawanmu!” Lalu dia menghentakkan kakinya. Sama seperti Dent, tubuhnya mulai mengeluarkan aura keemasan dan mulai melayang. Angin disekitarnya bertabrakkan dengan angin yang ada di sekitar Dent. Kaca-kaca ruangan mulai pecah karena tekanan udara dan kursi-kursi serta meja yang berada di ruang kelas mulai bergerak tertiup angin.copyright protection233PENANAVhJb0UsvvC

Pedang-pedang cahaya yang mulai tercipta dari lingkaran semakin banyak. Putih dan Emas, kedua warna itulah yang menerangi seluruh ruangan. Pedang mereka terus bertabrakan satu sama lain. Tercipta, hancur, tercipta, siklus itu terus terulang dan terus terulang tanpa ada jeda waktu sedikitpun. Banyak pedang berceceran. Ada yang tertancap di lantai, ada juga yang tertancap di langit-langit. Namun tak lama setelah pedang tersebut tertancap, pedang tersebut akan terurai dan lenyap.copyright protection233PENANAiILHYzIqHY

“Open the Seal : Light Boost.” Mbak Anna mempercepat proses penciptaan pedang sehingga membuat jumlah pedang yang bisa dia ciptakan dalan 3 detik berjumlah dua pedang yang dimana pada umumnya hanya bisa menciptakan 1 pedang. Namun, meski begitu, tetap saja dia tak bisa sepenuhnya menandingi Dent. Sesekali ada satu atau dua pedang yang luput dan berhasil menggores tubuhnya, namun dia sama sekali tidak bisa menggores Dent sedikitpun.copyright protection233PENANAvF1nk6DLAk

“Percuma saja! Kekuatan palsumu takkan bisa mengalahkan kekuatan sejati milikku.”copyright protection233PENANAawCTICOa8k

“Aku tidak peduli meskipun ini hanyalah kekuatan palsu! Selagi kekuatan ini sanggup melindungi teman dan orang yang kucintai, aku akan menerima kekuatan itu!” Teriak Mbak Anna.copyright protection233PENANAMq3x727QsO

“Sungguh perasaan yang tidak berguna. Perasaan dan emosi itulah yang membuat kalian menjadi lemah.”copyright protection233PENANAOXuQkOWXzx

“Karena kami lemah itulah, kami bisa menjadi lebih kuat! Karena itulah yang menjadikan kami manusia!”copyright protection233PENANAiK3UDLwsWE

Perlahan-lahan, jumlah pedang yang tercipta semakin banyak dan semakin cepat. Akibatnya, sedikit demi sedikit pedang-pedang mulai menggores dan mengenai Dent.copyright protection233PENANANI5QgdSo4k

“Apa-apaan ini?!”copyright protection233PENANAdThHJCwFA5

Pedang-pedang itu terus menerus menyerangnya tanpa memberinya celah untuk menyerang balik. “Aku akui kau, Anna! Kau satu-satunya orang yang bisa menyudutkanku hingga seperti ini! Teruslah menari dan hibur aku dengan kekuatanmu!”copyright protection233PENANAcSQgMt1jWY

Sampai akhirnya Mbak Anna memberikan serangan ultimatum kepadanya dengan menyerangnya dengan 20 pedang secara bersamaan.copyright protection233PENANAYJG3zXhsml

Asap berwarna coklat menghiasi lorong. Lingkaran keemasan yang ada di belakang Mbak Anna perlahan mulai menghilang. Pedang-pedang berwarna keemasan yang berserakan mulai terurai dan lenyap. Diapun terjatuh. Tubuhnya lelah karena telah menggunakkan skill sebesar itu. Mananya habis. Dan dia ter log out dari dalam sistem. Sementara dia mengatur napasnya yang tidak beraturan, dia mencoba untuk berdiri. Namun, tubuhnya terlalu lelah untuk digerakkan. Bahkan kakinya mati rasa.copyright protection233PENANAMze4hXGNDh

“Sudah berakhir.... aku berhasil mengalahkannya.” Mbak Anna mendekati tembok lalu mencoba untuk berdiri dengan berpegangan pada tembok. Setelah berhasil berdiri, diapun mulai melangkah berjalan untuk menemui divisi 4 dan divisi 5.copyright protection233PENANATQ9J6Wd8fa

“Mengecewakan sekali. Ternyata hanya bisa sampai sini kemampuanmu.”copyright protection233PENANA6eUNhuLyW8

Langkah kaki Mbak Anna langsung terhenti. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Kalau bisa, dia bahkan ingin sekali berpikir bahwa apa yang sudah didengarnya hanya halusinasi semata.copyright protection233PENANAUIH8NZ6uNJ

Perlahan dia menengok kebelakang. Asap berwarna coklat yang semakin memudar dan menghilang, serta orang yang perlahan keluar dari asap tersebut. Dent berjalan sembari menyobek jas miliknya yang sudah berlubang-lubang lalu membuangnya.copyright protection233PENANALHAVrHRFQ7

“Tidak mung—”copyright protection233PENANAPXmJLDdxc9

Dia mencekik Mbak Anna lalu mengangkatnya ke udara. Mbak Anna yang sudah tak punya kekuatan sama sekali tak bisa melakukan pemberontakan sama sekali. Kedua tangan dan kakinya lemas dan penglihatannya sudah mulai pudar.copyright protection233PENANAF7SnfGmmaa

“Karena sudah begini, matilah.”copyright protection233PENANA5VRGQjnIYd

“Open the Seal : Water Sword” Tiba-tiba, ada sebuah cambuk air yang terikat di lehernya Dent. Melihat itu, Dent menghela napas. “Lepaskan dia!” Kak Indra dan anggota divisi 6 dan divisi 7 tiba.copyright protection233PENANAQNbcxWQLt3

“Baiklah.” Dent melepaskan cengkramannya. Mbak Anna yang sudah dalam keadaan pingsanpun terjatuh sementara Dent yang berbalik sembari mengangkat kedua tangannya lalu menjauhi Mbak Anna. Tak lama kemudian, Mbak Annapun dinaikkan ke atas tandu dan diamankan untuk mendapatkan perawatan medis.copyright protection233PENANAV8aNwqtSME

“Kalian, benar-benar menyusahkan.” Dent menggenggam cambuk air milik kak Indra lalu mengubahnya menjadi cahaya dan terurai.copyright protection233PENANA3SzVyqeW9c

“Baiklah kalau begitu.... ayo hibur aku!” Lingkaran berwarna biru itu kembali muncul di belakangnya bersamaan dengan pedang-pedang cahaya dan Dent mulai kembali melayang. Namun tiba-tiba, sebuah Ogre Sword terlempar di belakangnya dan mengenai lingkaran berwarna biru miliknya.copyright protection233PENANAa00ldxi3jL

Aku, Ani dan Enipun tiba. Aku berjalan menghampirinya sembari menarik pedangku lalu menunjuknya menggunakkan pedangku “Ini bukanlah sebuah hiburan.... Tapi penyelamatan.”copyright protection233PENANA7eUi2qIvjv

***copyright protection233PENANA9mnJhWavSj

Beberapa menit sebelumnya.copyright protection233PENANAI3jIowgGAz

Sebuah bom asap tiba-tiba menggelinding dari sebuah persimpangan. Tak lama kemudian, mulai bermunculan orang-orang yang memakai jubah berwarna hitam dan memegang tongkat. Melihat itu, aku dan Radhika langsung bersembunyi di balik pilar. “Apa kita sudah ketahuan?” Aku sedikit menengok memeriksa jumlah orang yang muncul dari balik asap.copyright protection233PENANAsIOm0QNJm6

“Nampaknya begitu” Radhika melakukan login lalu maju menerjang sementara orang-orang berjubah itu sedang melafalkan mantra untuk menciptakan energi cahaya yang dapat mengeluarkan laser. “Open the Seal : Dark Moonlight Shard – Dark Sword” Pedangnya mulai menghitam, lalu dia hindari setiap laser yang diarahkan kepadanya. Dengan cepat, dia berlari dan mengalahkan setiap musuh yang ada. Tiba-tiba, terjadi sebuah getaran dan suara ledakan serta suara dari pedang yang bergesekan yang berasal dari lantai di bawah kami. Kejadian itu terjadi cukup lama sampai akhirnya terjadi sebuah ledakan besar dari bawah.copyright protection233PENANAewtCfKypgr

“Apa... itu tadi?” Aku menengok kesana kemari. Walau aku tahu bahwa sumber ledakan dan getaran tadi tepat di bawah kami, aku tetap tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di lantai bawah.copyright protection233PENANAJZu3HSAYzb

“Entahlah, yang lebih penting, kita harus segera ke lantai bawah. Di lantai itulah dimana para tahanan berada.” Radhika melakukan logout lalu langsung berlari menuju ke tangga bawah dan diikuti olehku. Setelah melalui tangga dan hendak akan berbelok untuk memasuki lorong, kami bertemu dengan Ani dan Eni.copyright protection233PENANAy1TmoTcbCz

“Kalian... bocah bertudung yang mengejarku waktu itu.” Tiba-tiba, Eni dan Ani menarik tangan kananku dengan ekspresi yang penuh dengan kekhawatiran. Tak ada sedikitpun kebohongan yang nampak di matanya.copyright protection233PENANAiQ5Ltkw1KN

“Kumohon, ikut kami.” Eni langsung berusaha menarikku tanpa basa-basi sedikitpun lalu diikuti oleh Ani.copyright protection233PENANAstMWxuP7tp

“Tunggu dulu, sebenarnya ada apa? Apa ada hubungannya dengan getaran yang terjadi tadi?” Radhika memegang pundak Eni lalu berjalan ke hadapannya—menghalangi mereka sehingga mereka tidak bisa lewat.copyright protection233PENANAi1rboQ5B2H

“Sebenarnya... getaran tadi disebabkan oleh pertarungan Kak Anna.” Ani berbalik dan mulai menjelaskan situasi.copyright protection233PENANAakyf61AC3k

“Jadi, lawannya adalah Dent?!”copyright protection233PENANAqvOcslHita

“Ya, saat ini Kak Anna sedang melawannya sendirian.” Ani mengangguk lemas dengan wajah yang tertunduk. Bahkan meski saat ini dia tidak melepas tudungnya, dia tetap tak bisa menyembunyikan perasaannya.copyright protection233PENANAILcaXA02c2

“Sejak dulu, Kak Anna sangat baik kepada kami berdua. Namun, kami selalu tidak punya kesempatan untuk membalas kebaikannya. Lalu, saat Kak Anna mengira bahwa Kak Andri sudah tiada.... dia nampak begitu sedih.” Suaranya yang terdengar lirih membuatku tak bisa berdiam diri saja. Tapi sayangnya, misi adalah misi.copyright protection233PENANAKmnjCtlc6o

“Aku mengerti.” Wajah mereka terangkat. Aku bahkan bisa melihat air mata mereka. Aku berjalan melewati mereka lalu terhenti sejenak “Tapi maaf, misi tetaplah misi. Kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja.”copyright protection233PENANAxwUmJnIrGb

Radhika yang tidak terima akan kata-kataku langsung berjalan menghampiriku “Tunggu dulu Dimo—”copyright protection233PENANABpXNzVozYB

“Karena itulah....” Potongkucopyright protection233PENANABIYY2AsnNy

“...cukup aku saja, yang pergi ke sana.”copyright protection233PENANAMl5HHP5pgL

***copyright protection233PENANABSayFJu4js

“Nampaknya kita kedatangan serangga lainnya.” Dent mencabut Ogre Sword milikku lalu membuangnya sembari berbalik menghadapku.copyright protection233PENANAFUbDTdemB1

“Sayang sekali, aku bukanlah serangga biasa. Aku adalah kecoa terbang.” Aku menyeringai lalu mengambil kuda-kuda untuk bertarung. “Ngomong-ngomong, dimana Mbak Anna?” Aku, Ani dan Eni melirik kesana-kemari, mencari Mbak Anna di kumpulan anggota-anggota divisi.copyright protection233PENANAVnm053Qat6

“Luka yang diterimanya cukup parah. Jadi saat ini dia sedang mendapat perawatan medis.” Mendengar itu, Ani dan Eni bisa bernapas lega dan langsung pergi menuju ke tempat dimana Mbak Anna berada “Yang lebih penting, dimana Radhika?”copyright protection233PENANAV4Y6DEQ8J9

“Dia sudah duluan.”copyright protection233PENANAAo4L2YZgkA

“Begitu ya, kalau begitu baguslah. Saat ini, kita hanya harus menahan orang ini bukan?” Kak Indra tersenyum lalu mengubah pedangnya menjadi pedang air sementara anggota-anggota divisi 6 dan divisi 7 bersiap untuk bertarung.copyright protection233PENANAifYEg3I6dc

“Begitulah. Open the Seal : Moonlight Shard – Moonlight Sword.” Kugenggam pedangku dengan kedua tanganku.copyright protection233PENANAd9hcfVQ53A

Sementara itu, Radhika terus berlari secepat yang dia bisa untuk menuju ke ruangan dimana para tawanan berada. Walau sebanyak apapun musuh yang menghadangnya, tidak akan cukup untuk menghalaunya. Dia terus menerjang musuh bagaimanapun keadaannya. Inilah penebusan dosanya.copyright protection233PENANAfEZjp1hoiB

“Akhirnya....” Sembari mengatur napasnya yang tidak beraturan dan berat, Radhika mengusap keringatnya lalu bersandar di tembok. Saat ini, dihadapannya tepat berada sebuah pintu dari ruang tahanan. Tempat yang ditujunya selama ini. Untuk membuka pintu itu, dibutuhkan sebuah kata sandi. Setiap petinggi sepertinya, memiliki sandi masing-masing dan walau dia sudah keluar, Radhika masih bisa menggunakkan kata sandi milik Ratu Putih. Disaat dia hendak akan memasukkan kata sandi dan membuka pintu itu, tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki dua orang. Suara itu membuatnya mengurungkan niatnya dan melakukan login untuk berjaga-jaga. Perlahan-lahan, suara langkah kaki itu semakin dekat dan semakin dekat. Jantungnya berdegup kencang, keringatnya yang mengalir dari rambutnya ke lehernya, serta rasa lelah yang dia rasakan membuat keadaan menjadi mencekam.copyright protection233PENANAYAQXf70Ydd

Saat sudah cukup dekat, Radhika mendekati pinggir tembok lalu menarik pedangnya. Tak lama kemudian dia langsung melompat keluar dari persemunyiannya dan berniat untuk menyerang kedua orang itu. Itulah yang awalnya ingin dia lakukan. “Kalian, kenapa bisa ada di sini?” Radhika menyarungkan kembali pedangnya lalu melakukan logout.copyright protection233PENANAarnsDCnuIr

Zaki menggaruk pipinya lalu tersenyum kecut sementara Leila membuang pandangannya karena tersipu malu “Yah... Aku dan Leila terpisah dengan divisi 7 karena ledakan sebelumnya.”copyright protection233PENANA4X53gv5yTn

“Ma-maaf, sebelumnya kami berniat untuk kembali ke divisi 7, tapi kami malah tersesat.” Dengan wajahnya yang memerah karena malu, Leila mencoba untuk tidak membuang pandangannya dan malah tidak berani menatap wajah Radhika.copyright protection233PENANA9SY0Qd7Qcl

Melihat tingkah laku mereka berdua, membuat Radhika tak bisa menahan tawanya. Rasanya, semua beban yang sebelumnya dirasakan olehnya langsung menghilang tertiup angin bersamaan dengan lepasnya tawa. Melihat tawa Radhika yang begitu lepas membuat Zaki dan Leila menatap satu sama lain dan lagsung ikut tertawa.copyright protection233PENANA4nNrPq4dVN

“Terima kasih ya, karena kalian.... rasanya aku merasa baikan.” Radhika mengusap air matanya yang keluar karena tawanya lalu tersenyum.copyright protection233PENANAF0LK32g9Aa

“Tak masalah. Jadi, apa kau sudah menemukan tempatnya?” Zaki menghampirinya lalu menepuk punggung Radhika.copyright protection233PENANAxK2vKSJSJV

“Ya, aku sudah menemukannya.” Radhika menengok ke arah ruangan dimana tawanan berada, lalu merekapun berjalan menghampiri pintu itu. Setelah menghampiri pintu itu, Zaki memegang dagunya sembari melihat kesetiap sudut dari pintu tersebut.copyright protection233PENANAeNi1f8rkmn

“Nampaknya pintu ini harus menggunakkan kata sandi ya.” Leila mencoba mengutak-atik alat keamanan dari pintu tersebut dengan kata sandi tebakannya namun selalu gagal.copyright protection233PENANA71nSMrV2Av

“Tenang saja, walau aku sudah dikeluarkan, aku bisa menggunakkan kata sandi milik seseorang yang kukenal.” Leilapun mundur dan mempersilahkan Radhika untuk memasukan kata sandi. Setelah kata sandi dimasukkan, pintupun sudah tidak terkunci. Radhika langsung memegang gagang pintu dan membuka pintu perlahan, karena ada kemungkinan bahwa ada pasukan musuh yang menanti dari balik pintu. Namun, nampaknya tak ada seorangpun yang menunggu dan ruangan aman. Setelah mereka masuk, Radhika sengaja untuk tidak menutup pintu rapat-rapat agar memudahkan proses penyelamatan.copyright protection233PENANAc7ffD08mSR

Zaki menghampiri salah satu sel lalu menggenggam jeruji besi “Hei, kalian baik-baik saja?” Zaki mencoba untuk membangunkan para anggota ERASER yang menjadi tahanan. Semua anggota ERASER, dikurung di satu sel. Sel itu tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit. Tak lama kemudian, Radhika memasukan kata sandi yang sama untuk membuka sel. Melihat itu, semua orang yang ada di dalam sel langsung berjalan mendekati pintu termasuk orang tua Radhika. Melihat kedua orang tuanya baik-baik saja, Radhika tak bisa menahan air matanya. Setelah pintunya terbuka, Radhika langsung berlari memeluk kedua orang tuanya.copyright protection233PENANAh6FA8VJAf5

“Ayah, ibu!”copyright protection233PENANAXn7kgUMbWn

Sementara itu, tahanan yang lain mulai keluar dari dalam sel. Namun, salah satu tahanan yang mengenali Radhika menghampirinya dan langsung memukul wajahnya hingga membuatnya terjatuh. “Kau pantas mendapatkannya!” Karena tidak terima melihat putranya diperlakukan seperti itu, ayahnya Radhika langsung berniat untuk membalas. Namun, Radhika meminta kepada ayahnya untuk tidak membalasnya dan berdiam diri saja.copyright protection233PENANAH9uWp7XxuQ

“Ayah, ibu, tak apa. Aku memang pantas menerima pukulan itu.” Sembari menekan luka di pipinya, Radhika memegang pundak ayahnya sembari mencoba berdiri. “Karena akulah mereka ada di sini. Jadi kurasa, aku memang pantas mendapatkannya.”copyright protection233PENANApMW5n406Eg

“Tapi, kau terpaksa melakukan semua itu karena orang tuamu ditahan.” Zaki menghampiri Radhika lalu memegang pundaknya.copyright protection233PENANAcCDjXTdJ5a

“Tetap saja! Kau pikir kami akan memaafkanmu?!”copyright protection233PENANA6MjBJIJGgd

“Aku tidak meminta kalian untuk memaafkanku.” Radhika berlutut lalu bersujud—meminta maaf kepada seluruh tawanan yang ada “Tapi, untuk kali ini saja, mohon percayalah padaku.” Melihat kebulatan tekad Radhika, seluruh tawanan terdiam. Seketika semuanya kehilangan niatan untuk membalas apa yang sudah Radhika lakukan kepada mereka. Semuanya tertunduk tanpa bisa berkata-kata. Bahkan kedua orang tuanya tak bisa menyalahkan atau membenarkan apa yang sudah dilakukan oleh anaknya.copyright protection233PENANAwGZtLmyMtd

“Aku mempercayaimu.” Dari sekian banyak tawanan, salah seorangnya maju menghampiri Radhika “Aku juga punya seseorang yang kusayangi, jika aku ada dalam posisimu, aku pasti akan melakukan hal yang sama.” Dia mengulurkan tangannya kepada Radhika untuk membantunya berdiri. Radhikapun menerima ulurannya dan berdiri “Aku Andri wakil ketua dari divisi 4, akan percaya kepadamu.” Setelah melihat Andri, seluruh tawanan yang ada mulai mengikutinya dan percaya kepada Radhika.copyright protection233PENANA2FPGZMAdwF

Tiba-tiba “Dim—Radhika, ada sesuatu yang harus kau lihat.” Leila membawa Radhika ke sebuah ruangan yang ada di ruang tahanan. Di ruangan itu, terdapat sebuah layar monitor yang besar dengan angka-angka yang terhitung mundur. Angka yang tertulis di monitor itu adalah 7 menit 45 detik dan akan terus berkurang sampai akhirnya manjadi 0.copyright protection233PENANAnCsHdcqXTH

“Ini... bom?!” Radhika mencoba untuk menjinakkan bom itu dengan mengutak-atiknya, namun gagal. “Percuma, kita harus segera memberitahu semuanya mengenai bom ini.” Merasa percuma saja, Radhika dan Leila langsung berlari untuk memberitahu tawanan dan semua orang yang ada di gedung ini.copyright protection233PENANAapnaT9xsV1

***copyright protection233PENANAFXGvEGieTO

Sisa waktu : 2 menit 40 detik.copyright protection233PENANAUhrmZFyqCr

“Sial, padahal dia sudah terluka seperti itu, tapi kenapa dia kuat sekali.” Aku mencoba berdiri dengan bertumpu pada pedangku. Meski aku dan Kak Indra sudah mengerahkan segala yang kami bisa, kami tetap tak sanggup memberi luka yang fatal kepada Dent. Bahkan nampaknya anggota-anggota divisi 6 dan 7 sudah kelelahan.copyright protection233PENANA7NRvYLEwdz

“Sudah waktunya ya....” Dent melihat arloji di lengan kanannya lalu menatapku dan Kak Indra. “Kurasa sudah waktunya kita mengakhiri ini.” Tiba-tiba, seluruh ruangan di area itu bergetar. Bahkan aku bisa merasakan tekanan yang luar biasa. Tembok-tembok mulai retak, tekanan udaranya begitu terasa, bahkan aku dan yang lainnya tak bisa bergerak sedikitpun. Namun tiba-tiba semua itu terhenti. Dent yang sebelumnya nampak tenang berubah menjadi kesal. Dia menengok kesana-kemari seakan mencari seseorang. Lalu tak lama kemudian dia berteriak “Keparat kau, Ratu Putih!!!” Tak lama kemudian dia mulai menghela napas lalu kembali tenang.copyright protection233PENANAxTxepbUIqO

“Kurasa, cukup sampai disini saja. Kita akan melanjutkannya lain waktu.” Dent menggerakkan lingkarannya mendekati tembok lalu menempelkannya. Tak lama kemudian, tercipta semacam portal berwarna hitam. Dengan santainya, dia berjalan memasuki portal tersebut. Dan entah mengapa, tak ada satupun dari kami yang berani mencegah kepergiannya. Tak ada satupun dari kami yang sanggup bernapas dengan lega setelah apa yang sudah dia lakukan. Bahkan tak ada satupun keringat yang menetes dari tubuh kami.copyright protection233PENANAxk6YG6Efxh

Setelah kepergiannya, kami semua terjatuh lemas. Kami mengatur napas kami meski masih dihantui oleh perasaan tadi. Tak lama kemudian, Radhika, Zaki, Leila dan seluruh tawananpun tiba. Dia langsung memberitahu keadaan saat ini. Saat itu, secara tidak sengaja aku bertemu dengan kedua orang tua Radhika. Wajah Ibunya sangat mirip dengan wajah seorang wanita yang kutemui waktu itu. Bahkan mereka napak kebingungan saat melihat diriku. Melihat kondisi yang canggung ini, Radhikapun memberi tahu keadaan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Mbak Anna yang sudah siuman langsung memeluk Kak Andri dan menumpahkan seluruh perasaan yang dibendungnya selama ini.copyright protection233PENANAGF4ya3jPzx

***copyright protection233PENANAp7rWlQ8gyy

Sisa waktu : 45 detik.copyright protection233PENANA55Tc4ziIPP

“(Ada apa ini... dia bisa dengan mudah membaca seluruh pergerakanku.)” Sindy mengisi ulang amunisi dari pistolnya lalu kembali berlari sembari menembaki Seno, namun Seno dapat dengan mudah menangkis peluru-peluru Sindy menggunakkan sarung tangan batunya, ditambah lagi tak lama kemudian sarung tangan itu kembali menjadi pulih. Tak lama kemudian, Seno melompat dan hendak akan memukul Sindy menggunakkan sarung tangan batu miliknya. Sindy dengan mudah menghindari serangan itu, lalu mengisi ulang amunisi, namun saat dia sadari ternyata itu adalah amunisi terakhir miliknya.copyright protection233PENANA0wv44F8ovH

“Apa kau tahu? Elemen tanah lemah terhadap elemen petir?” Sindy menembakkan satu peluru menggunakkan pistol kanannya lalu tak lama kemudian menembakkan satu peluru lagi dengan pistol kirinya.copyright protection233PENANAVUPmQadZqM

“Lalu mengapa?” Seno lagi-lagi berusaha untuk menahan peluru itu dengan menggunakkan. Dia berhasil menahan peluru pertama “Percuma saja.”copyright protection233PENANAyvSrIW10FQ

“Sungguh? Open the Seal : Thunderstorm Bullet” Seketika, peluru kedua yang ditembakkan Sindy berubah menjadi banyak dan berubah menjadi petir. “Awas badai.” Sindy tersenyum.copyright protection233PENANAQFmlKr1SPw

“Apa?!” Peluru-peluru petir itu langsung menghujani Seno. Aliran listriknya membuat sarung tangan batu milik Seno menjadi tak bisa beregenerasi dan hancur. Kejutan listrik itu terus mengalir ke seluruh tubuh Seno hingga membuat tubuhnya terluka cukup parah. Bahkan membuat topeng batu milik Seno menjadi rusak.copyright protection233PENANAALrp8hAlh1

“Aaah.... Sial, kalau begini aku harus membuat topeng baru.” Seno melepas topengnya lalu membuanya dengan santainya. “Dan dengan begini, kau jadi melihat wajahku.”copyright protection233PENANA8Px0hfXifC

“Kau....” Sindy terdiam. Dia terjatuh lemas karena tidak percaya dengan apa yang sudah dia lihat. Mulutnya ingin berkata banyak, namun terlalu kaku untuk bisa berkata-kata. Pikirannya menjadi kosong. Matanya tidak berkedip sedikitpun. Bahkan dia tidak bisa bergerak karena syok.copyright protection233PENANA96ivs2XtVM

“....Kakak.”copyright protection233PENANA0wyrWGJw21

Waktu habis.copyright protection233PENANAxaQ4b7j8qz

Terjadi ledakan di mana-mana. Asap berwarna hitam mulai memenuhi seluruh ruangan di gedung. Suara gemuruh yang memekakkan telinga. Api mulai menjalar kemana-mana, menjilat apapun yang ada di sekitarnya. Ruangan yang gelap langsung menjadi terang karena datangnya si jago merah.copyright protection233PENANAKzF35752B1

“Nampaknya waktunya sudah habis. Maaf Sindy, aku harus pergi.”copyright protection233PENANAPCxn4t4N07

Mendengar itu, Sindy tak bisa berdiam diri saja. Dia ingin berdiri dan mengejar Seno. Namun kakinya tak mau di gerakkan, kakinya terasa kaku seakan menolak untuk bergerak. Sindy mengangkat tangannya dan mengepalkannya seakan menangkap Seno, namun jarak diantara mereka terlalu jauh. “Tidak... kakak... Kak Seno...” Sekuat tenaga, Sindy mencoba untuk berdiri. Dia mencoba menggerakkan kakinya untuk mengejar Seno. Napasnya mulai sesak karena asap, panasnya api sangat menyengat, suara ledakan yang memekakkan telinga begitu terasa. Tiba-tiba, Sindy tersandung sebuah bongkahan batu yang tercipta karena ledakan. Disaat mencoba untuk kembali berdiri, terjadi sebuah ledakan yang membuat jalan antara dirinya dan Seno hancur dan runtuh.copyright protection233PENANAOxhFCsNVBe

“Sindy, dimana kau?” Aku berlari ke tempat Sindy yang sudah diberitahu oleh Zaki dan Leila. Meski asap sudah memenuhi ruangan dan kadar oksigen yang ada tinggal sedikit, aku tidak peduli.copyright protection233PENANAumNapTivWU

Aku melihatnya yang terduduk lemas. Aku berniat untuk memanggil namanya, namun aku langsung mengurungkan niatku setelah melihat adanya tetesan air mata. Aku berjalan menghampirinya lalu memegang pundaknya. “Sindy, ayo pergi.” Menyadari keberadaanku, Sindy perlahan menengok. Air matanya yang jernih mengaliri wajahnya dan turun menetes membasahi lantai yang panas.copyright protection233PENANAwLw49Ayeoy

“Dimo....”copyright protection233PENANAld6DTI6HEH

Ini pertama kalinya aku melihat Sindy hingga seperti ini. Sindy yang kukenal adalah seseorang yang selalu tenang dan tak pintar mengekspresikan diri, namun sebenarnya dia adalah orang yang baik dan peduli dengan semua temannya.copyright protection233PENANAV93IktCCYy

Entah apa yang sudah dialaminya hingga sudah membuatnya seperti ini, namun hanya satu hal yang bisa aku lakukan saat ini. copyright protection233PENANAwuk3zuD7I2

Aku mengulurkan tanganku lalu tersenyum tulus dan mengatakan satu hal “Ayo pulang.”copyright protection233PENANAG3gMH9vNQ9

Dia tertuntuk sejenak lalu mengusap air matanya. Dia angkat wajahnya lalu mempersiapkan hatinya. Setelah cukup tenang, dia tersenyum lalu meraih tanganku “Ayo.”copyright protection233PENANAuLjyuD16fZ

***copyright protection233PENANAFMuZP3ttbc

Sebulan telah berlalu sejak saat itu. Hari ini, alat antar dimensi yang akan mengantar Dimo Radhika dan kedua orang tuanya kembali ke dunia asalnya telah jadi. Alat itu begitu kecil dan hanya bisa sekali pakai saja. Untuk membuatnya saja dibutuhkan waktu selama sebulan. Ritual pengiriman kembali Radhika ke dunia asalnya di adakan di ruang turnamen milik Bum Corp. menurut Pak Bum, hanya ruangan inilah yang cukup besar untuk membuka portal menuju ke dunia cermin.copyright protection233PENANAwRgMDXV8LM

Radhika menaruh alat itu di lantai, lalu tak lama kemudian keluarlah sebuah portal yang ukurannya hampir besar dengan ukuran ruangan ini. Angin yang berhembus kencang keluar dari dalam portal tersebut. Aku hampir tidak mempercayai apa yang kulihat, portal berukuran besar dan berwarna putih itu terhubung langsung dengan dunia cermin—dunia dimana Radhika seharusnya berada. Semuanya menyaksikan proses kepergian Radhika. Bahkan Mbak Anna sekalipun.copyright protection233PENANAigyBO2fQ9u

“Baiklah, aku pergi ya.” Radhika dan kedua orang tuanya melabaikan tangan kepada kami sesaat sebelum pergi. Namun, saat kedua orang tua Radhika sudah pergi, dia terhenti lalu berbalik.copyright protection233PENANAQPhkO6oiAz

“Dimo, sebelum aku pulang ada yang ingin kuberitahu padamu.” Mendengar itu, aku langsung berjalan maju mendekatinya. “Ini mengenai seseorang...” Radhika tertunduk sejenak sembari menggigit bibirnya.copyright protection233PENANAu6qLT4IPdt

“Seseorang? Siapa?”copyright protection233PENANABvJa7ycmom

Radhika memejamkan kedua matanya sembari tersenyum ragu “Ah, tidak. Kurasa tidak sopan jika aku memberi tahu tentangnya tanpa ada persetujuannya.” Lalu dia buka kembali kedua matanya sembari tertawa dan menggaruk-garuk rambutnya.copyright protection233PENANARfb8A0fYjQ

“Oi, oi, kau mau pergi dengan membuatku penasaran?” Aku mengatakannya dengan kesal sembari mengelus-elus belakang leherku.copyright protection233PENANAyOXZzQ3iFh

“Ya, begitulah.” Radhika menyeringai sembari berbalik dan melambaikan tangan kanannya “Sampai jumpa.” Dia mulai berjalan menuju ke portal.copyright protection233PENANALhNvrU4Eht

“Jangan bercanda!!” Balasku dengan kesal. Aku hendak ingin mengejarnya, namun Zaki menahanku dengan mengkunci kedua tanganku.copyright protection233PENANA18Ichidxhw

Karena tingkahku, dia tertawa. Lalu lambaian tangannya berubah menjadi sebuah jempol sebagai ucapan terima kasih kepadaku.copyright protection233PENANAoPklPUbScR

“Berlibur?” Zaki menjilat es krim miliknya sembari memberikan es krim milikku sementara Leila dan Sindy masih mengantri membeli es krim. Sinar mentari yang cerah membuat hari ini terasa panas. Bahkan seakan-akan aku bisa memasak telur di atas meja. Suara jangkrik begitu keras, lebih keras dari biasanya. Saat aku menatap ke atas langit, tak ada satupun awan bisa kulihat. Mungkin, ini adalah hari paling panas di tahun ini. Es krim yang begitu dingin seakan menjadi penawar racun bagi kami. Sekali aku menjilatnya, rasanya seakan panas yang sedang terjadi bukan apa-apa.copyright protection233PENANAaY8XtzRye9

“Ya, setelah kami diskusikan, kami memutuskan untuk libur sejenak untuk melupakan semua masalah yang ada.” Mbak Anna memakai sunglass lalu memakai topi musim panas.copyright protection233PENANA1fiJsz2F7j

“Kami berdua juga ikut lho.” Entah bagaimana Ani dan Eni tiba-tiba muncul dari belakang Mbak Anna dengan pakaian hawainya yang begitu mencolok, ditambah dengan pose mereka saat muncul dari belakangnya.copyright protection233PENANAcv9xQYr2RD

“Kalian ya... oh ya, kalian masih belum minta maaf karena sudah mengejarku dan sudah menumpahkan minumanku.” Aku berusaha mengejar mereka berdua dan melakukan perhitungan dengan menggelitik mereka, namun mereka malah mencoba berlari menghindariku.copyright protection233PENANAT1C2Y6CQEQ

“Ngomong-ngomong, memangnya Kak Anna dan Kak Andri ingin berlibur di mana?” Leila datang sembari menjilat es krimnya.copyright protection233PENANAZF5hpxRrdZ

“Hmmm.....” Mbak Anna berpikir dengan menggaruk pipinya menggunakkan telunjuk lalu tersenyum “ ....Kepulauan Seribu.”copyright protection233PENANALqvUXmSpoK

“Wah, romantis sekali....” Leila menggenggam kedua tangan Mbak Anna dengan ekspresi yang begitu senang.copyright protection233PENANA3iLFkKLWAq

“Aku juga berpikir begitu.” Balas Mbak Anna dengan semangatnnya.copyright protection233PENANAMA5RSvpKXD

Melihat Leila dan Mbak Anna membuat Sindy terheran-heran. Diapun menghampiri Zaki lalu berbisik kepadanya “Bukankah sudah wajar?”copyright protection233PENANAJI3eC1AvrZ

“Yah, Sindy, kau ini sama sekali tidak mengerti ya.” Zaki menepuk-nepuk pundak Zaki hingga tak sengaja membuat kemeja Sindy terkena es krim. Melihat itu, Zaki langsung terhenti dan bertingkah seakan-akan kejadian tadi tidak pernah terjadi. Sementara Sindy hanya terdiam tanpa kata-kata. Mbak Anna tersenyum melihat tingkah laku kami semua, sampai akhirnya dia teringat satu hal.copyright protection233PENANAfuh1aBLVxm

“Dimo, kemarilah.” Aku beserta Ani dan Eni terhenti setelah mendengar permintaan Mbak Anna. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampirinya.copyright protection233PENANAlkWrcPXBzU

“Ada apa?”copyright protection233PENANAfjCjyfk9LL

Tiba-tiba, dia memukul perutku. Aku memejamkan mataku, karena aku tahu bahwa dia pasti akan melakukan lebih dari hanya memukul perutku.copyright protection233PENANA80gq2q1Omz

Eh, tunggu. Apa ini? Kenapa dia tidak memukulku lagi?copyright protection233PENANAaIT795W6Hv

Aku membuka kedua mataku. Hal yang tidak pernah kuguda sebelumnya terjadi. “Tu—Apa?!” Rambutnya yang berwarna ungu begitu dekat denganku. Aku bisa mendengar suaranya saat bernapas. Kulitnya yang putih dan jernih. Serta aroma sampo dari rambutnya.copyright protection233PENANA1XPDgnSBwD

Ditambah lagi wajah Leila yang menjadi merah merona, ekspresi Zaki yang begitu terkejut, dan Sindy yang pipinya menjadi merah meron, lalu Ani yang berusaha menutup mata Eni dengan tangannya. Saat itu aku tersadar, bahwa dia sedang memelukku.copyright protection233PENANAnEED4H46vq

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e617773  “Terima kasih.... dan maaf karena sudah melakukan hal buruk kepadamu.” Kata-kata yang diucapkannya begitu terdengar lembut dan tenang. Begitu berbeda dengan saat pertama kali aku dan dia bertemu. Memang saat itu begitu kacau, bahkan kami tidak berkenalan sama sekali. Karena itulah aku sama sekali tidak menyangka ini akan terjadi.copyright protection233PENANAGG8zNiFKpn

Entah mengapa wajahku memerah, rasa malu dan senang ikut bercampur bersama menjadi sesuatu yang lain “Y-ya, ti-tidak masalah. Ya-yang lalu biarlah berlalu.” Entah mengapa rasa malu ini membuatku menjadi susah berkata-kata.copyright protection233PENANAfqk44BsXdY

“Kalau begitu, sampai berjumpa lagi.” Mbak Anna, Ani dan Eni melambaikan tangannya bersama sesaat sebelum memasuki mobil. Aku, Zaki, Leila, dan Sindy yang menyaksikan kepergiannya membalas dengan melambai balik.copyright protection233PENANABADfeHXiOs

Tak lama setelah dia pergi, Zaki dengan santainya menepuk pundakku lalu berbisik “Cie-cie, menang banyak.”copyright protection233PENANAJu9S4WaJGz

“Ya enggak lah!” Aku membantahnya lalu menangkap tangannya untuk ku pelintir sebagai balasan.copyright protection233PENANA7W0s143t1g

“Jadi ini yang namanya kesempatan dalam kesempitan.” Sindy menunduk kebawah sembari memegang dagu seakan sedang berpikir keras.copyright protection233PENANAsCR5S5NPoB

Aku melepas tangan Zaki lalu berbalik “Kenapa kau memikirkannya sampai seperti itu?”copyright protection233PENANAi86r0aoaU5

“Di-Dimo.... mesum.” Leila membuang pandangannya dariku sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.copyright protection233PENANAK22Ku4PyyQ

“Yah, mesum dari mananya?!”copyright protection233PENANAO0tG5lLTba

Melihatku yang selalu membuat tanggapan tajam atas komentar mereka, merekapun tertawa. Entah mengapa, tawa mereka membuat rasa kesalku menghilang begitu saja. Aku tersenyum lalu kututup kedua mataku. Aku mendongkak keatas lalu memandang langit dengan mentarinya yang terik. Setelah kulihat-lihat, langit hari ini begitu biru. Seperti Laut.copyright protection233PENANAutiBVjMktG

***copyright protection233PENANApeJsYdwOL4

“Dimo..... Akhirnya kita akan bertemu lagi.” Gadis berambut putih itu menengok ke arah pohon—melihat sebuah pahatan “Dimo dan Ani.”copyright protection233PENANAEA47gat23E

Rambut putihnya tertiup angin. Dia memandang langit biru cerah tanpa awan.copyright protection233PENANAdy8wa3PWoi

“Langit hari ini begitu biru ya. Seperti Laut saja.”copyright protection233PENANADNwmfvAMkl

54.198.77.35

ns54.198.77.35da2
Comments ( 0 )

No comments yet. Be the first!
Loading...
X