Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Action
Online Game
Start Point
Writer MCA id-23
Writer
  • G: General Audiences
  • PG: Parental Guidance Suggested
  • PG-13: Parents Strongly Cautioned
  • R: Restricted
PG
RATED
1878 Reads
22 Likes
1 Bookmarks
Popularity

Facebook · Twitter

FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018

Get it on Google Play

Download on the App Store

Follow Author
Start Point
1 Bookmarks
A - A - A
10 11 12 13 14 15 17 18 19 20
#16
Selamat Tahun Baru
MCA id-23
Jan 17, 2017
1
0
88
15 Mins Read
No Plagiarism!83tkvWlxVDb7m2FHh0yTposted on PENANA

Dua hari kemudian, aku dan Anita sudah boleh dipersilahkan untuk pulang. Hari itu mendung dan begitu dingin. Awal desember adalah saat-saat dimana hujan biasa turun dan cuaca menjadi mendung. Bahkan tak jarang terjadi banjir di area tertentu di kota ini.copyright protection88PENANAHjnj1xypC7

Saat itu kami sedang menunggu tumpangan dari Zaki. Sebelumnya aku telah menelponnya untuk menjemput kami berdua, namun aku sama sekali tak menduga bahwa ini akan memakan waktu lebih lama dari yang kubayangkan. Aku menengok kearahnya. Walau sudah lewat beberapa hari, namun nampaknya dia masih merasa bersalah karena penyerangan itu. Wajahnya masih nampak murung dan mendung. Kulepas syal milikku lalu mengalungkannya kepadanya.copyright protection88PENANAcLbF5GCrdy

Anita yang sebelumnya sedang melamun baru menyadari syal tersebut tak lama setelah kupakaikan kepadanya. Dia menengok kearahku dengan wajah polos nan bingungnya “Sejak kapan...?”copyright protection88PENANA4pFrsl8JmH

“Hari ini begitu dingin, jadi sebaiknya kau mengenakkan itu.”copyright protection88PENANAD401n1yVra

“Tapi bagaimana denganmu?”copyright protection88PENANA3DVfj1WVsa

“Tenang saja, bagi lelaki sepertiku, dingin bukanlah masalah.” Aku tersenyum lebar sembari menggesek-gesekkan kedua tanganku agar hangat. Tak lama kemudian, Zakipun tiba. Dia memarkirkan motornya tepat dihadapan kami berdua dan sedikit menghalangi jalur dimana kendaraan biasa berlalu. Bahkan dengan santainya dia duduk di motornya sembari melepas helmnya dan bersiul. Entah reaksi seperti apa yang harus kukeluarkan saat itu atas apa yang baru saja dilakukannya. Namun saat itu aku merasa sangat malu karena ulahnya.copyright protection88PENANAuxz9Y2u7LQ

Aku berjalan menghampiri Zaki dengan wajah yang tertunduk. Sementara Zaki mengambil helm yang akan kugunakkan yang sebelumnya dia gantung di jok motornya. Tiba-tiba wajahku terdongkak seketika teringat dengan Anita. Aku belum bertanya kepadanya mengenai dengan siapa dia akan pulang. “Oh ya Anita, kenapa kau tidak pulang bersamaku dan Zaki saja? Motor ini masih muat untuk satu orang lagi, kok.”copyright protection88PENANAOoUPpiRXei

“Ah, maaf, tapi nanti Pak Alfred sebagai supirku akan menjemputku.” Dia menggelengkan kepalanya perlahan. Dengan matanya yang tertutup dan alisnya yang sedikit terangkat, dia tersenyum kaku.copyright protection88PENANA8hW4xg5tcy

“Kalau begitu, sampai jumpa jam 3 sore nanti ya.” Kukenakkan helm yang diberikan Zaki lalu menaiki motornya. Kulambaikan tanganku sesaat setelah motornya sudah mulai berjalan. Kulambaikan tanganku hingga akhirnya aku dan Zaki berbelok dan pergi meninggalkan Anita.copyright protection88PENANADG5dP4fkb0

“Jam 3, ya....” Anita mengambil smartphonenya dari dalam kantung jaketnya lalu menatap jam yang terdapat dilayarnya.copyright protection88PENANAb0p6PPoHNC

***copyright protection88PENANAZWUW0rc6Vo

Pukul 3 sore.copyright protection88PENANAEy4KMUO1eZ

Mobil bak yang dikendarai Paman Tedipun tiba di depan rumah lamaku dengan aku yang berada bersamanya. Mobil tersebut membawa barang-barang milikku dari rumah kontainerku. Barang-barang tersebut seperti lemari, meja, pakaian dan masih banyak lagi.copyright protection88PENANA2p0svQhUx5

Sesaat setelah mobil sudah diparkirkan, Anita keluar dari dalam rumah dan menyambutku dan Paman Tedi. Sementara itu, Zaki yang membuntutiku menggunakkan motornya, langsung memarkirkannya dan berlari memasuki rumahku seakan rumah tersebut rumahnya sendiri.copyright protection88PENANAxx1st2TG9P

Entah mengapa, aku mendapat firasat bahwa dia akan langsung segera mengacak-acak rumahku. Akupun langsung berlari mengejarnya memasuki rumah dan mencegahnya untuk tidak melakukan hal yang sembrono.copyright protection88PENANA4Nn9y93mbi

Namun, yang kudapatkan hanyalah Zaki yang sedang terduduk lemas di sofa. Aku bertanya-tanya kemana hilangnya semangat miliknya tadi sampai akhirnya kusadari bahwa kulkas yang ada di dapur terbuka lebar. Kuhampiri kulkas tersebut lalu menutupnya.copyright protection88PENANAmdImGdcX8K

“Kulkasnya... kosong.” Gumam Zaki.copyright protection88PENANA3Fi57L71sg

“Tentu saja kosong, memangnya apa yang kau harapkan?” Aku kembali keluar dari dapur lalu berjalan kembali keluar rumah karena kurasa semuanya akan baik-baik saja selagi Zaki tak mendapatkan semangatnya kembali.copyright protection88PENANAQw4eGCoJZz

Anita yang melihatku keluar dari dalam rumahpun menghampiriku “Dimana Zakarya?”copyright protection88PENANA2lNKItYVr6

“Di dalam, sedang merenungi nasibnya.”copyright protection88PENANAGuMYzUJHWb

“Dimo, kemarilah! Bantu aku mengangkat barang-barangmu ini.”copyright protection88PENANAXNI22pEq8E

Aku mendengar suara panggilan dari Paman Tedi yang sedang berusaha mengangkat barang-barang milikku. “Baik.” Aku berlari menghampiri Paman Tedi lalu membantunya.copyright protection88PENANA0bZNVIhTEI

Kamipun mulai mengangkut barang-barang dan memasukkannya kedalam rumah. Satu jam kemudian, Sindy dan Leilapun tiba. Sebelumnya, mereka berniat berangkat bersama kami, namun karena suatu alasan, mereka menjadi terlambat satu jam.copyright protection88PENANA0kdNiNH2uE

Berjam-jam berlalu tanpa kami sadari. Dan akhirnya seluruh barang telah berhasil diangkut kedalam rumah.copyright protection88PENANAesrXutm9Tv

“Akhirnya.... selesai juga.” Kujatuhkan tubuhku yang letih kesofa dan berbaring diatasnya. Empuknya sofa seakan langsung membuat rasa letihku lenyap.copyright protection88PENANANUGNHBvYva

“Rumahmu besar ya.”copyright protection88PENANAHwuVjMI0Pd

Aku angkat tubuhku dan duduk di sofa. Kutengok sumber suara itu berasal yang ternyata adalah Sindy yang sedang duduk di sofa sembari terus mengganti channel tv.copyright protection88PENANAE3F60azmjt

“Ya, benar.” Aku bersandar sembari menengok keatas—menatap langit-langit ruang tamu yang sedikit berdebu.copyright protection88PENANAR7nyU5aq4F

“Hei...”Aku kembali tertunduk menatap Sindy yang memanggilku. Wajahnya yang tertunduk dan sedikit memerah. Poni rambutnya yang menutupi matanya membuatku tak tahu ekspresi seperti apa yang sedang dikeluarkannya saat ini. “Ka-kau tahu, dulu kau pernah bilang bahwa kau punya teman yang sangat suka bermain game, namun dia memiliki kemampuan yang payah,’kan?”copyright protection88PENANAALc4HvRpwG

“Ya.... kurasa aku memang berkata seperti itu.” Aku menggaruk rambutku sembari melirik keatas. Entah mengapa aku tak sanggup menatap wajah Sindy. Saat ini, aku merasakan sebuah suasana yang sangat canggung diantara kami berdua. Aku bahkan sama sekali tidak mengerti mengapa Sindy tiba-tiba menanyakan hal itu.copyright protection88PENANACaJihKsQ7M

“Apa jangan-jangan.... kau ini Ram—”copyright protection88PENANAkYTIxNNHdS

“Wah....”copyright protection88PENANAnODzTl4KKA

Tiba-tiba suasana canggung langsung pecah bersamaan dengan munculnya suara Zaki. Sindy yang sebelumnya menunduk langsung terangkat dan menengok kearah suara Zaki berasal. Zaki sedang bersembunyi di balik sebuah sofa yang arahnya bertolak belakang dengan arah dimana sofaku menghadap. Sementara Leila dan Anita yang berdiri di belakangnya. Wajah Leila yang nampak merah merona sementara Anita yang wajahnya begitu tenang seakan tak bisa mengerti situasi yang sedang terjadi.copyright protection88PENANAqnLaF2V8T2

Aku perlahan berjalan mengendap-endap menghampiri sofa dimana Zaki bersembunyi, lalu kudorong sofa tersebut sehingga jatuh menimpa Zaki dan kunaiki sofa tersebut sehingga dia tidak bisa bangun kembali. “Sudah kubilang untuk berhenti melakukan candaan itu! Apa kau sudah bosan hidup?”copyright protection88PENANAUd1NWyBJfP

“Maaf, maaf, iya aku kapok! Pokoknya angkat dulu sofa ini.” Kata Zaki dengan nada suara seperti orang yang sedang sesak. Dia menepuk-nepuk sofa tersebut sembari mencoba mangangkatnya, namun dia tak sanggup. Dia tidak tahu bahwa saat itu sofanya sedang kutindihi.copyright protection88PENANABCDfbwAghl

Merasa sudah cukup puas membalasnya, aku turun dari sofa lalu kuangkat sofa tersebut. Akupun kembali duduk disofa sembari menghela napas panjang. Sementara Zaki kembali berdiri dan membersihkan pakaiannya.copyright protection88PENANAQIICSoEOwx

Aku teringat kembali dengan kata-kata Sindy. Andai saja dia dapat menyelesaikan kata-katanya, aku mungkin bisa mengerti apa maksudnya. “Oh ya, Sindy, tadi kau mau bilang apa?”copyright protection88PENANAQrLRfHpQrF

“Ti-tidak, bukan apa-apa.” Sindy dengan cepatnya merespon jawabanku sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Namun rasanya ada yang aneh dari senyumannya.copyright protection88PENANAF3ijjuPTK6

“(Bukan apa-apa, ya.....)”copyright protection88PENANAfBPXdHmSwT

***copyright protection88PENANAqmkcezTDpl

Beberapa hari kemudian.copyright protection88PENANAj5oBoH5eBQ

Karena insiden penyerangan yang terjadi, murid-murid mulai menjaga jarak dengan Anita. Aku dan Dia menjadi terkenal karena kamilah satu-satunya korban dari insiden tersebut. Ditambah lagi, insiden penyerangan ini terjadi tak lama setelah dia masuk ke sekolah ini. Karena itulah mulai bermunculan gosip dan rumor mengenai Anita.copyright protection88PENANAlQraOFSaxo

Saat itu kami sedang istirahat di kantin sekolah. Seperti biasa, semuanya membawa bekalnya masing-masing terkecuali aku. Namun Zaki lupa membawa bekalnya dan meninggalkannya di dalam tasnya yang ada di kelas.copyright protection88PENANA4XLo9ZX3Dn

Sembari membuka bungkus dari roti yang baru saja kubeli, aku melihat Anita yang hanya tertunduk terdiam menatap bekalnya. Nampaknya dia terpikir dengan segala gosip dan rumor buruk mengenai dirinya. “Tenang saja, tak usah pikirkan perkataan mereka.”copyright protection88PENANApWtNySvE77

“Maaf, hanya saja....” Wajahnya langsung terdongkak menatapku sembari tersenyum kaku. Dia menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. Senyuman kakinya yang begitu nampak membuatku sadar bahwa dia begitu memikirkan rumor dan gosip buruk mengenai dirinya.copyright protection88PENANAusYWDMCwX9

“Yo, semuanya. Maaf sudah membuat kalian menunggu.” Zaki datang dengan napas yang berantakan. Itu membuatnya terlihat bahwa dia baru saja berlari kesini dengan sekuat tenaga. Meski begitu, tak ada seorang pun terkecuali Leila yang membalas salam Zaki dengan riang. Leila jugalah satu-satunya yang tidak memakan bekalnya demi menunggu Zakicopyright protection88PENANAV17GqhGokj

“Walah, kalian semua kejam karena tidak menungguku.” Zaki duduk di sebelah Leila “Lihat, hanya Leila yang baik padaku.” Zaki menunjuk Leila yang sedang mulai membuka bekalnya. Menyadari itu, Leila tersenyum sembari memberi jempol.copyright protection88PENANALKgfyP73te

“Oh ya, ngomong-ngomong tadi di kelas kudengar harga Happyland untuk malam tahun baru nanti akan diskon.” Zaki mulai membuka bekalnya.copyright protection88PENANAbYH9VlVxRT

“Sungguh?” Tanya Leila dengan penuh Antusias.copyright protection88PENANAGNVOul5aJq

“Ya, tadi aku sempat mencari informasi dari web resmi Happyland, dan ternyata itu benar.” Zaki menaruh sendoknya kembali kedalam kotak bekal lalu merogoh kantung celananya untuk mengambil smartphone miliknya. Dia tunjukkan jadwal tersebut kepada kami satu-persatu.copyright protection88PENANAuvaLKIASM4

“Coba kuperiksa.” Sindy mengulurkan tangannya kepada Zaki untuk mengambil Smartphone milik Zaki. Zaki berikan Smartphone itu lalu kembali melanjutkan makannya.copyright protection88PENANA7X2O7Xa3v2

Sementara kami sedang asik membicarakan Happyland, Anita hanya terdiam sembari memakan bekalnya. Seakan dia berusaha menjaga jarak dari kami agar kami juga tidak terkena imbas dari gosip dan rumor buruk miliknya. ”Oh ya, bagaimana jika Anita juga ikut?”copyright protection88PENANAWcPR0jd6uW

Anita tertegun. Leila, Zaki dan Sindy yang sebelumnya sibuk mengobrol langsung menengok kearahku dan Anita. Merasa tak nyaman, Anita membuang muka dari kami lalu mencengkram rok miliknya. Dia sangat yakin bahwa takkan ada seorangpun yang setuju dengan usulanku. Tapi....copyright protection88PENANAxZrHKcql4d

“Ide bagus! Makin banyak cewek makin mantep.” Zaki tersenyum lebar sembari mendongkak kearahku dan menepuk-nepuk pundakku.copyright protection88PENANAqbbs0iqalW

“Boleh juga, mengapa tidak?” Sindy berpangku dagu sembari menatap Anita dengan senyum lembutnya.copyright protection88PENANAci81a8lnfQ

“Ani...!” Leila langsung dengan cepatnya mendekati Anita lalu memeluknya.copyright protection88PENANAjMPLuAXVW1

Melihat reaksi mereka bertiga, Anita langsung menengok kearah mereka dan tidak membuang pandangan. Wajahnya menjadi merah merona dan matanya yang lesu berubah menjadi berbinar. Ekspresi mendungnya langsung terhapusakn dan digantikan dengan ekspresi yang begitu cerah seperti langit biru. Dia nampak begitu tak menduga bahwa dia akan mendapat reaksi seperti itu dari Zaki dan yang lainnya. Meski sudah beredar rumor dan gosip buruk tentangnya, mereka tetap menganggap Anita sebagai teman.copyright protection88PENANA8mdkPdCgnY

Dan begitulah, kami termasuk Anita setuju untuk merayakan tahun baru di Happyland.copyright protection88PENANAczgkBqtXOI

***92Please respect copyright.PENANAx8naEBDZS6
copyright protection88PENANAN7vDS0eQVb

Hari-haripun berlalu, dan hari yang dinantipun tiba. Hidup terus mengalir seperti air sungai, dan batu yang menghalangi aliran sungai adalah perandaian dari suatu masalah yang kita alami sehari-hari. Suatu hari, kau akan menghadapi air terjun, yaitu saat-saat dimana kau merasa terpuruk. Dan nanti suatu saat, kau pasti akan menguap dan menjadi gumpalan awan yang suatu saat akan menurunkan hujannya yang dapat menghilangkan kekeringan, dan memberi manfaat ke seluruh alam. Sebelum memasuki Happyland, kami berlima memutuskan untuk berkumpul terlebih dahulu. Kami akan berkumpul di rumahku pukul 4 sore hari, Anitalah yang pertama datang karena rumahnya yang tak jauh dari rumahku, dia memakai mantel berwarna hitam dan celana levis dengan sepatu bootnya, tak lama kemudian Sindypun datang dengan mengenakan kemeja berwarna merah bermotif kotak-kotak dan rok berwarna biru sepanjang lutut, dia mengenakan sepatu yang biasa ia kenakan di sekolah. Lalu 10 menit kemudian Leilapun tiba, dia meminta maaf karena datang agak terlambat. Dia bilang dia agak bingung memilih pakaian yang akan dia kenakan, pada akhirnya pakaian yang ia kenakan adalah switer berwarna oranye yang merangkap kemeja berwarna putih, dengan rok yang cukup panjang dan sepatu boot berhak tinggi. 3 menit kemudian Zakipun tiba sambil melambai-lambaikan tangannya yang sedang menggenggam 5 tiket Happyland. Dia mengenakan mantel berwarna kuning dan pakaian biasa sebagai dalamannya, celananya panjang sepanjang mata kakinya dan sendal gunung. Sementara aku, apa kalian penasaran dengan apa yang aku pakai? Baiklah, aku akan memberitahumu. Aku mengenakan jaket berwarna hitam dan celana panjang levis, dengan sepatu yang biasa aku kenakan di sekolah. Setelah semuanya berkumpul, kamipun segera berangkat. Aku berboncengan dengan Zaki yang mengenakan motornya sementara Sindy, Leila, dan Anita menaiki mobil milik Anita. Kami berlimapun sampai di Happyland tepat pukul 04:45 sore. Sesampainya disana kami berempatpun dibagikan tiket yang sudah Zaki beli, kami berlima memutuskan untuk masuk secara berurut. Di Happyland, aki, Sindy, Zaki, dan Leila memutuskan umtuk menaiki rollercoaster terlebih dahulu. kami berempatpun meminta pendapat Anita, tetapi, dia malah terdiam, sesekali dia membuka mulutnya ragu-ragu sekan-akan ingin mengatakan suatu hal, tetapi di lain pihak dia juga tidak ingi mengatakannya. Tak lama kemudian diapun mulai mengeluarkan keringat dingin, dia terus melirik kesana kemari dengan wajahnya yang memerah. Akupun bertanya kepadanya.copyright protection88PENANAS4x5oni1DG

“ada apa Anita?”copyright protection88PENANA0PghaRHDPv

“Ti-tidak k-kok, ti-idak ada apa-apa... Hanya saja.... ini pertama kalinya, aku pergi ke tempat seperti ini....”copyright protection88PENANAmDDRhwSvmN

“Oh begitu toh, kalau begitu. Maka ini akan menjadi kenangan pertamamu yang takkan bisa kau lupakan....” kata Zaki sambil mengangkat kedua tangannya lalu menepukkannya ke pundak Anita. Anitapn terdiam, kekhawatirannya langsung menghilang, wajahnyapun merona, dan diapun tersenyum dan berkata “Baiklah, mohon bantuannya.”. Pertama, kami berlima memutuskan untuk menaiki rollercoaster, hampir semuanya berteriak kegirangan saat menaiki rollercoaster, terutama Anita, dia terlihat sangat menikmatinya. Semuanya senang terkecuali Zaki, dia sangatlah tenang saat menaiki roller coaster ini. Sesekali pipinya mengembang dan wajahnya memucat, tetapi dia langsung menelannya dan tubuhnya langsung memelas. Setelah menuruni roller coaster, Sindy, Leila, dan Anita terlihat sangat menikmatinya. Mereka membicarakan saat-saat menaiki roller coaster tadi sedangkan Zaki sedang muntah ke bawah pagar pembatas. Setelah menaiki roller coaster, kami berlimapun memasuki rumah hantu. Di dalam, Leila sangatlah ketakutan sampai-sampai dia menggenggam bajuku seerat mungkin.  Dia baru menyadari bahwa dia menggenggam bajuku seerat mungkin saat kami sudah keluar dari rumah hantu tersebut. Saat menyadarinya dia langsung melepas genggamannya dan mundur menjauhiku dengan wajahnya yang memerah. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya, setelah dari rumah hantu kami berlima memasuki rumah boneka. Disana ada banyak boneka dan suasananya sangat cocok untuk mencairkan ketegangan dari rumah hantu barusan, disana yang paling tidak bisa diam adalah Anita, ini pertama kalinya dia melihat boneka sebanyak ini. Dia terus-menerus menengok kesana kemari sampai keluar rumah boneka. Dan wahana selanjutnya adalah Arum jeram, disana lagi-lagi Zaki terus menerus menahan muntahnya. Di perahu yang kami naiki, kami terus menerus terombang-ambing kesana kemari. Akibatnya, kami berlima hampir basah kuyup karena air yang menerjang. Tak terasa waktupun berjalan dengan cepat, kami berlima memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu dan melanjutkan wahana setelah jam 7 malam. Setelah beristirahat dan makan, kamipun melanjutkan untuk kewahana selanjutnya, yaitu wahana pameran pahlawan dengan teknologi simulator 4D. Setelah itu, kami akan menaiki Giant Swing, di giant swing, kita akan berputar-putar pada ketinggian 18 meter. Tentu saja itu menjadi ujian yang sangat berat bagi orang seperti Zaki. Dia bahkan pernah berencana untuk kabur dari kami berempat, tetapi berhasil kutahan. Anita dan Leila juga sempat ragu-ragu untuk menaikinya tetapi Sindy berhasil meyakinkan mereka. Sempat terbesit dipikiranku bahwa Sindylah cewek yang paling berani yang pernah kutemui, ya walau cewek yang kukenal hanya Sindy, Leila, Anita, mbak Dinda, dan mbak Anna. Zaki yang ditarik olehku itupun mau-tak-mau harus ikut dengan kami, diapun menutup matanya dan berharap kali ini dia tidak muntah. Tapi nihil, seusai menaiki wahana tersebut Zaki sangatlah mabok berat. Bahkan dia sampai tak sanggup berdiri, dia sangat menyusahkan. Padahal dia yang mengajak kami berempat ke Happyland ini. Kami berempat merasa sangat kasihan terhadap Zaki, jadi, kami memutuskan untuk tidak menaiki wahana yang ekstrem seperti tadi.copyright protection88PENANAHeRfkgCCig

“Zakarya, apa kau baik-baik saja?” tanya Sindy saat melihat Zaki yang lemas sambil memegang sebotol air mineral.copyright protection88PENANAii6yzgqhUf

“Um.... aku baik-baik saja.... setidaknya sampai aku tidak menaiki wahana yang membuat isi perutku bergejolak seperti tadi...”copyright protection88PENANANgTr8aX0Gk

“Bagaimana ini.... apa kau bisa melanjutkannya, Maulana.......?”copyright protection88PENANAOnyGCSWfvf

“Ya, aku bisa melanjutkannya...... jika saja, wahana itu tidak mengocok isi perutku....”copyright protection88PENANAvOyBn7SNpM

“Kalau begitu kita tidak punya pilihan lain ya, kita tidak bisa menaiki wahana ekstrem seperti tadi itu.” Kataku sambil memberikan botol mineral yang baru.copyright protection88PENANA3d2WEb6BbM

Karena itu, selanjutnya kami melanjutkan ke wahana Special Effects Action, itu adalah tempat pertunjukkan yang mengungkap rahasia dari berbagai film action, seperti peristiwa ledakan, tembakan, semburan air, dan masih banyak lagi. Setelah itu kami akan menonton film 4 dimensi dengan menggunakkan kacamata 4D, ini adalah salah satu tempat favoritku. Karena disini kita bisa merasakan sensasi seakan-akan kita berada di dalam film tersebut. Selanjutnya kami memasuki Dunia Salju, disana kita bisa merasakan sensasi seperti halnya kita berada di daerah bersalju, disana aku dan Zaki terus menerus melakukan perang bola salju sementara Sindy, Leila, dan Anita membuat boneka salju. Anita membuat boneka salju yang sangat aneh karena dia tidak tahu apa itu boneka salju, Sindy membuat boneka salju yang sangat sempurna sementara Leila belum menyelesaikan boneka saljunya karena dia membantu Anita membuat boneka saljunya. Disanalah kami paling lama menghabiskan waktu, sekitar 40 menit kami berada disana, dan tak terasa sudah jam 11 malam. Sebenarnya kami berlima berencana untuk merayakan tahun baru di happyland. Tepat pukul 12 malam nanti petasan akan dinyalakan di happyland. Mulai dari petasan bambu sampai petasan pelontar. Petasan akan dinyalakan di kastil boneka dan para pengunjung bisa menontonnya di lapangan yang berada tepat di depat kastil boneka. Saat kami sampai di lapangan itu, kami mendapat posisi di tengah  keramaian pengunjung yang posisinya tak terlalu jauh maupun tak terlalu dekat dengan kastil boneka.copyright protection88PENANAVZauFNnC2S

“Ramainya....” kata Sindy yang berdesakkan dengan pengunjung lainnyacopyright protection88PENANASyGqa3y2RX

“Kalau begini terus, kita takkan bisa melihat petasan itu dong......” katakucopyright protection88PENANAOUaRRO2Yqe

“Bagaimana ini.....” kata Leila yang sudah mulai pusing karena dorongan dari para pengunjungcopyright protection88PENANALleVPUJcxL

“Begini saja, bagaimana kalau kita menaiki Biang Lala saja? Dengan begitu petasan akan terlihat dengan jelas bukan?”copyright protection88PENANA5pkMPuPnxH

“boleh juga idemu, Zaki. Tapi, apa kau yakin? Bisa-bisa kau muntah lagi, lho”copyright protection88PENANAlmCwdtkgsK

“Tenang saja, kali ini aku pasti akan baik-baik saja.” Kata Zaki sambil menepuk-tepuk dadanya. Ide unik milik Zaki itupun disetujui oleh kami semua, kamipun berjalan menuju ke wahana biang lala. Kami terus berjalan melawan waktu, kami terus menuju ke wahana itu di tengah-tengah keramaian ini. Desakan dan dorongan terus menghampiri kami, tetapi kami tidak menyerah begitu saja. Sesekali aku melihat jam, “gawat, sekarang pukul 23:40....”. dan setelah semua perjuangan kami, kamipun sampai di wahana biang lala tersebut. Di sana agak ramai, tetapi, cukup untuk kami berlima untuk bisa menaiki wahana tersebut dan menikmati malam tahun baru. Kami sempat mengantri selama sekitar 8 menit sampai pada akhirnya kami berlima dapat menaiki wahana tersebut. Diantara kami berlima, Anitalah yang memiliki rasa ingin tahu paling tinggi. Dia sangat tertarik untuk melihat pergantian tahun ini, sampai-sampai tatapannya terus-menerus menempel kearah kastil boneka tersebut. Aku mengecek jam dan mengela nafas penuh rasa lega. “Sip, kalau begini kita akan sempat!” perlahan-lahan biang lalapun berputar, dan posisi kamipun semakin naik keatas, dan saat kami sudah mencapat puncak paling tinggi, biang lalapun berhenti berputar. Keadaan yang riuh menjadi sunyi seketika, yang bisa kudengar hanyalah percakapan Zaki dan yang lainnya dan suara angin yang berhembus. Tak lama kemudian akupun kembali melihat jam dan berkata. “Baiklah semuanya, ayo kita mulai hitung mundurnya!”copyright protection88PENANAvd6J9WES9b

“5.... 4..... 3..... 2.... 1.... selamat tahun baru!” dan petassanpun diluncurkan. Suasana yang sunyi langsung berubah 180 derajat, semua orang bersorak menyambut tahun baru ini. Semuanya bersuka ria, Zaki terus-menerus berteriak “Selamat tahun baru!!!” dialah orang yang paling berisik yang pernah kukenal. Sementara itu Leila dan Sindy terus membicarakan tentang warna mana yang paling mereka suka dari petasan-petasan itu, dan Anita hanya terdiam memandangi petasan-petasan tersebut. Sementara aku, aku hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka berempat. Aku berusaha untuk menikmati setiap detik kejadian yang kualami malam ini, ini adalah malam yang takkan bisa kulupakan. Tak lama kemudian Zaki mengajakku merayakan malam tahun baru ini dengan meneriakkan selamat tahun baru. Pada awalnya aku menolak, tetapi dia terus saja memaksaku sampai aku mau. Zaki adalah tipe orang yang dimana bila dia mengajak, maka dia akan terus memaksakan ajakannya itu. Mungkin terdengar egois, tetapi itulah Zaki. Dia adalah teman terbaik yang pernah kumiliki. Mau seperti apapun kau menolak, dia pasti akan terus-menerus mengajakmu dan aku tahu benar bahwa percuma saja menolak. Tetapi, aku bersyukur punya teman seperti Zaki, Leila, Sindy, dan Anita. Setelah perayaan tahun baru selesai, kami berlimapun pulang. Kami berpisah di rumahku, tetapi sebelum Anita pergi. Dia sempat berkata “Maafkan aku, jika aku pernah berbohong....” aku sama sekali tidak mengerti maksudnya itu, pada awalnya aku ingin menanyakan maksudnya, tetapi Anita sudah pergi terlebih dahulu.copyright protection88PENANAEeAY0ptQN1

54.83.81.52

ns54.83.81.52da2
Comments ( 0 )

No comments yet. Be the first!
Loading...
X