Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Action
Online Game
Start Point
Writer Izul
Writer
  • G: General Audiences
  • PG: Parental Guidance Suggested
  • PG-13: Parents Strongly Cautioned
  • R: Restricted
PG
RATED
2322 Reads
23 Likes
2 Bookmarks
Popularity

Facebook · Twitter

FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018

Get it on Google Play

Download on the App Store

Follow Author
Start Point
2 Bookmarks
A - A - A
10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21
#16
Selamat Tahun Baru
By Izul
Izul
Jan 17, 2017
1
0
106
17 Mins Read
No Plagiarism!NvjxMh42vA1lV9nQw0QQposted on PENANA

Dua hari kemudian, aku dan Anita sudah boleh dipersilahkan untuk pulang. Hari itu mendung dan begitu dingin. Awal desember adalah saat-saat dimana hujan biasa turun dan cuaca menjadi mendung. Bahkan tak jarang terjadi banjir di area tertentu di kota ini.copyright protection106PENANAZeeKyKVXNB

Saat itu kami sedang menunggu tumpangan dari Zaki. Sebelumnya aku telah menelponnya untuk menjemput kami berdua, namun aku sama sekali tak menduga bahwa ini akan memakan waktu lebih lama dari yang kubayangkan. Aku menengok kearahnya. Walau sudah lewat beberapa hari, namun nampaknya dia masih merasa bersalah karena penyerangan itu. Wajahnya masih nampak murung dan mendung. Kulepas syal milikku lalu mengalungkannya kepadanya.copyright protection106PENANAcA6v7SNbVi

Anita yang sebelumnya sedang melamun baru menyadari syal tersebut tak lama setelah kupakaikan kepadanya. Dia menengok kearahku dengan wajah polos nan bingungnya “Sejak kapan...?”copyright protection106PENANAMXEI61yC1p

“Hari ini begitu dingin, jadi sebaiknya kau mengenakkan itu.”copyright protection106PENANAt0DHLcsGaf

“Tapi bagaimana denganmu?”copyright protection106PENANAimPoSWhF8d

“Tenang saja, bagi lelaki sepertiku, dingin bukanlah masalah.” Aku tersenyum lebar sembari menggesek-gesekkan kedua tanganku agar hangat. Tak lama kemudian, Zakipun tiba. Dia memarkirkan motornya tepat dihadapan kami berdua dan sedikit menghalangi jalur dimana kendaraan biasa berlalu. Bahkan dengan santainya dia duduk di motornya sembari melepas helmnya dan bersiul. Entah reaksi seperti apa yang harus kukeluarkan saat itu atas apa yang baru saja dilakukannya. Namun saat itu aku merasa sangat malu karena ulahnya.copyright protection106PENANAXVaBDhCcTE

Aku berjalan menghampiri Zaki dengan wajah yang tertunduk. Sementara Zaki mengambil helm yang akan kugunakkan yang sebelumnya dia gantung di jok motornya. Tiba-tiba wajahku terdongkak seketika teringat dengan Anita. Aku belum bertanya kepadanya mengenai dengan siapa dia akan pulang. “Oh ya Anita, kenapa kau tidak pulang bersamaku dan Zaki saja? Motor ini masih muat untuk satu orang lagi, kok.”copyright protection106PENANABnFf4qrw7C

“Ah, maaf, tapi nanti Pak Alfred sebagai supirku akan menjemputku.” Dia menggelengkan kepalanya perlahan. Dengan matanya yang tertutup dan alisnya yang sedikit terangkat, dia tersenyum kaku.copyright protection106PENANAMqYBOQy6vH

“Kalau begitu, sampai jumpa jam 3 sore nanti ya.” Kukenakkan helm yang diberikan Zaki lalu menaiki motornya. Kulambaikan tanganku sesaat setelah motornya sudah mulai berjalan. Kulambaikan tanganku hingga akhirnya aku dan Zaki berbelok dan pergi meninggalkan Anita.copyright protection106PENANAjtCt5gKHtE

“Jam 3, ya....” Anita mengambil smartphonenya dari dalam kantung jaketnya lalu menatap jam yang terdapat dilayarnya.copyright protection106PENANAm411k6sMDA

***copyright protection106PENANAop0m1PdAWJ

Pukul 3 sore.copyright protection106PENANAhfcUJibtZE

Mobil bak yang dikendarai Paman Tedipun tiba di depan rumah lamaku dengan aku yang berada bersamanya. Mobil tersebut membawa barang-barang milikku dari rumah kontainerku. Barang-barang tersebut seperti lemari, meja, pakaian dan masih banyak lagi.copyright protection106PENANA8mJan3gQPU

Sesaat setelah mobil sudah diparkirkan, Anita keluar dari dalam rumah dan menyambutku dan Paman Tedi. Sementara itu, Zaki yang membuntutiku menggunakkan motornya, langsung memarkirkannya dan berlari memasuki rumahku seakan rumah tersebut rumahnya sendiri.copyright protection106PENANArdkrAlhOVd

Entah mengapa, aku mendapat firasat bahwa dia akan langsung segera mengacak-acak rumahku. Akupun langsung berlari mengejarnya memasuki rumah dan mencegahnya untuk tidak melakukan hal yang sembrono.copyright protection106PENANAxdtK7c2iG2

Namun, yang kudapatkan hanyalah Zaki yang sedang terduduk lemas di sofa. Aku bertanya-tanya kemana hilangnya semangat miliknya tadi sampai akhirnya kusadari bahwa kulkas yang ada di dapur terbuka lebar. Kuhampiri kulkas tersebut lalu menutupnya.copyright protection106PENANAXOoGZMJgDz

“Kulkasnya... kosong.” Gumam Zaki.copyright protection106PENANAa4MvwnQObM

“Tentu saja kosong, memangnya apa yang kau harapkan?” Aku kembali keluar dari dapur lalu berjalan kembali keluar rumah karena kurasa semuanya akan baik-baik saja selagi Zaki tak mendapatkan semangatnya kembali.copyright protection106PENANA1JZut6Hwpn

Anita yang melihatku keluar dari dalam rumahpun menghampiriku “Dimana Zakarya?”copyright protection106PENANAymcX3bKNsn

“Di dalam, sedang merenungi nasibnya.”copyright protection106PENANAmCs97ZwYNI

“Dimo, kemarilah! Bantu aku mengangkat barang-barangmu ini.”copyright protection106PENANAKOrKjVQ0rg

Aku mendengar suara panggilan dari Paman Tedi yang sedang berusaha mengangkat barang-barang milikku. “Baik.” Aku berlari menghampiri Paman Tedi lalu membantunya.copyright protection106PENANAo0DAYGMJte

Kamipun mulai mengangkut barang-barang dan memasukkannya kedalam rumah. Satu jam kemudian, Sindy dan Leilapun tiba. Sebelumnya, mereka berniat berangkat bersama kami, namun karena suatu alasan, mereka menjadi terlambat satu jam.copyright protection106PENANA7PRzZZyvXl

Berjam-jam berlalu tanpa kami sadari. Dan akhirnya seluruh barang telah berhasil diangkut kedalam rumah.copyright protection106PENANAeIaFstAju2

“Akhirnya.... selesai juga.” Kujatuhkan tubuhku yang letih kesofa dan berbaring diatasnya. Empuknya sofa seakan langsung membuat rasa letihku lenyap.copyright protection106PENANAAS2dt1TfKn

“Rumahmu besar ya.”copyright protection106PENANAuRdlqclZIj

Aku angkat tubuhku dan duduk di sofa. Kutengok sumber suara itu berasal yang ternyata adalah Sindy yang sedang duduk di sofa sembari terus mengganti channel tv.copyright protection106PENANAkW2vBuZcOt

“Ya, benar.” Aku bersandar sembari menengok keatas—menatap langit-langit ruang tamu yang sedikit berdebu.copyright protection106PENANAeomhBPiv52

“Hei...”Aku kembali tertunduk menatap Sindy yang memanggilku. Wajahnya yang tertunduk dan sedikit memerah. Poni rambutnya yang menutupi matanya membuatku tak tahu ekspresi seperti apa yang sedang dikeluarkannya saat ini. “Ka-kau tahu, dulu kau pernah bilang bahwa kau punya teman yang sangat suka bermain game, namun dia memiliki kemampuan yang payah,’kan?”copyright protection106PENANASAT5Wkihj0

“Ya.... kurasa aku memang berkata seperti itu.” Aku menggaruk rambutku sembari melirik keatas. Entah mengapa aku tak sanggup menatap wajah Sindy. Saat ini, aku merasakan sebuah suasana yang sangat canggung diantara kami berdua. Aku bahkan sama sekali tidak mengerti mengapa Sindy tiba-tiba menanyakan hal itu.copyright protection106PENANAAEXC9z78LV

“Apa jangan-jangan.... kau ini Ram—”copyright protection106PENANAC0kZiVPArU

“Wah....”copyright protection106PENANADkvxqrRIIb

Tiba-tiba suasana canggung langsung pecah bersamaan dengan munculnya suara Zaki. Sindy yang sebelumnya menunduk langsung terangkat dan menengok kearah suara Zaki berasal. Zaki sedang bersembunyi di balik sebuah sofa yang arahnya bertolak belakang dengan arah dimana sofaku menghadap. Sementara Leila dan Anita yang berdiri di belakangnya. Wajah Leila yang nampak merah merona sementara Anita yang wajahnya begitu tenang seakan tak bisa mengerti situasi yang sedang terjadi.copyright protection106PENANAJjPGWZf481

Aku perlahan berjalan mengendap-endap menghampiri sofa dimana Zaki bersembunyi, lalu kudorong sofa tersebut sehingga jatuh menimpa Zaki dan kunaiki sofa tersebut sehingga dia tidak bisa bangun kembali. “Sudah kubilang untuk berhenti melakukan candaan itu! Apa kau sudah bosan hidup?”copyright protection106PENANAZL2kKkgzVH

“Maaf, maaf, iya aku kapok! Pokoknya angkat dulu sofa ini.” Kata Zaki dengan nada suara seperti orang yang sedang sesak. Dia menepuk-nepuk sofa tersebut sembari mencoba mangangkatnya, namun dia tak sanggup. Dia tidak tahu bahwa saat itu sofanya sedang kutindihi.copyright protection106PENANAuy1Z5rqXa9

Merasa sudah cukup puas membalasnya, aku turun dari sofa lalu kuangkat sofa tersebut. Akupun kembali duduk disofa sembari menghela napas panjang. Sementara Zaki kembali berdiri dan membersihkan pakaiannya.copyright protection106PENANA8TtYzpXPt5

Aku teringat kembali dengan kata-kata Sindy. Andai saja dia dapat menyelesaikan kata-katanya, aku mungkin bisa mengerti apa maksudnya. “Oh ya, Sindy, tadi kau mau bilang apa?”copyright protection106PENANARtQTNBe3a9

“Ti-tidak, bukan apa-apa.” Sindy dengan cepatnya merespon jawabanku sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Namun rasanya ada yang aneh dari senyumannya.copyright protection106PENANALFIMEOe5Lo

“(Bukan apa-apa, ya.....)”copyright protection106PENANAfUhISR8QGC

***copyright protection106PENANAVy5MrTnFXy

Beberapa hari kemudian.copyright protection106PENANAPJdxvSlKX7

Karena insiden penyerangan yang terjadi, murid-murid mulai menjaga jarak dengan Anita. Aku dan Dia menjadi terkenal karena kamilah satu-satunya korban dari insiden tersebut. Ditambah lagi, insiden penyerangan ini terjadi tak lama setelah dia masuk ke sekolah ini. Karena itulah mulai bermunculan gosip dan rumor mengenai Anita.copyright protection106PENANA8d1pVUh3KY

Saat itu kami sedang istirahat di kantin sekolah. Seperti biasa, semuanya membawa bekalnya masing-masing terkecuali aku. Namun Zaki lupa membawa bekalnya dan meninggalkannya di dalam tasnya yang ada di kelas.copyright protection106PENANAGGwLsXFQDD

Sembari membuka bungkus dari roti yang baru saja kubeli, aku melihat Anita yang hanya tertunduk terdiam menatap bekalnya. Nampaknya dia terpikir dengan segala gosip dan rumor buruk mengenai dirinya. “Tenang saja, tak usah pikirkan perkataan mereka.”copyright protection106PENANApsmD0SvlCt

“Maaf, hanya saja....” Wajahnya langsung terdongkak menatapku sembari tersenyum kaku. Dia menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. Senyuman kakinya yang begitu nampak membuatku sadar bahwa dia begitu memikirkan rumor dan gosip buruk mengenai dirinya.copyright protection106PENANAtKGuaBosF9

“Yo, semuanya. Maaf sudah membuat kalian menunggu.” Zaki datang dengan napas yang berantakan. Itu membuatnya terlihat bahwa dia baru saja berlari kesini dengan sekuat tenaga. Meski begitu, tak ada seorang pun terkecuali Leila yang membalas salam Zaki dengan riang. Leila jugalah satu-satunya yang tidak memakan bekalnya demi menunggu Zakicopyright protection106PENANAqlPW7iUN9y

“Walah, kalian semua kejam karena tidak menungguku.” Zaki duduk di sebelah Leila “Lihat, hanya Leila yang baik padaku.” Zaki menunjuk Leila yang sedang mulai membuka bekalnya. Menyadari itu, Leila tersenyum sembari memberi jempol.copyright protection106PENANAqy1Nb1FGnh

“Oh ya, ngomong-ngomong tadi di kelas kudengar harga Happyland untuk malam tahun baru nanti akan diskon.” Zaki mulai membuka bekalnya.copyright protection106PENANAaQ2QldsKF8

“Sungguh?” Tanya Leila dengan penuh Antusias.copyright protection106PENANAT5uI1B0Wp9

“Ya, tadi aku sempat mencari informasi dari web resmi Happyland, dan ternyata itu benar.” Zaki menaruh sendoknya kembali kedalam kotak bekal lalu merogoh kantung celananya untuk mengambil smartphone miliknya. Dia tunjukkan jadwal tersebut kepada kami satu-persatu.copyright protection106PENANAuPIvCTwiAU

“Coba kuperiksa.” Sindy mengulurkan tangannya kepada Zaki untuk mengambil Smartphone milik Zaki. Zaki berikan Smartphone itu lalu kembali melanjutkan makannya.copyright protection106PENANAzLKCB6P3Qu

Sementara kami sedang asik membicarakan Happyland, Anita hanya terdiam sembari memakan bekalnya. Seakan dia berusaha menjaga jarak dari kami agar kami juga tidak terkena imbas dari gosip dan rumor buruk miliknya. ”Oh ya, bagaimana jika Anita juga ikut?”copyright protection106PENANAbKAFsBhtyG

Anita tertegun. Leila, Zaki dan Sindy yang sebelumnya sibuk mengobrol langsung menengok kearahku dan Anita. Merasa tak nyaman, Anita membuang muka dari kami lalu mencengkram rok miliknya. Dia sangat yakin bahwa takkan ada seorangpun yang setuju dengan usulanku. Tapi....copyright protection106PENANAD2wlx9f4rQ

“Ide bagus! Makin banyak cewek makin mantep.” Zaki tersenyum lebar sembari mendongkak kearahku dan menepuk-nepuk pundakku.copyright protection106PENANAY1BJEcPtgG

“Boleh juga, mengapa tidak?” Sindy berpangku dagu sembari menatap Anita dengan senyum lembutnya.copyright protection106PENANAYsqy8TapmI

“Ani...!” Leila langsung dengan cepatnya mendekati Anita lalu memeluknya.copyright protection106PENANA6ZKDliNAnf

Melihat reaksi mereka bertiga, Anita langsung menengok kearah mereka dan tidak membuang pandangan. Wajahnya menjadi merah merona dan matanya yang lesu berubah menjadi berbinar. Ekspresi mendungnya langsung terhapusakn dan digantikan dengan ekspresi yang begitu cerah seperti langit biru. Dia nampak begitu tak menduga bahwa dia akan mendapat reaksi seperti itu dari Zaki dan yang lainnya. Meski sudah beredar rumor dan gosip buruk tentangnya, mereka tetap menganggap Anita sebagai teman.copyright protection106PENANAqmg26VeVov

Dan begitulah, kami termasuk Anita setuju untuk merayakan tahun baru di Happyland.copyright protection106PENANACmX2V5V5vh

***copyright protection106PENANANChyfCR3cf

Hari yang nantipun telah tiba.copyright protection106PENANAiDCzFIuUET

Sebelum pergi berangkat, kami memutuskan untuk berkumpul terlebih dahulu di rumahku. Terlebih lagi, Anita yang tak terbiasa melakukan hal seperti ini. Karena itulah kami memutuskan rumahku sebagai tempat berkumpul. Kami akan berkumpul di rumahku pada pukul 19:00. Tentu saja, Anitalah yang pertama kali tiba di rumahku. Dengan mengenakkan jaket dan switer berwarna hitam, meski begitu, wajahnya nampak memerah karena gugup. Beberapa menit kemudian, Sindy dan Leilapun tiba. Sindy dengan kemeja berwarna merah dengan motif kotak-kotaknya serta celana levis berwarna hitam. Sedangkan Leila dengan kemeja putih yang dipadu riaskan dengan switer berwarna oranye.copyright protection106PENANApggmibsegY

Sepuluh menit kemudian Zaki akhirnya tiba. Dengan santainya ia melepas helmnya serta berjalan menghampiri kami sembari melambai-lambaikan tangan kanannya yang memegang 5 buah tiket menuju Happyland. Padahal, dialah yang memegang tiket, namun dia jugalah yang datang terakhir. Dengan pakaiannya yang nampak mencolok yaitu jaket berwarna hijau dan juga headphone yang terkalung di lehernya.copyright protection106PENANAw4ANDQquTD

Di Happyland.copyright protection106PENANAKchmLW4gRI

Aku, Sindy, Leila, Zaki dan Anita begitu terkejut saat melihat keramaian. Kami memang sudah tahu bahwa tempat ini akan ramai pada saat malam tahun baru, namun kami sama sekali tidak menduga akan seramai ini. Tempat ini sudah seperti permen yang dikelilingi oleh sekumpulan semut. Diantara kami berlima, Anitalah yang nampaknya begitu terkesima dengan keadaan seramai ini. Wajahnya memerah dan berkeringat dingin. Dia terus melirik kesana-kemari seakan saat-saat itu begitu langka baginya.copyright protection106PENANA9gYpDhA6vR

“Ada apa, Anita?” tanyaku.copyright protection106PENANA41VEPyvf3o

Dia yang awalnya tak merespon pertanyaanku, langsung terdongkak saat aku menyentuh pundaknya. “Ti, tidak, bukan apa-apa. Hanya saja... ini pertama kalinya aku melihat orang seramai ini.” Anita menggeleng lembut sembari tersenyum kecut. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat melihat kerumunan orang sebanyak itu.copyright protection106PENANATNBa9m7eDY

“Hei kalian berdua, lewat sini!” Zaki memanggil kami. Dia, Leila dan Sindy yang sedang mengantri untuk memasuki gerbang utama. Akupun mengangguk lalu menggandeng Anita menuju antrian melewati keramaian.copyright protection106PENANAWMfVbTcMZI

Pertama, kami menaiki wahana Rollercoaster. Kami berempat begitu antusias untuk menaiki wahana tersebut terkecuali Zaki. Disaat Rollercoaster sudah mencapai puncak, angin mulai berhembus kencang dan membuat sekujur tubuhku merinding. Semuanya terkecuali Zaki, mulai mengangkat kedua tangannya. Sementara semuanya mengangkat kedua tangannya, Zaki lebih memilih menunduk dan berpegangan kencang kepada pengaman, dia bahkan sampai membaca ayat kursi.copyright protection106PENANAD4KyIA7eQa

Semuanya berteriak begitu kencang saat Rollercoaster mulai melaju begitu kencang menuruni puncak rel. Angin berhembus begitu kencang meniup wajah dan pakaian kami. Suasana begitu riuh sekaligus menyenangkan, tentu saja hal ini tidak berlaku kepada Zaki. Disaat Rollercoaster mulai melaju, bacaan doanya semakin kencang. Bahkan dia sempat salah membaca doa dan hampir saja muntah akibat guncangan dari Roller Coaster. Disaat itu, wajahnya mulai memucat dan dia mulai melemas seperti daun.copyright protection106PENANADJYeT8B0me

Setelah menuruni Rollercoaster, Sindy, Leila dan Anita nampak begitu menikmatinya. Mereka terus berbincang-bincang mengenai wahana tadi. Sementara itu, aku membantu Zaki yang nampak pucat sejak menuruni wahana tersebut. Akupun membeli air minum dan memberikannya kepada Zaki agar dia merasa baikan.copyright protection106PENANAZj0efc7sY7

Wahana selanjutnya adalah rumah hantu. Zakilah yang dengan bangganya menyarankan wahana ini. Setelah apa yang terjadi sebelumnya, nampaknya rasa malu miliknya sudah setipis kertas majalah. Dia juga menyarankan agar kami memasuki rumah hantu secara berpasang-pasangan. Sementara yang lainnya setuju dengan saran Zaki, apalagi Leila yang langsung setuju setelah melirikku. Aku bisa melihat dengan jelas motiv dibaliknya. Dia pasti berharap untuk memasuki rumah hantu itu bersama salah satu diantara Sindy, Leila dan Anita. Lalu, disaat hantunya muncul, dia akan merasa sangat senang jika pasangannya langsung memeluk dirinya karena ketakutan.copyright protection106PENANAaCbVbUvi8l

Dan beginilah, kami akhirnya melakukan undian dengan cara hompimpa.copyright protection106PENANAtL5s0YABZX

Nahas baginya, harapannya langsung hancur saat dia tak memiliki pasangan sama sekali. Dia lupa bahwa jumlah kami ganjil sehingga mau tidak mau salah satu orang pasti akan masuk sendirian. Tak mau rencananya gagal, diapun meminta undian ulang, namun tak ada satupun dari kami yang menghiraukannya.copyright protection106PENANAPZhQdw2lZ1

 Hasil dari undian tadi yaitu aku berpasangan dengan Sindy, lalu Leila dengan Anita, sementara Zaki sendirian.  Namun, untuk urutan masuk, kami berdualah yang mendapat urutan terakhir.copyright protection106PENANAtaDF5OzA7I

Oh ya, aku penasaran reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan oleh Sindy. Selama ini, dia tak sering menunjukkan ekspresinya. Terakhir kali aku melihat dirinya penuh ekspresif adalah disaat insiden ledakan di penyerangan saat itu, lalu saat dia salah paham tentang hubunganku dengan Anita, disaat dia tahu bahwa aku belum memberi tahu Anita tentang waktu kehidupannya yang tersisa dan yang terakhir adalah saat dia mengajakku mengobrol saat pindahan.copyright protection106PENANAWAu12u0D60

Oh ya, aku masih penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya saat itu.copyright protection106PENANAAVZSMdoOzn

Kamipun masuk. Hantu-hantu terus bermunculan menghadang kami berdua. Namun tanpa kuduga sama sekali, tak ada satupun hantu yang membuatnya takut. Sebaliknya, tanpa terkecuali semua hantu yang ada justru membuatku takut. Wajahnya begitu tenang.copyright protection106PENANAP2xtHDhheo

Tanpa kami sadari, kami berdua akhirnya tiba di pintu keluar dari rumah hantu. Disaat aku akan membuka pintu dengan meraihnya dengan tangan kananku, tanpa kusadari Sindy yang selama ini berpegangan pada lengan kausku.  Dia mencubit kausku dengan kencang. Aku terlalu fokus dengan ekspresi di wajahnya tanpa menyadari bahwa masih ada cara lain untuk menunjukkan perasaannya. Dia juga nampaknya tak sadar bahwa selama ini dia melakukan itu dan baru menyadarinya saat aku mengangkat tangan kananku.copyright protection106PENANAZaZuc2YcF4

Dengan cepat, dia langsung melepaskan cubitannya lalu menunduk. Aku juga bingung dengan apa yang sebaiknya kukatakan untuk memecah kecanggungan diantara kami berdua. “Se-sebaiknya kita segera keluar, yang lainnya pasti sudah menunggu kita.” Aku langsung meraih kenop pintu lalu membukannya.copyright protection106PENANAdg0c8MpwBZ

***copyright protection106PENANAUr2sUJ5c1k

Tanpa terasa, waktu sudah berlalu. Tak terasa sekarang sudah pukul 11 malam. Oh ya, khusus malam tahun baru, Happyland akan buka hingga pukul 2 malam. Karena itulah banyak orang yang lebih memutuskan untuk menghabiskan malam tahun barunya di sini.copyright protection106PENANAB1uBvHDuUi

Tepat pukul 12 malam nanti, akan dinyalakan petasan. Mulai dari petasan bambu hingga petasan pelontar. Petasan akan diadakan tepat di Kastil Boneka, tepat di hadapan Kastil Boneka terdapat sebuah halaman dan taman luas yang mampu menampung banyak orang sekaligus. Disaat petasan dinyalakan di atas kastil boneka, maka pengunjung bisa menontonnya sembari menyambut tahun baru.copyright protection106PENANAz7yAjGnJdY

Namun tanpa kami duga, pengunjung tahun ini sangatlah ramai sehingga membuat taman maupun halamannya penuh dengan orang. Saking penuhnya, hingga membuat satu sama lain berdesak-desakkan. Jika begini terus, maka akan sulit untuk melihat petasan.copyright protection106PENANAJ8qLAlvGxw

Saat kusadari, aku sudah terpisah dari yang lainnya. Nampaknya aku terlalu terbawa arus dan dorongan sehingga membuatku terpisah dari Zaki dan yang lainnya. Tiba-tiba, smartphoneku berdering. Kuambil smartphone tersebut dari kantung celanaku lalu memeriksa siapa yang menelponku “Zaki...?” Sebelum mengangkat telepon tersebut, aku langsung menepi ke tempat yang sepi agar terhindar dari suara keramaian ini.copyright protection106PENANA09yvK3dnx7

Aku jawab panggilan telepon itu lalu kudekatkan smartphoneku ke telingaku “Halo, Zaki? Dimana kau?”copyright protection106PENANAG7eeHyV4i8

Halo, Dimo? Saat ini aku, Sindy, Leila dan Anita sedang beristirahat di taman. Bisakah kau segera ke sini?copyright protection106PENANA31gtMROhym

Aku menengok menuju ke arah dimana taman berada, namun jalan menuju ke tempat itu terlalu ramai sehingga tak memungkinkan bagiku untuk bisa pergi kesana “Tidak, tidak bisa. Kurasa tempat ini terlalu ramai. Apa kau punya ide lain untuk melihat petasan tanpa ada gangguan?”copyright protection106PENANAOzvm4gqhDY

Sebentar, aku akan meminta saran kepada yang lainnya.....copyright protection106PENANApk5DzMcuRu

Beberapa menit kemudian.copyright protection106PENANADUwUojLcBk

....Begini saja, bagaimana jika kita melihat petasannya dengan menaiki Biang Lala saja?copyright protection106PENANAzpT5MYlcgZ

“Apa kau yakin?”copyright protection106PENANAaFjgjS3vmU

Ya, saat ini perhatian semua orang sedang berpusat ke tempat ini. Kita pasti bisa menaiki Biang Lala tanpa harus mengantri terlebih dahulu. Di tambah lagi, lokasi wahana Biang Lala yang tak jauh dari tempat ini.copyright protection106PENANA00OwUcPGpr

“Baiklah, aku akan segera kesana.” Kuputus telepon darinya lalu kukantungi kembali smartphoneku. Sembari mencari jalur paling sepi untuk kesana, akupun mulai berlari.copyright protection106PENANA0ZQU4DSpP8

***copyright protection106PENANAo0NHh6AkCX

Aku akhirnya tiba.copyright protection106PENANAeDX3aRg0yF

“Gawat, sekarang pukul 23:52....” Sembari menengok kesana-kemari mencari Zaki dan yang lainnya, aku memeriksa jam di smartphoneku. Aku berlari menghampiri loket masuk wahana agar bisa lebih mudah mencari mereka.copyright protection106PENANArzEhtJVl8L

Tak lama kemudian, merekapun tiba. Meski ngaret beberapa menit, ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tak mau membuang waktu, kamipun langsung membeli karcis dan menaiki Biang Lala sebelum pesta petasan malam tahun baru di mulai. Diantara kami berlima, Anitalah yang nampaknya begitu tertarik dengan malam pergantian tahun ini. Sesaat setelah Biang Lala mulai berputar, Anita terus menerus menatap kearah jendela—kearah dimana pesta petasan diadakan, yaitu Istana Boneka.copyright protection106PENANAtxMhe3oPn1

Meski Biang Lala sudah mencapai puncaknya dan berhenti berputar, dia sama sekali tidak memalingkan wajahnya. Seperti tenggelam di dunianya sendiri.copyright protection106PENANAMBEJFOBVOa

Aku menengok kearah Zaki, Leila dan Sindy yang sedang asik bersiap untuk menghitung mundur. Aku mengambil smartphoneku kembali, sekarang pukul 23:58, pantas saja mereka begitu berantusias.copyright protection106PENANABgJgydZty7

Terompet-terompet diluar mulai berbunyi dan semakin keras. Menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang mulai meniupnya. Meski sudah hampir tengah malam, tak ada satu orangpun yang nampak sudah lelah. Selain terompet, banyak juga yang mulai menyalakan petasan pelontar miliknya sendiri yang sudah mereka bawa dari rumah. Petasan yang saat mencapai puncaknya akan meletus dan berubah menjadi percikan-percikan api kecil berwarna-warni nan indah seperti bunga. Suara terompet dan petasan yang memekakkan telinga begitu terdengar hingga ke dalam Biang Lala. Bahkan untuk berbicara satu sama lain, kami harus mengeluarkan suara yang kencang.copyright protection106PENANAe2E0kT3IJr

Suara terompet semakin kencang dan petasan pelontar yang semakin banyak banyak bermunculan menunjukkan bahwa malam tahun baru semakin dekat setiap detiknya.copyright protection106PENANAJv3neIcQD1

“5.... 4.... 3.... 2.... 1.... Selamat tahun baru!”copyright protection106PENANA0fhJvPXujv

Keramaian mencapai puncaknya. Semua orang berteriak menserukan selamat tahun baru. Petasan pelontar dan yang lainnya yang ada di atas Istana Boneka akhirnya dinyalakan. Warna-warni indah yang terus bermunculan dan mewarnai langit malam yang kelam. Seakan bunga terus bermekaran di langit. Cahayanya begitu terang hingga tak kalah terang dengan cahaya bulan.copyright protection106PENANACxyhySbCBU

Tak lama kemudian, Anita dengan lembutnya menengok kearahku. Dengan senyuman di wajahnya serta pipi yang begitu merona dan begitu cerah. Matanya yang berbinar dan wajahnya yang terus dihiasi oleh cahaya petasan yang terus-menerus berganti. Cahayanya seakan menari-nari dengan indahnya.copyright protection106PENANA3kp6IEPVut

Dia membuka mulutnya. “Dimo, aku.....” Seakan berkata-kata, mulutnya terus bergerak menciptakan setiap kata yang tak bisa kudengar. Suaranya yang begitu kecil membuatya tertutup oleh suara petasan dan terompet. Beberapa kata yang tak bisa kudengar itu, entah mengapa membuat kedua mataku terbelalak. Aku tak bisa memalingkan wajahku sedikitpun darinya.copyright protection106PENANAWuIeee4bIn

Entah mengapa, rasanya ada sesuatu, ada sebuah perasaan yang tak bisa tersampaikan dan terungkapkan melalui kata-kata itu. Jika kubayangkan, rasanya begitu menyedihkan dan juga menyakitkan.copyright protection106PENANAHlUgCt8N5J

Aku menengok kearah Zaki dan yang lainnya yang juga nampak tak mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya. Mereka terus mengobrol sementara aku disini, tak berkata-kata.copyright protection106PENANAH947gML5Hg

Aku kembali menengok kearah Anita. Dia hanya tersenyum lembut sembari  menutup kedua matanya. Lalu kembali menengok menengok kearah petasan.copyright protection106PENANAzELhS0vWce

Sementara itu, aku hanya terdiam membisu tanpa bisa bertanya balik kepadanya. Rasanya, jika aku melakukan itu, ada sesuatu, akan ada sesuatu yang hilang dariku.copyright protection106PENANAkTAf9cIi0N

Rasanya aku akan menjadi kopong.copyright protection106PENANA2IW6QdTBiB

Setelah itu, kamipun bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, kami melakukan foto-foto terlebih dahulu untuk bisa mengabadikan momen-momen yang tak terlupakan ini.copyright protection106PENANARRfD98DF5P

Aku bersyukur mempunyai teman seperti mereka.copyright protection106PENANAUpIuESHmbI

Kamipun pulang.copyright protection106PENANAadq7kgkeSD

Sebelum pulang ke rumah masing-masing, kami sempat berkumpul terlebih dahulu di rumahku untuk beristirahat. Setelah beberapa menit berlalu, kamipun akhirnya berpisah.copyright protection106PENANAPKv5nEd0kj

Aku kembali teringat dengan momen-momen itu. Kata-kata yang tak bisa kudengar tersebut. Anita, dia nampak begitu bahagia. Mungkin ini pertama kalinya dia merasakan momen-momen bahagia seperti ini.copyright protection106PENANAPfIyJnrrKC

Aku merasa bersalah. Aku tak ingin menghapus kebahagiaan itu dari wajahnya, namun betapa egoisnya aku jika aku tidak memberitahunya. Kurasa sekarang sudah saatnya bagiku untuk memberitahu Anita mengenai kondisi tubuhnya. Disaat Anita hendak akan membuka pagar untuk pulang, aku berlari menghampirinya.copyright protection106PENANA9UQA2bRnpJ

Mendengar suara langkah kakiku, diapun berbalik. Menatap diriku yang nampak kehabisan napas akibat berlari. “Anita, ada yang harus kuberitahukan kepadamu sebenarnya tu—”copyright protection106PENANA0fuwkRaySv

“Apa kau, masih punya teh?” Dia menutup pagar lalu tersenyum kepadaku.copyright protection106PENANARHKAguXHWH

***copyright protection106PENANAk5CbGFnx2M

“Ini... awas, masih panas.” Aku menyerahkannya teh. Dia menerima teh tersebut lalu kembali menatap bintang-bintang di langit malam. Sembari bersender di pagar lantai dua ini, dia menatap langit dengan dalamnya. Sesekali dia menyeruput teh miliknya, uap keluar dari mulutnya karena dinginnya malam. Angin malam yang dingin berhembus kencang meniup rambut putihnya yang terang. Aku menghampirinya dan berniat untuk memberi tahunya “Anita....”copyright protection106PENANAh31LzmDKUv

“Apa kau suka novel?” Potong Anita. Dia menengok kearahku dengan penuh penasaran.  Pertanyaan tiba-tibanya itu lagi-lagi memotong kata-kataku.copyright protection106PENANAgLd0mtvjbr

“Um, aku tak terlalu suka membaca novel.... tapi aku suka membaca komik.” Kugaruk rambutku lalu ikut bersender di pagar kayu ini “Memangnya ada apa? Tiba-tiba sekali.”copyright protection106PENANA1wxEHdj4Km

“Sejak dulu, aku selalu ingin menjadi novelis. Aku ingin membayangkan betapa indahnya dunia ini dan menyusun serta mengungkapkannya melalui kata-kata.” Dia menengok kearahku lalu mengedipkan salah satu matanya “Lalu saat novel tersebut sudah rampung, kaulah orang pertama yang akan membacanya.”copyright protection106PENANAR2qTNZgrKa

“A-aku? La-lalu, kenapa kau ingin menjadi novelis?” Aku tersenyum kecut sembari tersipu malu, perasaan malu serta khawatir bercampur menjadi satu.copyright protection106PENANAW0W91iDwCO

“Karena kau. Kau tahu, sejak dulu kau selalu menceritakan kepadaku betapa indahnya pemandangan dan segala hal yang ada di dunia ini. Kaulah orang yang telah memotivasiku untuk menjadi seorang novelis.”copyright protection106PENANAXDkuh2IB7t

“Lalu bagaimana pendapatmu mengenai dunia ini?”copyright protection106PENANAXZvoSjn8K8

“Indah, sangat indah. Bahkan lebih indah dari yang kubayangkan.” Anita kembali menatap lurus kedepan sembari berpangku dagu lalu tersenyum.copyright protection106PENANAjG8fQ9ytFa

***copyright protection106PENANAiDNC85FRHM

54.80.87.250

ns54.80.87.250da2
Comments ( 0 )

No comments yet. Be the first!
Loading...
X