×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Action
Online Game
Start Point
Writer Izul
Writer
  • G: General Audiences
  • PG: Parental Guidance Suggested
  • PG-13: Parents Strongly Cautioned
  • R: Restricted
PG
RATED
2976 Reads
28 Likes
3 Bookmarks
Popularity

Facebook · Twitter

FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018

Get it on Google Play

Download on the App Store

Follow Author
Start Point
3 Bookmarks
A - A - A
10 11 12 13 14 15 17 18 19 20 21 22
#16
Selamat Tahun Baru
By Izul
Izul
Jan 17, 2017
1
0
132
17 Mins Read
No Plagiarism!kNyS18aWtZqviyCOZyUJposted on PENANA

Dua hari kemudian, aku dan Anita sudah boleh dipersilahkan untuk pulang. Hari itu mendung dan begitu dingin. Awal desember adalah saat-saat dimana hujan biasa turun dan cuaca menjadi mendung. Bahkan tak jarang terjadi banjir di area tertentu di kota ini.copyright protection132PENANAzfh5dqoflK

Saat itu kami sedang menunggu tumpangan dari Zaki. Sebelumnya aku telah menelponnya untuk menjemput kami berdua, namun aku sama sekali tak menduga bahwa ini akan memakan waktu lebih lama dari yang kubayangkan. Aku menengok kearahnya. Walau sudah lewat beberapa hari, namun nampaknya dia masih merasa bersalah karena penyerangan itu. Wajahnya masih nampak murung dan mendung. Kulepas syal milikku lalu mengalungkannya kepadanya.copyright protection132PENANAbGxJzySJvm

Anita yang sebelumnya sedang melamun baru menyadari syal tersebut tak lama setelah kupakaikan kepadanya. Dia menengok kearahku dengan wajah polos nan bingungnya “Sejak kapan...?”copyright protection132PENANAIVS1uuQu2L

“Hari ini begitu dingin, jadi sebaiknya kau mengenakkan itu.”copyright protection132PENANAdB1uHfV5ug

“Tapi bagaimana denganmu?”copyright protection132PENANAPFWnpvWier

“Tenang saja, bagi lelaki sepertiku, dingin bukanlah masalah.” Aku tersenyum lebar sembari menggesek-gesekkan kedua tanganku agar hangat. Tak lama kemudian, Zakipun tiba. Dia memarkirkan motornya tepat dihadapan kami berdua dan sedikit menghalangi jalur dimana kendaraan biasa berlalu. Bahkan dengan santainya dia duduk di motornya sembari melepas helmnya dan bersiul. Entah reaksi seperti apa yang harus kukeluarkan saat itu atas apa yang baru saja dilakukannya. Namun saat itu aku merasa sangat malu karena ulahnya.copyright protection132PENANAEXnwZR1Ql3

Aku berjalan menghampiri Zaki dengan wajah yang tertunduk. Sementara Zaki mengambil helm yang akan kugunakkan yang sebelumnya dia gantung di jok motornya. Tiba-tiba wajahku terdongkak seketika teringat dengan Anita. Aku belum bertanya kepadanya mengenai dengan siapa dia akan pulang. “Oh ya Anita, kenapa kau tidak pulang bersamaku dan Zaki saja? Motor ini masih muat untuk satu orang lagi, kok.”copyright protection132PENANACyFD3mSYrn

“Ah, maaf, tapi nanti Pak Alfred sebagai supirku akan menjemputku.” Dia menggelengkan kepalanya perlahan. Dengan matanya yang tertutup dan alisnya yang sedikit terangkat, dia tersenyum kaku.copyright protection132PENANAeh3bEsHBKW

“Kalau begitu, sampai jumpa jam 3 sore nanti ya.” Kukenakkan helm yang diberikan Zaki lalu menaiki motornya. Kulambaikan tanganku sesaat setelah motornya sudah mulai berjalan. Kulambaikan tanganku hingga akhirnya aku dan Zaki berbelok dan pergi meninggalkan Anita.copyright protection132PENANA3pUqWUiXKD

“Jam 3, ya....” Anita mengambil smartphonenya dari dalam kantung jaketnya lalu menatap jam yang terdapat dilayarnya.copyright protection132PENANA1ncG1f2Teu

***copyright protection132PENANAhtLkEqMl1x

Pukul 3 sore.copyright protection132PENANAi5XcvU6NRR

Mobil bak yang dikendarai Paman Tedipun tiba di depan rumah lamaku dengan aku yang berada bersamanya. Mobil tersebut membawa barang-barang milikku dari rumah kontainerku. Barang-barang tersebut seperti lemari, meja, pakaian dan masih banyak lagi.copyright protection132PENANArTeDAfTD97

Sesaat setelah mobil sudah diparkirkan, Anita keluar dari dalam rumah dan menyambutku dan Paman Tedi. Sementara itu, Zaki yang membuntutiku menggunakkan motornya, langsung memarkirkannya dan berlari memasuki rumahku seakan rumah tersebut rumahnya sendiri.copyright protection132PENANA7qATLfkxBm

Entah mengapa, aku mendapat firasat bahwa dia akan langsung segera mengacak-acak rumahku. Akupun langsung berlari mengejarnya memasuki rumah dan mencegahnya untuk tidak melakukan hal yang sembrono.copyright protection132PENANA5Tr35WXcKP

Namun, yang kudapatkan hanyalah Zaki yang sedang terduduk lemas di sofa. Aku bertanya-tanya kemana hilangnya semangat miliknya tadi sampai akhirnya kusadari bahwa kulkas yang ada di dapur terbuka lebar. Kuhampiri kulkas tersebut lalu menutupnya.copyright protection132PENANA3bJiOjyIWI

“Kulkasnya... kosong.” Gumam Zaki.copyright protection132PENANAP49qXUFhsh

“Tentu saja kosong, memangnya apa yang kau harapkan?” Aku kembali keluar dari dapur lalu berjalan kembali keluar rumah karena kurasa semuanya akan baik-baik saja selagi Zaki tak mendapatkan semangatnya kembali.copyright protection132PENANAEya5Bg2ztM

Anita yang melihatku keluar dari dalam rumahpun menghampiriku “Dimana Zakarya?”copyright protection132PENANAowX7PMroun

“Di dalam, sedang merenungi nasibnya.”copyright protection132PENANA6krgKpbqGD

“Dimo, kemarilah! Bantu aku mengangkat barang-barangmu ini.”copyright protection132PENANAHlcSqO9snC

Aku mendengar suara panggilan dari Paman Tedi yang sedang berusaha mengangkat barang-barang milikku. “Baik.” Aku berlari menghampiri Paman Tedi lalu membantunya.copyright protection132PENANAeM9cUYYlnt

Kamipun mulai mengangkut barang-barang dan memasukkannya kedalam rumah. Satu jam kemudian, Sindy dan Leilapun tiba. Sebelumnya, mereka berniat berangkat bersama kami, namun karena suatu alasan, mereka menjadi terlambat satu jam.copyright protection132PENANAJuNbKyAVYh

Berjam-jam berlalu tanpa kami sadari. Dan akhirnya seluruh barang telah berhasil diangkut kedalam rumah.copyright protection132PENANAzGCLz2AIvX

“Akhirnya.... selesai juga.” Kujatuhkan tubuhku yang letih kesofa dan berbaring diatasnya. Empuknya sofa seakan langsung membuat rasa letihku lenyap.copyright protection132PENANAkKKtWFsV0P

“Rumahmu besar ya.”copyright protection132PENANAoKjbV3KvZI

Aku angkat tubuhku dan duduk di sofa. Kutengok sumber suara itu berasal yang ternyata adalah Sindy yang sedang duduk di sofa sembari terus mengganti channel tv.copyright protection132PENANAMzpplYrVHX

“Ya, benar.” Aku bersandar sembari menengok keatas—menatap langit-langit ruang tamu yang sedikit berdebu.copyright protection132PENANAT1HDvDiXyj

“Hei...”Aku kembali tertunduk menatap Sindy yang memanggilku. Wajahnya yang tertunduk dan sedikit memerah. Poni rambutnya yang menutupi matanya membuatku tak tahu ekspresi seperti apa yang sedang dikeluarkannya saat ini. “Ka-kau tahu, dulu kau pernah bilang bahwa kau punya teman yang sangat suka bermain game, namun dia memiliki kemampuan yang payah,’kan?”copyright protection132PENANAMW358Y9Su9

“Ya.... kurasa aku memang berkata seperti itu.” Aku menggaruk rambutku sembari melirik keatas. Entah mengapa aku tak sanggup menatap wajah Sindy. Saat ini, aku merasakan sebuah suasana yang sangat canggung diantara kami berdua. Aku bahkan sama sekali tidak mengerti mengapa Sindy tiba-tiba menanyakan hal itu.copyright protection132PENANABhI1G308YH

“Apa jangan-jangan.... kau ini Ram—”copyright protection132PENANA5RIMvdqNaZ

“Wah....”copyright protection132PENANA6XWa349cXE

Tiba-tiba suasana canggung langsung pecah bersamaan dengan munculnya suara Zaki. Sindy yang sebelumnya menunduk langsung terangkat dan menengok kearah suara Zaki berasal. Zaki sedang bersembunyi di balik sebuah sofa yang arahnya bertolak belakang dengan arah dimana sofaku menghadap. Sementara Leila dan Anita yang berdiri di belakangnya. Wajah Leila yang nampak merah merona sementara Anita yang wajahnya begitu tenang seakan tak bisa mengerti situasi yang sedang terjadi.copyright protection132PENANAlyV4zC7zK5

Aku perlahan berjalan mengendap-endap menghampiri sofa dimana Zaki bersembunyi, lalu kudorong sofa tersebut sehingga jatuh menimpa Zaki dan kunaiki sofa tersebut sehingga dia tidak bisa bangun kembali. “Sudah kubilang untuk berhenti melakukan candaan itu! Apa kau sudah bosan hidup?”copyright protection132PENANAhQXZDsd3go

“Maaf, maaf, iya aku kapok! Pokoknya angkat dulu sofa ini.” Kata Zaki dengan nada suara seperti orang yang sedang sesak. Dia menepuk-nepuk sofa tersebut sembari mencoba mangangkatnya, namun dia tak sanggup. Dia tidak tahu bahwa saat itu sofanya sedang kutindihi.copyright protection132PENANA3nlZxo3HB0

Merasa sudah cukup puas membalasnya, aku turun dari sofa lalu kuangkat sofa tersebut. Akupun kembali duduk disofa sembari menghela napas panjang. Sementara Zaki kembali berdiri dan membersihkan pakaiannya.copyright protection132PENANAlXzh19T8JE

Aku teringat kembali dengan kata-kata Sindy. Andai saja dia dapat menyelesaikan kata-katanya, aku mungkin bisa mengerti apa maksudnya. “Oh ya, Sindy, tadi kau mau bilang apa?”copyright protection132PENANAe0uc08EdbU

“Ti-tidak, bukan apa-apa.” Sindy dengan cepatnya merespon jawabanku sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Namun rasanya ada yang aneh dari senyumannya.copyright protection132PENANACfhXePmhwY

“(Bukan apa-apa, ya.....)”copyright protection132PENANAiSVS9X126L

***copyright protection132PENANAGkMbwMjb0v

Beberapa hari kemudian.copyright protection132PENANA6CKnAYdXgJ

Karena insiden penyerangan yang terjadi, murid-murid mulai menjaga jarak dengan Anita. Aku dan Dia menjadi terkenal karena kamilah satu-satunya korban dari insiden tersebut. Ditambah lagi, insiden penyerangan ini terjadi tak lama setelah dia masuk ke sekolah ini. Karena itulah mulai bermunculan gosip dan rumor mengenai Anita.copyright protection132PENANAVzBRrLPtNV

Saat itu kami sedang istirahat di kantin sekolah. Seperti biasa, semuanya membawa bekalnya masing-masing terkecuali aku. Namun Zaki lupa membawa bekalnya dan meninggalkannya di dalam tasnya yang ada di kelas.copyright protection132PENANAfug1FNNYYO

Sembari membuka bungkus dari roti yang baru saja kubeli, aku melihat Anita yang hanya tertunduk terdiam menatap bekalnya. Nampaknya dia terpikir dengan segala gosip dan rumor buruk mengenai dirinya. “Tenang saja, tak usah pikirkan perkataan mereka.”copyright protection132PENANAt4qes1cFZt

“Maaf, hanya saja....” Wajahnya langsung terdongkak menatapku sembari tersenyum kaku. Dia menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. Senyuman kakinya yang begitu nampak membuatku sadar bahwa dia begitu memikirkan rumor dan gosip buruk mengenai dirinya.copyright protection132PENANApV21MtMCXA

“Yo, semuanya. Maaf sudah membuat kalian menunggu.” Zaki datang dengan napas yang berantakan. Itu membuatnya terlihat bahwa dia baru saja berlari kesini dengan sekuat tenaga. Meski begitu, tak ada seorang pun terkecuali Leila yang membalas salam Zaki dengan riang. Leila jugalah satu-satunya yang tidak memakan bekalnya demi menunggu Zakicopyright protection132PENANAxc4OdJB1IA

“Walah, kalian semua kejam karena tidak menungguku.” Zaki duduk di sebelah Leila “Lihat, hanya Leila yang baik padaku.” Zaki menunjuk Leila yang sedang mulai membuka bekalnya. Menyadari itu, Leila tersenyum sembari memberi jempol.copyright protection132PENANAPcFgq7iDNh

“Oh ya, ngomong-ngomong tadi di kelas kudengar harga Happyland untuk malam tahun baru nanti akan diskon.” Zaki mulai membuka bekalnya.copyright protection132PENANA6dc8eZC1BA

“Sungguh?” Tanya Leila dengan penuh Antusias.copyright protection132PENANAB9MGX0py28

“Ya, tadi aku sempat mencari informasi dari web resmi Happyland, dan ternyata itu benar.” Zaki menaruh sendoknya kembali kedalam kotak bekal lalu merogoh kantung celananya untuk mengambil smartphone miliknya. Dia tunjukkan jadwal tersebut kepada kami satu-persatu.copyright protection132PENANA9SkO8LVroJ

“Coba kuperiksa.” Sindy mengulurkan tangannya kepada Zaki untuk mengambil Smartphone milik Zaki. Zaki berikan Smartphone itu lalu kembali melanjutkan makannya.copyright protection132PENANAIuWUDbTgcv

Sementara kami sedang asik membicarakan Happyland, Anita hanya terdiam sembari memakan bekalnya. Seakan dia berusaha menjaga jarak dari kami agar kami juga tidak terkena imbas dari gosip dan rumor buruk miliknya. ”Oh ya, bagaimana jika Anita juga ikut?”copyright protection132PENANAQNEDtBDTaG

Anita tertegun. Leila, Zaki dan Sindy yang sebelumnya sibuk mengobrol langsung menengok kearahku dan Anita. Merasa tak nyaman, Anita membuang muka dari kami lalu mencengkram rok miliknya. Dia sangat yakin bahwa takkan ada seorangpun yang setuju dengan usulanku. Tapi....copyright protection132PENANA2jyn7H838x

“Ide bagus! Makin banyak cewek makin mantep.” Zaki tersenyum lebar sembari mendongkak kearahku dan menepuk-nepuk pundakku.copyright protection132PENANAMQ2JLFUEV6

“Boleh juga, mengapa tidak?” Sindy berpangku dagu sembari menatap Anita dengan senyum lembutnya.copyright protection132PENANA9MUOpop3iz

“Ani...!” Leila langsung dengan cepatnya mendekati Anita lalu memeluknya.copyright protection132PENANAJkShI0ZR37

Melihat reaksi mereka bertiga, Anita langsung menengok kearah mereka dan tidak membuang pandangan. Wajahnya menjadi merah merona dan matanya yang lesu berubah menjadi berbinar. Ekspresi mendungnya langsung terhapusakn dan digantikan dengan ekspresi yang begitu cerah seperti langit biru. Dia nampak begitu tak menduga bahwa dia akan mendapat reaksi seperti itu dari Zaki dan yang lainnya. Meski sudah beredar rumor dan gosip buruk tentangnya, mereka tetap menganggap Anita sebagai teman.copyright protection132PENANAoQXrzI7tn3

Dan begitulah, kami termasuk Anita setuju untuk merayakan tahun baru di Happyland.copyright protection132PENANAAxPuleTLib

***copyright protection132PENANAk1wdjeei6i

Hari yang nantipun telah tiba.copyright protection132PENANAqu8oWI73cu

Sebelum pergi berangkat, kami memutuskan untuk berkumpul terlebih dahulu di rumahku. Terlebih lagi, Anita yang tak terbiasa melakukan hal seperti ini. Karena itulah kami memutuskan rumahku sebagai tempat berkumpul. Kami akan berkumpul di rumahku pada pukul 19:00. Tentu saja, Anitalah yang pertama kali tiba di rumahku. Dengan mengenakkan jaket dan switer berwarna hitam, meski begitu, wajahnya nampak memerah karena gugup. Beberapa menit kemudian, Sindy dan Leilapun tiba. Sindy dengan kemeja berwarna merah dengan motif kotak-kotaknya serta celana levis berwarna hitam. Sedangkan Leila dengan kemeja putih yang dipadu riaskan dengan switer berwarna oranye.copyright protection132PENANA6M2Whoaa9s

Sepuluh menit kemudian Zaki akhirnya tiba. Dengan santainya ia melepas helmnya serta berjalan menghampiri kami sembari melambai-lambaikan tangan kanannya yang memegang 5 buah tiket menuju Happyland. Padahal, dialah yang memegang tiket, namun dia jugalah yang datang terakhir. Dengan pakaiannya yang nampak mencolok yaitu jaket berwarna hijau dan juga headphone yang terkalung di lehernya.copyright protection132PENANAmuuSIO7W6d

Di Happyland.copyright protection132PENANAexInVF52Ii

Aku, Sindy, Leila, Zaki dan Anita begitu terkejut saat melihat keramaian. Kami memang sudah tahu bahwa tempat ini akan ramai pada saat malam tahun baru, namun kami sama sekali tidak menduga akan seramai ini. Tempat ini sudah seperti permen yang dikelilingi oleh sekumpulan semut. Diantara kami berlima, Anitalah yang nampaknya begitu terkesima dengan keadaan seramai ini. Wajahnya memerah dan berkeringat dingin. Dia terus melirik kesana-kemari seakan saat-saat itu begitu langka baginya.copyright protection132PENANAxP4zLmYWw7

“Ada apa, Anita?” tanyaku.copyright protection132PENANApTBTMkHUgO

Dia yang awalnya tak merespon pertanyaanku, langsung terdongkak saat aku menyentuh pundaknya. “Ti, tidak, bukan apa-apa. Hanya saja... ini pertama kalinya aku melihat orang seramai ini.” Anita menggeleng lembut sembari tersenyum kecut. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat melihat kerumunan orang sebanyak itu.copyright protection132PENANA7vlQSgwYje

“Hei kalian berdua, lewat sini!” Zaki memanggil kami. Dia, Leila dan Sindy yang sedang mengantri untuk memasuki gerbang utama. Akupun mengangguk lalu menggandeng Anita menuju antrian melewati keramaian.copyright protection132PENANAgQ4lqPHoLe

Pertama, kami menaiki wahana Rollercoaster. Kami berempat begitu antusias untuk menaiki wahana tersebut terkecuali Zaki. Disaat Rollercoaster sudah mencapai puncak, angin mulai berhembus kencang dan membuat sekujur tubuhku merinding. Semuanya terkecuali Zaki, mulai mengangkat kedua tangannya. Sementara semuanya mengangkat kedua tangannya, Zaki lebih memilih menunduk dan berpegangan kencang kepada pengaman, dia bahkan sampai membaca ayat kursi.copyright protection132PENANAva774UrMOI

Semuanya berteriak begitu kencang saat Rollercoaster mulai melaju begitu kencang menuruni puncak rel. Angin berhembus begitu kencang meniup wajah dan pakaian kami. Suasana begitu riuh sekaligus menyenangkan, tentu saja hal ini tidak berlaku kepada Zaki. Disaat Rollercoaster mulai melaju, bacaan doanya semakin kencang. Bahkan dia sempat salah membaca doa dan hampir saja muntah akibat guncangan dari Roller Coaster. Disaat itu, wajahnya mulai memucat dan dia mulai melemas seperti daun.copyright protection132PENANABWdWN6dj5w

Setelah menuruni Rollercoaster, Sindy, Leila dan Anita nampak begitu menikmatinya. Mereka terus berbincang-bincang mengenai wahana tadi. Sementara itu, aku membantu Zaki yang nampak pucat sejak menuruni wahana tersebut. Akupun membeli air minum dan memberikannya kepada Zaki agar dia merasa baikan.copyright protection132PENANAxlmBHNrobd

Wahana selanjutnya adalah rumah hantu. Zakilah yang dengan bangganya menyarankan wahana ini. Setelah apa yang terjadi sebelumnya, nampaknya rasa malu miliknya sudah setipis kertas majalah. Dia juga menyarankan agar kami memasuki rumah hantu secara berpasang-pasangan. Sementara yang lainnya setuju dengan saran Zaki, apalagi Leila yang langsung setuju setelah melirikku. Aku bisa melihat dengan jelas motiv dibaliknya. Dia pasti berharap untuk memasuki rumah hantu itu bersama salah satu diantara Sindy, Leila dan Anita. Lalu, disaat hantunya muncul, dia akan merasa sangat senang jika pasangannya langsung memeluk dirinya karena ketakutan.copyright protection132PENANADHoLPsFgft

Dan beginilah, kami akhirnya melakukan undian dengan cara hompimpa.copyright protection132PENANAZQpdNck0vp

Nahas baginya, harapannya langsung hancur saat dia tak memiliki pasangan sama sekali. Dia lupa bahwa jumlah kami ganjil sehingga mau tidak mau salah satu orang pasti akan masuk sendirian. Tak mau rencananya gagal, diapun meminta undian ulang, namun tak ada satupun dari kami yang menghiraukannya.copyright protection132PENANAw3LTFsG7QS

 Hasil dari undian tadi yaitu aku berpasangan dengan Sindy, lalu Leila dengan Anita, sementara Zaki sendirian.  Namun, untuk urutan masuk, kami berdualah yang mendapat urutan terakhir.copyright protection132PENANAkuzIfobUFr

Oh ya, aku penasaran reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan oleh Sindy. Selama ini, dia tak sering menunjukkan ekspresinya. Terakhir kali aku melihat dirinya penuh ekspresif adalah disaat insiden ledakan di penyerangan saat itu, lalu saat dia salah paham tentang hubunganku dengan Anita, disaat dia tahu bahwa aku belum memberi tahu Anita tentang waktu kehidupannya yang tersisa dan yang terakhir adalah saat dia mengajakku mengobrol saat pindahan.copyright protection132PENANAnEhNS4Zc5v

Oh ya, aku masih penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya saat itu.copyright protection132PENANABBzmvfOcmF

Kamipun masuk. Hantu-hantu terus bermunculan menghadang kami berdua. Namun tanpa kuduga sama sekali, tak ada satupun hantu yang membuatnya takut. Sebaliknya, tanpa terkecuali semua hantu yang ada justru membuatku takut. Wajahnya begitu tenang.copyright protection132PENANA4G9Epo2BiI

Tanpa kami sadari, kami berdua akhirnya tiba di pintu keluar dari rumah hantu. Disaat aku akan membuka pintu dengan meraihnya dengan tangan kananku, tanpa kusadari Sindy yang selama ini berpegangan pada lengan kausku.  Dia mencubit kausku dengan kencang. Aku terlalu fokus dengan ekspresi di wajahnya tanpa menyadari bahwa masih ada cara lain untuk menunjukkan perasaannya. Dia juga nampaknya tak sadar bahwa selama ini dia melakukan itu dan baru menyadarinya saat aku mengangkat tangan kananku.copyright protection132PENANA2Gnkufourt

Dengan cepat, dia langsung melepaskan cubitannya lalu menunduk. Aku juga bingung dengan apa yang sebaiknya kukatakan untuk memecah kecanggungan diantara kami berdua. “Se-sebaiknya kita segera keluar, yang lainnya pasti sudah menunggu kita.” Aku langsung meraih kenop pintu lalu membukannya.copyright protection132PENANAZ25zpBOdNa

***copyright protection132PENANATSR2xgrzRJ

Tanpa terasa, waktu sudah berlalu. Tak terasa sekarang sudah pukul 11 malam. Oh ya, khusus malam tahun baru, Happyland akan buka hingga pukul 2 malam. Karena itulah banyak orang yang lebih memutuskan untuk menghabiskan malam tahun barunya di sini.copyright protection132PENANAiUqFeUUCol

Tepat pukul 12 malam nanti, akan dinyalakan petasan. Mulai dari petasan bambu hingga petasan pelontar. Petasan akan diadakan tepat di Kastil Boneka, tepat di hadapan Kastil Boneka terdapat sebuah halaman dan taman luas yang mampu menampung banyak orang sekaligus. Disaat petasan dinyalakan di atas kastil boneka, maka pengunjung bisa menontonnya sembari menyambut tahun baru.copyright protection132PENANA6oocXNNL1B

Namun tanpa kami duga, pengunjung tahun ini sangatlah ramai sehingga membuat taman maupun halamannya penuh dengan orang. Saking penuhnya, hingga membuat satu sama lain berdesak-desakkan. Jika begini terus, maka akan sulit untuk melihat petasan.copyright protection132PENANAWUuNW13nBV

Saat kusadari, aku sudah terpisah dari yang lainnya. Nampaknya aku terlalu terbawa arus dan dorongan sehingga membuatku terpisah dari Zaki dan yang lainnya. Tiba-tiba, smartphoneku berdering. Kuambil smartphone tersebut dari kantung celanaku lalu memeriksa siapa yang menelponku “Zaki...?” Sebelum mengangkat telepon tersebut, aku langsung menepi ke tempat yang sepi agar terhindar dari suara keramaian ini.copyright protection132PENANA7TPyy3ttGR

Aku jawab panggilan telepon itu lalu kudekatkan smartphoneku ke telingaku “Halo, Zaki? Dimana kau?”copyright protection132PENANAONgdZd0MZ1

Halo, Dimo? Saat ini aku, Sindy, Leila dan Anita sedang beristirahat di taman. Bisakah kau segera ke sini?copyright protection132PENANAoVWSJSUMgv

Aku menengok menuju ke arah dimana taman berada, namun jalan menuju ke tempat itu terlalu ramai sehingga tak memungkinkan bagiku untuk bisa pergi kesana “Tidak, tidak bisa. Kurasa tempat ini terlalu ramai. Apa kau punya ide lain untuk melihat petasan tanpa ada gangguan?”copyright protection132PENANAIopxXYBqrh

Sebentar, aku akan meminta saran kepada yang lainnya.....copyright protection132PENANAhg5yt4LuRL

Beberapa menit kemudian.copyright protection132PENANAwfHs8ql2dC

....Begini saja, bagaimana jika kita melihat petasannya dengan menaiki Biang Lala saja?copyright protection132PENANAyV0XtXV4on

“Apa kau yakin?”copyright protection132PENANAmFDre6v0Bm

Ya, saat ini perhatian semua orang sedang berpusat ke tempat ini. Kita pasti bisa menaiki Biang Lala tanpa harus mengantri terlebih dahulu. Di tambah lagi, lokasi wahana Biang Lala yang tak jauh dari tempat ini.copyright protection132PENANAL7CszKTVN6

“Baiklah, aku akan segera kesana.” Kuputus telepon darinya lalu kukantungi kembali smartphoneku. Sembari mencari jalur paling sepi untuk kesana, akupun mulai berlari.copyright protection132PENANAxl1yjuwfzU

***copyright protection132PENANACVAgnOnTOY

Aku akhirnya tiba.copyright protection132PENANAgA5S3FDWBq

“Gawat, sekarang pukul 23:52....” Sembari menengok kesana-kemari mencari Zaki dan yang lainnya, aku memeriksa jam di smartphoneku. Aku berlari menghampiri loket masuk wahana agar bisa lebih mudah mencari mereka.copyright protection132PENANA29M3H5yel7

Tak lama kemudian, merekapun tiba. Meski ngaret beberapa menit, ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tak mau membuang waktu, kamipun langsung membeli karcis dan menaiki Biang Lala sebelum pesta petasan malam tahun baru di mulai. Diantara kami berlima, Anitalah yang nampaknya begitu tertarik dengan malam pergantian tahun ini. Sesaat setelah Biang Lala mulai berputar, Anita terus menerus menatap kearah jendela—kearah dimana pesta petasan diadakan, yaitu Istana Boneka.copyright protection132PENANA8X3JdqxAkm

Meski Biang Lala sudah mencapai puncaknya dan berhenti berputar, dia sama sekali tidak memalingkan wajahnya. Seperti tenggelam di dunianya sendiri.copyright protection132PENANAzAWFtZl6VW

Aku menengok kearah Zaki, Leila dan Sindy yang sedang asik bersiap untuk menghitung mundur. Aku mengambil smartphoneku kembali, sekarang pukul 23:58, pantas saja mereka begitu berantusias.copyright protection132PENANAxX5j1Npz1K

Terompet-terompet diluar mulai berbunyi dan semakin keras. Menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang mulai meniupnya. Meski sudah hampir tengah malam, tak ada satu orangpun yang nampak sudah lelah. Selain terompet, banyak juga yang mulai menyalakan petasan pelontar miliknya sendiri yang sudah mereka bawa dari rumah. Petasan yang saat mencapai puncaknya akan meletus dan berubah menjadi percikan-percikan api kecil berwarna-warni nan indah seperti bunga. Suara terompet dan petasan yang memekakkan telinga begitu terdengar hingga ke dalam Biang Lala. Bahkan untuk berbicara satu sama lain, kami harus mengeluarkan suara yang kencang.copyright protection132PENANAH9IKTWbqxv

Suara terompet semakin kencang dan petasan pelontar yang semakin banyak banyak bermunculan menunjukkan bahwa malam tahun baru semakin dekat setiap detiknya.copyright protection132PENANAN66JLzJ7FE

“5.... 4.... 3.... 2.... 1.... Selamat tahun baru!”copyright protection132PENANA3dC9xEWWeX

Keramaian mencapai puncaknya. Semua orang berteriak menserukan selamat tahun baru. Petasan pelontar dan yang lainnya yang ada di atas Istana Boneka akhirnya dinyalakan. Warna-warni indah yang terus bermunculan dan mewarnai langit malam yang kelam. Seakan bunga terus bermekaran di langit. Cahayanya begitu terang hingga tak kalah terang dengan cahaya bulan.copyright protection132PENANAHV7qG0mRrT

Tak lama kemudian, Anita dengan lembutnya menengok kearahku. Dengan senyuman di wajahnya serta pipi yang begitu merona dan begitu cerah. Matanya yang berbinar dan wajahnya yang terus dihiasi oleh cahaya petasan yang terus-menerus berganti. Cahayanya seakan menari-nari dengan indahnya.copyright protection132PENANAne0tXM2HTI

Dia membuka mulutnya. “Dimo, aku.....” Seakan berkata-kata, mulutnya terus bergerak menciptakan setiap kata yang tak bisa kudengar. Suaranya yang begitu kecil membuatya tertutup oleh suara petasan dan terompet. Beberapa kata yang tak bisa kudengar itu, entah mengapa membuat kedua mataku terbelalak. Aku tak bisa memalingkan wajahku sedikitpun darinya.copyright protection132PENANAmXVY6sD2pR

Entah mengapa, rasanya ada sesuatu, ada sebuah perasaan yang tak bisa tersampaikan dan terungkapkan melalui kata-kata itu. Jika kubayangkan, rasanya begitu menyedihkan dan juga menyakitkan.copyright protection132PENANAZ7N7xt7Tly

Aku menengok kearah Zaki dan yang lainnya yang juga nampak tak mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya. Mereka terus mengobrol sementara aku disini, tak berkata-kata.copyright protection132PENANANIMObKAdru

Aku kembali menengok kearah Anita. Dia hanya tersenyum lembut sembari  menutup kedua matanya. Lalu kembali menengok menengok kearah petasan.copyright protection132PENANAWNrRMxkpAK

Sementara itu, aku hanya terdiam membisu tanpa bisa bertanya balik kepadanya. Rasanya, jika aku melakukan itu, ada sesuatu, akan ada sesuatu yang hilang dariku.copyright protection132PENANAhAR4HoyOiT

Rasanya aku akan menjadi kopong.copyright protection132PENANAn5BaTNUu1m

Setelah itu, kamipun bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, kami melakukan foto-foto terlebih dahulu untuk bisa mengabadikan momen-momen yang tak terlupakan ini.copyright protection132PENANAZXarPWY9mz

Aku bersyukur mempunyai teman seperti mereka.copyright protection132PENANATE9KIR9hFr

Kamipun pulang.copyright protection132PENANAa3wLdqy8Vz

Sebelum pulang ke rumah masing-masing, kami sempat berkumpul terlebih dahulu di rumahku untuk beristirahat. Setelah beberapa menit berlalu, kamipun akhirnya berpisah.copyright protection132PENANAuUxElmBkvX

Aku kembali teringat dengan momen-momen itu. Kata-kata yang tak bisa kudengar tersebut. Anita, dia nampak begitu bahagia. Mungkin ini pertama kalinya dia merasakan momen-momen bahagia seperti ini.copyright protection132PENANAUpC3alUjCA

Aku merasa bersalah. Aku tak ingin menghapus kebahagiaan itu dari wajahnya, namun betapa egoisnya aku jika aku tidak memberitahunya. Kurasa sekarang sudah saatnya bagiku untuk memberitahu Anita mengenai kondisi tubuhnya. Disaat Anita hendak akan membuka pagar untuk pulang, aku berlari menghampirinya.copyright protection132PENANAKMEhyRI7ZD

Mendengar suara langkah kakiku, diapun berbalik. Menatap diriku yang nampak kehabisan napas akibat berlari. “Anita, ada yang harus kuberitahukan kepadamu sebenarnya tu—”copyright protection132PENANAHtye8UAJf6

“Apa kau, masih punya teh?” Dia menutup pagar lalu tersenyum kepadaku.copyright protection132PENANAH9wjdGE8Zg

***copyright protection132PENANAJK3n1BeJIe

“Ini... awas, masih panas.” Aku menyerahkannya teh. Dia menerima teh tersebut lalu kembali menatap bintang-bintang di langit malam. Sembari bersender di pagar lantai dua ini, dia menatap langit dengan dalamnya. Sesekali dia menyeruput teh miliknya, uap keluar dari mulutnya karena dinginnya malam. Angin malam yang dingin berhembus kencang meniup rambut putihnya yang terang. Aku menghampirinya dan berniat untuk memberi tahunya “Anita....”copyright protection132PENANAnpIWEQQeA6

“Apa kau suka novel?” Potong Anita. Dia menengok kearahku dengan penuh penasaran.  Pertanyaan tiba-tibanya itu lagi-lagi memotong kata-kataku.copyright protection132PENANAlhfRBtyfBy

“Um, aku tak terlalu suka membaca novel.... tapi aku suka membaca komik.” Kugaruk rambutku lalu ikut bersender di pagar kayu ini “Memangnya ada apa? Tiba-tiba sekali.”copyright protection132PENANAwkizIkaW4T

“Sejak dulu, aku selalu ingin menjadi novelis. Aku ingin membayangkan betapa indahnya dunia ini dan menyusun serta mengungkapkannya melalui kata-kata.” Dia menengok kearahku lalu mengedipkan salah satu matanya “Lalu saat novel tersebut sudah rampung, kaulah orang pertama yang akan membacanya.”copyright protection132PENANAbsjToXJecj

“A-aku? La-lalu, kenapa kau ingin menjadi novelis?” Aku tersenyum kecut sembari tersipu malu, perasaan malu serta khawatir bercampur menjadi satu.copyright protection132PENANAkxBApc3XsF

“Karena kau. Kau tahu, sejak dulu kau selalu menceritakan kepadaku betapa indahnya pemandangan dan segala hal yang ada di dunia ini. Kaulah orang yang telah memotivasiku untuk menjadi seorang novelis.”copyright protection132PENANAwY0PyI9JFe

“Lalu bagaimana pendapatmu mengenai dunia ini?”copyright protection132PENANACQGVK4Tuj5

“Indah, sangat indah. Bahkan lebih indah dari yang kubayangkan.” Anita kembali menatap lurus kedepan sembari berpangku dagu lalu tersenyum.copyright protection132PENANANEDpe2Bi04

***copyright protection132PENANAYw2ZmBHvkn

54.198.77.35

ns54.198.77.35da2
Comments ( 0 )

No comments yet. Be the first!
Loading...
X