nonfiction - Stories - Penana
×

Please use Chrome or Firefox for better user experience!
Write a New Story!

Invite

Feedback
Popular Tags
What Others Are Reading
x
Reset
Save Filter
Saved!
CATEGORY
Collaborate More Options
Rating: Language Settings
Yog_Monster
13Mins Each
2
ISSUES
A Guide to my Writing Style (Tips and Tricks!)
Updated Apr 26, 2017
G
6
349
3

An overview of various methods to produce my works and the strange ways I achieve a 'unique style'. It also contains tips that could help other writers in their own works.

Article
Read More
Solo Work

A Guide to my Writing Style (Tips and Tricks!)

An overview of various methods to produce my works and the strange ways I achieve a 'unique style'. It also contains tips that could help other writers in their own works.

Read More
Solo Work
CalicoCarter
1Min Each
4
ISSUES
My Poetry Book
Updated Jul 24, 2018
PG
1
108
0

This is a  collection of poems I have written. If you like my poems and have a request for me to write one ask away and I'll see what I can do. I don't consider myself a poet and I'm not the greatest at poems but I do have a few that I am proud of. All comments are welcome, too. Please don't steal my poems. These are original and I worked very hard on them. Thank you. I hope you enjoy them!

Poetry
Read More
Solo Work

My Poetry Book

This is a  collection of poems I have written. If you like my poems and have a request for me to write one ask away and I'll see what I can do. I don't consider myself a poet and I'm not the greatest at poems but I do have a few that I am proud of. All comments are welcome, too. Please don't steal my poems. These are original and I worked very hard on them. Thank you. I hope you enjoy them!

Read More
Solo Work
Britt S
1Min Each
1
ISSUE
Unhinged
Updated Jul 16, 2018
G
0
62
0

That's what they call me

But I'm not unhinged I'm perfectly aware of myself

Are you  though?

Do you think you're in control?

No your not I am

I'm in control of your mind right now

I'm in control of you're eyes

I'm even in control of you're mouth

Noone can hear you can they?

Oh I'm sorry  did you want control back?

Is it making uneasy?

Unhinged maybe?

See I'm perfectly fine

But you on the other hand

You seem a little

Poetry
Read More
Solo Work

Unhinged

That's what they call me

But I'm not unhinged I'm perfectly aware of myself

Are you  though?

Do you think you're in control?

No your not I am

I'm in control of your mind right now

I'm in control of you're eyes

I'm even in control of you're mouth

Noone can hear you can they?

Oh I'm sorry  did you want control back?

Is it making uneasy?

Unhinged maybe?

See I'm perfectly fine

But you on the other hand

You seem a little

Read More
Solo Work
Britt S
1Min Each
1
ISSUE
Sunglasses
Updated Jul 16, 2018
G Completed
2
45
0
Angst

Take off your sunglasses 

The light is fine

There is no  reason to fret, no reason to hide

It is blinding to some, but to others like me

The light is a beckon for all to see

Poetry
Angst
Read More
Solo Work

Sunglasses

Take off your sunglasses 

The light is fine

There is no  reason to fret, no reason to hide

It is blinding to some, but to others like me

The light is a beckon for all to see

Read More
Solo Work
Chat Noir
1Min Each
11
ISSUES
Poetry~
Updated Aug 11, 2018
PG
3
249
0
Haiku
Prose

Poems by me! 

No copying I promise 😅

Poetry
Haiku
Prose
Read More
Solo Work

Poetry~

Poems by me! 

No copying I promise 😅

Read More
Solo Work
Kawaiyonimas
1Min Each
3
ISSUES
Quotes Mine
Updated Jun 23, 2018
G
0
160
0
Prose

Hanya penggalan baris kata penuh makna yang berarti dalam hidupku.

Love, friendship, life.

Cinta, persahabatan, kehidupan.

Quote
Prose
Read More
Solo Work

Quotes Mine

Hanya penggalan baris kata penuh makna yang berarti dalam hidupku.

Love, friendship, life.

Cinta, persahabatan, kehidupan.

Read More
Solo Work
Roby Alfilio N
4Mins Each
1
ISSUE
Saya Benci Lebaran
Updated Jun 14, 2018
G
1
235
0
Short Story

Saya benci lebaran. Entah mengapa Idul Fitri seolah menjadi parade kemunafikan.

Saya bertemu orang-orang yang tidak saya kenal, memasang muka mainan, terpaksa tersenyum seraya mengucapkan lahir batin. Mereka, orang yang hanya saya temui setahun sekali, orang-orang asing yang entah dari mana asalnya, meminta maaf kepada saya untuk kesalahan yang saya tidak tahu kapan terjadi.

Lebaran, bagi saya, semestinya tentang berpikir apakah saya sudah menjadi orang yang lebih baik daripada sebulan lalu.

Ibu saya adalah orang yang paling bersedih ketika Ramadan berakhir, awalnya saya pikir ibu berlebihan dan sedang melodramatis. Tapi ibu saya serius, ia merasa bahwa hanya ketika Ramadan saja ia bisa demikian total beribadah tanpa mesti memikirkan dunia. Saya tidak pernah paham apa maksudnya, tapi saat lebaran, ketika saya mencium tangan keriputnya untuk meminta maaf, mata ibu saya memerah dan berair. Saya tahu ibu saya tidak rela meninggalkan Ramadan.

Sudah tiga tahun terakhir saya tidak pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya memilih untuk tinggal di Bali. Saya memutuskan tinggal bukan karena tidak rindu keluarga besar dan suasananya, atau tidak ingin bertemu teman-teman. Saya malas untuk kemudian mesti bertemu orang-orang menyebalkan dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan.

Kapan kawin? Kenapa pacaran beda agama? Dan sebagainya dan sebagainya. Mereka tidak pernah meminta jawaban. Mereka sedang menghakimi, apapun jawaban yang saya berikan, mereka tidak akan pernah puas.

Pulang ke rumah setelah bekerja di perantauan barangkali adalah bentuk lain kemewahan. Tapi tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa menghadapi keluarga besar. Tapi lebaran, juga setiap kepulangan yang lain, selalu membawa kita pada kondisi apa boleh buat. Bertemu dengan kawan lama, sahabat lama yang bisa jadi lebih baik, tetap di tempat atau mengalami dekadensi pemikiran yang mengerikan.  Bagi saya sendiri, ada beberapa hal yang memang bisa ditoleransi, dinegosiasikan, dan dibiarkan untuk sesuatu yang lebih baik.

Di Bali ketika Idul Fitri membuat kota ini menjadi demikian manusiawi, jalanan menjadi lengang, udara sedikit lebih baik, kebisingan berkurang, dan tentu saja menjadi sedikit lebih sepi.

Tapi hey, kesepian dan kesunyian adalah dua komoditas penting di sini. Menjadi sepi dan sunyi barangkali adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Anda bisa mendapatkan itu ketika lebaran tiba, ketika para perantau pulang ke rumah masing-masing, ketika para pengadu nasib memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Tentu kesepian itu mengerikan. Tapi saya kira itu harga yang pantas dibayarkan untuk sebuah ketenangan.

Lebaran di kampung bisa jadi lebih ramai daripada Denpasar Festival. Saat di mana seluruh keluarga besar datang, kawan-kawan masa kecil hingga kini mampir. Tentu ada yang rindu, tentu ada yang ingin tulus bertemu denganmu karena sekian tahun tak jumpa. Namun, beberapa dari mereka ingin bertemu karena ingin membandingkan kesuksesan, membandingkan nasib, atau bahkan menertawakan kesialan orang lain.

Pun mereka yang pulang terkadang ingin menunjukan bahwa mereka telah satu derajat lebih kota daripada mereka yang memutuskan tinggal di kampung halaman. Bahwa kota telah membuat mereka menjadi modern, maju, dan bermartabat. Seolah-olah tinggal di kampung halaman zaman akan berhenti, pemikiran mandeg, dan informasi tersendat. Kepongahan yang kerap hinggap di beberapa orang kota yang kena tempeleng gaya hidup urban kekinian.

Bali kehilangan beban ketika lebaran tiba. Gedung-gedung perkantoran menjadi lengang, pasar sepi, dan tiba-tiba kita menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang membuatmu berharap agar kelengangan dan kesepian ini abadi. Pembangunan dihentikan dan pohon-pohon menjadi rimbun.

W.R. Supratman, Teuku Umar, Gatot Subroto, dan seluruh simpul kemacetan terurai. Tidak ada lagi umpatan motor goblok, mobil setan, angkot sialan, dan sejenisnya. Para pengendara bernyanyi riang mengikuti irama mp3 player, beberapa bersiul-siul, pengendara roda dua menjadi berakal, angkutan umum tidak lagi penuh sesak dengan penumpang. Sebuah utopia yang telah berpuluh tahun ingin dicapai berbagai gubernur hanya bisa tercapai ketika lebaran tiba.

Malam lebaran di beberapa kampung yang di dominasi penduduk minoritas petasan bertebaran seolah menjadi alat komunikasi. Kampung-kampung beradu ledakan, warna-warni kembang api menghadirkan imaji bahwa desa ini masih sedikit waras. Penduduknya bergembira, kampung-kampung menjadi hidup dengan pertemuan-pertemuan.

Hari Raya di Bali adalah penanda bahwa orang minoritas masih ada, mereka masih hidup, bertahan, dan tetap menjaga tradisi mereka. Memanusiakan manusia, memuliakan tamu, dan menghargai saudara.

Pernahkah kamu merayakan lebaran bersama orang-orang minoritas di Bali? Keramahan mereka, ketulusan mereka, juga tawaran yang tak mungkin Anda tolak untuk menikmati hidangan yang mereka buat.

Bali ketika lebaran adalah sebuah pemandangan yang lain, yang membuat anda akan merasa bahwa, “Ah, tempat ini tidak membuat manusia menjadi kejam”. masih menyediakan manusia-manusia tulus yang mau menerima tamu, yang mau memuliakan mereka yang ditinggalkan.

Suatu ketika Hari Raya di Bali membuatmu berpikir lebih banyak dan lebih panjang. Kesepian mengajarkanmu untuk menghargai kebersamaan. Sementara kesunyian membuatmu belajar memuliakan pertemuan. Kota ini demikian kejam pada mereka yang lemah hati, namun pada saat yang sama mengajarkan kita tentang pentingnya menjadi manusia.

Masih di Bali ketika lebaran bisa jadi menyedihkan. Ketika Anda sedang jatuh cinta, merindu, atau bahkan berharap. Kesendirian adalah karib paling baik dari rasa pedih. Bali menghadirkan banyak kesempatan, tapi juga menyediakan banyak kekecewaaan.

Kamu bisa saja pura-pura optimis dan getir dengan menuliskan sebuah artikel tentang betapa munafiknya perayaan lebaran di kampung halaman, padahal jauh di dalam hatimu, kamu sangat berharap bisa pulang untuk merayakan lebaran bersama orang - orang yang kamu sayang.  -RAN-

Other
Short Story
Read More
Solo Work

Saya Benci Lebaran

Saya benci lebaran. Entah mengapa Idul Fitri seolah menjadi parade kemunafikan.

Saya bertemu orang-orang yang tidak saya kenal, memasang muka mainan, terpaksa tersenyum seraya mengucapkan lahir batin. Mereka, orang yang hanya saya temui setahun sekali, orang-orang asing yang entah dari mana asalnya, meminta maaf kepada saya untuk kesalahan yang saya tidak tahu kapan terjadi.

Lebaran, bagi saya, semestinya tentang berpikir apakah saya sudah menjadi orang yang lebih baik daripada sebulan lalu.

Ibu saya adalah orang yang paling bersedih ketika Ramadan berakhir, awalnya saya pikir ibu berlebihan dan sedang melodramatis. Tapi ibu saya serius, ia merasa bahwa hanya ketika Ramadan saja ia bisa demikian total beribadah tanpa mesti memikirkan dunia. Saya tidak pernah paham apa maksudnya, tapi saat lebaran, ketika saya mencium tangan keriputnya untuk meminta maaf, mata ibu saya memerah dan berair. Saya tahu ibu saya tidak rela meninggalkan Ramadan.

Sudah tiga tahun terakhir saya tidak pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya memilih untuk tinggal di Bali. Saya memutuskan tinggal bukan karena tidak rindu keluarga besar dan suasananya, atau tidak ingin bertemu teman-teman. Saya malas untuk kemudian mesti bertemu orang-orang menyebalkan dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan.

Kapan kawin? Kenapa pacaran beda agama? Dan sebagainya dan sebagainya. Mereka tidak pernah meminta jawaban. Mereka sedang menghakimi, apapun jawaban yang saya berikan, mereka tidak akan pernah puas.

Pulang ke rumah setelah bekerja di perantauan barangkali adalah bentuk lain kemewahan. Tapi tidak semua orang punya kemewahan untuk bisa menghadapi keluarga besar. Tapi lebaran, juga setiap kepulangan yang lain, selalu membawa kita pada kondisi apa boleh buat. Bertemu dengan kawan lama, sahabat lama yang bisa jadi lebih baik, tetap di tempat atau mengalami dekadensi pemikiran yang mengerikan.  Bagi saya sendiri, ada beberapa hal yang memang bisa ditoleransi, dinegosiasikan, dan dibiarkan untuk sesuatu yang lebih baik.

Di Bali ketika Idul Fitri membuat kota ini menjadi demikian manusiawi, jalanan menjadi lengang, udara sedikit lebih baik, kebisingan berkurang, dan tentu saja menjadi sedikit lebih sepi.

Tapi hey, kesepian dan kesunyian adalah dua komoditas penting di sini. Menjadi sepi dan sunyi barangkali adalah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang. Anda bisa mendapatkan itu ketika lebaran tiba, ketika para perantau pulang ke rumah masing-masing, ketika para pengadu nasib memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Tentu kesepian itu mengerikan. Tapi saya kira itu harga yang pantas dibayarkan untuk sebuah ketenangan.

Lebaran di kampung bisa jadi lebih ramai daripada Denpasar Festival. Saat di mana seluruh keluarga besar datang, kawan-kawan masa kecil hingga kini mampir. Tentu ada yang rindu, tentu ada yang ingin tulus bertemu denganmu karena sekian tahun tak jumpa. Namun, beberapa dari mereka ingin bertemu karena ingin membandingkan kesuksesan, membandingkan nasib, atau bahkan menertawakan kesialan orang lain.

Pun mereka yang pulang terkadang ingin menunjukan bahwa mereka telah satu derajat lebih kota daripada mereka yang memutuskan tinggal di kampung halaman. Bahwa kota telah membuat mereka menjadi modern, maju, dan bermartabat. Seolah-olah tinggal di kampung halaman zaman akan berhenti, pemikiran mandeg, dan informasi tersendat. Kepongahan yang kerap hinggap di beberapa orang kota yang kena tempeleng gaya hidup urban kekinian.

Bali kehilangan beban ketika lebaran tiba. Gedung-gedung perkantoran menjadi lengang, pasar sepi, dan tiba-tiba kita menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang membuatmu berharap agar kelengangan dan kesepian ini abadi. Pembangunan dihentikan dan pohon-pohon menjadi rimbun.

W.R. Supratman, Teuku Umar, Gatot Subroto, dan seluruh simpul kemacetan terurai. Tidak ada lagi umpatan motor goblok, mobil setan, angkot sialan, dan sejenisnya. Para pengendara bernyanyi riang mengikuti irama mp3 player, beberapa bersiul-siul, pengendara roda dua menjadi berakal, angkutan umum tidak lagi penuh sesak dengan penumpang. Sebuah utopia yang telah berpuluh tahun ingin dicapai berbagai gubernur hanya bisa tercapai ketika lebaran tiba.

Malam lebaran di beberapa kampung yang di dominasi penduduk minoritas petasan bertebaran seolah menjadi alat komunikasi. Kampung-kampung beradu ledakan, warna-warni kembang api menghadirkan imaji bahwa desa ini masih sedikit waras. Penduduknya bergembira, kampung-kampung menjadi hidup dengan pertemuan-pertemuan.

Hari Raya di Bali adalah penanda bahwa orang minoritas masih ada, mereka masih hidup, bertahan, dan tetap menjaga tradisi mereka. Memanusiakan manusia, memuliakan tamu, dan menghargai saudara.

Pernahkah kamu merayakan lebaran bersama orang-orang minoritas di Bali? Keramahan mereka, ketulusan mereka, juga tawaran yang tak mungkin Anda tolak untuk menikmati hidangan yang mereka buat.

Bali ketika lebaran adalah sebuah pemandangan yang lain, yang membuat anda akan merasa bahwa, “Ah, tempat ini tidak membuat manusia menjadi kejam”. masih menyediakan manusia-manusia tulus yang mau menerima tamu, yang mau memuliakan mereka yang ditinggalkan.

Suatu ketika Hari Raya di Bali membuatmu berpikir lebih banyak dan lebih panjang. Kesepian mengajarkanmu untuk menghargai kebersamaan. Sementara kesunyian membuatmu belajar memuliakan pertemuan. Kota ini demikian kejam pada mereka yang lemah hati, namun pada saat yang sama mengajarkan kita tentang pentingnya menjadi manusia.

Masih di Bali ketika lebaran bisa jadi menyedihkan. Ketika Anda sedang jatuh cinta, merindu, atau bahkan berharap. Kesendirian adalah karib paling baik dari rasa pedih. Bali menghadirkan banyak kesempatan, tapi juga menyediakan banyak kekecewaaan.

Kamu bisa saja pura-pura optimis dan getir dengan menuliskan sebuah artikel tentang betapa munafiknya perayaan lebaran di kampung halaman, padahal jauh di dalam hatimu, kamu sangat berharap bisa pulang untuk merayakan lebaran bersama orang - orang yang kamu sayang.  -RAN-

Read More
Solo Work
❖夏鸑君❖
2Mins Each
4
ISSUES
【心緒∞】
Updated Jul 17, 2018
G
8
136
41
Prose
Short Story

或許是突發奇想過的事物。

也可能是曾經的心情。

但如今看上去又那麼的不重要。

算了,把它送出去吧。

用文字丟下,讓它在記憶深層拉出。

然後忘掉。

不好的跟開心的都是。

畢竟都沒差,不是嗎?

飛吧飛吧,折成紙盒帶走我的夢吧。

#發一些在其他地方發過的or 最近。

Other
Prose
Short Story
Read More
Solo Work

【心緒∞】

或許是突發奇想過的事物。

也可能是曾經的心情。

但如今看上去又那麼的不重要。

算了,把它送出去吧。

用文字丟下,讓它在記憶深層拉出。

然後忘掉。

不好的跟開心的都是。

畢竟都沒差,不是嗎?

飛吧飛吧,折成紙盒帶走我的夢吧。

#發一些在其他地方發過的or 最近。

Read More
Solo Work
Celz
1Min Each
4
ISSUES
Crimson Gloom Character Sheet
Updated Aug 4, 2018
PG-13
0
83
0
Fantasy
Adventure

This blog is a complement to the story of Crimson Gloom. New characters and information will be added as the story progresses.

Potential SPOILERS if you have not read the story.

Click here to read Crimson Gloom.

Blog
Fantasy
Adventure
Read More
Solo Work

Crimson Gloom Character Sheet

This blog is a complement to the story of Crimson Gloom. New characters and information will be added as the story progresses.

Potential SPOILERS if you have not read the story.

Click here to read Crimson Gloom.

Read More
Solo Work
thehemingway
1Min Each
1
ISSUE
Set Me Free
Updated Jun 4, 2018
G
1
69
0
Prose

It's about you. Yeah you. Someone who came into my life at 2010 now you're gone forever. 

Poetry
Prose
Read More
Solo Work

Set Me Free

It's about you. Yeah you. Someone who came into my life at 2010 now you're gone forever. 

Read More
Solo Work
EmilieWolf
3Mins Each
1
ISSUE
Radical Reviews
Updated Jun 1, 2018
PG
0
61
0
Short Story
Humor

This is a series of reviews of movies , books , and TV shows . This is a personal opinion thing so don't get offended . Also you can suggest anything you want me to do as long it's appropriate for teenagers as I refuse to do anything I am uncomfortable with .

Article
Short Story
Humor
Read More
Solo Work

Radical Reviews

This is a series of reviews of movies , books , and TV shows . This is a personal opinion thing so don't get offended . Also you can suggest anything you want me to do as long it's appropriate for teenagers as I refuse to do anything I am uncomfortable with .

Read More
Solo Work
EmilieWolf
3Mins Each
3
ISSUES
The Weird Girl Next Door
Updated Jun 2, 2018
PG-13
0
98
0
Inspirational
Sarcasm

I guess this is where I post my personal thoughts and things like that . I'm gonna try and be honest and open up in this book , so if you don't like it just leave .

Blog
Inspirational
Sarcasm
Read More
Solo Work

The Weird Girl Next Door

I guess this is where I post my personal thoughts and things like that . I'm gonna try and be honest and open up in this book , so if you don't like it just leave .

Read More
Solo Work
FAQ · Feedback · Privacy · Terms

Penana © 2018